Saturday, November 9, 2013

0

TUGAS MENYIMAK



BAB I
PENDAHULUAN


   Dalam pengetahuan kebahasaan kita mengenal istilah mendengar, mendengarkan dan menyimak. Ketiga kata ini tentu mempunyai makna yang berbeda. Secara sekilas, mendengar adalah proses kegiatan menerima bunyi-bunyian yang dilakukan tanpa sengaja atau secara kebetulan saja.
Contoh : Saat Anda mengikuti kegiatan perkuliahan, Anda mendengar benda jatuh. Anda menoleh ke arah suara benda tadi. Anda tidak melihat apa-apa kemudian Anda melanjutkan kembali kegiatannya.
Mendengarkan adalah proses kegiatan menerima bunyi bahasa yang dilakukan dengan senagaja tetapi belum ada unsur pemahaman.
Contoh : Saya sedang membuat materi perkuliahan bahasa Indonesia. Saat saya sedang menulis, tiba-tiba saya mendengarkan lagu kesenangan saya. Kemudian saya berhenti sejenak sambil menikmati lagu tersebut. Setelah lagu selesai, saya mengerjakan tugas lagi.
Sedangkan menyimak adalah suatu proses kegiatan menyimak lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan (HG.Tarigan : 28)
Contoh : pada saat belajar bahasa Indonesia, saya menyimaknya dengan sungguh-sungguh. Sambil menyimak, saya mencatat hal-hal penting yang ada kaitannya dengan isi pembicaraan. Tanpa saya sadari, sesekali saya mengangguk-anggukkan kepala karena saya memahami apa yang telah dijelaskan. Saat guru memberi kesempatan untuk bertanya, saya bertanya apa yang belum saya pahami. Sebelum berakhir, saya merasa puas mengenai pembelajaran yang telah dibahas.



BAB 2
PEMBAHASAN

Menyimak adalah suatu proses kegiatan menyimak lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interprestasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.
Dengan menyimak seseorang dapat menyerap informasi atau pengetahuan yang disimaknya. Menyimak juga mempelancar keterampilan berbicara dan menulis. Semakin baik daya simak seseorang maka akan semakin baik pula daya serap informasi atau pengetahuanyang disimaknya. Apakah yang dimaksud dengan teks informatif? Informasi itu, artinya berita, kabar, penjelas/pemberitahuan tentang suatu hal/objek tertentu.Sumber/pemberi informasi disebut informan yaitu orang yang memberikan informasi. Dalam konteks ini yang dimaksud dengan teks informatif ialah teks yang memuat berita, kabar, panjelas/pemberitahuan tentang suatu hal.
 Tahapan proses menyimak yaitu tahap mendengarkan,mengidentifikasi,menginterpretasi, memahami, menilai, dan menanggapi menyimak bukan hanya sebatas mendengar (hearing) saja, tetapi memerlukan kegiatan lainnya yakni memahami (understanding) isi pembicaraan yang disampaikan oleh si pembicara. Lebih jauh lagi diharapkan dalam menafsirkan (interpreting) butir-butir pendapat yang disimaknya baik tersurat maupun yang tersirat.
Kegiatan selanjutnya dalam proses menyimak adalah kegiatan mengevaluasi (evaluating). Pada kegiatan ini si penyimak menilai gagasan baik dari segi keunggulan maupun dari segi kelemahannya. Kegiatan akhir yakni menanggapi(responding). Pada tahap akhir ini penyimak menyembut, mencamkan,menyerap, serta menerima gagasan yang dikemukakan oleh si pembicara.
Berdasarkan hal tersebut, dalam menyimak diperlukan suatu kemampuan khusus. Kemampuan ini berarti kesanggupan, kecakapan, dan kekuatan(Poerwadarminta, 1984:628). Menyimak dapat juga diartikan sebagai memperhatikan baik-baik yang diucapkan atau dibaca orang(Pusbinbangsa, 1988:840). Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat dirumuskan kemampuan menyimak itu adalah kemampuan, kesanggupan,kecakapan, siswa menerima dan memahami apa yang diucapkan atau dibaca orang lain. Urias (1987:21) juga memperjelas bahwa kemampuan menyimak merupakan proses belajar mengajar dan pembentukan kebiasaan yang terus-menerus.
Seperti yang kemukakan Bloom yang berhubungan dengan aspek kognitif di dalam menyimak dapat berupa kemampuan menyimak tingkat ingatan, pemahaman, penerapan, analisis,sintesis, dan evaluasi (Nurgiantoro, 1995:237). Kegitan menyimak yang baik menyangkut sikap, ingatan, persepsi, Kemampuan membedakan, intelegensi, perhatian, dan motivasi yang harus dikerjakan secara integral dalam tindakan yang optimal pada saat kegiatan menyimak berlangsung baik menyimak intensif maupun ekstensif.
Menyimak intensif adalah menyimak yang diarahkan pada suatu kegiatan yang jauh lebih diawasi, dikontrol pada suatu hal tertentu baik dari program pengajaran bahasa maupun pemahaman serta pengetahuan umum secara kritis, konsentratif, kretaif, eksploratif interogatif, dan selektif, berbeda dengan menyimak ekstensif. Untuk melaksanakan dan mengoptimalkan kemampuan menyimak mahasiswa tersebut, salah satu pendekatannya adalah pendekatan kontekstual.Menyimak merupakan salah satu keterampilan berbahasa diantara empat keterampilan bahasa lain seperti menulis, membaca dan berbicara.
Keterampilan menyimak dapat kita klasifikasikan ke dalam keterampilan berbahasa yang paling awal kita peroleh. Dalam kajian proses perolehan bahasa anak, maka keterampilan ini memegang peranan yang tidak kecil,bahkan dapat dikatakan sangat penting. Pengenalan satu wujud benda tertentu tidak akan berarti apa- apa tanpa adanya penyebutan atau penamaan benda itu oleh orang lain atau anak. Perolehan suatu kata lewat pendengaran itulah yang memberikan makna pada benda yang diperlihatkan kepada anak tersebut. 
Jenis tes untuk mengukur kemampuan menyimak adalah tes respons terbatas, tes respons pilihan ganda, dan tes komunikasi luas.“ Menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai dan mereaksiatas makna yang terkandung di dalamnya. “ Menyimak melibatkan pendengaran, penglihatan, penghayatan, ingatan, pengertian. Bahkan situasi yang menyertai bunyi bahasa yang disimak pun harus diperhitungkan dalam menentukan maknanya.


