Main Cast:
Alvin Jonathan as Calvin Adryan
Gabriel Damanik as Gabriel Nata
Pratama
Sivia Azizah as Alyvia Anastasya
Cakka Nuraga as Cakka Joshua
Mario Stevano as Rio Aditya Revano
Ify Alyssa as Lintang Dify Falery
Agni Trinubuwati as Agnia Renata
Ashilla Zahrantiara as Ashilla Oriza
****
Dia
telah datang. Apa mungkin Tuhan sengaja mengirimkan dia? Entahlah… biar waktu
yang kan menjawab semua…
****
“kalian tau nggak? Hari ini kelas
kita bakalan kedatangan cowok keren pindahan dari Belanda” kata Rio yang
tiba-tiba saja hadir ditengah Via dan Agni yang saat itu tengah sibuk
mendiskusikan sesuatu. Rio, Via dan Agni memang satu kelas. Sementara Ify dan
Shilla harus terpaksa memisahkan diri dikelas sebelah. Mereka sekelas dengan
Cakka.
Via dan Agni menatap Rio dengan
kedua alis saling bertaut satu sama lain. Mereka heran, sejak kapan sih Rio
jadi suka bergosip seperti ini? Aneh dan sangat tidak biasa.
“Cuma murid baru kan?” Tanya Agni
yang merasa tidak habis fikir dengan kehebohan Rio itu. Dengan wajah yang
terlihat polos, Rio mengangguk. “terus kenapa jadi heboh begini?” lanjut Agni.
“ya jelas heboh lah! Orang dia
sepupu kesayangan gue. Gue jamin deh, dalam sekali lihat, kalian pasti akan
langsung klepek-klepek”
“OYA??” Agni pura-pura terkejut.
Lagi-lagi Rio hanya bisa mengangguk.
“lebih keren mana dari Iel?” ucap
Via tanpa sadar. Rio dan Agni langsung menatap tajam kearah Via. Sebelumnya
mereka tidak pernah menyangka bahwa Via akan membawa-bawa nama Gabriel lagi
setelah tadi pagi ia sempat gembar-gembor tidak akan menyebut nama Gabriel lagi
apalagi mengingatnya.
Sadar dengan ucapannya barusan, Via
langsung membekap mulutnya sendiri. Kenapa lagi sih ia harus menyebut nama itu
dan melanggar apa yang sudah ia katakan sendiri? Bodoh! Rutuknya dalam hati.
Tepat ketika Rio akan melemparkan
komentarnya, seorang Guru wanita yang masih terlihat muda dan cantik memasuki
kelas XI IPA.3 dengan diikuti oleh seorang cowok super keren dibelakangnya.
Kehadiran cowok itu langsung
menjelma menjadi sebuah magnet yang menarik penuh perhatian seisi kelas minus
Via. Bukan apa-apa, hanya saja waktu itu Via sedang sibuk membongkar isi
tasnya. Kegiatannya itu malah membuatnya tidak ngeh dengan apa yang terjadi
detik itu juga.
Tatapan-tatapan kagum yang
dilemparkan oleh para Siswi dikelas itu tidak cukup mampu membuat Siswa baru
itu tertarik. Kedua matanya yang teduh menatap berkeliling dengan tatapan datar
tanpa ekspresi. Tapi wajah dingin tanpa riak itu justru semakin membuat para
sisiwi klepek-klepek, persis seperti apa yang Rio katakan tadi.
Via kaget setengah mati ketika ia
mengangkat wajahnya dan mendapati satu sosok cowok yang menurutnya aneh, ralat,
sangat aneh tengah berdiri didepan kelas. Kedua mata Via melotot lebar. Rasanya
Via ingin berteriak detik itu dan menendang cowok itu jauh-jauh dari kelasnya.
Jadi ini dia yang Rio maksud? Dan parahnya lagi, Via malah satu kelas dengan
cowok yang menurutnya super aneh ini. Oh my God, mimpi apa Via semalam?
