Sepulang dari sekolah, Ify langsung
berlari memasuki kamarnya tanpa sedikitpun menghiraukan panggilan Mami. Setibanya
dikamar Ifypun menghempaskan tubuhnya diatas kasur lalu menangis sejadi-jadinya
disana.
Kejadian disekolah tadi, saat ia
harus dengan terpaksa memutuskan hubungannya dengan Rio membuat perasaan Ify
hancur sehancur-hancurnya. Andai saja perbedaan diantara mereka ini tidak
pernah ada dan menghalangi semuanya, andai saja perbedaan diantara mereka ini
tidak pernah ada dan mengusik kebahagiaannya, dan andai saja perbedaan diantara
mereka ini tidak pernah ada dan memisahkan mereka. Ify hanya ingin hidup
bahagia dengan orang yang ia cintai, apa keinginan Ify itu salah, dan apa
keinginan itu terlampau mustahil untuk bisa terkabulkan?
Ify tiba-tiba saja merasakan sebuah
belaian hangat dikepalanya. Tanpa melihatpun Ify sudah tahu kalau yang saat ini
sedang membelainya adalah Mami. Ify memejamkan matanya sejenak, berusaha
meredam isakkannya yang semakin menjadi.
“Ify kenapa, sayang…?” Tanya Mami
khawatir.
Ify tersenyum jengah detik itu juga,
apa perlu Mami masih menanyakan keadaannya saat ini? Atau apa Mami hanya ingin
berbasa-basi saja?
“Ify sudah ikutin apa mau kalian,
hiks… Ify…”
“kamu sama Rio udaah—“
“PUTUS! Dan itu kan yang Papi dan Mami mau?” potong
Ify sebelum Mami menyelesaikan ucapannya.
Kali ini Mami hanya diam dan memilih untuk tidak menanggapi ucapan Ify
tadi. Mami bingung harus berkata apa. Dalam hati Mami hanya bisa mengucapkan
kata maaf. Mami menyesal harus melakukan ini, tapi mau bagaimana lagi? Ia juga
sama sekali merasa tidak berdaya jika harus melawan kehendak suaminya.
^_^
“sebelum pulang, gimana kalo kita
tanding dulu?” tantang Cakka pada Agni yang ketika itu sudah bersiap-siap untuk
pulang.
Mendengar tantangan Cakka, Agni
menghentikan sejenak aktifitas memasukan barang-barangnya kedalam tas, Agni
tersenyum meremehkan lantas berkata,
“gue nggak ada waktu” Agni kembali
membereskan barang-barangnya, tapi kali ini dengan gerakan yang lebih cepat.
Agni hanya ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini, dan Agni tidak ingin berdua
dengan Cakka dalam waktu yang lumayan lama.
“lo emang nggak ada waktu atau lo
emang takut ngelawan gue?” kata Cakka semakin menantang. Tapi Agni lebih
memilih untuk tetap masa bodoh.
“terserah lo mau ngomong apa”
Cakka tersenyum licik, ia mendrible
bola yang ada ditangannya, melakukan lay up lalu menembakkan bola itu kedalam
ring dan masuk. Cakka kembali menangkap bola itu dan mengapitnya dilengan.
“jadi kesimpulannya, lo emang cemen”
Kali ini Agni mengangkat wajahnya
lalu menatap Cakka tajam. Ia merasa tidak terima dengan ucapan Cakka yang
terakhir. Menanggapi tatapan tajam yang dilemparkan oleh Mantan Pacarnya ini,
Cakka hanya bisa memamerkan senyum maut andalannya seraya mengedipkan mata sebelah
kananya. Agni yang merasa geram dan tertantang langsung melepaskan tas nya dan
berjalan perlahan ketengah lapangan.
“jangan panggil gue Agnia Renata
kalo gue nggak bisa ngalahin lo!!”
Cakka tersenyum penuh kemenangan
detik itu juga. Ia merasa berada diatas angin.
“kalo gue yang menang, besok, selama
seharian penuh lo jadi milik gue, dan lo harus ikutin kemana pun gue pergi”
kata Cakka seraya mendrible bola itu. Agni sedikit kaget, tapi ia berusaha
untuk tidak gentar. Ia yakin bisa mengalahkan Cakka.
“dan kalo gue yang menang, lo harus
ngejauhin gue dan nggak usah ngejer-ngejer gue lagi. SELAMANYA” balas Agni
tidak kalah sengitnya. Ia pun berhasil merebut bola itu dari tangan Cakka.
“heh! Siapa takut??”
