BAB I
PENDAHULUAN
Dalam pengetahuan kebahasaan kita
mengenal istilah mendengar, mendengarkan dan menyimak. Ketiga kata ini tentu
mempunyai makna yang berbeda. Secara sekilas, mendengar adalah proses kegiatan
menerima bunyi-bunyian yang dilakukan tanpa sengaja atau secara kebetulan saja.
Contoh : Saat Anda mengikuti kegiatan
perkuliahan, Anda mendengar benda jatuh. Anda menoleh ke arah suara benda tadi.
Anda tidak melihat apa-apa kemudian Anda melanjutkan kembali kegiatannya.
Mendengarkan adalah proses kegiatan
menerima bunyi bahasa yang dilakukan dengan senagaja tetapi belum ada unsur
pemahaman.
Contoh : Saya sedang membuat materi
perkuliahan bahasa Indonesia. Saat saya sedang menulis, tiba-tiba saya
mendengarkan lagu kesenangan saya. Kemudian saya berhenti sejenak sambil menikmati
lagu tersebut. Setelah lagu selesai, saya mengerjakan tugas lagi.
Sedangkan menyimak adalah suatu proses
kegiatan menyimak lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman,
apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau
pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang
pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan (HG.Tarigan : 28)
Contoh : pada saat belajar bahasa
Indonesia, saya menyimaknya dengan sungguh-sungguh. Sambil menyimak, saya
mencatat hal-hal penting yang ada kaitannya dengan isi pembicaraan. Tanpa saya
sadari, sesekali saya mengangguk-anggukkan kepala karena saya memahami apa yang
telah dijelaskan. Saat guru memberi kesempatan untuk bertanya, saya bertanya
apa yang belum saya pahami. Sebelum berakhir, saya merasa puas mengenai
pembelajaran yang telah dibahas.
BAB 2
PEMBAHASAN
Menyimak adalah suatu proses kegiatan menyimak
lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta
interprestasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta
memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh pembicara melalui ujaran
atau bahasa lisan.
Dengan menyimak seseorang dapat menyerap informasi atau
pengetahuan yang disimaknya. Menyimak juga mempelancar keterampilan berbicara
dan menulis. Semakin baik daya simak seseorang maka akan semakin baik pula daya
serap informasi atau pengetahuanyang disimaknya. Apakah yang dimaksud dengan
teks informatif? Informasi itu, artinya berita, kabar, penjelas/pemberitahuan
tentang suatu hal/objek tertentu.Sumber/pemberi informasi disebut informan
yaitu orang yang memberikan informasi. Dalam konteks ini yang dimaksud dengan
teks informatif ialah teks yang memuat berita, kabar, panjelas/pemberitahuan
tentang suatu hal.
Tahapan proses
menyimak yaitu tahap mendengarkan,mengidentifikasi,menginterpretasi, memahami,
menilai, dan menanggapi menyimak bukan hanya sebatas mendengar (hearing) saja,
tetapi memerlukan kegiatan lainnya yakni memahami (understanding) isi
pembicaraan yang disampaikan oleh si pembicara. Lebih jauh lagi diharapkan
dalam menafsirkan (interpreting) butir-butir pendapat yang disimaknya baik
tersurat maupun yang tersirat.
Kegiatan selanjutnya dalam proses menyimak adalah kegiatan
mengevaluasi (evaluating). Pada kegiatan ini si penyimak menilai gagasan baik
dari segi keunggulan maupun dari segi kelemahannya. Kegiatan akhir yakni
menanggapi(responding). Pada tahap akhir ini penyimak menyembut,
mencamkan,menyerap, serta menerima gagasan yang dikemukakan oleh si pembicara.
