Main Cast:
Alvin
Jonathan as Calvin Adryan
Gabriel
Damanik as Gabriel Nata Pratama
Sivia Azizah
as Alyvia Anastasya
Cakka Nuraga
as Cakka Joshua
Mario
Stevano as Rio Aditya Revano
Ify Alyssa
as Lintang Dify Falery
***
jika
cinta tidak berhasil…bebaskan dirimu…
biarlah hatimu kembali melebarkan sayapnya
serta terbang ke alam bebas lagi..
ingatlah…bahwa kau barangkali mendapatkan cinta dan
kehilangannya..
namun.. saat cinta itu mati.. kau tak perlu ikut mati
bersamanya… (Kahlil Gibran)
biarlah hatimu kembali melebarkan sayapnya
serta terbang ke alam bebas lagi..
ingatlah…bahwa kau barangkali mendapatkan cinta dan
kehilangannya..
namun.. saat cinta itu mati.. kau tak perlu ikut mati
bersamanya… (Kahlil Gibran)
Via duduk dimeja
riasnya sambil menatap dengan pandangan hampa kearah cermin yang memantulkan
wajah manisnya. Ia sudah duduk disana sembari melamun sejak setengah jam yang
lalu, bahkan jam bekernya yang sejak 10 menit lalu berteriak sama sekali tidak
ia hiraukan. Harusnya sekarang Via bergegas ke kamar mandi untuk segera
bersiap-siap berangkat kesekolah, tapi yang ia lakukan sekarang malah melamun
didepan cermin memikirkan apa yang telah terjadi pada hubungannya dengan Iel 2 minggu
yang lalu. Sampai sekarang Via masih sulit mempercayai, bahwa saat ini Iel
sudah bukan miliknya lagi, dan Via merasa pedih dengan kenyataan yang amat
memberatkannya ini. Putus tanpa alas an yang jelas, benar-benar memiriskan.
“Via, kamu kok belum siep-siep? Ini
udah hampir jam 6 Via, nanti kamu telat lho!” kata Bunda yang tiba-tiba saja
menyembul dibalik pintu, Via menatap bayangan Bunda di Cermin, matanya terlihat
sembab, mungkin karna menangis semalaman,
“Bunda, Via hari ini nggak masuk
sekolah ya, Bund? Via—“
“nggak boleh, kamu nggak boleh
bolos, kamu harus tetep sekolah. Bunda nggak ikhlas ngeliat kamu sampe kayak
gini Cuma gara-gara Si Gabriel itu…”
“Bunda… tapi Via butuh waktu lagi” rengek Via, air matanya
kembali menetes, entah untuk yang keberapa kalinya. Via berbalik dan menatap
Bunda dengan tatapan memelas.
“mau sampai kapan? Udahlah, kayak
nggak ada cowok lain aja perasaan”
“Bunda…” rengek Via sekali lagi.
“ sekarang kamu mandi, terus siep-siep. Nanti malem
Bunda akan kenalin kamu sama Anak temen Bunda yang baru balik dari Belanda,
yang jelas anak temen Bunda ini jauh lebih baik dari Si Gabriel itu…” tukas
Bunda cepat sebelum mendengarkan rengekan Via lebih jauh lagi.
“Via nggak mau dikenalin!” tolak Via
mentah-mentah.
“sayangnya Bunda nggak nanya kamu
mau atau nggak. Karna mau nggak mau, suka nggak suka, Bunda akan tetep ngenalin
kamu sama dia. Dan Bunda nggak mau denger penolakan apapun dari kamu. Ngerti?”
Khotbah Bunda didepan Via lantas menghilang kembali dibalik pintu. Yang itu
berarti keputusan Bunda sudah mutlak, tidak bisa diubah lagi. Final.
Via menghela nafas beratnya. Kenapa
Bunda nya selalu saja seperti ini? Kenapa Bunda tidak pernah sekalipun mau
memahami kondisinya? Dan kenapa Bunda selalu saja memaksakan kehendaknya pada
Via?
“Bunda jahat!” sungut Via kesal lalu
bangkit dari depan meja riasnya dan berjalan kearah kamar mandi.
