Monday, November 4, 2013

0

Lebih Dari Indah [Chapter1: Dia Telah Pergi]





Main Cast:
Alvin Jonathan as Calvin Adryan
Gabriel Damanik as Gabriel Nata Pratama
Sivia Azizah as Alyvia Anastasya
Cakka Nuraga as Cakka Joshua
Mario Stevano as Rio Aditya Revano
Ify Alyssa as Lintang Dify Falery

***


jika cinta tidak berhasil…bebaskan dirimu…
biarlah hatimu kembali melebarkan sayapnya
serta terbang ke alam bebas lagi..
ingatlah…bahwa kau barangkali mendapatkan cinta dan
kehilangannya..
namun.. saat cinta itu mati.. kau tak perlu ikut mati
bersamanya… (Kahlil Gibran)

            Via duduk dimeja riasnya sambil menatap dengan pandangan hampa kearah cermin yang memantulkan wajah manisnya. Ia sudah duduk disana sembari melamun sejak setengah jam yang lalu, bahkan jam bekernya yang sejak 10 menit lalu berteriak sama sekali tidak ia hiraukan. Harusnya sekarang Via bergegas ke kamar mandi untuk segera bersiap-siap berangkat kesekolah, tapi yang ia lakukan sekarang malah melamun didepan cermin memikirkan apa yang telah  terjadi pada hubungannya dengan Iel 2 minggu yang lalu. Sampai sekarang Via masih sulit mempercayai, bahwa saat ini Iel sudah bukan miliknya lagi, dan Via merasa pedih dengan kenyataan yang amat memberatkannya ini. Putus tanpa alas an yang jelas, benar-benar memiriskan.
            “Via, kamu kok belum siep-siep? Ini udah hampir jam 6 Via, nanti kamu telat lho!” kata Bunda yang tiba-tiba saja menyembul dibalik pintu, Via menatap bayangan Bunda di Cermin, matanya terlihat sembab, mungkin karna menangis semalaman,
            “Bunda, Via hari ini nggak masuk sekolah ya, Bund? Via—“
            “nggak boleh, kamu nggak boleh bolos, kamu harus tetep sekolah. Bunda nggak ikhlas ngeliat kamu sampe kayak gini Cuma gara-gara Si Gabriel itu…”
            “Bunda… tapi Via  butuh waktu lagi” rengek Via, air matanya kembali menetes, entah untuk yang keberapa kalinya. Via berbalik dan menatap Bunda dengan tatapan memelas.
            “mau sampai kapan? Udahlah, kayak nggak ada cowok lain aja perasaan”
            “Bunda…” rengek Via sekali lagi.
“ sekarang kamu mandi, terus siep-siep. Nanti malem Bunda akan kenalin kamu sama Anak temen Bunda yang baru balik dari Belanda, yang jelas anak temen Bunda ini jauh lebih baik dari Si Gabriel itu…” tukas Bunda cepat sebelum mendengarkan rengekan Via lebih jauh lagi.
            “Via nggak mau dikenalin!” tolak Via mentah-mentah.
            “sayangnya Bunda nggak nanya kamu mau atau nggak. Karna mau nggak mau, suka nggak suka, Bunda akan tetep ngenalin kamu sama dia. Dan Bunda nggak mau denger penolakan apapun dari kamu. Ngerti?” Khotbah Bunda didepan Via lantas menghilang kembali dibalik pintu. Yang itu berarti keputusan Bunda sudah mutlak, tidak bisa diubah lagi. Final.
            Via menghela nafas beratnya. Kenapa Bunda nya selalu saja seperti ini? Kenapa Bunda tidak pernah sekalipun mau memahami kondisinya? Dan kenapa Bunda selalu saja memaksakan kehendaknya pada Via?
            “Bunda jahat!” sungut Via kesal lalu bangkit dari depan meja riasnya dan berjalan kearah kamar mandi.