Via menatap cowok itu dengan tatapan
sebal, dan ketika cowok itu menangkap basah dirinya, Via buru-buru melempar
tatapannya kearah lain.
“sttt… ini dia sepupu lo? Cakep, Yo”
bisik Agni pada Rio yang jarak bangkunya tidak terlalu jauh dari bangku Via dan
Agni. Rio tersenyum puas lalu membalas perkataan Agni, tentunya dalam sebuah
bisikan juga,
“kan udah gue bilang”
Agni mengangguk berkali-kali lalu
kembali focus pada objek mengagumkan yang saat ini masih berdiri didepan kelas
–Siswa baru itu-
“ayo perkenalkan dirimu!” kata Ibu
Fira mempersilakan siswa baru itu untuk memperkenalkan dirinya. Siswa baru itu
hanya menatap Ibu Fira sekilas, setelah melempar senyum lalu mengangguk pada
Ibu Fira, cowok itu kembali menatap kearah teman-teman barunya.
“hay semua!” katanya dingin. Sama
sekali tidak terdengar nada bersahabat dari sapaannya, tapi hal itu tidak
membuat para siswi merasa gentar. Karena toh mereka tetap saja terpesona pada
siswa baru itu.
“pekenalkan, nama saya Calvin Adryan,
tapi kalian cukup memanggil saya Alvin. Terimakasih”
“Calvin Adryan? Namanya keren,
sekeren orangnya” celetuk Zevana tiba-tiba yang duduk dibangku paling pojok
bersama kedua sahabatnya, Dea dan Aren. Zevana menatap Alvin dengan tatapan
penuh kekaguman, tapi justru Alvin membalas tatapan itu dengan tatapan
datarnya.
“halah! Gitu aja dibilang keren.
Buta ya lo?”
Seisi kelas yang sejak tadi menatap
Alvin dengan tatapan kagum kontan saja terkejut ketika mereka mendengarkan
ucapan sinis dari seorang cewek manis yang duduk dideretan bangku paling depan
bersama Agni –Via-
Merasa tidak terima dengan ucapan
Via barusan, Zevana bangkit dari bangkunya lantas berkata pada Via dengan nada
yang lumayan keras.
“gue yang buta? Nggak salah tuh?
Bukannya elo yang buta? Udah disakitin dan ditinggalin tetep aja masih ngarep sama Iel”
Perkataan dari Zevana itu langsung
disambut oleh tawa sinis dari Aren dan Dea. Via seketika bungkam. Jika nama
Gabriel sudah dibawa-bawa seperti itu, mendadak otaknya beku, dan mendadak juga
Via berubah menjadi seorang yang paling bodoh sejagad raya.
Agni yang geram dan merasa perlu
membela sahabatnya langsung menggebrak meja sekeras mungkin. Bahkan Agni sama
sekali tidak peduli dengan keberadaan Ibu Fira dikelas itu.
“udah gue bilang sama lo, jaga mulut
lo kalo nggak mau gue robek!”
“sudah, sudah! Kenapa kalian malah
ribut?” ucap Ibu Fira, berusaha melerai pertengkaran yang terjadi antara Agni
dan Zevana.
Agni menghela nafas panjang,
berusaha menenangkan emosinya yang mendadak naik sampai ke ubun-ubun. Tidak
lama Agni kembali menjatuhkan tubuhnya diatas kursi. Ia menatap Via seklias
yang ketika itu hanya bisa diam tanpa perlawanan apapun. Agni kesal, kenapa Via
selalu saja seperti ini? Kenapa Via tidak pernah berusaha sedikitpun untuk
membela dirinya? Dan Agni benci dengan Via yang seperti ini.
“nah Alvin, sekarang silakan kamu
duduk disebelah Rio, ya?”
“iya, Bu” jawab Alvin singkat lalu
berjalan kearah meja Rio. Saat melewati meja Via, Alvin sempat menghentikan
langkahnya sejenak, ia menatap Via dengan tatapan yang susah diartikan.