1.1  Pengertian Menyimak Menurut 3 Ahli

Ø  Menurut H.G Tarigan
Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambing-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.
Ø  Menurut Djago Tarigan
Menyimak dapat didefinisikan sebagai suatu aktifitas yang mencakup kegiatan mendengar dari bunyi bahasa, mengidentifikasi, menilik, dan mereaksi atas makna yang terkandung dalal bahan simakan..
Ø  Menutur Anderson
Menyimak sebagai proses besar mendengarkan, mengenal, serta menginterpretasikan lambing-lambang lisan.

SIMPULAN:

Menyimak adalah suatu proses kegiatan menyimak lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interprestasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.


1.2  Ragam Menyimak

Kegiatan menyimak mempunyai bentuk yang beraneka ragam. Ragam menyimak menurut Sutari, dkk (1997: 28-33), diklasifikasikan berdasarkan sumber suara, taraf aktifitas menyimak, taraf hasil simakan, cara penyimakan, bahan simakan, tujuan menyimak, dan tujuan spesifik.
Berdasarkan sumber suara yang disimak, terdapat dua ragam menyimak, yaitu menyimak intrapribadi dan menyimak antarpribadi. Menyimak intrapribadi adalah suara yang disimak berasal dari diri sendiri, sedangkan menyimak antarpribadi adalah menyimak suara yang berasal dari orang lain.
Berdasarkan taraf aktifitas menyimak dibedakan atas kegiatan menyimak taraf rendah dan taraf tinggi. Menyimak bertaraf rendah disebut silent listening. Menyimak taraf rendah hanya memberikan perhatian, dorongan dan menunjang pembicaran. Sedangkan menyimak taraf tinggi disebut active listening. Menyimak taraf tinggi biasanya diperlihatkan penyimak dengan mengutarakan kembali isi simakan.
Berdasarkan taraf hasil simakan terdapat beberapa ragam menyimak.
Pertama, menyimak terpusat. Menyimak ini harus memusatkan pikiran agar tidak salah melaksanakan hasil simakannya itu.
Kedua, menyimak untuk membandingkan. Penyimak menyimak pesan tersebut kemudian membandingkan isi pesan dengan pengalaman dan pengetahuan penyimak relevan.
Ketiga, menyimak organisasi materi. Yang dipentingkan oleh penyimak adalah mengetahui organisasi pikiran yang disampaikan pembicara, baik ide pokoknya maupun ide penunjangnya.
Keempat, menyimak kritis. Penyimak melakukan menyimak secara kritis dengan cara menganalisis pesan yang disimaknya untuk kejelasan penyimak meminta data lebih lengkap tentang hal yang dikemukakan pembicara.
Kelima, menyimak kreatif dan apresiatif. Penyimak ini memberi reaksi lebih jauh terhadap hasil simakannya dengan memberi respon setelah penyimak memahami dan menghayatinya betul pesan itu ia memperoleh informasi yang dapat melahirkan pendapat baru sebagai hasil kreasinya.