^_^

            Tepat ketika waktu menunjukan pukul 07.30, Via dan kawan-kawannya tiba disekolah secara bersamaan. Seperti biasa, jika berangkat kesekolah, Via selalu saja berangkat bersama sahabat-sahabatnya, dan untuk hari ini Agnilah yang punya giliran menjemput sahabat-sahabatnya. Sepanjang perjalanan tadi, Via hanya terdiam. Ia mengunci mulutnya rapat-rapat dan berusaha untuk tidak menghiraukan sahabat-sahabatnya yang tengah asyik bercanda. Via hanya menatap hampa keluar jendela sembari mengingat semua kenangan yang telah ia lewati bersama Gabriel selama 2 tahun merajut kasih sebagai sepasang kekasih. Dan lagi-lagi, Via harus kembali menelan kepahitan ketika mengingat bahwa semua kenangan itu telah menjadi sebuah kisah masa lalu yang telah teronggok mati. Semuanya tidak akan terulang lagi. Berakhir, semuanya telah berakhir.
            “ooo… ternyata ini dia cewek yang udah DICAMPAKKIN sama Iel, kasian ya? Nasibnya ngenes banget” cibir seseorang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Aren, musuh abadi Via disekolah.
            Seakan dikomando, Via, Agni, Shilla, dan Ify langsung menghentikan langkah mereka secara bersamaan lalu menoleh kearah sumber suara yang terdengar sumbang tadi. Agni melirik sengit kearah Aren, Dea, dan Zevana yang ketika itu tengah memamerkan senyum mereka yang seakan meremehkan Via. Agni tidak bisa menghindari lagi, emosinya seakan naik detik itu juga.
            Mengikuti emosinya, Agni melangkah maju dan membuat Aren CS terpaksa mundur selangkah. Menurut mereka, Agni terlihat sangat menakutkan.
            “ulangi lagi kata-kata lo barusan! Cepet ulangin!!” bentak Agni yang sukses membuat Aren CS langsung pucat ditempat. Tatapan Agni semakin tajam, dan mereka terutama Aren, semakin menciut karenanya.
            “lo semua jangan ngomong macem-macem tentang sahabat gue kalo elo, elo, dan elo masih sayang sama mulut kalian! Kalian tentu nggak mau kan kalo mulut kalian yang ember itu gue robek?” ancam Agni dengan sangat serius. Sahabat Via yang tomboy ini memang selalu melindungi Via dan sahabat-sahabatnya yang lain. Jika ada yang berbuat tidak menyenangkan terhadap Via, Ify, dan Shilla, maka Agnilah orang pertama yang akan tersulut emosinya.
            Merasa suasana diantara mereka semakin menegang, Ify yang sikapnya paling dewasa diantara yang lainnyapun melangkah maju lalu memegang pundak Agni untuk menenangkan sedikit saja emosinya. Ify tidak ingin terjadi keributan yang nantinya hanya akan merugikan Agni sendiri.
            “Ag, udah ya? Nggak penting juga lo urus mereka” ucap Ify sehati-hati mungkin,
            “tapi mereka—“
            “udah, gue nggak apa-apa kok. Lagian apa yang Aren bilang bener, gue emang dicampakkin sama Iel, terus letak salahnya dimana??” Via tersenyum miris lalu berjalan terlebih dahulu dengan langkah terburu-buru tanpa menunggu ketiga sahabatnya itu.
            “Via!!” panggil Shilla lantas berlari kecil mengejar langkah Via yang sudah lumayan jauh.
            “Via… Via… lo mau kemana??” cegat seseorang tiba-tiba. Dia adalah Rio, salah satu sahabat terdekat Gabriel.
            “mau kekelas” jawab Via seadanya. Ia berusaha keras menyembunyikan getar-getar pada nada suaranya yang terdengar lirih.
            “mending sekarang lo kejer Iel deh, Vi!”
            “kenapa gue harus kejer dia? Dia aja udah nggak peduli lagi sama gue” Rio mengusap wajahnya putus asa, bagaimana ia harus menjelaskannya pada Via?
            “Iel sekarang di Bandara, Vi! Setengah jam lagi pesawatnya bakalan take off”
            “APA??” Kaget Via. Kali ini ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya dihadapan Rio.
            “Gabriel pindah ke Aussie, Vi. Dan hari ini Iel berangkat, pesawatnya terbang jam setengah 8 pagi ini”
            Merasa tidak perlu lagi mendengarkan penjelasan Rio, Via langsung berbalik, lalu berlari sekencang-kencangnya meninggalkan sekolah hendak menyusul Gabriel dibandara. Semoga masih ada waktu. Fikirnya ditengah kekalutan.
            Kini ia sudah tahu alas an kenapa Gabriel tiba-tiba memutuskan hubungan mereka.