Sementara Via, ia sama sekali tidak sadar ketika Alvin menghentikan langkahnya
dan menatapnya dalam beberapa detik.
Tidak lama Alvin tersenyum simpul,
ia membuang tatapannya dari Via lalu duduk disebelah Rio. Rio menepuk punggung
Alvin beberapa kali.
“ternyata lo lebih bodoh dari apa
yang gue kira…”
^_^
Jam istirahat tiba, tidak perlu
menunggu terlalu lama, Rio langsung bergegas kekelas Ify untuk menemuinya
–tentu saja setelah meminta ijin pada Alvin- Sejak tadi pagi, Rio tidak pernah
bertemu dengan Ify sekalipun, bahkan sejak semalam Ify sama sekali tidak
menggubris telfon dan SMS nya. Rio merasa ada yang tidak beres dengan sikap
kekasihnya itu, dan Rio merasa perlu untuk memperjelas permasalahan yang
sebenarnya. Jujur saja, akhir-akhiran ini Rio merasa Ify menghindarinya. Dan
Rio tidak ingin nantinya hal itu akan semakin membuat Ify jauh hingga
meninggalkannya secara perlahan. Tidak! Rio tidak akan pernah membiarkan hal
itu terjadi, bahkan dalam mimpi sekalipun. Tidak sama sekali.
“hari ini Ify nggak masuk, Yo” kata
Shilla pada Rio yang ketika itu menyambut kedatangan Rio dipintu kelasnya.
Semuanya seperti sudah direncanakan.
Rio yang merasa sanksi dengan ucapan
Shilla barusan berusaha melihat lebih jauh kedalam kelas, tapi nihil, didalam
sana tidak ia temukan apa yang ia cari. Rio menatap Shilla dengan pandangan
bertanya,
“lo nggak bohong kan, Shill?”
tanyanya skeptic. Shilla berusaha bersikap sewajar mungkin, ia menghela nafas
pelan lalu menatap Rio dengan berani,
“buat apa juga gue bohong?”
“masalahnya dari semalem Ify nggak
mau angkat telfon gue ataupun bales sms gue, dan sejak tadi pagi, gue nggak
ngeliat dia. Kira-kira lo tau sesuatu nggak?”
Shilla menggeleng, “gue nggak tau,
Yo! Kalo gue tau gue pasti bakalan ngasih tau lo. Lo tau sendiri kan kalo Ify
itu anaknya tertutup banget?”
Rio pasrah. Mungkin memang benar
Shilla tidak tahu menau soal Ify. Seperti yang Shilla katakan tadi, Ify memang
sangat tertutup sekalipun pada sahabat-sahabatnya sendiri termasuk itu Rio.
Rio mengusap wajahnya putus asa. Apa
harus ia pergi kerumah Ify untuk memastikan keadaan Gadisnya itu? Tapi jika ia
kesana, resiko yang akan ia tanggung tidak main-main. Karna sudah pasti Papi
Ify akan mengusirnya tanpa melihat wajahnya. Tapi Rio tidak ingin menjadi
seorang pengecut, jika dia ingin tetap bertahan dengan Ify, maka ia harus
berani menghadapi resiko sebesar apapun, Rio tidak boleh mengalah begitu saja,
Rio juga tidak boleh menyerah ditengah jalan seperti ini. Sesulit apapun
keadaannya, Rio harus bisa mempertahankan Ify.
Ah… kenapa perbedaan harus serumit
ini?
“ya udah, Shill… makasih ya? Gue
pamit. Nanti kalo ada kabar dari Ify, jangan lupa ngabarin gue ya? Lo tau
sendiri kan kalo Ify itu sangat berarti buat gue?”
Shilla mengangguk pelan. Rasa
penyesalan bercampur dengan rasa ngilu memenuhi ruang didadanya. Andai saja
Shilla tidak perlu berbohong pada Rio, mungkin Rio tidak perlu seputus asa ini,
setidaknya Shilla bisa mengurangi sedikit saja beban yang saat ini Rio
tanggung.