^_^
Tepat ketika waktu menunjukan pukul
07.30, Via dan kawan-kawannya tiba disekolah secara bersamaan. Seperti biasa,
jika berangkat kesekolah, Via selalu saja berangkat bersama sahabat-sahabatnya,
dan untuk hari ini Agnilah yang punya giliran menjemput sahabat-sahabatnya.
Sepanjang perjalanan tadi, Via hanya terdiam. Ia mengunci mulutnya rapat-rapat
dan berusaha untuk tidak menghiraukan sahabat-sahabatnya yang tengah asyik
bercanda. Via hanya menatap hampa keluar jendela sembari mengingat semua
kenangan yang telah ia lewati bersama Gabriel selama 2 tahun merajut kasih
sebagai sepasang kekasih. Dan lagi-lagi, Via harus kembali menelan kepahitan
ketika mengingat bahwa semua kenangan itu telah menjadi sebuah kisah masa lalu
yang telah teronggok mati. Semuanya tidak akan terulang lagi. Berakhir,
semuanya telah berakhir.
“ooo… ternyata ini dia cewek yang
udah DICAMPAKKIN sama Iel, kasian ya? Nasibnya ngenes banget” cibir seseorang
yang tidak lain dan tidak bukan adalah Aren, musuh abadi Via disekolah.
Seakan dikomando, Via, Agni, Shilla,
dan Ify langsung menghentikan langkah mereka secara bersamaan lalu menoleh
kearah sumber suara yang terdengar sumbang tadi. Agni melirik sengit kearah
Aren, Dea, dan Zevana yang ketika itu tengah memamerkan senyum mereka yang
seakan meremehkan Via. Agni tidak bisa menghindari lagi, emosinya seakan naik
detik itu juga.
Mengikuti emosinya, Agni melangkah
maju dan membuat Aren CS terpaksa mundur selangkah. Menurut mereka, Agni
terlihat sangat menakutkan.
“ulangi lagi kata-kata lo barusan!
Cepet ulangin!!” bentak Agni yang sukses membuat Aren CS langsung pucat
ditempat. Tatapan Agni semakin tajam, dan mereka terutama Aren, semakin menciut
karenanya.
“lo semua jangan ngomong macem-macem
tentang sahabat gue kalo elo, elo, dan elo masih sayang sama mulut kalian!
Kalian tentu nggak mau kan kalo mulut kalian yang ember itu gue robek?” ancam
Agni dengan sangat serius. Sahabat Via yang tomboy ini memang selalu melindungi
Via dan sahabat-sahabatnya yang lain. Jika ada yang berbuat tidak menyenangkan
terhadap Via, Ify, dan Shilla, maka Agnilah orang pertama yang akan tersulut
emosinya.
Merasa suasana diantara mereka
semakin menegang, Ify yang sikapnya paling dewasa diantara yang lainnyapun
melangkah maju lalu memegang pundak Agni untuk menenangkan sedikit saja
emosinya. Ify tidak ingin terjadi keributan yang nantinya hanya akan merugikan
Agni sendiri.
“Ag, udah ya? Nggak penting juga lo
urus mereka” ucap Ify sehati-hati mungkin,
“tapi mereka—“
“udah, gue nggak apa-apa kok. Lagian
apa yang Aren bilang bener, gue emang dicampakkin sama Iel, terus letak
salahnya dimana??” Via tersenyum miris lalu berjalan terlebih dahulu dengan
langkah terburu-buru tanpa menunggu ketiga sahabatnya itu.
“Via!!” panggil Shilla lantas
berlari kecil mengejar langkah Via yang sudah lumayan jauh.
“Via… Via… lo mau kemana??” cegat
seseorang tiba-tiba. Dia adalah Rio, salah satu sahabat terdekat Gabriel.
“mau kekelas” jawab Via seadanya. Ia
berusaha keras menyembunyikan getar-getar pada nada suaranya yang terdengar
lirih.
“mending sekarang lo kejer Iel deh,
Vi!”