^_^
            Via semakin mempercepat larinya saat kedua kakinya sudah melangkah dikoridor Bandara. Sesekali Via melirik jam tangannya, masih ada waktu sekitar 10 menit lagi sebelum pesawat yang akan Gabriel tumpangi take off. Jantung Via berdebar kencang, ia takut tidak bisa memiliki kesempatan lagi  bertemu dengan Gabriel untuk yang terakhir kalinya. Dalam hati Via terus mengharap, terus berdoa, berharap agar kali ini saja Tuhan mengirimkan sebuah keajaiban untuknya.
            ‘Iel…. Jadi ini alas an lo mutusin gue? Tapi kenapa, Yel? Apa lo nggak bisa percaya sama gue dan ngeraguin kesetiaan gue…? Please, Yel… jangan pergi , jangan pergi seenggaknya sebelum gue meluk lo untuk yang terakhir kalinya, please….’ Tanpa sadar, air mata itu lolos begitu saja dari kedua pelupuk mata Via.
            Sadar ia tidak punya banyak waktu lagi, Via semakin mempercepat larinya tanpa menghiraukan keadaan sekitar yang benar-benar ramai. Bahkan beberapa kali tanpa sengaja Via menabrak orang-orang yang tengah lalu lalang, tapi Via tidak peduli, yang ada diotaknya saat ini hanyalah, ia harus segera menyusul Gabriel sebelum semuanya terlambat dan menyisakan penyesalan yang teramat sangat disanubarinya.
            BRUKKK…. Semuanya terjadi begitu cepat, Via menubruk tubuh kokoh seseorang hingga ia sendiri jatuh nyaris tergeletak dilantai, sementara seseorang yang Via tabrak tadi tetap berdiri dengan kokoh ditempatnya semula tanpa berpindah selangkahpun. Via meringis kecil lalu mengusap lengannya yang terasa sedikit sakit.
            “auu… ma… maaf, Mas…” lirih Via penuh sesal.
            Hening untuk sejenak. Awalnya Via berfikir, bahwa Pria itu akan mengulurkan tangannya lalu menuntunnya untuk berdiri, tapi yang Via dapati malah sangat berbanding terbalik dengan apa yang terjadi detik ini juga. Pria itu membentaknya dihari pertama mereka bertemu.
            “NGGAK PUNYA MATA YA??” Bentaknya sinis. Via terkejut lantas mendongak. Gurat-gurat angkuh dari wajah tampan itu langsung menyambutnya.
            “sekali lagi maaf, gue… gue nggak sengaja…” ucap Via pada akhirnya dengan susah payah. Namun bukannya menanggapi permintaan maaf Via, Pria itu malah kembali membentak Via tanpa perasaan,
            “Maaf lo itu nggak berguna!!”
            Meskipun kedua mata itu bersembunyi dibalik kaca mata hitamnya, tapi Via tahu betul bahwa Pria itu tengah menatapnya tajam dengan tatapan bengis. Air muka Pria itu memperlihatkan jelas bagaimana emosinya yang tengah meluap kali ini. Via berfikir cepat, sepertinya jika ia meladeni Pria ini untuk bertengkar waktunya akan terbuang sia-sia begitu saja, dan kesempatannya untuk bertemu dengan Gabriel disaat terakhirnya akan terbuang percuma. Via menggelengkan kepalanya, bangkit lalu melanjutkan larinya yang sempat terhenti karna insiden kecil barusan,
            “sekali lagi gue minta maaf, tapi gue lagi buru-buru!” ucap Via cepat saat melewati tubuh kekar Pria berwajah oriental itu.
            Pria tadi tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia membalik badannya perlahan, membuka kaca matanya lalu menatap punggung Via yang nyaris menghilang diantara kerumunan orang-orang yang lalu lalang.


