Thursday, November 7, 2013

0

Lebih Dari Indah [Chapter 2: Move On?? Harus Bisa!!]








“Lumpuhkanlah ingatanku… Hapuskan tentang dia… Hapuskan memoriku tentangnya…”

***

            Air mata itu perlahan surut, mungkin hati itu masih enggan sembuh dari sakitnya, dan mungkin juga luka itu belum mau mengering. Tetapi, pintu hati itu selalu terbuka, selalu siap menerima siapa saja yang ingin memasukinya dan menghapus semua luka serta kesakitan itu.
            Kenyataan yang cukup memilukan itu ternyata tidak mengubah apapun, atas perintah dari Sang Pemilik Semesta ini, bukankah bumi masih berputar bersama sang waktu? Bukankah mentari masih terus bersinar dan menjalankan tugasnya dengan baik? Bukankah bintang-bintang masih tetap berpijar menghiasi langit dimalam hari? Dan bukankah rembulan masih setia tersenyum menemani malamnya yang sunyi? Lalu apa yang harus ditangisi?
            Biarkan dia pergi, meninggalkan berjuta kenangan untuk diingat dalam beberapa waktu saja, lalu kemudian terhapuskan oleh waktu dan tertelan oleh kejenuhan yang meraja. Biarkan dia pergi… pergi sejauh yang ia inginkan. Bilaperlu lepaskan ia, biarkan ia terbang setinggi rasi bintang.
            Terus melangkah, jangan biarkan kenangan serta bayang-bayang masa lalu menghentikan langkahmu pada satu titik. Tegakkan wajahmu, lempar jauh tatapanmu ke ujung jalan itu, lalu lihatlah dengan mata hatimu… disana masih ada sebongkah hati yang baru tengah menunggumu dan telah siap untuk kau miliki…

***

            “Jadi hari ini Via bolos?” Tanya Rio pada seorang Gadis cantik yang saat ini tengah duduk disisinya. Gadis cantik tadi –Ify- hanya mengangguk sekali, ia juga hanya menatap Rio sejenak. Entahlah, ia mendadak merasa gusar.
            “dia pasti terpukul banget karna kepergian Gabriel” lanjutnya lagi. Ify masih bergeming dan bertahan dengan kebisuannya. Ia lalu melirik jam tangannya sejenak lantas mengalihkan tatapannya pada Rio yang saat itu masih duduk dibelakang setir.
            “gue masuk ya, Yo? Udah hampir jam 3, nanti Papa sama Mama marah gara-gara gue pulang telat” kata Ify sehati-hati mungkin seraya melepaskan sabuk pengaman yang tersampir ditubuh rampingnya. Rio hanya mengangguk.
            Tepat ketika Ify akan membuka pintu mobil milik Rio, tahu-tahu ia merasakan sebuah tangan kekar menahan tangannya lalu mengenggamnya lembut. Ify tersentak, itu bukan sentuhan pertama dari Rio, tapi entah kenapa, Ify selalu saja tergetar setiap kali Pria berwajah manis ini menyentuhnya. Ify suka dengan cara Rio memperlakukannya.
            “kita masih akan terus bertahan kan? Dan kita masih akan terus berjuang kan? Demi kita…” nada takut terdengar dengan sangat jelas dari cara Rio mengucapkan beberapa pertanyaan retoris itu. Ify berusaha tersenyum, meskipun hatinya tidak melakukan hal yang sama seperti yang bibirnya lakukan. Ify hanya ingin menenangkan Rio. Hanya itu.
            “selalu, Rio…” Ify sedikit mendekatkan wajahnya dengan wajah Rio, lalu dengan cepat Ify mengecup pipi sebelah kanan Rio. Rio tersenyum, sejak awal hatinya tidak pernah salah memilih. Meskipun sebuah sekat bernama perbedaan membentang dihadapan mereka lengkap dengan segala rintangan-rintangannya, tapi toh mereka tetap bisa bertahan hingga 2 tahun lamanya. Dan mereka yakin akan bisa bertahan sampai nanti Tuhan sendiri yang akan turun tangan memisahkan mereka melalui garis takdirnya. Tapi mereka yakin, Tuhan tidak akan sekejam itu.
            Ify membelai lembut wajah Rio lalu keluar dari dalam mobil Rio dengan perasaan yang bercampur aduk. Sebelum memasuki gerbang rumahnya, Ify sempat melambaikan tangannya kearah Rio.
            “aku masuk ya? Kamu hati-hati dijalan…” Ify membuka pintu gerbangnya setelah Rio mengangguk seraya tersenyum. Tidak lama, Ify pun menghilang dibalik pintu gerbang rumahnya.
            Rio tersenyum miris. Perlahan tangan kananya terangkat lalu menyentuh kalung Salib yang bertengger dilehernya. Rio mengenggamnya erat,

            “Tuhan… kuatkan kami…”


****

            Malam yang cerah bertahtakan milyaran bintang-bintang yang bersinar terang ternyata tidak secerah hati Via, bintang-bintang yang dulu selalu berpijar dihatinya kini perlahan meredup tanpa cahaya sama sekali.
            Via duduk dihalaman belakang rumahnya sambil memegang sebuah kotak yang lumayan besar. Isi kotak itu adalah barang-barang kenangan yang dulu pernah Gabriel berikan padanya selama 2 tahun mereka berpacaran. Cahaya dari api unggun yang beberapa saat lalu ia buat sendiri meneranginya. Via memeluk erat kotak itu, seakan tidak rela jika kotak kenangan itu harus terlepas. Tapi kenyataan ini, memaksa ia harus melepaskan kotak itu dan memusnahkan semua isinya. Biar bagaimanapun, Via harus bisa sembuh dari sakitnya sekarang, ia tidak mungkin terus-terusan menangisi dan memikirkan Gabriel seperti ini, sementara Gabriel sendiri? Tidak jelas apakah ia juga sedang menangisi dan memikirkan Via disana. Entahlah.
            Via menghela nafas beratnya, perih itu kembali terasa dan seakan tertawa jauh didalam sana, menertawakan keadaan Via saat ini. Via memejamkan matanya sejenak, sebulir air matanya lolos begitu saja dan jatuh tepat diatas kotak itu.
            Via berusaha mengikhlaskan hatinya. Kali ini ia harus bisa melupakan dan membuang semua kenangan tentang Gabriel. Via membuka penutup kotak itu, foto-foto dirinya bersama Gabriel menjadi sasaran utama. Setelah melihat foto-foto itu untuk beberapa saat, Via pun langsung melempar semua foto-foto itu ke api unggung tadi hingga terbakar habis. Via tersenyum miris,
            “selamat tinggal, Iel! Mulai detik ini aku akan ngelupain semua tentang kamu, semuanya tanpa terkecuali. Kelak, aku akan menemukan penggantimu, yang jauh lebih mencintaiku, dan yang pasti, dia akan memberikanku sebuah cerita yang jauh lebih indah dari cerita-cerita yang dulu pernah kamu suguhkan dalam hidupku…”
            Tepat setelah Via berkata seperti itu, sebuah bintang pun terjatuh. Bintang itu seakan merestui harapan yang Via buat malam ini.

***

            “tadi Pak Kemal nyariin kamu di Bandara sampai 2 jam lho, Vin!” ujar seorang wanita yang berusia sekitar 37 tahun yang duduk disebrang Alvin, dialah Kintan, Ibu Kandung dari Alvin.
            “aku nungguin Pak Kemal sampe sejam. Mama tahu sendirikan kalo aku paling benci sama yang namanya nunggu, aku nggak suka dibuat menunggu”
            Kintan menghela nafas panjang. Ia sudah menebak bahwa pasti Alvin akan menjawabnya seperti ini, dan Kintan sangat mengerti dengan sikap Putera Semata Wayangnya itu.
            “tadi Pak Kemal salah nunggu, dia malah nungguin kamu di kedatangan dalam negri” terang Mama, berusaha membuat Alvin mengerti.
            “lagian kenapa nggak Mama aja yang nggak jemput?”
            “tadi Mama lagi banyak kerjaan dikantor, Vin. Akhir-akhiran ini Mama memang lagi sibuk”
            “bukan hanya akhir-akhiran ini, tapi Mama memang selalu sibuk. Dan kalo memang seperti itu, kenapa Mama malah nyuruh aku pulang? Aku mending tinggal di Belanda sama Om dan Tante, yang jelas mereka jauh lebih perhatian” Alvin mulai kesal, tapi ia tetap berusaha untuk mengontrol emosinya. Biar bagaimanapun Wanita yang ada dihadapannya ini adalah Ibu Kandungnya, Ibu yang rela mempertaruhkan nyawanya ketika melahirkannya.
            Lagipula Kintan sibuk bekerja seperti ini bukan atas kemauannya sendiri. Sejak kematian suaminya 10 tahun yang lalu, maka sejak itulah Kintan mengambil alih posisi suaminya sebagai tulang punggung keluarga hanya semata-mata untuk menghidupi Alvin. Sejak saat itu juga, praktis waktu Kintan jadi tersita untuk Alvin. Ia harus mati-matian mempertahankan perusahaan milik suaminya agar tidak hancur, perusahaan itu adalah saksi bisu bagaimana perjuangan suaminya semasa hidup, dan Kintan tidak ingin menyia-nyiakan perjuangan serta pengorbanan suaminya itu.
            3 tahun setelah kematian suaminya, Kintan terpaksa mengirim Alvin ke Belanda untuk tinggal bersama Om dan Tantenya. Ia takut karna kesibukannya yang tidak ada habisnya itu, ia jadi lalai dalam menjaga Alvin, maka dari itulah Kintan mengirim Alvin ke Belanda, Kintan tidak ingin Alvin merasa kekurangan kasih sayang dan perhatian. Tapi apa yang Kintan lakukan itu malah jadi boomerang bagi dirinya sendiri.
            “Mama sengaja menyibukan diri hari ini, maksudnya supaya kerjaan Mama bisa cepet selesai dan Mama bisa ngeluangin waktu untuk kamu selama 3 bulan ini. Tadi juga Mama udah nyerahin seluruh urusan kantor sama Pak Irghi. Mama Cuma kangen sama anak Mama, Mama sangat kangen sama anak Mama” ucap Kintan lirih lalu beringsut dari meja makan.
            Alvin melepaskan sendok beserta garpunya detik itu juga. Hatinya mencelos mendengarkan ucapan terakhir Mamanya. Alvin yang egois.
            “Ma…” panggil Alvin pelan penuh penyesalan. Kintan menghentikan langkahnya tapi tidak menoleh kearah Alvin, “Maaf…” lanjut Alvin.
            Kintan tersenyum, ia menyeka air matanya lantas berkata,
            “nggak apa-apa. Oya, besok Rio akan jemput kamu dan nunjukin sekolah baru kamu. Kamu satu sekolah sama Rio, dan kamu juga musti siap-siap, karna besok kita harus sudah pindah dari rumah ini”
            “Iya, Ma…”


