“Lumpuhkanlah
ingatanku… Hapuskan tentang dia… Hapuskan memoriku tentangnya…”
***
Air
mata itu perlahan surut, mungkin hati itu masih enggan sembuh dari sakitnya,
dan mungkin juga luka itu belum mau mengering. Tetapi, pintu hati itu selalu
terbuka, selalu siap menerima siapa saja yang ingin memasukinya dan menghapus
semua luka serta kesakitan itu.
Kenyataan yang cukup memilukan itu
ternyata tidak mengubah apapun, atas perintah dari Sang Pemilik Semesta ini,
bukankah bumi masih berputar bersama sang waktu? Bukankah mentari masih terus
bersinar dan menjalankan tugasnya dengan baik? Bukankah bintang-bintang masih
tetap berpijar menghiasi langit dimalam hari? Dan bukankah rembulan masih setia
tersenyum menemani malamnya yang sunyi? Lalu apa yang harus ditangisi?
Biarkan dia pergi, meninggalkan
berjuta kenangan untuk diingat dalam beberapa waktu saja, lalu kemudian
terhapuskan oleh waktu dan tertelan oleh kejenuhan yang meraja. Biarkan dia
pergi… pergi sejauh yang ia inginkan. Bilaperlu lepaskan ia, biarkan ia terbang
setinggi rasi bintang.
Terus melangkah, jangan biarkan
kenangan serta bayang-bayang masa lalu menghentikan langkahmu pada satu titik.
Tegakkan wajahmu, lempar jauh tatapanmu ke ujung jalan itu, lalu lihatlah
dengan mata hatimu… disana masih ada sebongkah hati yang baru tengah menunggumu
dan telah siap untuk kau miliki…
***
“Jadi hari ini Via bolos?” Tanya Rio
pada seorang Gadis cantik yang saat ini tengah duduk disisinya. Gadis cantik
tadi –Ify- hanya mengangguk sekali, ia juga hanya menatap Rio sejenak.
Entahlah, ia mendadak merasa gusar.
“dia pasti terpukul banget karna
kepergian Gabriel” lanjutnya lagi. Ify masih bergeming dan bertahan dengan
kebisuannya. Ia lalu melirik jam tangannya sejenak lantas mengalihkan
tatapannya pada Rio yang saat itu masih duduk dibelakang setir.
“gue masuk ya, Yo? Udah hampir jam
3, nanti Papa sama Mama marah gara-gara gue pulang telat” kata Ify sehati-hati
mungkin seraya melepaskan sabuk pengaman yang tersampir ditubuh rampingnya. Rio
hanya mengangguk.
Tepat ketika Ify akan membuka pintu
mobil milik Rio, tahu-tahu ia merasakan sebuah tangan kekar menahan tangannya
lalu mengenggamnya lembut. Ify tersentak, itu bukan sentuhan pertama dari Rio,
tapi entah kenapa, Ify selalu saja tergetar setiap kali Pria berwajah manis ini
menyentuhnya. Ify suka dengan cara Rio memperlakukannya.
“kita masih akan terus bertahan kan?
Dan kita masih akan terus berjuang kan? Demi kita…” nada takut terdengar dengan
sangat jelas dari cara Rio mengucapkan beberapa pertanyaan retoris itu. Ify
berusaha tersenyum, meskipun hatinya tidak melakukan hal yang sama seperti yang
bibirnya lakukan. Ify hanya ingin menenangkan Rio. Hanya itu.
“selalu, Rio…” Ify sedikit
mendekatkan wajahnya dengan wajah Rio, lalu dengan cepat Ify mengecup pipi
sebelah kanan Rio. Rio tersenyum, sejak awal hatinya tidak pernah salah
memilih. Meskipun sebuah sekat bernama perbedaan membentang dihadapan mereka
lengkap dengan segala rintangan-rintangannya, tapi toh mereka tetap bisa
bertahan hingga 2 tahun lamanya. Dan mereka yakin akan bisa bertahan sampai
nanti Tuhan sendiri yang akan turun tangan memisahkan mereka melalui garis
takdirnya. Tapi mereka yakin, Tuhan tidak akan sekejam itu.