^_^

            “IEEELLLL!!!!” Teriak Via dengan suara melengking ketika ia melihat Gabriel yang saat itu tengah menarik kopernya. Meski hanya dengan melihat punggungnya saja, tapi Via tau betul bahwa Pria itu adalah Gabriel. Satu-satunya Pria yang selama ini mengisi relungnya, dan satu-satunya Pria yang selamanya akan tetap tinggal direlungnya.
            Gabriel menghentikan langkah, dan ketika ia membalik badannya, ia langsung merasakan bahwa detik itu juga Via sudah menubruk tubuhnya dan menangis dalam pelukannya.
            “hiks… hiks… jadi ini alesan kamu, Yel? Jadi ini alesan kamu ngeakhirin hubungan kita? Hiks.. hiks…”
            “maaf” lirih Gabriel pelan. Ya… hanya kata Maaf yang kiranya  mampu Gabriel ucapkan detik ini. Tidak ada kata lain selain kata maaf yang mampu menggambarkan rasa bersalahnya pada Gadis yang saat itu sedang berada dalam pelukannya. Gabriel melepas kopernya begitu saja lantas membalas pelukan Via.
            “aku nggak akan maafin kamu, kecuali kamu ngebatalin kepergian kamu hari ini… jangan pergi Yel, aku masih pengen sama kamu…”
            “nggak bisa, Via… aku harus tetep pergi, Papa Mama butuh aku disana”
            “aku juga disini butuh kamu, Yel…”
            “aku tahu, aku bahkan lebih ngebutuhin kamu, lebih dari apapun itu aku sangat ngebutuhin kamu”
            Via mengurai pelukannya, ia menatap Gabriel dengan linangan air mata yang mengalir deras membanjiri wajah chubbynya juga dengan tatapan memohon penuh harap, berharap bahwa Gabriel tidak akan pernah pergi meninggalkannya entah untuk alas an apapun itu.
            “kalo gitu jangan pergi, hiks…” lirih Via terisak. Gabriel tersenyum tenang, sangat tenang.
            “tapi segala apa yang kita butuhin itu nggak selamanya harus kita raih, karna disekitar kita, masih ada orang-orang yang jauh lebih ngebutuhin kita, Via… aku harap kamu ngerti”
            Via menggeleng berkali-kali. Tidak, dia tidak ingin mengerti apapun tentang perpisahan ini. Yang ia tahu hanyalah, ia ingin bersama Gabriel selamanya, tanpa terhalang oleh apapun.
            “oke, aku akan lepas kepergian kamu, tapi aku nggak mau ngelepas kamu gitu aja, kamu itu milik aku, dan hubungan kita nggak boleh berakhir.
            Gabriel menggeleng berkali-kali, ia terlihat seperti ingin menjelaskan sesuatu, tapi Via seakan menutup kesempatannya.
            “aku akan setia selama kamu pergi, Yel. Aku nggak akan pernah berpaling, kamu bisa percaya kan sama aku? Kamu bisa kan nggak ngeraguin aku?”
            Gabriel memegang kedua pipi Via, ia berusaha tersenyum meski hatinya tercabik,
            “aku tau kamu tulus, tapi… tapi aku yang nggak bisa, Vi, aku—“
            “maksud kamu apa??” kata Via sedikit emosi seraya melepaskan kedua tangan Gabriel dari wajahnya.
            Sebelum Gabriel sempat melanjutkan perkataannya, panggilan untuk para penumpang tujuan Aussie terdengar dari pengeras suara. Gabriel tersenyum miris, waktunya tidak banyak lagi. Gabriel pun menarik pelan kepala Via lalu mengecup puncak kepalanya dengan sayang.
            “aku tahu, suatu saat, cepat atau lambat, kamu akan segera nemuin pengganti aku, yang jauh lebih segala-galanya dari aku, dan yang pasti, dia akan ngasih kamu cinta yang jauh lebih besar dari rasa cinta yang pernah aku tawarin untuk kamu, aku percaya akan hal itu, aku percaya…” ucap Gabriel pelan.
            Via diam mematung, dan ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, ketika Gabriel perlahan menjauh lalu mengambil kopernya yang tadi ia lepaskan dengan sembarang. Gabriel tersenyum, dan berusaha memberi isyarat agar Via tersenyum juga, seperti dirinya.
            “selamat tinggal…” lirih Gabriel pelan seraya melambaikan salah satu tangannya. Via menggeleng berkali-kali. Tidak, seharusnya perpisahan ini tidak pernah terjadi.
            Dan tanpa mereka sadari, dari kejauhan sana ada seseorang yang juga tengah meratapi kepergian Gabriel, tapi  bedanya, ia jauh lebih lebih kuat dari Via sekarang. Meskipun sebenarnya, keadaan hatinya jauh lebih hancur dari keadaan Via. Ia tersenyum perih, menatap punggung yang semakin menjauh itu. Kini ia semakin jauh, jauh dan jauh… kini Dia –Gabriel- semakin tidak mungkin untuk bisa diraih olehnya.