Berdasarkan cara penyimakan, ada dua ragam menyimak. Pertama, menyimak intensif. Penyimak ini melakukannya dengan penuh perhatian, ketekunan dan ketelitian sehingga memahami secara mendalam dan menguasai secara luas bahan simakannya. Yang termasuk ke dalam menyimak intensif adalah: menyimak kritis, menyimak konsentratif, menyimak kreatif, menyimak interogatif, dan menyimak selektif. Kedua, menyimak ekstensif. Penyimak hanya memahami secara garis besar. Menyimak ekstensif meliputi: menyimak sekunder, menyimak estetik, dan menyimak sosial.
Berdasarkan tujuan menyimak, dapat dibedakan menjadi enam jenis. Pertama, menyimak sederhana. Menyimak sederhana terjadi dalam percakapan dengan teman atau percakapan melalui telepon. Kedua, menyimak deskriminatif. Menyimak untuk membedakan suara atau perubahan suara. Ketiga, menyimak santai. Menyimak santai adalah menyimak untuk tujuan kesenangan. Keempat, menyimak informatif adalah menyimak untuk mencari informasi. Kelima, menyimak literature. Menyimak untuk mengorganisasikan gagasan. Keenam, menyimak kritis. Menyimak untuk menganalisis tujuan pembicara.
Berdasarkan tujuan khusus, Logan dan kawan-kawan (dalam Sutari, dkk 1997: 32-34), mengklasifikasikan menyimak menjadi beberapa jenis. Pertama, menyimak untuk belajar. Melalui kegiatan menyimak seseorang mempelajari beberapa hal yang dibutuhkan. Kedua, menyimak untuk menghibur. Penyimak menyimak sesuatu untuk menghibur dirinya. Ketiga, menyimak untuk menilai. Penyimak mendengarkan dan memahami simakan, kemudian menelaah, mengkaji, menguji, membandingkan dengan pengalaman dan pengetahuan banyak. Keempat, menyimak apresiatif. Penyimak memahami, menghayati, mengapresiasi materi simakan. Kelima, menyimak untuk mengkomunikasikan ide dan perasaan. Penyimak memahami, merasakan gagasan, ide, perasaan pembicara sehingga terjadi sambung rasa antara pembicara dan pendengar. Keenam, menyimak deskriminatif. Menyimak untuk membedakan suara atau bunyi. Ketujuh, menyimak pemecahan masalah. Penyimak mengikuti uraian pemecahan masalah secara kreatif analitis yang disampaikan oleh pembicara.
Tarigan (1994: 35-40), membagi menyimak menjadi dua jenis yaitu: (1) menyimak ekstensif, (2) menyimak intensif. Pertama, menyimak ekstensif. Menyimak ekstensif adalah sejenis kegiatan menyimak mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran. Adapun kegiatan menyimak ekstensif, antara lain menyimak sosial, menyimak estetika, menyimak sekunder, dan menyimak pasif. (a) menyimak sosial, biasanya berlangsung dalam situasi-situasi sosial tempat orang-orang mengobrol, seperti di pasar, sekolah, terminal, stasiun, kantor pos, dan sebagainya. (b) menyimak estetika, sering disebut menyimak apresiatif. Menyimak estetika adalah kegiatan menyimak untuk menikmati dan menghayati sesuatu, misalnya menikmati cerita, puisi, menyimak musik atau radio. (c) menyimak sekunder adalah menyimak secara kebetulan. Menyimak pada musik yang mengiringi ritme-ritme dan pada acara radio yang terdengar sayup-sayup sementara kita sedang menulis surat pada seorang teman di rumah. (d) menyimak pasif adalah menyimak suatu ujararan tanpa upaya sadar, misalnya dalam kehidupan sehari-hari pembelajar mendengarrkan bahasa Jawa, setelah dalam waktu 3 tahun ia sudah mahir menggunakan bahasa tersebut. Kemudian menggunakan bahasa Jawa tersebut dilakukan tanpa sengaja.
Kedua, menyimak intensif. Menyimak intensif adalah sejenis kegiatan menyimak yang diarahkan kepada suatu kegiatan yang jauh lebih diawasi, dikontrol terhadap satu hal tertentu.
Adapun jenis-jenis menyimak intensif antara lain menyimak kritis, menyimak konsentratif, menyimak kreatif, menyimak eksploratif, menyimak interogatif, dan menyimak selektif. (a) menyimak kritis adalah kegiatan menyimak untuk mencari kesalahan dari ujaran seseorang pembicara secara sungguh-sunguh, dengan alasanalasan yang kuat yang dapat diterima oleh akal sehat, serta dinilai secara objektif, menentukan keaslian kebenaran dan keahlain serta kekurangan. (b) menyimak konsentratif adalah kegiatan menyimak yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk memperoleh pemahaman yang baik terhadap informasi yang diperdengarkan. (c) menyimak kreatif adalah kegiatan menyimak yang sengaja dilakukan untuk menyenangkan rekonstruksi imajinasi dan perasaan kinaestetik para penyimak. (d)  menyimak eksplorasif adalah kegiatan menyimak bertujuan untuk menyelidiki sesuatu lebih terarah dan lebih sempit. (e) menyimak interogatif adalah kegiatan menyimak yang bertujuan memperoleh informasi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pemeroleh informasi. (f) menyimak selektif adalah menyimak yang dilakukan secara selektif dan terfokus berdasarkan nada suara, bunyibunyi asing, bunyi-bunyi yang bersamaan, kata-kata dan frase-frase, bentuk-bentuk ketatabahasaan.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ragam menyimak dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam berdasarkan sumber suara, taraf aktifitas menyimak, taraf hasil simakan, cara penyimakan, bahan simakan, tujuan menyimak, tujuan spesifik, bentuk kegiatan menyimak.


