Mencinta adalah mengambil risiko tak dicintai kembali. Mencintai
tanpa harus memiliki? Aku rasa hanya ada dalam dongeng. Setiap cinta,
sedikit atau banyak, akan meminta kembali, meskipun hanya berupa
senyuman bahwa dia cukup bahagia disajikan cinta walaupun tak punya
cinta untuk membalas.
Mencintai diam-diam adalah sebuah keharusan
menyiapkan diri mendapat balasan cinta diam-diam pula, atau penolakan
diam-diam juga.
Semua orang hanya ingin mencintai dan dicintai.
Namun mana yang harus didahulukan? Mencintai atau dicintai. Beberapa
orang mencintai dan berharap dicintai, beberapa lainnya hanya akan
mencintai jika ia dicintai terlebih dahulu. Ada persamaan hasil antara
kedua hal tersebut, luka.
Pengharapan selalu berbanding lurus
dengan kemungkinan kekecewaan yang didapat. Semakin kamu berharap, maka
semakin besar kemungkinan kamu akan kecewa.
Mencinta seperti
menggenggam seekor burung. Jika kamu menggenggamnya terlalu erat, maka
akan mati. Namun jika menggenggamnya terlalu longgar, dia akan pergi.
Jika kamu melakukan salah satu dari kedua hal tersebut, tetap hasil
akhirnya adalah luka. Di hatimu, atau hatinya.
Pilih mana? Aku
selalu benci pilihan, tapi lebih benci lagi jika tidak punya pilihan
sama sekali. Ada kalanya ketika kamu hanya ingin mencintai, kamu hanya
berakhir dengan melukai.
Aku lebih baik dilukai, karena ketika
kamu dilukai kamu selalu punya objek untuk disalahkan, dimaki-maki. Apa
bedanya dengan melukai? Melukai orang lain, apalagi orang yang kamu
sayang, hanya menyisakan dirimu sendiri untuk disalahkan. Selamanya,
kamu hanya bisa menyalahkan diri sendiri.
“Kamu hanya bisa melihat dirimu hancur di depan bayanganmu sendiri.“
Aku hanya ingin mencintai, bukan melukai.
Sunday, November 10, 2013
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment