Prolog:
Main Cast:
Alvin
Jonathan as Calvin Adryan
Gabriel
Damanik as Gabriel Nata Pratama
Sivia Azizah
as Alyvia Anastasya
Cakka Nuraga
as Cakka Joshua
Mario
Stevano as Rio Aditya Revano
Ify Alyssa
as Lintang Dify Falery
***
“Cinta
berubah tak lagi indah…
Rindu
menjelma terasa resah
Saat
kita harus berpisah….”
“Maaf
ya, Yel, gue telat, tadi macet banget soalnya, hehe…” kata Via dengan cengiran
Khasnya sembari duduk dihadapan Iel, pacarnya.
Iel
mengangguk maklum lalu tersenyum penuh arti. Tangan kanannya terangkat lalu
menyentuh tangan Via, menggenggamnya lembut. Iel menatap dalam pada kedua manic
mata Gadisnya itu, tanpa Via sadari, ada sebuah luka dan kepedihan yang
tersirat dari kedua tatap indah nan meneduhkan itu.
“ada
apa? tumben minta ketemuan diluar malam minggu, hehe…” kata Via. Kali ini ia tertawa
kecil dan membuat Iel terkekeh pelan, melupakan sejenak beban yang kini
membelenggu pundaknya.
“emangnya
nggak boleh? kalo nggak boleh, gue pulang deh” Iel merajuk dengan nada suara
yang terdengar sedikit kenakak-kanakan, Via tergelak lalu tertawa lepas.
Mendengar tawa itu, Iel semakin merasa tidak tega, entah untuk alas an apa.
Iel
menatap Via nanar, rasa berdosa dan rasa tidak sanggup semakin menumpuk
didadanya dan membuatnya merasa sulit untuk sekedar bernafas saja. Menyesakkan.
“Alyvia
Anastasya, gue sayang sama lo, bahkan melebihi dari apa yang lo tahu dan dari
apa yang dapat lo rasain, gue sangat menyayangi lo”
“gue
tahu” ucap Via singkat. Ia masih belum menyadari ada makna tersembunyi dibalik
perkataan penuh luka itu –entahlah-
“tapi—“
Iel menunduk dalam. Terus terang, ia tidak sanggup jika harus menatap wajah
tidak berdosa itu, dan Iel merasa tidak sanggup jika harus menyampaikan
maksudnya. Tapi Iel juga tidak memiliki daya apapun untuk menghentikan apa yang
sudah berjalan, bagaimanapun kondisinya, semuanya harus berakhir. Sebelum luka
itu mengaga lebar, sebelum luka itu menjadi luka terperih yang pernah ia toreh
dalam hati Via, dan sebelum mereka sama-sama terluka.
“semuanya
harus berakhir” suara berat itu akhirnya terdengar lagi setelah cukup lama
tenggelam dalam hening.
Senyum
diwajah manis Via mendadak beku, tapi didetik berikutnya, Via malah terkekeh,
menganggap bahwa semua ini hanya lelucon saja.
“Hahahaha…”
Iel
tersenyum pahit. Ia sudah menduga bahwa Via pasti akan menganggapnya hanya
bergurau saja. Iel menghela nafas beratnya, rasa perih itu semakin menyiksanya.
Bagaimana ia harus menjelaskan semuanya tanpa harus melukai perasaan Gadis ini?
“nggak
usah becanda, Yel… nggak lucu tau? Lagian juga April Mop udah lewat, hahaha….”
“Via,
gue serius, kita putus!”
DEG!
Via seakan mendapat pukulan telak tepat di ulu hatinya manakala kata putus
meluncur tanpa hambatan keluar dari bibir manis yang dulu sering bahkan hampir
setiap waktu mengucap kata cinta untuknya.
Via
terdiam, tenggorokannya tercekat seketika. Jauh didalam sana, ia merasakan ada
ribuan tangan raksasa yang tengah meremas-remas jantungnya tanpa ampun.
“ta…
tapi ke… kenapa??” hanya pertanyaan tersendat itu yang mampu Via lemparkan.
Rasanya perih, perih sekali. Masakah semuanya harus dengan akhir dengan cara
seperti ini? Masakah semuanya harus berakhir sia-sia setelah apa yang mereka
jalani selama 2 tahun ini?
“gu…
gue salah apa? Kalo emang gue ada salah, gue minta maaf, pliss… kita jangan
putus, gue sayang sama elo, Yel… gue nggak mau kita putus” kata Via dengan nada
memohon penuh tekanan, bulir-bulir bening itu mulai merembes keluar dari kedua
pelupuk mata indahnya.
“No…
No… no…, lo ngga ada salah apa-apa, Cuma aja kit—“
“kalo
gue nggak ada salah apa-apa, terus kenapa lo lakuin semua ini, Yel? Kenapa?”
Sela Via sebelum Iel sempat menyelesaikan perkataannya.
Iel
menggeleng pelan beberapa kali, rasa bersalah kini semakin menyelimuti
benaknya. Tanpa mampu berucap lagi, Iel bangkit dari tempat duduknya, ia
menghampiri Via, mengecup puncak kepalanya dengan sayang lantas mengucapkan
kata maaf. Ya… hanya kata maaf dan semuanya berakhir.
“Maaf!
Suatu saat nanti lo akan ngerti kenapa gue harus ngelakuin ini” Iel memejamkan
matanya sejenak, sebulir air matanya menetes secara perlahan, tapi ia langsung
menyekanya.
“gue
sayang sama lo” lirih Iel sekali kali lalu melangkah pergi meninggalkan Café
itu, dan tentu saja meninggalkan hati yang telah ia pecahkan dalam hitungan
detik.
“IELLLL….”
Jerit Via dengan isak tangisnya yang memecah. Ia bahkan tidak peduli ketika
seluruh perhatian pengunjung café itu mengarah dengan perihatin dan kasihan
terhadapnya. Masa bodoh, ia sedang patah hati.
===



0 comments:
Post a Comment