***

            Via turun dari lantai atas rumahnya sambil menyenandungkan sebuah lagu. Berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya selama 2 minggu terakhir ini, pagi ini Via terlihat lebih ceria. Ia seakan tidak memiliki masalah apapun, dan ia terlihat baik-baik saja meskipun semalam ia tidak henti-hentinya menangis.
            Ayah, Bunda, berserta saudara kembarnya –Cakka- tentu saja merasa heran melihat perubahan sikap Via pagi ini. Awalnya mereka semua berfikir, bahwa sejak kepergian Gabriel, Via akan mengalami patah hati berkepanjangan dan galau yang yang tidak akan pernah ada habisnya, tapi apa yang mereka semua fikirkan malah berbanding terbalik dengan kenyataan yang sekarang mereka lihat. Via terlihat baik-baik saja, dan ini dapat mereka katakan luar biasa.
            “lo baik-baik aja kan, Vi? Lo masih waras kan?” Tanya Cakka skeptic ketika Via sudah duduk disampingnya dan menyeruput segelas cokelat hangat kesukaannya.
            “gue baik-baik aja, gue juga masih waras kok. Kenapa lo nanya kayak gitu?”
            “nggak kenapa-napa, Cuma heran aja. Baru semalem lo nangis-nangisan gara-gara ditinggal Gabriel, tapi sekarang??”
            “nggak usah sebut nama Gabriel lagi! Gue males ngedengernya” semuanya semakin kaget ketika mendengarkan perkataan Via barusan. Ini bukan hanya luar biasa, tapi ajaib.
            Tapi dibalik keterkejutannya itu, Bunda merasa lega. Lega karna mendapati Puterinya yang ternyata kuat. Bunda bangga pada Via.
            “jadi ceritanya udah mau move on nih dari Iel?” Tanya Bunda tiba-tiba, Via melirik kearah Bunda sambil mengangkat jempolnya. Senyum Bunda semakin melebar.
            “kalo udah move on, berarti Via mau dong Bunda kenalin sama anak temen Bunda. Anak temen Bunda cakep lho, Vi. Lebih cakep dari Iel, dan dia juga baru pulang dari Belanda, gimana? Mau?”
            Sebelum Via sempat menjawab, Ayah malah mendahului,
            “Ayah harap tidak ada rencana perjodohan apapun dibalik perkenalan itu” Ucap Ayah tegas dengan nada memperingati,
            “Ayah tenang aja! Bunda tahu kok apa yang harus Bunda lakuin”
            “Jodohin aja, Yah, Bund, biar Via nggak galau-galauan lagi” kata Cakka seenaknya. Via yang tidak terima dengan ucapan Cakka barusan langsung menjitak kepala saudara kembarnya itu.
            “aw… sakit tau?” kesal Cakka seraya melirik tak suka kearah Via. Yang dilirik seperti itu malah terlihat santai-santai saja.
            “makanya jangan asal ngomong, yang harusnya dijodohin itu elo, biar kagak jadi play boy lagi! Dasar play boy cap kangkung”
            “gue ini Play boy berkelas dan berwibawa, bukan play boy cap kangkung seperti yang lo bilang”
            “emangnya gue peduli??”
            “sudah sudah… kenapa jadi pada berantem sih?” Ayah berusaha menyudahi perseteruan yang terjadi diantara Cakka dan Via. Jika tidak dihentikan, sudah dapat dipastikan bahwa perseteruan mereka itu tidak akan pernah menemui ujungnya.
            “oya Bunda, bukannya seharusnya acara perkenalannya tadi malem ya, Bund?” Tanya Via pada Bunda ketika ia mengingat sesuatu.
            “harusnya sih semalem, tapi karna kamu lagi galau dan nggak bisa diganggu, jadi terpaksa Bunda batalin. Anaknya temen Bunda juga masih capek, maklum abis dari perjalanan jauh”
            “ooo…”
            “jadi gimana? Kamu mau dikenalin?”
            “terserah Bunda aja deh, Via mah ngikut aja” jawab Via lalu memakan potongan sandwichnya.
            “oke! Hari ini juga rencananya mereka sekeluarga bakalan pindah, mereka satu komplek sama kita, dan rumah mereka, tepat disamping rumah kita”
            “widihhh… acara perjodohannya kayaknya bakalan lancar nih”

            “CAKKA!!” Ucap Via dan Ayah secara bersamaan sambil melirik Cakka dengan tatapan tidak suka. Cakka hanya nyengir seraya mengangkat kedua jarinya membentuk huruf ‘V’


****

            “Shilla, lo semalem abis begadang ya?” Tanya Agni pada Shilla yang duduk disampingnya sambil tetap focus menyetir, Shilla yang masih dalam keadaan setengah sadar hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan yang Agni lemparkan padanya baru saja.
            “begadang ngapain, Shill?” sambut Via yang duduk dijok belakang bersama Ify yang ketika itu tengah melamun sambil melihat keluar jendela, entah apa yang sedang Ify fikirkan.
            “abis chatting” jawab Shilla seadanya. Kedua matanya tetap terpejam.
            “chatting? Sama siapa??” Tanya Via yang masih merasa penasaran.
            “seseorang”
            “siapa??”
            Tidak terdengar jawaban apapun dari Shilla. Via mendengus kesal saat tahu bahwa Shilla malah melanjutkan tidurnya. Dasar tidak sopan! Ditanya malah tidak menjawab. Via memanyunkan bibirnya, Agni yang bisa menangkap ekspresi lucu Via dari kaca spion malah tertawa nyaris terbahak.
            “nggak usah ketawa! Gue lagi nggak ngelawak” kata Via dengan tatapan pembunuh yang langsung membuat Agni harus dengan terpaksa membungkam tawanya.
            Kelamaan Via mulai merasa ada yang janggal dengan Ify. Sejak tadi yang Ify lakukan hanyalah berdiam diri. Seperti ada suatu hal yang tengah Ify fikirkan. Merasa perlu bertanya pada Sahabatnya itu, Via menyentuh pundak Ify,
            “Fy?” panggilnya pelan. Ify terkesiap lalu menoleh kearah Via,
            “eh, kenapa, Vi?”
            “lo kenapa dari tadi diem aja? Lagi ada masalah?”
            “masalah…? Enggak kok, nggak ada masalah apa-apa” jawab Ify yang berusaha menyembunyikan semuanya. Ify tidak ingin sahabat-sahabatnya tahu tentang permasalahan yang sekarang tengah ia hadapi.
            Mendengar jawaban yang Ify tuturkan, Agni langsung tersenyum sinis. Ify mungkin bisa membohongi yang lain, tapi tidak dengan Agni. Agni tahu pasti bahwa Ify tengah berbohong, dan Agni tahu bahwa saat ini Ify sedang menghadapi masalah yang tidak bisa dianggap remeh.
            “lo mau bohongin gue? Nggak mempan, Fy! Gue tahu lo bohong, dan gue yakin lo pasti lagi ada masalah. Kalo lo emang nganggep kita sahabat, ya lo harus cerita ke kita”
            Ify menghela nafas beratnya. Jika sudah seperti ini, Ify pasti langsung akan luluh. Ify merasa beruntung karna bisa memiliki sahabat-sahabat yang pengertian seperti Agni, Via dan Shilla. Tapi masalahnya, Ify merasa belum siap jika harus menceritakan semuanya sekarang.
            “gue akan cerita, tapi nggak sekarang! Kalian ngerti, ya?” pinta Ify dengan nada memohon. Via dan Agni hanya mengangguk dan berusaha menghormati keputusan Ify itu.