^_^
“Bunda, bisa kan lain kali nggak
usah minta Alvin buat nganter aku pulang lagi?” omel Via saat ia baru saja
memasuki rumahnya dengan wajah sebal. Via melepaskan tas nya diatas meja begitu
saja lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa yang nyaman.
“emangnya kenapa? Sukur-sukur Alvin
masih mau pulang sama kamu” jawab Bunda dengan tatapan yang tak lepas dari
Majalah yang sedari tadi ia baca. Via berdecak pelan, ia memutar bola matanya
lalu kembali meraih tasnya.
Via bangkit dari sofa dan telah siap
untuk menganyunkan langkahnya menuju kamarnya dilantai 2. Tepat sebelum Via
melangkah, Bunda kembali buka suara,
“Bunda suka sama Alvin, Vi… dan
kayaknya kamu cocok sama Alvin”
“Bunda” kata Via malas.
Bunda mengurai sebuah senyum.
Perhatiannya tetap tidak ia alihkan dari majalah yang saat ini ada ditangannya.
“karena seenggaknya, Alvin lebih
baik dari Gabriel”
“Bunda jangan bawa-bawa nama Gabriel
dalam masalah ini bisa kan?” jawab Via sedikit emosi.
Sejak kepergian Gabriel beberapa
hari yang lalu, sejak saat itulah Via tidak ingin lagi mendengar nama itu
disebut entah oleh siapapun itu. Bahkan Via sudah mengajarkan pada dirinya
sendiri untuk membuang nama Gabriel jauh-jauh dari hati dan ingatannya. Via
tidak ingin lagi mengingat Pria itu, Pria yang sudah menorehkan luka terparah
didinding hatinya dengan pergi meninggalkannya begitu saja tanpa alas an yang
pasti.
Via berdecak kecil lalu berjalan
dengan langkah terburu menaiki anak tangga. Bunda mengalihkan perhatiannya dari
majalah yang ia baca lalu menatap punggung Via yang nyaris hilang dari
pandangannya.
^_^
Pertandingan One On One yang dilakukan
oleh Cakka dan Agni ternyata dimenangkan oleh Cakka. Seperti yang sudah Cakka
duga sebelumnya, ia pasti akan memenangkan pertandingan ini, dan ternyata
dugaan Cakka itu terbukti. Agni terduduk lemah ditengah lapangan dengan
keringat bercucuran membanjiri seluruh tubuhnya. Tamat sudah riwayatnya, besok
ia akan menjadi milik Cakka sepenuhnya dan tanpa penolakan apapun.
Cakka tersenyum dengan seringai
liciknya ketika melihat wajah pasrah Agni. Dan Cakka sama sekali tidak peduli
dengan apa yang Agni rasakan saat ini, yang Cakka tahu hanyalah, besok Agni
akan menjadi miliknya, walaupun hanya sehari, itu semua sudah lebih dari cukup
buat Cakka.
Cakka berjalan perlahan menghampiri
Agni lantas mengulurkan tangannya dihadapan Mantan Pacar yang selalu ia sayangi
itu. Agni menatap tangan Cakka yang terulur, tidak berapa lama kemudian, Agni
mengangkat wajahnya, senyuman mematikan serta tatapan teduh dari Cakka langsung
menyambutnya detik itu. Deg… jantung Agni tiba-tiba berdegub kencang, ia
mendadak salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa. Lalu tanpa ia komando,
Agni menepis tangan Cakka dengan kasar lantas berdiri sendiri, Cakka tersenyum
kecil atas penolakan yang baru saja ia terima,
“nggak usah, gue bisa sendiri” Agni
berjalan melewati Cakka. Tapi kemudian Agni mendadak menghentikan langkahnya
ketika sebuah suara kembali terdengar,
“lo masih ingat dengan taruhan kita
tadi kan, Agnia Renata? Dan lo nggak berniat untuk lari kan?”
Agni tersenyum miring. Ia merasa
Cakka telah merendahkannya.
“gue nggak sepengecut itu. Tenang
aja, gue sportif kok orangnya, dan gue nggak akan lari” kata Agni tegas lalu
melanjutkan langkahnya.
“Agni… Cakka… untung saja kalian
berdua masih disini” kata Pak Imam yang tiba-tiba saja hadir ditengah-tengah
mereka. Pak Imam adalah pelatih Basket mereka. Agni menghentikan langkahnya
lalu menatap Pak Imam dengan pandangan heran, begitu juga dengan Cakka.
“emang ada apa, Pak?” Tanya Cakka.
“kita harus dapet pengganti Iel
sebelum pertandingan tiba. Setidaknya, pengganti Iel nanti sama hebatnya dengan
Iel”
“kenapa nggak ngadain audisi aja,
Pak?” usul Agni yang masih berdiri membelakangi Cakka. Cakka berjalan perlahan
hingga sejajar dengan posisi Agni sekarang. Cakka dan Agni saling menatap
sejenak lalu kembali mengalihkan tatapan mereka kearah Pak Imam.