Biar bagaimana pun Shilla dan Rio
sudah berteman baik sejak mereka duduk dibangku SMP. Dan dari pertemanan mereka
yang cukup lama itu, sudah cukup membuat Shilla mengenal sosok Rio dengan
sangat baik, dan Shilla tahu bahwa saat ini Rio sedang berada dalam posisi yan
serba sulit. Shilla bisa merasakan apa yang Rio rasakan meskipun kasus yang ia
alami dengan Rio berbeda.
“Rio udah pergi, lo bisa keluar
sekarang!” kata Shilla sedikit sinis pada seseorang yang ketika itu tengah
bersembunyi dibalik pintu.
Tidak berselang lama setelah Shilla
berkata seperti itu, Ify yang memang sejak tadi bersembunyi dibalik pintu
langsung keluar dari persembunyiannya. Ify menunduk dalam. Sebelum Shilla
mengeluarkan suara, Ify sudah bisa menebak bahwa Shilla akan marah. Dan
ternyata tebakan Ify itu akhirnya terbukti.
“gue nggak bisa ngukur serumit apa
masalah yang sekarang sedang kalian hadapi, karna emang selama ini lo nggak
pernah mau cerita. Tapi satu hal yang harus lo tau Fy! Menghindar nggak akan
pernah menimbulkan solusi apapun”
Shilla menatap Ify dengan tatapan
kesal berharap Ify akan memberi tanggapan. Tapi hingga beberapa detik berlalu,
Ify tetap bungkam. Shilla tersenyum miris lantas berbalik badan dan bersiap
untuk pergi. Tapi sebelum Shilla mengayunkan langkahnya, Ify akhirnya berucap.
“Papi ngancem, kalo gue tetep milih
bertahan sama Rio, Papi akan ngirim gue ke London dan Papi juga pastiin gue akan tinggal selamanya disana. Gue nggak
mau itu kejadian itu, Shill. Gue Cuma takut… takut—“ Ify menghela nafas
beratnya sejenak, berusaha meredam tangisannya yang nyaris pecah detik itu
juga, “gue takut nggak bisa ngeliat Rio lagi, gue nggak mau jauh dari Rio
sekalipun nanti gue harus ngelepasin dia, gue nggak mau, gue nggak bisa…”
Pertahanan Ify akhirnya jebol. Air
mata itu menetes keluar sederas mungkin. Shilla berbalik, tanpa berkata apa-apa
lagi, Shilla langsung mendekat dan membawa Ify kedalam pelukannya.
“maafin gue. Gue Cuma nggak tau kalo
posisi lo sama Rio ternyata sama rumitnya”
^_^
“Ciyeeee… yang mau dikenalin sama
anak temen Bunda!! Dandannya serius banget…” goda Cakka yang tiba-tiba saja
muncul dibelakang Via.
Via yang saat itu sedang mematut
diri didepan cermin kontan saja terkejut ketika Cakka secara mendadak sudah
muncul dibelakangnya. Dasar jin botol!
“sok tau lo! Siapa coba yang lagi
dandan?” Via mendelik, merasa tidak terima dengan ucapan saudara kembarnya yang
super duper menyebalkan itu.
Cakka tersenyum jahil lalu tanpa
permisi melempar tubuhnya keatas ranjang empuk milik Via. Cakka meraih boneka
hello kitty yang tergeletak sembarang diatas kasur lalu memainkannya.
“lo mau tau sesuatu nggak?” kata
Cakka tiba-tiba.
“apaan?” Tanya Via sedikit ketus.
Ujung-ujungnya apa yang akan Cakka katakan nanti pasti tidak penting untuk dia
ketahui. Via sudah hafal betul bagaimana sifat saudara kembarnya ini.
“ini penting banget lho! Menyangkut
masa depan lo” ucap Cakka dengan wajah seriusnya.