Ify membelai lembut wajah Rio lalu
keluar dari dalam mobil Rio dengan perasaan yang bercampur aduk. Sebelum
memasuki gerbang rumahnya, Ify sempat melambaikan tangannya kearah Rio.
“aku masuk ya? Kamu hati-hati
dijalan…” Ify membuka pintu gerbangnya setelah Rio mengangguk seraya tersenyum.
Tidak lama, Ify pun menghilang dibalik pintu gerbang rumahnya.
Rio tersenyum miris. Perlahan tangan
kananya terangkat lalu menyentuh kalung Salib yang bertengger dilehernya. Rio
mengenggamnya erat,
“Tuhan… kuatkan kami…”
****
Malam yang cerah bertahtakan
milyaran bintang-bintang yang bersinar terang ternyata tidak secerah hati Via,
bintang-bintang yang dulu selalu berpijar dihatinya kini perlahan meredup tanpa
cahaya sama sekali.
Via duduk dihalaman belakang
rumahnya sambil memegang sebuah kotak yang lumayan besar. Isi kotak itu adalah
barang-barang kenangan yang dulu pernah Gabriel berikan padanya selama 2 tahun
mereka berpacaran. Cahaya dari api unggun yang beberapa saat lalu ia buat
sendiri meneranginya. Via memeluk erat kotak itu, seakan tidak rela jika kotak
kenangan itu harus terlepas. Tapi kenyataan ini, memaksa ia harus melepaskan
kotak itu dan memusnahkan semua isinya. Biar bagaimanapun, Via harus bisa
sembuh dari sakitnya sekarang, ia tidak mungkin terus-terusan menangisi dan
memikirkan Gabriel seperti ini, sementara Gabriel sendiri? Tidak jelas apakah
ia juga sedang menangisi dan memikirkan Via disana. Entahlah.
Via menghela nafas beratnya, perih
itu kembali terasa dan seakan tertawa jauh didalam sana, menertawakan keadaan
Via saat ini. Via memejamkan matanya sejenak, sebulir air matanya lolos begitu
saja dan jatuh tepat diatas kotak itu.
Via berusaha mengikhlaskan hatinya.
Kali ini ia harus bisa melupakan dan membuang semua kenangan tentang Gabriel.
Via membuka penutup kotak itu, foto-foto dirinya bersama Gabriel menjadi
sasaran utama. Setelah melihat foto-foto itu untuk beberapa saat, Via pun
langsung melempar semua foto-foto itu ke api unggung tadi hingga terbakar
habis. Via tersenyum miris,
“selamat tinggal, Iel! Mulai detik
ini aku akan ngelupain semua tentang kamu, semuanya tanpa terkecuali. Kelak,
aku akan menemukan penggantimu, yang jauh lebih mencintaiku, dan yang pasti,
dia akan memberikanku sebuah cerita yang jauh lebih indah dari cerita-cerita
yang dulu pernah kamu suguhkan dalam hidupku…”
Tepat setelah Via berkata seperti
itu, sebuah bintang pun terjatuh. Bintang itu seakan merestui harapan yang Via
buat malam ini.
***
“tadi Pak Kemal nyariin kamu di
Bandara sampai 2 jam lho, Vin!” ujar seorang wanita yang berusia sekitar 37
tahun yang duduk disebrang Alvin, dialah Kintan, Ibu Kandung dari Alvin.
“aku nungguin Pak Kemal sampe sejam.
Mama tahu sendirikan kalo aku paling benci sama yang namanya nunggu, aku nggak
suka dibuat menunggu”
Kintan menghela nafas panjang. Ia sudah
menebak bahwa pasti Alvin akan menjawabnya seperti ini, dan Kintan sangat
mengerti dengan sikap Putera Semata Wayangnya itu.