            “selamat tinggal, Gabriel….”



^_^

            Pria bermata sipit itu menggeram putus asa, sudah hampir satu jam ia menunggu jemputannya, tapi selama itu, jemputannya tidak kunjung-kunjung datang. Ia melirik jam tangannya, tidak lama ia berdecak lalu memutuskan untuk pulang saja tanpa perlu menunggu lagi. Ia tidak mau membuang banyak waktunya hanya untuk menunggu. Menunggu, adalah hal yang paling dibencinya. Pria itu menarik kopernya lalu mengangkat tangan kanannya untuk menyetop sebuah taksi.
            Ketika taksi itu sudah berhenti tepat dihadapannya, Pria itu melangkah, tangan kanannya terangkat untuk membuka pintu taksi, tapi bertepatan dengan itu, sebuah tangan mungil yang terasa hangat membungkus tangannya. Pria itu tercenung untuk beberapa saat, tidak lama ia langsung menoleh kesamping dan mendapati seorang Gadis disampingnya.
            “ELO??” Kagetnya.
            Seorang gadis yang ternyata adalah Via langsung menoleh begitu menyadari bahwa ia tidak sedang sendiri disana, ia sedikit terkejut ketika melihat Pria yang kini ada disampingnya, bahkan tangan mereka bersentuhan satu sama lain, tapi keadaan dirinya yang benar-benar hancur saat ini membuat Via tidak bisa berfikir dengan jernih. 3 detik saling menatap, Via akhirnya menarik tangannya dari tangan Pria itu,
            “maaf…” ujarnya pelan seraya menunduk dalam.
            Pria itu mendengus sedikit kesal, lalu memamerkan sebuah senyuman yang terkesan meremehkan Gadis yang ada dihadapannya ini,
            “apa seumur hidup lo, lo Cuma bisa minta maaf? Apa satu kata itu aja yang lo tahu?” katanya membuang wajah. Via hanya terdiam, perpisahannya dengan Gabriel hari ini cukup membuatnya merasa terpukul.
            Via menghela nafas yang terdengar berat, perih itu kembali terasa dan menimbulkan sesak pada rongga dadanya. Pria itu menatap Via yang menunduk seolah ia tengah menatap seorang musuh yang paling ia benci, dan jujur, Pria ini benar-benar merasa tidak habis fikir dengan Gadis aneh yang ada dihadapannya kali ini. Kenapa Gadis ini hanya diam saja sementara ia sudah membentaknya?
            Dan tanpa pernah terlintas difikirannya sedikitpun, tanpa pernah ia menduga sebelumnya, Gadis itu mulai terisak pelan, lalu lama kelamaan isakan yang tadinya pelan itu berubah menjadi sebuah tangis yang begitu memilukan.
            “hiks… hiks… gue salah apa? Kenapa semua orang-orang yang gue sayangi nggak ada satupun yang ngerti sama perasaan gue, kenapa…??”
            Dan yang lebih mengejutkan lagi, Via menghambur kedalam pelukan Pria itu, ia menangis sejadi-jadinya hingga mengundang perhatian halayak banyak. Merasa risih dengan tatapan-tatapan aneh yang dihujani kearahnya, Pria itu berusaha melepasan Via darinya, tapi gagal, Via memeluknya dengan sangat erat,