“nggak usah bertele-tele deh! To the
point aja kenapa sih?”
Cakka melepas boneka Hello Kitty
yang sejak tadi ia mainkan. Cakka lalu bangkit dari ranjang Via dan duduk
dengan posisi bertekuk lutut dihadapan Via. Cakka menyentuh kedua pundak Via
lalu memutar tubuhnya hingga berhadapan dengannya. Cakka menatap Via dengan
tatapan seolah-olah ia ingin menenangkan Via dan menabahkan hatinya.
Via menatap Cakka dengan kedua alis
bertaut. Ia agak heran dengan sikap Cakka itu.
“lo yang sabar ya?” kata Cakka
dengan nada prihatin. Via semakin heran. Ada apa sih sebenarnya?
“kenapa gue musti sabar?”
Cakka menunduk, sebelum melanjutkan
ceritanya, Cakka sempat menghela nafas panjang.
“tadi gue lewat didepan kamar Ayah
dan Bunda, terus nggak sengaja gue denger mereka—“
“elo nguping ya??” potong Via tiba-tiba.
Cakka berdecak kesal,
“ck, lo denger gue dulu kenapa sih?”
“oke, oke. Lanjut!”
“gue denger, katanya mereka mau
ngejodohin lo sama Anak temennya Bunda itu”
“WHAAATTT????” Teriak Via cukup
keras dengan kedua mata yang terbuka lebar, “lo becanda kan, Kka? Lo lagi
ngibulin gue kan? Iya kan?” kata Via yang sebenarnya setengah percaya setengah
tidak. Lagipula Cakka tidak pernah terlihat seserius itu sebelumnya jika sedang
berbicara dengannya.
“terserah lo mau percaya apa nggak,
yang jelas gue udah bilang yang sebenernya ke elo. Sebagai saudara kembar yang
baik dan solid gue wajib ngasih tau ini ke elo, elo yang sabar ya? Oya… mereka
juga bilang, setelah lulus nanti kalian berdua akan langsung dikawinin”
“APAA…???” Via lagi-lagi kaget. Jika
ia memiliki riwayat penyakit jantung, mungkin saat ini Via hanya tinggal nama
saja.
Tanpa perlu menjelaskan apa-apa
lagi, Cakka bangkit dari hadapan Via lalu melangkah keluar. Sebelum Cakka
menghilang diambang pintu, Via sempat berkata,
“tapi bukannya Ayah nggak setuju
kalo sampe Bunda ngejodoh-jodohin gue?”
“itu awalnya, tapi setelah Bunda
mati-matian ngeyakinin Ayah, akhirnya Ayah setuju” jawab Cakka tanpa menoleh
kearah Via.
Cakka melanjutkan langkahnya hingga
akhirnya benar-benar menghilang dibalik pintu. Via terkulai lemas. Kabar
perjodohan ini benar-benar membuatnya merasa shock. Apalagi sebelumnya Bunda
tidak mengatakan apapun padanya.
Tapi entahlah, Via mendadak merasa
ingin kabur saja dari acara perkenalan malam ini.
Sementara tanpa Via ketahui, diluar
sana Cakka ternyata sedang berusaha meredam suara tawanya seraya memegangi
perutnya. Sebenarnya Cakka ingin tertawa sekeras mungkin, tapi ia berusaha
menahan supaya Via tidak mendengar. Jika Via mendengar suara tawanya bisa gawat
urusannya nanti.
“haha… rasain lu! Emang enak gue
kerjain? Makan tuh cerita karangan gue!!”
^_^
Shilla mengetuk-ngetukan jari tangannya diatas meja dengan
perasaan yang campur aduk. Sejak beberapa detik yang lalu, matanya seakan
melekat pada layar monitor yang menampakkan Yahoo Messenger yang ada
dihadapannya. Sudah hampir 2 menit, tapi ia belum juga mendapatkan balasan.