“kenapa gue harus kejer dia? Dia aja
udah nggak peduli lagi sama gue” Rio mengusap wajahnya putus asa, bagaimana ia
harus menjelaskannya pada Via?
“Iel sekarang di Bandara, Vi!
Setengah jam lagi pesawatnya bakalan take off”
“APA??” Kaget Via. Kali ini ia sudah
tidak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya dihadapan Rio.
“Gabriel pindah ke Aussie, Vi. Dan
hari ini Iel berangkat, pesawatnya terbang jam setengah 8 pagi ini”
Merasa tidak perlu lagi mendengarkan
penjelasan Rio, Via langsung berbalik, lalu berlari sekencang-kencangnya
meninggalkan sekolah hendak menyusul Gabriel dibandara. Semoga masih ada waktu.
Fikirnya ditengah kekalutan.
Kini ia sudah tahu alas an kenapa
Gabriel tiba-tiba memutuskan hubungan mereka.
^_^
Via semakin mempercepat larinya saat
kedua kakinya sudah melangkah dikoridor Bandara. Sesekali Via melirik jam tangannya,
masih ada waktu sekitar 10 menit lagi sebelum pesawat yang akan Gabriel
tumpangi take off. Jantung Via berdebar kencang, ia takut tidak bisa memiliki
kesempatan lagi bertemu dengan Gabriel
untuk yang terakhir kalinya. Dalam hati Via terus mengharap, terus berdoa,
berharap agar kali ini saja Tuhan mengirimkan sebuah keajaiban untuknya.
‘Iel…. Jadi ini alas an lo mutusin
gue? Tapi kenapa, Yel? Apa lo nggak bisa percaya sama gue dan ngeraguin
kesetiaan gue…? Please, Yel… jangan pergi , jangan pergi seenggaknya sebelum
gue meluk lo untuk yang terakhir kalinya, please….’ Tanpa sadar, air mata itu
lolos begitu saja dari kedua pelupuk mata Via.
Sadar ia tidak punya banyak waktu
lagi, Via semakin mempercepat larinya tanpa menghiraukan keadaan sekitar yang
benar-benar ramai. Bahkan beberapa kali tanpa sengaja Via menabrak orang-orang
yang tengah lalu lalang, tapi Via tidak peduli, yang ada diotaknya saat ini
hanyalah, ia harus segera menyusul Gabriel sebelum semuanya terlambat dan
menyisakan penyesalan yang teramat sangat disanubarinya.
BRUKKK…. Semuanya terjadi begitu
cepat, Via menubruk tubuh kokoh seseorang hingga ia sendiri jatuh nyaris
tergeletak dilantai, sementara seseorang yang Via tabrak tadi tetap berdiri
dengan kokoh ditempatnya semula tanpa berpindah selangkahpun. Via meringis
kecil lalu mengusap lengannya yang terasa sedikit sakit.
“auu… ma… maaf, Mas…” lirih Via
penuh sesal.
Hening untuk sejenak. Awalnya Via
berfikir, bahwa Pria itu akan mengulurkan tangannya lalu menuntunnya untuk
berdiri, tapi yang Via dapati malah sangat berbanding terbalik dengan apa yang
terjadi detik ini juga. Pria itu membentaknya dihari pertama mereka bertemu.
“NGGAK PUNYA MATA YA??” Bentaknya
sinis. Via terkejut lantas mendongak. Gurat-gurat angkuh dari wajah tampan itu
langsung menyambutnya.
“sekali lagi maaf, gue… gue nggak
sengaja…” ucap Via pada akhirnya dengan susah payah. Namun bukannya menanggapi
permintaan maaf Via, Pria itu malah kembali membentak Via tanpa perasaan,
“Maaf lo itu nggak berguna!!”