1.3  Kebiasaan Jelek Menyimak


Adapun kebiasaan buruk Menyimak yaitu diantaranya:
  1. Menolak keanehan pembiacara, yaitu penyimak tidak menerima keseluruhan kondisi dan keanehan pembicara, yang mengakibatkan keengganan untuk menyimak dengan sungguh-sungguh.
  2. Menolak memperbaiki sikap, yaitu dimana saat penyimak dalam kondisi sikap yang tidak baik dan penyimak tidak berusaha untuk memperbaikinya, misal sikap yang egois dan apatis.
  3. Menolak memperbaiki lingkungan, yaitu penyimak dalam keadaan lingkungan dan suasana yang tidak kondusif dan penyimak tidak berusaha untuk memperbaikinya, misal : suasana yang bising, ramai, dll
  4. Tidak sabar memberikan tanggapan, yaitu penyimak ingin menanggapi sesuatu yang diangapnya tidak sesuai, tetapi pembicara belum selesai dengan pembicaraanya dan belum memberikan kesempatan kepada penyimak umtuk  menanggapinya, hal ini membuat penyimak tidak sabar untuk segera memberi tanggapan.
  5. Melamun, yaitu di saat pembicara menyampaikan pembicaraan penyimak tidak mendengarkanya sama sekali karena sedang melamun atau memikirkan sesuatu yang tidak penting.
  6. Bingung, yaitu kondisi peyimak yang tidak mem[erhatikan pembicaraan dikarenakan bingung terhadap sesuatu dan menjadi tidak konsntrasi dalam menyimak.
  7. Pura-pura memperhatikan, yaitu sikap penyimak yang pura-pura memperhatikan padahal tidak memperhatikan, sikap ini biasanya dikarenakan penyimak merasa bosan menyimak tetapi penyimak ingin terlihat sedang menyimak oleh pembicara agar pembicara menilai dengan asumsi yang baik.
  8. Menolak memberikan catatan, yaitu penyimak tidak mempersiapkan catan untuk mencatat hal-hal yang penting dan sulit diingat.
  9. Tidak dapt memanfaatkan waktu, yaitu penyimak tidak memanfaatkan waktu dengan efektif dan menggunakan waktu menyimak untuk hal-hal yang tidak berguna. Misal ngobrol sendiri, bercerita, smsan, dll
  10. Tidak mau berlatih menyimak, yaitu penyimak tidak mau berusaha berlatih dan memperbaik kualitas menyimaknya.
  11. Emosional. Yaaitu sikap penyimak yang mudah mengekpresikan suasana hatinya atau emosinya dan  tidak terkendali yang dapat menggangu proses menyimak.



BAB 3
PENUTUP


1.         Kesimpulan

Dari uraian di atas menyelaskan bahwa menyimak dalam kehidupan sehari - hari sangatlah penting karena dapat memperoleh informasi untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Begitu juga dalam lingkungan pendidikan, menyimak mempunyai peranan penting karena dengan menyimak mahasiswa dapat menambah ilmu, menerima dan menghargai pendapat orang lain. Oleh sebab itu dalam pembelajaran menyimak memerlukan latihan - latihan yang intensif.

2.    Saran

1.      Hendaknya kita mengetahui perngertian dan tujuan menyimak
2.      Hendaknya kita juga mengetahui tahap – tahap menyimak dan hal – hal atau kemampuan yang dapat menunjang dalam tahapan menyimak.
3.      Sering – seringlah dalam berkarya baik dalam membuat karya tulis atau karya yang lain, karena itu dapat menambah pengalaman, wawasan, serta ketrampilan.
4.      Semoga dengan karya tulis ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan kita semua.

0 comments:

Post a Comment