            “eh… lepas nggak? Lo kenapa sih aneh banget??” Pria itu masih berusaha melepaskan diri dari pelukan Via, tapi tetap gagal. Sebenarnya ia bisa saja mendorong Via jika ia mau, kekuatannya bahkan lebih kuat dari kekuatan Gadis ini, hanya saja, apa kata orang-orang nanti jika ia berbuat kasar pada seorang Gadis yang tengah menangis?
            “Aku cinta sama kamu, kenapa kamu harus pergi ninggalin aku, kenapa?? Hiks.. hiks… aku salah apa?”
            Semakin kacau! Fikir Pria itu. Fikiran-fikiran anehpun mulai menaungi kepalanya tanpa henti. Apa Gadis yang sekarang berada dalam pelukannya ini adalah salah satu pasien rumah sakit jiwa yang melarikan diri? Pria itu bergidik ngeri, dalam satu sentakan kuat, ia mendorong pundak Via hingga terlepas darinya,
            “LO UDAH GILA YA??” Bentaknya, lagi dan lagi. Kembali, Via hanya bisa terdiam seraya menunduk dalam.
            “oh… atau lo baru aja ditinggal pergi sama pacar lo tanpa alesan yang jelas?”
            Tepat sasaran. Ucapan Pria itu tepat sekali dan membuat Via semakin merasa sedih. Via makin sesunggukan. Menanggapi respon Via, Pria itu mengangguk paham. Darisana ia sudah bisa mengetahui bahwa apa yang ia ucapkan tadi adalah benar adanya, ia mengangkat salah satu alisnya, melipat kedua tangannya didepan dada, lantas berkata,
            “cihh… pantes aja lo ditinggalin kayak gini! Lagipula mana ada sih cowok yang mau bertahan sama cewek cengeng kayak lo!” cercanya tanpa memperdulikan bagaimana hancurnya perasaan Via saat ini.
            Tepat saat Via akan membalas perkataan Pria itu, Sang Supir Taksi yang memang menunggu sejak tadi malah mendahuluinya,
            “taksinya jadi atau tidak?”
            Via dan Pria itu sama-sama terkesiap dan sama-sama menoleh kearah sang supir taksi,
            “jadi!!” jawab Pria itu singkat lalu memasuki taksi dan membanting pintunya lumayan keras. Sebelum taksi itu berjalan pergi dan meninggalkan Bandara, Pria itu sempat berkata pada Via,
            “jangan jatuh cinta kalo lo belom siep ditinggalin dan patah hati! Jalan Pak!” titah Pria itu pada sang Supir Taksi. Taksi itupun akhirnya berjalan perlahan meninggalkan Bandara juga meninggalkan Via bersama hatinya yang terluka.
            Tangis Via terhenti saat itu juga. Lamat-lamat ucapan terakhir Pria tadi berpendar dikepalanya tanpa henti.


            ‘jangan jatuh cinta kalo lo belom siep ditinggalin dan patah hati!’




                                                BERSAMBUNG…

0 comments:

Post a Comment