Shilla akhirnya menyerah ketika penantiannya tiba pada menit ke-10. Shilla
tersenyum miris. Mungkin dia sudah malas membalas email darinya.
Shilla menghela nafas panjangnya,
dan tepat ketika ia akan bangkit dari meja belajarnya, sebuah email masuk.
Shilla tersenyum puas. Dia membalas email Shilla! Shilla yang tadinya ingin
hengkang dari meja belajarnya kembali membenahi posisi duduknya didepan
laptopnya. Jemari cantik milik Shilla mulai menari-nari dengan lihai diatas
keyboard dengan seulas senyuman manis yang membuatnya semakin terlihat cantik.
Hay
Juga, Shill! Tadi disekolah gimana? Via baik-baik aja kan?
Shilla tersenyum kecut ketika
membaca pesan itu. Ujung-ujungnya tetap saja Gabriel menanyakan keadaan Via.
Tapi Shilla harus tetap bersabar, ini masih awal. Bukankah waktu dapat mengubah
segalanya jika Shilla terus mencoba dan berusaha. Mencoba dan berusaha untuk
bisa terlihat dimata seorang Gabriel Nata Pratama.
Iya.
Via baik-baik aja kok, hari ini Via malah terlihat lebih baik dari kemarin.
Bawelnya kambuh lagi, dan Via seperti nggak punya masalah apapun :)
Tak
berselang lama, balasan dari Gabrielpun masuk.
Emm…
begitu ya? Baguslah! :) tolong jagain Via, ya?
Jgn
biarin dia terus-terusan sedih.
=======================
Iya,
yel! Aku pasti akan jagain Via seperti yg kmu mau.
Buat
kamu!!
(Oriza_Shilla@yahoo.com)
^_^
“Bundaaa… Via mau pulang” rengek Via pada
Bunda ketika mereka berdua baru saja duduk disofa ruang tamu milik Kintan,
Sahabat baik Silvy –Bunda Via- sejak ia duduk dibangku SMA.
“pulang?
Kita baru aja nyampe Via” kata Bunda dalam sebuah bisikan pelan.
Sebelum
Via menjawab perkataan Bundanya, seorang Wanita yang berusia sekitar 37 tahun
turun dari lantai 2 rumahnya dengan begitu anggunya. Wanita itu –Kintan-
tersenyum pada Sahabat baiknya yang hampir tidak pernah ia temui selama 6 tahun
terakhir ini karena kesibukan masing-masing.
Silvy
bangkit dari sofa, tanpa sedikitpun menghiraukan rengekan Via tadi, Silvy
berjalan perlahan menyambut Kintan lalu memeluknya erat.
“Kintan
kamu apa kabar? 6 tahun menghilang ternyata kamu makin cantik saja, ya?”
“ah,
kamu bisa saja, kamu juga semakin cantik kok” balas Kintan dengan senyuman
manisnya seraya melepaskan pelukannya dari Silvy.
Tatapan
Kintan tiba-tiba saja teralihkan pada satu sosok Gadis Remaja yang tengah duduk
dalam posisi yang serba tidak nyaman diruang tamunya. Kintan menatap Via
sejenak lalu kembali mengalihkan tatapannya pada Silvy,
“itu
anak kamu, Sil? Cantik, ya? Mirip sama kamu waktu masih muda dulu”
“haha…
siapa dulu dong Bundanya?”
Kintan
dan Silvy berjalan lebih dekat kearah Via. Sebisa mungkin Via berusaha
memberikan senyuman termanisnya pada Sahabat baik Bundanya ini. Via tidak ingin
Bundanya marah hanya karena Via menunjukan sikap yang kurang menyenangkan.
“ayo
Via, kenalan dulu sama Tante Kintan” titah Bunda pada Via. Via semakin
memperlebar senyumannya lantas bangkit dari duduknya.