Meskipun kedua mata itu bersembunyi
dibalik kaca mata hitamnya, tapi Via tahu betul bahwa Pria itu tengah
menatapnya tajam dengan tatapan bengis. Air muka Pria itu memperlihatkan jelas
bagaimana emosinya yang tengah meluap kali ini. Via berfikir cepat, sepertinya
jika ia meladeni Pria ini untuk bertengkar waktunya akan terbuang sia-sia
begitu saja, dan kesempatannya untuk bertemu dengan Gabriel disaat terakhirnya
akan terbuang percuma. Via menggelengkan kepalanya, bangkit lalu melanjutkan
larinya yang sempat terhenti karna insiden kecil barusan,
“sekali lagi gue minta maaf, tapi
gue lagi buru-buru!” ucap Via cepat saat melewati tubuh kekar Pria berwajah
oriental itu.
Pria tadi tidak mengeluarkan sepatah
katapun, ia membalik badannya perlahan, membuka kaca matanya lalu menatap
punggung Via yang nyaris menghilang diantara kerumunan orang-orang yang lalu
lalang.
^_^
“IEEELLLL!!!!” Teriak Via dengan
suara melengking ketika ia melihat Gabriel yang saat itu tengah menarik
kopernya. Meski hanya dengan melihat punggungnya saja, tapi Via tau betul bahwa
Pria itu adalah Gabriel. Satu-satunya Pria yang selama ini mengisi relungnya,
dan satu-satunya Pria yang selamanya akan tetap tinggal direlungnya.
Gabriel menghentikan langkah, dan
ketika ia membalik badannya, ia langsung merasakan bahwa detik itu juga Via
sudah menubruk tubuhnya dan menangis dalam pelukannya.
“hiks… hiks… jadi ini alesan kamu,
Yel? Jadi ini alesan kamu ngeakhirin hubungan kita? Hiks.. hiks…”
“maaf” lirih Gabriel pelan. Ya… hanya
kata Maaf yang kiranya mampu Gabriel
ucapkan detik ini. Tidak ada kata lain selain kata maaf yang mampu
menggambarkan rasa bersalahnya pada Gadis yang saat itu sedang berada dalam
pelukannya. Gabriel melepas kopernya begitu saja lantas membalas pelukan Via.
“aku nggak akan maafin kamu, kecuali
kamu ngebatalin kepergian kamu hari ini… jangan pergi Yel, aku masih pengen
sama kamu…”
“nggak bisa, Via… aku harus tetep
pergi, Papa Mama butuh aku disana”
“aku juga disini butuh kamu, Yel…”
“aku tahu, aku bahkan lebih
ngebutuhin kamu, lebih dari apapun itu aku sangat ngebutuhin kamu”
Via mengurai pelukannya, ia menatap
Gabriel dengan linangan air mata yang mengalir deras membanjiri wajah chubbynya
juga dengan tatapan memohon penuh harap, berharap bahwa Gabriel tidak akan
pernah pergi meninggalkannya entah untuk alas an apapun itu.
“kalo gitu jangan pergi, hiks…”
lirih Via terisak. Gabriel tersenyum tenang, sangat tenang.
“tapi segala apa yang kita butuhin
itu nggak selamanya harus kita raih, karna disekitar kita, masih ada
orang-orang yang jauh lebih ngebutuhin kita, Via… aku harap kamu ngerti”
Via menggeleng berkali-kali. Tidak,
dia tidak ingin mengerti apapun tentang perpisahan ini. Yang ia tahu hanyalah,
ia ingin bersama Gabriel selamanya, tanpa terhalang oleh apapun.
“oke, aku akan lepas kepergian kamu,
tapi aku nggak mau ngelepas kamu gitu aja, kamu itu milik aku, dan hubungan
kita nggak boleh berakhir.
Gabriel menggeleng berkali-kali, ia
terlihat seperti ingin menjelaskan sesuatu, tapi Via seakan menutup
kesempatannya.
“aku akan setia selama kamu pergi,
Yel. Aku nggak akan pernah berpaling, kamu bisa percaya kan sama aku? Kamu bisa
kan nggak ngeraguin aku?”
Gabriel memegang kedua pipi Via, ia
berusaha tersenyum meski hatinya tercabik,
“aku tau kamu tulus, tapi… tapi aku
yang nggak bisa, Vi, aku—“
“maksud kamu apa??” kata Via sedikit
emosi seraya melepaskan kedua tangan Gabriel dari wajahnya.