Berdasarkan hal tersebut, dalam menyimak diperlukan suatu
kemampuan khusus. Kemampuan ini berarti kesanggupan, kecakapan, dan
kekuatan(Poerwadarminta, 1984:628). Menyimak dapat juga diartikan sebagai
memperhatikan baik-baik yang diucapkan atau dibaca orang(Pusbinbangsa,
1988:840). Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat dirumuskan kemampuan
menyimak itu adalah kemampuan, kesanggupan,kecakapan, siswa menerima dan
memahami apa yang diucapkan atau dibaca orang lain. Urias (1987:21) juga
memperjelas bahwa kemampuan menyimak merupakan proses belajar mengajar dan
pembentukan kebiasaan yang terus-menerus.
Seperti yang kemukakan Bloom yang berhubungan dengan aspek
kognitif di dalam menyimak dapat berupa kemampuan menyimak tingkat ingatan,
pemahaman, penerapan, analisis,sintesis, dan evaluasi (Nurgiantoro, 1995:237).
Kegitan menyimak yang baik menyangkut sikap, ingatan, persepsi, Kemampuan
membedakan, intelegensi, perhatian, dan motivasi yang harus dikerjakan secara
integral dalam tindakan yang optimal pada saat kegiatan menyimak berlangsung
baik menyimak intensif maupun ekstensif.
Menyimak intensif adalah menyimak yang diarahkan pada suatu
kegiatan yang jauh lebih diawasi, dikontrol pada suatu hal tertentu baik dari
program pengajaran bahasa maupun pemahaman serta pengetahuan umum secara
kritis, konsentratif, kretaif, eksploratif interogatif, dan selektif, berbeda
dengan menyimak ekstensif. Untuk melaksanakan dan mengoptimalkan kemampuan
menyimak mahasiswa tersebut, salah satu pendekatannya adalah pendekatan
kontekstual.Menyimak merupakan salah satu keterampilan berbahasa diantara empat
keterampilan bahasa lain seperti menulis, membaca dan berbicara.
Keterampilan menyimak dapat kita klasifikasikan ke dalam
keterampilan berbahasa yang paling awal kita peroleh. Dalam kajian proses
perolehan bahasa anak, maka keterampilan ini memegang peranan yang tidak
kecil,bahkan dapat dikatakan sangat penting. Pengenalan satu wujud benda
tertentu tidak akan berarti apa- apa tanpa adanya penyebutan atau penamaan
benda itu oleh orang lain atau anak. Perolehan suatu kata lewat pendengaran
itulah yang memberikan makna pada benda yang diperlihatkan kepada anak
tersebut.
Jenis tes untuk mengukur kemampuan menyimak adalah tes
respons terbatas, tes respons pilihan ganda, dan tes komunikasi luas.“ Menyimak
adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa,
mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai dan mereaksiatas makna yang terkandung
di dalamnya. “ Menyimak melibatkan pendengaran, penglihatan, penghayatan,
ingatan, pengertian. Bahkan situasi yang menyertai bunyi bahasa yang disimak
pun harus diperhitungkan dalam menentukan maknanya.
1.1 Pengertian Menyimak Menurut 3 Ahli
Ø Menurut
H.G Tarigan
Menyimak
adalah
suatu proses kegiatan mendengarkan lambing-lambang lisan dengan penuh
perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi,
menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan
oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.
Ø Menurut
Djago Tarigan
Menyimak dapat didefinisikan sebagai suatu aktifitas yang mencakup kegiatan mendengar dari bunyi bahasa, mengidentifikasi, menilik, dan mereaksi atas makna yang terkandung dalal bahan simakan..
Menyimak dapat didefinisikan sebagai suatu aktifitas yang mencakup kegiatan mendengar dari bunyi bahasa, mengidentifikasi, menilik, dan mereaksi atas makna yang terkandung dalal bahan simakan..
Ø Menutur
Anderson
Menyimak
sebagai proses besar mendengarkan, mengenal, serta menginterpretasikan
lambing-lambang lisan.
SIMPULAN:
Menyimak
adalah suatu proses kegiatan menyimak lambang-lambang lisan dengan penuh
perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interprestasi untuk memperoleh
informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah
disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.
1.2 Ragam
Menyimak
Kegiatan menyimak mempunyai bentuk yang beraneka ragam.