“tadi Pak Kemal salah nunggu, dia
malah nungguin kamu di kedatangan dalam negri” terang Mama, berusaha membuat
Alvin mengerti.
“lagian kenapa nggak Mama aja yang
nggak jemput?”
“tadi Mama lagi banyak kerjaan
dikantor, Vin. Akhir-akhiran ini Mama memang lagi sibuk”
“bukan hanya akhir-akhiran ini, tapi
Mama memang selalu sibuk. Dan kalo memang seperti itu, kenapa Mama malah nyuruh
aku pulang? Aku mending tinggal di Belanda sama Om dan Tante, yang jelas mereka
jauh lebih perhatian” Alvin mulai kesal, tapi ia tetap berusaha untuk
mengontrol emosinya. Biar bagaimanapun Wanita yang ada dihadapannya ini adalah
Ibu Kandungnya, Ibu yang rela mempertaruhkan nyawanya ketika melahirkannya.
Lagipula Kintan sibuk bekerja
seperti ini bukan atas kemauannya sendiri. Sejak kematian suaminya 10 tahun
yang lalu, maka sejak itulah Kintan mengambil alih posisi suaminya sebagai
tulang punggung keluarga hanya semata-mata untuk menghidupi Alvin. Sejak saat
itu juga, praktis waktu Kintan jadi tersita untuk Alvin. Ia harus mati-matian
mempertahankan perusahaan milik suaminya agar tidak hancur, perusahaan itu
adalah saksi bisu bagaimana perjuangan suaminya semasa hidup, dan Kintan tidak
ingin menyia-nyiakan perjuangan serta pengorbanan suaminya itu.
3 tahun setelah kematian suaminya,
Kintan terpaksa mengirim Alvin ke Belanda untuk tinggal bersama Om dan
Tantenya. Ia takut karna kesibukannya yang tidak ada habisnya itu, ia jadi
lalai dalam menjaga Alvin, maka dari itulah Kintan mengirim Alvin ke Belanda,
Kintan tidak ingin Alvin merasa kekurangan kasih sayang dan perhatian. Tapi apa
yang Kintan lakukan itu malah jadi boomerang bagi dirinya sendiri.
“Mama sengaja menyibukan diri hari
ini, maksudnya supaya kerjaan Mama bisa cepet selesai dan Mama bisa ngeluangin
waktu untuk kamu selama 3 bulan ini. Tadi juga Mama udah nyerahin seluruh
urusan kantor sama Pak Irghi. Mama Cuma kangen sama anak Mama, Mama sangat
kangen sama anak Mama” ucap Kintan lirih lalu beringsut dari meja makan.
Alvin melepaskan sendok beserta
garpunya detik itu juga. Hatinya mencelos mendengarkan ucapan terakhir Mamanya.
Alvin yang egois.
“Ma…” panggil Alvin pelan penuh
penyesalan. Kintan menghentikan langkahnya tapi tidak menoleh kearah Alvin, “Maaf…”
lanjut Alvin.
Kintan tersenyum, ia menyeka air
matanya lantas berkata,
“nggak apa-apa. Oya, besok Rio akan
jemput kamu dan nunjukin sekolah baru kamu. Kamu satu sekolah sama Rio, dan
kamu juga musti siap-siap, karna besok kita harus sudah pindah dari rumah ini”
“Iya, Ma…”
***
Via turun dari lantai atas rumahnya
sambil menyenandungkan sebuah lagu. Berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya selama
2 minggu terakhir ini, pagi ini Via terlihat lebih ceria. Ia seakan tidak
memiliki masalah apapun, dan ia terlihat baik-baik saja meskipun semalam ia
tidak henti-hentinya menangis.
Ayah, Bunda, berserta saudara
kembarnya –Cakka- tentu saja merasa heran melihat perubahan sikap Via pagi ini.