“h..
hay Tante, kenalin aku Via…” Via meraih tangan Kintan lalu mencium punggung
tangannya dengan sopan. Kintan tersenyum bangga, ia mengusap lembut kepala Via
lalu menyebutkan namanya,
“Tante
Kintan… umur kamu berapa sayang?”
“16
tahun, Tante” jawab Via singkat.
“16
tahun? Umur kamu sama anak Tante sama dong, waahh… kayaknya kalian bakalan
cocok nih”
Kedua
mata Via melotot lebar. Ucapan Kintan barusan langsung menyeret ingatannya saat
Cakka memberitahukannya kabar Prihal perjodohannya dengan Anak dari Tante
Kintan ini. Dan ucapan Kintan baru saja semakin meyakinkan Via bahwa ia akan
benar-benar dijodohkan. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan!
“oya,
omong-omong tentang anak kamu, anak kamu sekarang dimana, Kin?” Tanya Silvy
pada Kintan,
“dia
ada kok, tapi masih dikamarnya. 10 menit lagi dia akan turun kok” jawab Kintan
dengan sorot mata berbinar.
Mendadak
Via merasa perlu ke kamar mandi. Keadaan ini benar-benar membuatnya merasa
tidak nyaman. Ingin rasanya Via kabur dari rumah ini sekarang juga, ingin
rasanya Via bersembunyi dari Bunda agar perjodohan ini tidak pernah terjadi.
Tapi apa yang harus Via lakukan sekarang? Ia sendiri bingung dan tidak harus
melakukan apa.
“Tante,
kamar mandi dimana?” Tanya Via tiba-tiba,
“disana,
kamu lurus aja. Kamar mandinya ada dideket dapur” jawab Kintan sembari
menunjukan arah kamar mandi. Via tersenyum lantas mengangguk paham,
“makasih
ya, Tante?”
Tanpa
menunggu jawaban dari Kintan terlebih dahulu, Via langsung berjalan cepat
kearah kamar mandi. Fikirannya yang tadinya kacau, kini semakin kacau balau tak
berbentuk. Ucapan Cakka tadi ditambah lagi dengan ucapan Tante Kintan baru saja
terus berpendar dikepalanya tanpa henti.
Tibalah
Via didepan pintu kamar mandi yang tadi Kintan tunjukan. Sebelum membuka pintu
kamar mandi, Via sempat menghela nafas panjang sejenak untuk menenangkan
perasaannya. Seperti yang Gabriel selalu ajarkan padanya dulu, jika sedang
menghadapi masalah sebesar apapun itu, hal pertama yang harus ia lakukan adalah
menenangkan diri dulu, jika sudah tenang, pasti akan sangat mudah baginya untuk
menemukan jalan keluar. Mendadak Via
terkesiap, ia menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia sama sekali tidak habis
fikir dengan apa yang baru saja ia fikirkan. Gabriel? Buat apa lagi dia
mengingatnya?
Via
meraih gagang pintu kamar mandi lalu menariknya. Pintu kamar mandi akhirnya
terbuka, tapi tiba-tiba saja…
“AAAAAAAA….”
Teriak Via sedikit keras sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
“wooyy!
Lo ngapain disana??” kata cowok itu dengan nada sedikit membentak sambil
memasang baju kaosnya. Saat Via membuka pintu kamar mandi tanpa mengetuk dulu,
untung saja cowok itu sudah mengenakan celananya, coba kalau belum, bisa terbayangkan
apa yang akan terjadi?
“so…
sorry! Gue fikir nggak ada orang didalem. Lagian kenapa pintunya nggak dikunci
sih?” Ucap Via sedikit mengomel. Via akhirnya membuka kedua matanya lalu
menatap cowok tampan yang perlahan mendekatinya. Kedua mata Via terbelalak
lebar, DIA LAGI?? Teriaknya dalam hati.
“ELO
LAGI??” Pekik Via tajam dengan nada yang tidak kalah keras dengan teriakannya
tadi.
Berbanding
terbalik dengan reaksi yang Via tunjukan detik ini, cowok itu –Alvin- malah
terlihat biasa-biasa saja dan bahkan terkesan santai, sangat santai.