Ragam menyimak menurut Sutari,
dkk (1997: 28-33), diklasifikasikan berdasarkan sumber suara, taraf
aktifitas menyimak, taraf hasil simakan, cara penyimakan, bahan simakan, tujuan menyimak, dan
tujuan spesifik.
Berdasarkan sumber suara yang disimak,
terdapat dua ragam menyimak, yaitu menyimak intrapribadi dan menyimak
antarpribadi. Menyimak intrapribadi adalah suara yang disimak berasal dari diri
sendiri, sedangkan menyimak antarpribadi adalah menyimak suara yang
berasal dari orang lain.
Berdasarkan taraf aktifitas menyimak
dibedakan atas kegiatan menyimak taraf rendah dan taraf tinggi. Menyimak
bertaraf rendah disebut silent
listening. Menyimak taraf rendah hanya
memberikan perhatian, dorongan dan menunjang pembicaran. Sedangkan menyimak
taraf tinggi disebut active
listening. Menyimak taraf tinggi biasanya
diperlihatkan penyimak dengan mengutarakan kembali isi simakan.
Berdasarkan taraf hasil simakan
terdapat beberapa ragam menyimak.
Pertama, menyimak terpusat.
Menyimak ini harus memusatkan pikiran agar tidak salah melaksanakan hasil
simakannya itu.
Kedua,
menyimak untuk membandingkan. Penyimak menyimak pesan tersebut
kemudian membandingkan isi pesan dengan pengalaman dan pengetahuan penyimak
relevan.
Ketiga,
menyimak organisasi materi.
Yang
dipentingkan oleh penyimak adalah mengetahui organisasi pikiran yang disampaikan
pembicara, baik ide pokoknya maupun ide penunjangnya.
Keempat, menyimak kritis.
Penyimak melakukan menyimak secara kritis dengan cara menganalisis pesan
yang disimaknya untuk kejelasan penyimak meminta data lebih lengkap tentang hal
yang dikemukakan pembicara.
Kelima,
menyimak kreatif dan
apresiatif.
Penyimak ini memberi reaksi lebih jauh terhadap hasil simakannya dengan memberi respon
setelah penyimak memahami dan menghayatinya betul pesan itu ia memperoleh informasi
yang dapat melahirkan pendapat baru sebagai hasil kreasinya.
Berdasarkan cara penyimakan, ada dua
ragam menyimak. Pertama, menyimak intensif. Penyimak ini melakukannya
dengan penuh perhatian, ketekunan dan ketelitian sehingga memahami secara mendalam
dan menguasai secara luas bahan simakannya. Yang termasuk ke dalam
menyimak intensif adalah: menyimak kritis, menyimak konsentratif, menyimak
kreatif, menyimak interogatif, dan menyimak selektif. Kedua, menyimak ekstensif.
Penyimak hanya memahami secara garis besar. Menyimak ekstensif meliputi: menyimak
sekunder, menyimak estetik, dan menyimak sosial.
Berdasarkan tujuan menyimak, dapat
dibedakan menjadi enam jenis. Pertama, menyimak sederhana. Menyimak sederhana
terjadi dalam percakapan dengan teman atau percakapan melalui telepon. Kedua,
menyimak deskriminatif. Menyimak untuk membedakan suara atau perubahan suara.
Ketiga, menyimak santai. Menyimak santai adalah menyimak untuk tujuan
kesenangan. Keempat, menyimak informatif adalah menyimak untuk mencari
informasi. Kelima, menyimak literature. Menyimak untuk mengorganisasikan
gagasan. Keenam, menyimak kritis. Menyimak untuk menganalisis tujuan
pembicara.