Awalnya mereka semua berfikir, bahwa sejak kepergian Gabriel, Via akan
mengalami patah hati berkepanjangan dan galau yang yang tidak akan pernah ada
habisnya, tapi apa yang mereka semua fikirkan malah berbanding terbalik dengan
kenyataan yang sekarang mereka lihat. Via terlihat baik-baik saja, dan ini
dapat mereka katakan luar biasa.
“lo baik-baik aja kan, Vi? Lo masih
waras kan?” Tanya Cakka skeptic ketika Via sudah duduk disampingnya dan
menyeruput segelas cokelat hangat kesukaannya.
“gue baik-baik aja, gue juga masih
waras kok. Kenapa lo nanya kayak gitu?”
“nggak kenapa-napa, Cuma heran aja. Baru
semalem lo nangis-nangisan gara-gara ditinggal Gabriel, tapi sekarang??”
“nggak usah sebut nama Gabriel lagi!
Gue males ngedengernya” semuanya semakin kaget ketika mendengarkan perkataan
Via barusan. Ini bukan hanya luar biasa, tapi ajaib.
Tapi dibalik keterkejutannya itu,
Bunda merasa lega. Lega karna mendapati Puterinya yang ternyata kuat. Bunda
bangga pada Via.
“jadi ceritanya udah mau move on nih
dari Iel?” Tanya Bunda tiba-tiba, Via melirik kearah Bunda sambil mengangkat
jempolnya. Senyum Bunda semakin melebar.
“kalo udah move on, berarti Via mau
dong Bunda kenalin sama anak temen Bunda. Anak temen Bunda cakep lho, Vi. Lebih
cakep dari Iel, dan dia juga baru pulang dari Belanda, gimana? Mau?”
Sebelum Via sempat menjawab, Ayah
malah mendahului,
“Ayah harap tidak ada rencana
perjodohan apapun dibalik perkenalan itu” Ucap Ayah tegas dengan nada
memperingati,
“Ayah tenang aja! Bunda tahu kok apa
yang harus Bunda lakuin”
“Jodohin aja, Yah, Bund, biar Via
nggak galau-galauan lagi” kata Cakka seenaknya. Via yang tidak terima dengan
ucapan Cakka barusan langsung menjitak kepala saudara kembarnya itu.
“aw… sakit tau?” kesal Cakka seraya
melirik tak suka kearah Via. Yang dilirik seperti itu malah terlihat
santai-santai saja.
“makanya jangan asal ngomong, yang
harusnya dijodohin itu elo, biar kagak jadi play boy lagi! Dasar play boy cap
kangkung”
“gue ini Play boy berkelas dan
berwibawa, bukan play boy cap kangkung seperti yang lo bilang”
“emangnya gue peduli??”
“sudah sudah… kenapa jadi pada
berantem sih?” Ayah berusaha menyudahi perseteruan yang terjadi diantara Cakka
dan Via. Jika tidak dihentikan, sudah dapat dipastikan bahwa perseteruan mereka
itu tidak akan pernah menemui ujungnya.
“oya Bunda, bukannya seharusnya
acara perkenalannya tadi malem ya, Bund?” Tanya Via pada Bunda ketika ia
mengingat sesuatu.
“harusnya sih semalem, tapi karna
kamu lagi galau dan nggak bisa diganggu, jadi terpaksa Bunda batalin. Anaknya
temen Bunda juga masih capek, maklum abis dari perjalanan jauh”
“ooo…”
“jadi gimana? Kamu mau dikenalin?”
“terserah Bunda aja deh, Via mah
ngikut aja” jawab Via lalu memakan potongan sandwichnya.