Sebelum Gabriel sempat melanjutkan
perkataannya, panggilan untuk para penumpang tujuan Aussie terdengar dari
pengeras suara. Gabriel tersenyum miris, waktunya tidak banyak lagi. Gabriel
pun menarik pelan kepala Via lalu mengecup puncak kepalanya dengan sayang.
“aku tahu, suatu saat, cepat atau
lambat, kamu akan segera nemuin pengganti aku, yang jauh lebih segala-galanya
dari aku, dan yang pasti, dia akan ngasih kamu cinta yang jauh lebih besar dari
rasa cinta yang pernah aku tawarin untuk kamu, aku percaya akan hal itu, aku
percaya…” ucap Gabriel pelan.
Via diam mematung, dan ia sama
sekali tidak bisa berbuat apa-apa, ketika Gabriel perlahan menjauh lalu
mengambil kopernya yang tadi ia lepaskan dengan sembarang. Gabriel tersenyum,
dan berusaha memberi isyarat agar Via tersenyum juga, seperti dirinya.
“selamat tinggal…” lirih Gabriel
pelan seraya melambaikan salah satu tangannya. Via menggeleng berkali-kali.
Tidak, seharusnya perpisahan ini tidak pernah terjadi.
Dan tanpa mereka sadari, dari
kejauhan sana ada seseorang yang juga tengah meratapi kepergian Gabriel,
tapi bedanya, ia jauh lebih lebih kuat
dari Via sekarang. Meskipun sebenarnya, keadaan hatinya jauh lebih hancur dari
keadaan Via. Ia tersenyum perih, menatap punggung yang semakin menjauh itu.
Kini ia semakin jauh, jauh dan jauh… kini Dia –Gabriel- semakin tidak mungkin
untuk bisa diraih olehnya.
“selamat tinggal, Gabriel….”
^_^
Pria bermata sipit itu menggeram
putus asa, sudah hampir satu jam ia menunggu jemputannya, tapi selama itu,
jemputannya tidak kunjung-kunjung datang. Ia melirik jam tangannya, tidak lama
ia berdecak lalu memutuskan untuk pulang saja tanpa perlu menunggu lagi. Ia
tidak mau membuang banyak waktunya hanya untuk menunggu. Menunggu, adalah hal
yang paling dibencinya. Pria itu menarik kopernya lalu mengangkat tangan
kanannya untuk menyetop sebuah taksi.
Ketika taksi itu sudah berhenti
tepat dihadapannya, Pria itu melangkah, tangan kanannya terangkat untuk membuka
pintu taksi, tapi bertepatan dengan itu, sebuah tangan mungil yang terasa
hangat membungkus tangannya. Pria itu tercenung untuk beberapa saat, tidak lama
ia langsung menoleh kesamping dan mendapati seorang Gadis disampingnya.
“ELO??” Kagetnya.
Seorang gadis yang ternyata adalah
Via langsung menoleh begitu menyadari bahwa ia tidak sedang sendiri disana, ia
sedikit terkejut ketika melihat Pria yang kini ada disampingnya, bahkan tangan
mereka bersentuhan satu sama lain, tapi keadaan dirinya yang benar-benar hancur
saat ini membuat Via tidak bisa berfikir dengan jernih. 3 detik saling menatap,
Via akhirnya menarik tangannya dari tangan Pria itu,
“maaf…” ujarnya pelan seraya
menunduk dalam.
Pria itu mendengus sedikit kesal,
lalu memamerkan sebuah senyuman yang terkesan meremehkan Gadis yang ada
dihadapannya ini,
“apa seumur hidup lo, lo Cuma bisa
minta maaf? Apa satu kata itu aja yang lo tahu?” katanya membuang wajah. Via
hanya terdiam, perpisahannya dengan Gabriel hari ini cukup membuatnya merasa
terpukul.
Via menghela nafas yang terdengar
berat, perih itu kembali terasa dan menimbulkan sesak pada rongga dadanya. Pria
itu menatap Via yang menunduk seolah ia tengah menatap seorang musuh yang
paling ia benci, dan jujur, Pria ini benar-benar merasa tidak habis fikir
dengan Gadis aneh yang ada dihadapannya kali ini. Kenapa Gadis ini hanya diam
saja sementara ia sudah membentaknya?