Berdasarkan tujuan khusus, Logan dan
kawan-kawan (dalam Sutari, dkk 1997: 32-34), mengklasifikasikan
menyimak menjadi beberapa jenis. Pertama, menyimak untuk belajar. Melalui
kegiatan menyimak seseorang mempelajari beberapa hal yang dibutuhkan. Kedua,
menyimak untuk menghibur. Penyimak menyimak sesuatu untuk menghibur
dirinya. Ketiga, menyimak untuk menilai. Penyimak mendengarkan dan memahami
simakan, kemudian menelaah, mengkaji, menguji, membandingkan dengan
pengalaman dan pengetahuan banyak. Keempat, menyimak apresiatif. Penyimak memahami,
menghayati, mengapresiasi materi simakan. Kelima, menyimak untuk
mengkomunikasikan ide dan perasaan. Penyimak memahami, merasakan gagasan, ide,
perasaan pembicara sehingga terjadi sambung rasa antara pembicara dan pendengar.
Keenam, menyimak deskriminatif. Menyimak untuk membedakan suara atau bunyi.
Ketujuh, menyimak pemecahan masalah. Penyimak mengikuti uraian pemecahan
masalah secara kreatif analitis yang disampaikan oleh pembicara.
Tarigan (1994: 35-40), membagi menyimak
menjadi dua jenis yaitu: (1)
menyimak
ekstensif, (2) menyimak intensif. Pertama, menyimak ekstensif. Menyimak
ekstensif adalah sejenis kegiatan menyimak mengenai hal-hal yang lebih
umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran. Adapun kegiatan menyimak ekstensif,
antara lain menyimak sosial,
menyimak
estetika, menyimak sekunder, dan menyimak pasif. (a) menyimak sosial, biasanya berlangsung
dalam situasi-situasi sosial tempat orang-orang mengobrol, seperti di pasar,
sekolah, terminal, stasiun, kantor pos, dan sebagainya. (b) menyimak estetika, sering
disebut menyimak apresiatif. Menyimak estetika adalah kegiatan menyimak untuk
menikmati dan menghayati sesuatu, misalnya menikmati cerita, puisi, menyimak musik
atau radio. (c) menyimak sekunder adalah menyimak secara kebetulan. Menyimak
pada musik yang mengiringi ritme-ritme dan pada acara radio yang terdengar
sayup-sayup sementara kita sedang menulis surat pada seorang teman di rumah. (d)
menyimak pasif adalah menyimak suatu ujararan tanpa upaya sadar, misalnya dalam
kehidupan sehari-hari pembelajar mendengarrkan bahasa Jawa, setelah dalam waktu 3
tahun ia sudah mahir menggunakan bahasa tersebut. Kemudian menggunakan bahasa
Jawa tersebut dilakukan tanpa sengaja.
Kedua, menyimak intensif. Menyimak
intensif adalah sejenis kegiatan menyimak yang diarahkan kepada suatu
kegiatan yang jauh lebih diawasi, dikontrol terhadap satu hal tertentu.
Adapun
jenis-jenis menyimak intensif antara lain menyimak kritis, menyimak
konsentratif, menyimak kreatif, menyimak eksploratif, menyimak interogatif, dan
menyimak selektif. (a) menyimak kritis adalah kegiatan menyimak untuk mencari
kesalahan dari ujaran seseorang pembicara secara sungguh-sunguh, dengan
alasanalasan yang kuat yang dapat diterima oleh akal sehat, serta dinilai
secara objektif, menentukan keaslian kebenaran dan keahlain serta kekurangan.
(b) menyimak konsentratif adalah kegiatan menyimak yang dilakukan dengan penuh
perhatian untuk memperoleh pemahaman yang baik terhadap informasi yang
diperdengarkan. (c) menyimak kreatif adalah kegiatan menyimak yang sengaja
dilakukan untuk menyenangkan rekonstruksi imajinasi dan perasaan kinaestetik
para penyimak. (d) menyimak eksplorasif
adalah kegiatan menyimak bertujuan untuk menyelidiki sesuatu lebih terarah dan
lebih sempit. (e) menyimak interogatif adalah kegiatan menyimak yang bertujuan
memperoleh informasi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada
pemeroleh informasi. (f) menyimak selektif adalah menyimak yang dilakukan
secara selektif dan terfokus berdasarkan nada suara, bunyibunyi asing,
bunyi-bunyi yang bersamaan, kata-kata dan frase-frase, bentuk-bentuk ketatabahasaan.
