Sunday, November 3, 2013

0

Lebih Dari Indah [PROLOG: Sebuah Akhir Dan Sebuah Awal]







Prolog:


Main Cast:
Alvin Jonathan as Calvin Adryan
Gabriel Damanik as Gabriel Nata Pratama
Sivia Azizah as Alyvia Anastasya
Cakka Nuraga as Cakka Joshua
Mario Stevano as Rio Aditya Revano
Ify Alyssa as Lintang Dify Falery

***

“Cinta berubah tak lagi indah…
Rindu menjelma terasa resah
Saat kita harus berpisah….”

            “Maaf ya, Yel, gue telat, tadi macet banget soalnya, hehe…” kata Via dengan cengiran Khasnya sembari duduk dihadapan Iel, pacarnya.
            Iel mengangguk maklum lalu tersenyum penuh arti. Tangan kanannya terangkat lalu menyentuh tangan Via, menggenggamnya lembut. Iel menatap dalam pada kedua manic mata Gadisnya itu, tanpa Via sadari, ada sebuah luka dan kepedihan yang tersirat dari kedua tatap indah nan meneduhkan itu.
            “ada apa? tumben minta ketemuan diluar malam minggu, hehe…” kata Via. Kali ini ia tertawa kecil dan membuat Iel terkekeh pelan, melupakan sejenak beban yang kini membelenggu pundaknya.
            “emangnya nggak boleh? kalo nggak boleh, gue pulang deh” Iel merajuk dengan nada suara yang terdengar sedikit kenakak-kanakan, Via tergelak lalu tertawa lepas. Mendengar tawa itu, Iel semakin merasa tidak tega, entah untuk alas an apa.
            Iel menatap Via nanar, rasa berdosa dan rasa tidak sanggup semakin menumpuk didadanya dan membuatnya merasa sulit untuk sekedar bernafas saja. Menyesakkan.
            “Alyvia Anastasya, gue sayang sama lo, bahkan melebihi dari apa yang lo tahu dan dari apa yang dapat lo rasain, gue sangat menyayangi lo”
            “gue tahu” ucap Via singkat. Ia masih belum menyadari ada makna tersembunyi dibalik perkataan penuh luka itu –entahlah-
            “tapi—“ Iel menunduk dalam. Terus terang, ia tidak sanggup jika harus menatap wajah tidak berdosa itu, dan Iel merasa tidak sanggup jika harus menyampaikan maksudnya. Tapi Iel juga tidak memiliki daya apapun untuk menghentikan apa yang sudah berjalan, bagaimanapun kondisinya, semuanya harus berakhir. Sebelum luka itu mengaga lebar, sebelum luka itu menjadi luka terperih yang pernah ia toreh dalam hati Via, dan sebelum mereka sama-sama terluka.
            “semuanya harus berakhir” suara berat itu akhirnya terdengar lagi setelah cukup lama tenggelam dalam hening.
            Senyum diwajah manis Via mendadak beku, tapi didetik berikutnya, Via malah terkekeh, menganggap bahwa semua ini hanya lelucon saja.
            “Hahahaha…”
            Iel tersenyum pahit. Ia sudah menduga bahwa Via pasti akan menganggapnya hanya bergurau saja. Iel menghela nafas beratnya, rasa perih itu semakin menyiksanya. Bagaimana ia harus menjelaskan semuanya tanpa harus melukai perasaan Gadis ini?
            “nggak usah becanda, Yel… nggak lucu tau? Lagian juga April Mop udah lewat, hahaha….”
            “Via, gue serius, kita putus!”
            DEG! Via seakan mendapat pukulan telak tepat di ulu hatinya manakala kata putus meluncur tanpa hambatan keluar dari bibir manis yang dulu sering bahkan hampir setiap waktu mengucap kata cinta untuknya.
            Via terdiam, tenggorokannya tercekat seketika. Jauh didalam sana, ia merasakan ada ribuan tangan raksasa yang tengah meremas-remas jantungnya tanpa ampun.
            “ta… tapi ke… kenapa??” hanya pertanyaan tersendat itu yang mampu Via lemparkan. Rasanya perih, perih sekali. Masakah semuanya harus dengan akhir dengan cara seperti ini? Masakah semuanya harus berakhir sia-sia setelah apa yang mereka jalani selama 2 tahun ini?
            “gu… gue salah apa? Kalo emang gue ada salah, gue minta maaf, pliss… kita jangan putus, gue sayang sama elo, Yel… gue nggak mau kita putus” kata Via dengan nada memohon penuh tekanan, bulir-bulir bening itu mulai merembes keluar dari kedua pelupuk mata indahnya.
            “No… No… no…, lo ngga ada salah apa-apa, Cuma aja kit—“
            “kalo gue nggak ada salah apa-apa, terus kenapa lo lakuin semua ini, Yel? Kenapa?” Sela Via sebelum Iel sempat menyelesaikan perkataannya.
            Iel menggeleng pelan beberapa kali, rasa bersalah kini semakin menyelimuti benaknya. Tanpa mampu berucap lagi, Iel bangkit dari tempat duduknya, ia menghampiri Via, mengecup puncak kepalanya dengan sayang lantas mengucapkan kata maaf. Ya… hanya kata maaf dan semuanya berakhir.
            “Maaf! Suatu saat nanti lo akan ngerti kenapa gue harus ngelakuin ini” Iel memejamkan matanya sejenak, sebulir air matanya menetes secara perlahan, tapi ia langsung menyekanya.
            “gue sayang sama lo” lirih Iel sekali kali lalu melangkah pergi meninggalkan Café itu, dan tentu saja meninggalkan hati yang telah ia pecahkan dalam hitungan detik.
            “IELLLL….” Jerit Via dengan isak tangisnya yang memecah. Ia bahkan tidak peduli ketika seluruh perhatian pengunjung café itu mengarah dengan perihatin dan kasihan terhadapnya. Masa bodoh, ia sedang patah hati.



===


0 comments:

Post a Comment