“lain
kali bisa coba ketok pintu dulu, kan?” ucapnya sinis seraya berjalan santai
melewati Via yang masih berdiri mematung didepan pintu. Ia seolah enggan
menggubris kekagetan Via barusan.
“heh!
Tunggu!!” kata Via tidak ada manis-manisnya.
Alvin
menghentinkan langkahnya tapi tidak menoleh kebelakang.
“ja…
jangan bilang lo anaknya Tante Kintan yang mau dikenalin sama gue??”
takut-takut Via berucap.
“gue
anaknya Tante Kintan. Kenapa?”
“WHAAATT???!!”
“Lo
bisa nggak sih nggak usah tereak-tereak terus? Lo pikir suara lo enak apa
didenger?? Dasar lebay!” bentak Alvin lantas berbalik. Ia lalu menatap Via
dengan tatapan dinginnya.
“elo
bilang gue lebay? Elo tuh yang lebay!! Lo fikir gue nggak shock apa pas tau gue
bakal dikenalin sama cowok songong kayak lo”
“gue
aja yang tau bakal dikenalin sama cewek SAKIT JIWA kayak lo biasa aja”
“APAA??
Lo bilang gue sakit jiwa??”
“kenapa?
Lo nggak terima gue katain sakit jiwa?”
Via
memejamkan matanya lantas menghela nafas beberapa kali. Tenang, dia harus tetap
tenang. Tidak penting meladeni ucapan Cowok ini, yang terpenting sekarang
adalah bagaimana caranya supaya kedua orang tua mereka membatalkan perjodohan
mereka –setidaknya itu hanya difikiran Via saja-
“jadi
lo udah tau kalo lo bakal dikenalin sama gue?”
“hmm…”
gumam Alvin. Ia melipat kedua tangannya didepan dada lalu membuang wajahnya
kearan lain.
Sekali
lagi Via menghela nafas panjangnya lalu menghembuskannya dengan tidak sabar,
“berarti
lo juga udah tau kalo kitaaa….. kalo kita…”
“ngomong
yang jelas bisa, kan?!”
“berarti
lo juga udah tau kalo kita bakal dijodohin?” ulang Via dengan cepat.
Alvin
sedikit kaget mendengarkan penuturan Via barusan. Dijodohkan? Jelas saja hal
itu tidak akan pernah terjadi, dan sampai kapanpun tidak akan terjadi. Apa
Gadis Gila ini sedang bermimpi??
“DIJODOHIN??”
Tanya Alvin memastikan. Via mengangguk meskipun ragu,
“NGAREP
LO!!” Lanjut Alvin dengan nada yang benar-benar dingin. Alvin menggeleng
beberapa kali, ia sama sekali tidak habis fikir, kenapa Tuhan harus menciptakan
makhluk super aneh seperti Gadis yang ada dihadapannya ini.
Saat
Alvin akan melangkah pergi, Via langsung saja mencekal pergelangan tangannya,
“maksud
lo… kita berdua nggak pernah dijodohin??”
“kata
siapa kita bakal dijodohin?”
Alvin
menarik pergelangan tangannya dari genggaman Via dengan sedikit kasar, ia lalu
melanjutkan langkahnya tanpa sedikitpun menoleh kebalakang.
Via
langsung merutuki kebodohannya sendiri. Ia baru sadar kalau ternyata Cakka
hanya mengerjainya saja. Tidak bisa Via gambarkan bagaimana rasa malunya pada
Alvin. Ia telah benar-benar mempermalukan dirinya dihadapan cowok angkuh yang
sangat ia benci itu, tidak hanya itu, Alvin bahkan telah menginjak-injak harga
dirinya.
“Cakka….
Ini semua gara-gara lo. Awas lo ya?? CAKKAAAAAA….!!!!!”
BERSAMBUNG…



0 comments:
Post a Comment