Dari beberapa pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa ragam menyimak dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam
berdasarkan sumber suara, taraf aktifitas menyimak, taraf hasil simakan, cara
penyimakan, bahan simakan, tujuan menyimak, tujuan spesifik, bentuk kegiatan
menyimak.
1.3 Kebiasaan Jelek Menyimak
Adapun
kebiasaan buruk Menyimak yaitu diantaranya:
- Menolak keanehan pembiacara, yaitu penyimak tidak menerima keseluruhan kondisi dan keanehan pembicara, yang mengakibatkan keengganan untuk menyimak dengan sungguh-sungguh.
- Menolak memperbaiki sikap, yaitu dimana saat penyimak dalam kondisi sikap yang tidak baik dan penyimak tidak berusaha untuk memperbaikinya, misal sikap yang egois dan apatis.
- Menolak memperbaiki lingkungan, yaitu penyimak dalam keadaan lingkungan dan suasana yang tidak kondusif dan penyimak tidak berusaha untuk memperbaikinya, misal : suasana yang bising, ramai, dll
- Tidak sabar memberikan tanggapan, yaitu penyimak ingin menanggapi sesuatu yang diangapnya tidak sesuai, tetapi pembicara belum selesai dengan pembicaraanya dan belum memberikan kesempatan kepada penyimak umtuk menanggapinya, hal ini membuat penyimak tidak sabar untuk segera memberi tanggapan.
- Melamun, yaitu di saat pembicara menyampaikan pembicaraan penyimak tidak mendengarkanya sama sekali karena sedang melamun atau memikirkan sesuatu yang tidak penting.
- Bingung, yaitu kondisi peyimak yang tidak mem[erhatikan pembicaraan dikarenakan bingung terhadap sesuatu dan menjadi tidak konsntrasi dalam menyimak.
- Pura-pura memperhatikan, yaitu sikap penyimak yang pura-pura memperhatikan padahal tidak memperhatikan, sikap ini biasanya dikarenakan penyimak merasa bosan menyimak tetapi penyimak ingin terlihat sedang menyimak oleh pembicara agar pembicara menilai dengan asumsi yang baik.
- Menolak memberikan catatan, yaitu penyimak tidak mempersiapkan catan untuk mencatat hal-hal yang penting dan sulit diingat.
- Tidak dapt memanfaatkan waktu, yaitu penyimak tidak memanfaatkan waktu dengan efektif dan menggunakan waktu menyimak untuk hal-hal yang tidak berguna. Misal ngobrol sendiri, bercerita, smsan, dll
- Tidak mau berlatih menyimak, yaitu penyimak tidak mau berusaha berlatih dan memperbaik kualitas menyimaknya.
- Emosional. Yaaitu sikap penyimak yang mudah mengekpresikan suasana hatinya atau emosinya dan tidak terkendali yang dapat menggangu proses menyimak.
BAB
3
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Dari uraian di atas menyelaskan bahwa menyimak dalam
kehidupan sehari - hari sangatlah penting karena dapat memperoleh informasi
untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Begitu juga dalam lingkungan
pendidikan, menyimak mempunyai peranan penting karena dengan menyimak mahasiswa
dapat menambah ilmu, menerima dan menghargai pendapat orang lain. Oleh sebab
itu dalam pembelajaran menyimak memerlukan latihan - latihan yang intensif.
2. Saran
1.
Hendaknya kita mengetahui perngertian
dan tujuan menyimak
2.
Hendaknya kita juga mengetahui tahap –
tahap menyimak dan hal – hal atau kemampuan yang dapat menunjang dalam tahapan
menyimak.
3.
Sering – seringlah dalam berkarya baik
dalam membuat karya tulis atau karya yang lain, karena itu dapat menambah
pengalaman, wawasan, serta ketrampilan.
4.
Semoga dengan karya tulis ini dapat
menambah pengetahuan dan wawasan kita semua.


0 comments:
Post a Comment