***

            Semua buku-buku yang ada ditangan Via terjatuh ketika seseorang yang saat itu berjalan dari arah yang berlawanan dengannya menuburuk tubuhnya tanpa sengaja. Via berdecak kesal lalu mengambil kembali buku-buku yang terjatuh itu. Bukannya menolong, seseorang yang tadi menubruk Via malah tetap berdiri diposisinya tanpa sedikitpun memiliki inisiatif untuk membantu Via membereskan buku-buku yang jatuh itu. Jangankan membantu, minta maaf saja tidak. Setelah membereskan buku-bukunya, Via bangkit, dengan kesal ia berkata,
            “eh, lo kalo jalan pake ma—“ Via tidak melanjutkan perkataannya ketika ia melihat seseorang yang sudah menabraknya itu. Otak Via berfikir cepat, sepertinya ia pernah bertemu dengan Pria ini sebelumnya.
            Tidak lama kemudian… oh ya, Via ingat! Dia pernah bertemu sebelumnya dengan Pria ini dibandara, dan waktu itu… Via langsung geram ketika mengingat pertemuan pertamanya dengan Pria ini. Andai saja waktu Via tidak sedang dalam keadaan galau, mungkin sekarang Pria ini tidak akan pernah berdiri dihadapannya.
            “ELO LAGI!!” Kaget Via. Sementara Pria itu, ia tetap terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada raut terkejut yang menghiasi wajah tampannya.
            “mumpung lo lagi ada disini! Gue mau ngedamprat lo. Asal tau ya? Gue masih dendem sama lo gara-gara kejadian di Bandara kemarin? Ngapain lo ngebentak-bentak gue kayak kemaren? Kenal gue aja lo nggak. Dan lain kali, kalo lo berbuat salah sama orang, biasain diri lo buat minta maaf, nggak pernah diajarin minta maaf ya sama orang tua lo?”
            Pria itu masih berdiam diri. Dan sepertinya ia tidak memiliki niat sedikitpun untuk menggubris perkataan Via.
            “kenapa lo diem aja?? Mendadak gagu lo? Bukannya kemaren di Bandara lo ngebentak-bentak gue seenak udel lo? Kenapa sekarang diem aja?”
            Kali ini Pria itu menatap Via tajam. Via yang ditatap seperti itu tentu saja merasa kaget. Via melotot, tapi Pria itu tetap bergeming. Via menelan ludahnya, sepertinya ia telah salah membuat masalah dengan Pria aneh ini.
            “udah selese ngocehnya?” Tanya Pria itu dingin. Bahkan mungkin lebih dingin dari salju yang ada dikutub utara. Via hanya mengangguk tanpa mampu berucap, tatapan tajam Pria itu sudah cukup membuatnya shock.
            Pria itu melewati Via begitu saja, seakan-akan Via tidak pernah ada ditempat itu. Via makin geram dengan tingkah aneh Pria itu.
            “HEH LO!!” Panggil Via sedikit keras hingga membuat langkah Pria itu terhenti.
            “lo bener-bener nggak mau minta maaf sama gue?”
            Pria itu tersenyum simpul lantas dengan tegas berucap,
            “Cuma orang-orang bodoh yang mau minta maaf, dan gue bukan termasuk orang-orang bodoh itu”
            “ELOOO!!!” Kesal Via nyaris saja melepas sepatunya dan melemparkannya kekepala Pria menyebalkan itu.
            “dan ohya…” Pria itu berbalik lalu menatap Via dengan tatapan sedikit heran,

            “apa kita pernah bertemu sebelumnya…?”
            Pria itu berbalik kembali lantas melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Keterlaluan! Benar-benar keterlaluan. Pria itu sudah benar-benar menghinanya, dan ini tidak bisa dibiarkan lagi. Via bersumpah akan membalas perlakuan Pria itu padanya.

            “RESEEEE!!! DASAR COWOK FREAK! AWAS AJA LO NANTI, GUE BALES LO!!” Teriak Via tanpa sadar. Semua perhatian orang-orang yang tengah lalu lalang dikoridor langsung mengarah pada Via. Tapi Via tidak peduli. Masa bodoh, ia sedang kesal dan ingin sekali membunuh Pria aneh itu.




                                    BERSAMBUNG…
           
           

0 comments:

Post a Comment