“oke! Hari ini juga rencananya
mereka sekeluarga bakalan pindah, mereka satu komplek sama kita, dan rumah
mereka, tepat disamping rumah kita”
“widihhh… acara perjodohannya
kayaknya bakalan lancar nih”
“CAKKA!!” Ucap Via dan Ayah secara
bersamaan sambil melirik Cakka dengan tatapan tidak suka. Cakka hanya nyengir
seraya mengangkat kedua jarinya membentuk huruf ‘V’
****
“Shilla, lo semalem abis begadang
ya?” Tanya Agni pada Shilla yang duduk disampingnya sambil tetap focus menyetir,
Shilla yang masih dalam keadaan setengah sadar hanya mengangguk, mengiyakan
pertanyaan yang Agni lemparkan padanya baru saja.
“begadang ngapain, Shill?” sambut
Via yang duduk dijok belakang bersama Ify yang ketika itu tengah melamun sambil
melihat keluar jendela, entah apa yang sedang Ify fikirkan.
“abis chatting” jawab Shilla
seadanya. Kedua matanya tetap terpejam.
“chatting? Sama siapa??” Tanya Via
yang masih merasa penasaran.
“seseorang”
“siapa??”
Tidak terdengar jawaban apapun dari
Shilla. Via mendengus kesal saat tahu bahwa Shilla malah melanjutkan tidurnya. Dasar
tidak sopan! Ditanya malah tidak menjawab. Via memanyunkan bibirnya, Agni yang
bisa menangkap ekspresi lucu Via dari kaca spion malah tertawa nyaris terbahak.
“nggak usah ketawa! Gue lagi nggak
ngelawak” kata Via dengan tatapan pembunuh yang langsung membuat Agni harus
dengan terpaksa membungkam tawanya.
Kelamaan Via mulai merasa ada yang
janggal dengan Ify. Sejak tadi yang Ify lakukan hanyalah berdiam diri. Seperti ada
suatu hal yang tengah Ify fikirkan. Merasa perlu bertanya pada Sahabatnya itu,
Via menyentuh pundak Ify,
“Fy?” panggilnya pelan. Ify
terkesiap lalu menoleh kearah Via,
“eh, kenapa, Vi?”
“lo kenapa dari tadi diem aja? Lagi ada
masalah?”
“masalah…? Enggak kok, nggak ada
masalah apa-apa” jawab Ify yang berusaha menyembunyikan semuanya. Ify tidak
ingin sahabat-sahabatnya tahu tentang permasalahan yang sekarang tengah ia
hadapi.
Mendengar jawaban yang Ify tuturkan,
Agni langsung tersenyum sinis. Ify mungkin bisa membohongi yang lain, tapi
tidak dengan Agni. Agni tahu pasti bahwa Ify tengah berbohong, dan Agni tahu
bahwa saat ini Ify sedang menghadapi masalah yang tidak bisa dianggap remeh.
“lo mau bohongin gue? Nggak mempan,
Fy! Gue tahu lo bohong, dan gue yakin lo pasti lagi ada masalah. Kalo lo emang
nganggep kita sahabat, ya lo harus cerita ke kita”
Ify menghela nafas beratnya. Jika sudah
seperti ini, Ify pasti langsung akan luluh. Ify merasa beruntung karna bisa
memiliki sahabat-sahabat yang pengertian seperti Agni, Via dan Shilla. Tapi masalahnya,
Ify merasa belum siap jika harus menceritakan semuanya sekarang.
“gue akan cerita, tapi nggak
sekarang! Kalian ngerti, ya?” pinta Ify dengan nada memohon. Via dan Agni hanya
mengangguk dan berusaha menghormati keputusan Ify itu.