Dan tanpa pernah terlintas
difikirannya sedikitpun, tanpa pernah ia menduga sebelumnya, Gadis itu mulai
terisak pelan, lalu lama kelamaan isakan yang tadinya pelan itu berubah menjadi
sebuah tangis yang begitu memilukan.
“hiks… hiks… gue salah apa? Kenapa
semua orang-orang yang gue sayangi nggak ada satupun yang ngerti sama perasaan
gue, kenapa…??”
Dan yang lebih mengejutkan lagi, Via
menghambur kedalam pelukan Pria itu, ia menangis sejadi-jadinya hingga
mengundang perhatian halayak banyak. Merasa risih dengan tatapan-tatapan aneh
yang dihujani kearahnya, Pria itu berusaha melepasan Via darinya, tapi gagal,
Via memeluknya dengan sangat erat,
“eh… lepas nggak? Lo kenapa sih aneh
banget??” Pria itu masih berusaha melepaskan diri dari pelukan Via, tapi tetap
gagal. Sebenarnya ia bisa saja mendorong Via jika ia mau, kekuatannya bahkan
lebih kuat dari kekuatan Gadis ini, hanya saja, apa kata orang-orang nanti jika
ia berbuat kasar pada seorang Gadis yang tengah menangis?
“Aku cinta sama kamu, kenapa kamu
harus pergi ninggalin aku, kenapa?? Hiks.. hiks… aku salah apa?”
Semakin kacau! Fikir Pria itu.
Fikiran-fikiran anehpun mulai menaungi kepalanya tanpa henti. Apa Gadis yang
sekarang berada dalam pelukannya ini adalah salah satu pasien rumah sakit jiwa
yang melarikan diri? Pria itu bergidik ngeri, dalam satu sentakan kuat, ia
mendorong pundak Via hingga terlepas darinya,
“LO UDAH GILA YA??” Bentaknya, lagi
dan lagi. Kembali, Via hanya bisa terdiam seraya menunduk dalam.
“oh… atau lo baru aja ditinggal
pergi sama pacar lo tanpa alesan yang jelas?”
Tepat sasaran. Ucapan Pria itu tepat
sekali dan membuat Via semakin merasa sedih. Via makin sesunggukan. Menanggapi
respon Via, Pria itu mengangguk paham. Darisana ia sudah bisa mengetahui bahwa
apa yang ia ucapkan tadi adalah benar adanya, ia mengangkat salah satu alisnya,
melipat kedua tangannya didepan dada, lantas berkata,
“cihh… pantes aja lo ditinggalin
kayak gini! Lagipula mana ada sih cowok yang mau bertahan sama cewek cengeng
kayak lo!” cercanya tanpa memperdulikan bagaimana hancurnya perasaan Via saat
ini.
Tepat saat Via akan membalas
perkataan Pria itu, Sang Supir Taksi yang memang menunggu sejak tadi malah
mendahuluinya,
“taksinya jadi atau tidak?”
Via dan Pria itu sama-sama terkesiap
dan sama-sama menoleh kearah sang supir taksi,
“jadi!!” jawab Pria itu singkat lalu
memasuki taksi dan membanting pintunya lumayan keras. Sebelum taksi itu
berjalan pergi dan meninggalkan Bandara, Pria itu sempat berkata pada Via,
“jangan jatuh cinta kalo lo belom
siep ditinggalin dan patah hati! Jalan Pak!” titah Pria itu pada sang Supir
Taksi. Taksi itupun akhirnya berjalan perlahan meninggalkan Bandara juga
meninggalkan Via bersama hatinya yang terluka.
Tangis Via terhenti saat itu juga.
Lamat-lamat ucapan terakhir Pria tadi berpendar dikepalanya tanpa henti.
‘jangan
jatuh cinta kalo lo belom siep ditinggalin dan patah hati!’
BERSAMBUNG…



0 comments:
Post a Comment