***
Semua buku-buku yang ada ditangan
Via terjatuh ketika seseorang yang saat itu berjalan dari arah yang berlawanan
dengannya menuburuk tubuhnya tanpa sengaja. Via berdecak kesal lalu mengambil
kembali buku-buku yang terjatuh itu. Bukannya menolong, seseorang yang tadi
menubruk Via malah tetap berdiri diposisinya tanpa sedikitpun memiliki
inisiatif untuk membantu Via membereskan buku-buku yang jatuh itu. Jangankan membantu,
minta maaf saja tidak. Setelah membereskan buku-bukunya, Via bangkit, dengan
kesal ia berkata,
“eh, lo kalo jalan pake ma—“ Via
tidak melanjutkan perkataannya ketika ia melihat seseorang yang sudah
menabraknya itu. Otak Via berfikir cepat, sepertinya ia pernah bertemu dengan
Pria ini sebelumnya.
Tidak lama kemudian… oh ya, Via
ingat! Dia pernah bertemu sebelumnya dengan Pria ini dibandara, dan waktu itu…
Via langsung geram ketika mengingat pertemuan pertamanya dengan Pria ini. Andai
saja waktu Via tidak sedang dalam keadaan galau, mungkin sekarang Pria ini
tidak akan pernah berdiri dihadapannya.
“ELO LAGI!!” Kaget Via. Sementara Pria
itu, ia tetap terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada raut terkejut yang menghiasi
wajah tampannya.
“mumpung lo lagi ada disini! Gue mau
ngedamprat lo. Asal tau ya? Gue masih dendem sama lo gara-gara kejadian di
Bandara kemarin? Ngapain lo ngebentak-bentak gue kayak kemaren? Kenal gue aja
lo nggak. Dan lain kali, kalo lo berbuat salah sama orang, biasain diri lo buat
minta maaf, nggak pernah diajarin minta maaf ya sama orang tua lo?”
Pria itu masih berdiam diri. Dan sepertinya
ia tidak memiliki niat sedikitpun untuk menggubris perkataan Via.
“kenapa lo diem aja?? Mendadak gagu
lo? Bukannya kemaren di Bandara lo ngebentak-bentak gue seenak udel lo? Kenapa sekarang
diem aja?”
Kali ini Pria itu menatap Via tajam.
Via yang ditatap seperti itu tentu saja merasa kaget. Via melotot, tapi Pria
itu tetap bergeming. Via menelan ludahnya, sepertinya ia telah salah membuat
masalah dengan Pria aneh ini.
“udah selese ngocehnya?” Tanya Pria
itu dingin. Bahkan mungkin lebih dingin dari salju yang ada dikutub utara. Via
hanya mengangguk tanpa mampu berucap, tatapan tajam Pria itu sudah cukup
membuatnya shock.
Pria itu melewati Via begitu saja,
seakan-akan Via tidak pernah ada ditempat itu. Via makin geram dengan tingkah
aneh Pria itu.
“HEH LO!!” Panggil Via sedikit keras
hingga membuat langkah Pria itu terhenti.
“lo bener-bener nggak mau minta maaf
sama gue?”
Pria itu tersenyum simpul lantas
dengan tegas berucap,
“Cuma orang-orang bodoh yang mau
minta maaf, dan gue bukan termasuk orang-orang bodoh itu”
“ELOOO!!!” Kesal Via nyaris saja
melepas sepatunya dan melemparkannya kekepala Pria menyebalkan itu.
“dan ohya…” Pria itu berbalik lalu
menatap Via dengan tatapan sedikit heran,
“apa kita pernah bertemu sebelumnya…?”
Pria itu berbalik kembali lantas
melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Keterlaluan! Benar-benar
keterlaluan. Pria itu sudah benar-benar menghinanya, dan ini tidak bisa
dibiarkan lagi. Via bersumpah akan membalas perlakuan Pria itu padanya.
“RESEEEE!!! DASAR COWOK FREAK! AWAS
AJA LO NANTI, GUE BALES LO!!” Teriak Via tanpa sadar. Semua perhatian
orang-orang yang tengah lalu lalang dikoridor langsung mengarah pada Via. Tapi Via
tidak peduli. Masa bodoh, ia sedang kesal dan ingin sekali membunuh Pria aneh
itu.
BERSAMBUNG…



0 comments:
Post a Comment