“proses audisi itu lama, dan kita
nggak mungkin ngadain audisi sementara pertandingan Cuma tinggal 2 minggu lagi,
Agni” jawab Pak Imam dengan nada sedikit putus asa.
“tapi kalo untuk mendapatkan
pengganti yang setara dengan Iel, akan lebih nggak mungkin lagi kalo kita
mencarinya dengan sembarang dan tanpa audisi. Kita semua tau kan gimana luar
biasanya kemampuan seorang Gabriel Nata Pratama? Dan saya agak pesimis bisa
menemukan pengganti Iel tanpa melakukan proses audisi, Pak” jelas Agni panjang
lebar. Pak Imam hanya mengangguk, tapi raut kebingungan tidak kunjung
menghilang dari wajah manis Guru Muda itu.
“saya tau siapa yang bisa
menggantikan posisi Iel, bahkan tanpa ngelakuin audisi” kata Cakka tiba-tiba
sambil menatap lurus kedepan.
^_^
“Gue nggak bisa!” kata Alvin tegas.
Ia menembakkan bola basket yang sejak tadi ia drible kearah ring. Bola itu pun
memasuki ring dengan sempurna dan membuat Cakka berdecak kagum.
Sore itu, sepulangnya dari sekolah,
Cakka langsung menemui Alvin yang saat itu tengah bermain basket sendiri di
lapangan komplek. Niat Cakka menemui Alvin adalah untuk menyampaikan maksudnya
yang ingin menawarkan Alvin untuk ikut bergabung dengan Tim Basket SMA Patuh
Karya menggantikan posisi Iel. Diawal Cakka sempat optimis, Alvin akan
menyetujui tawarannya itu, tapi ternyata Cakka salah. Karena begitu Cakka
menyampaikan tawarannya, Alvin langsung menolaknya mentah-mentah. Tapi hal itu
tidak lantas membuat Cakka putus asa. Ia yakin Alvin bisa menggantikan posisi Iel,
dan dengan cara apapun, Cakka akan berusaha untuk membawa Alvin masuk kedalam
Tim Basket SMA Patuh Karya dan mengikuti pertandingan Basket antar sekolah yang
akan diselenggarakan 2 minggu dari sekarang.
“tapi Alv, saat ini Cuma lo harapan
kita semua, dan kita semua yakin kalo lo itu mampu ngegantiin posisi Iel. Lo
percaya kan sama gue?”
“gue bukannya nggak percaya sama lo,
Kka, gue Cuma nggak percaya sama diri gue sendiri” kata Alvin pesimis lalu
duduk ditengah lapangan. Ia menatap hampa kedepan, tatapannya seakan menerawang
jauh ke masa lalu.
“kenapa?” Tanya Cakka penasaran
lantas duduk disamping Sahabat barunya itu. Alvin menggeleng pelan. Ia rasa,
Cakka tidak perlau tahu apa alasannya. Yang jelas Alvin sudah mantap dengan
keputusannya untuk tidak ikut serta dalam Tim Basket SMA Patuh Karya. Dan itu
sudah keputusan mutlak, tidak bisa diganggu gugat lagi.
Alvin tersenyum kecil, ia menatap
Cakka sejenak lalu menepuk pundak Cakka beberapa kali.
“semoga lo bisa dapet pengganti Iel
yang jauh lebih layak dari gue”
Alvin bangkit dari sisi Cakka lalu
berjalan perlahan meninggalkan lapangan Komplek. Cakka tidak yakin dengan
dugaannya saat ini, tapi ia menduga, Alvin memiliki pengalaman buruk tentang
basket, dan Cakka bersumpah akan mencari tahu tentang itu. Entahlah, Cakka
sudah terlanjur yakin dengan kemampuan yang Alvin miliki.
^_^
Alvin kaget setengah mati ketika
melihat Via yang saat itu duduk dengan santainya diruang tengahnya sambil
menonton TV. Kedua mata Alvin membelalak lebar, bagaimana ceritanya Via ada
dirumahnya? Jangan-jangan Mama yang mengundang, fikir Alvin.
Alvin berjalan mendekati Via dan
berdiri disampingnya. Alvin lalu berdehem pelan dan membuat Via kaget. Via
menatap Alvin dengan pandangan tidak suka,
“eh elo? Ngapain disini? Bikin kaget
aja” kata Via lantas kembali mengalihkan perhatiannya pada layar yang ada
dihadapannya.
“harusnya gue yang nanya, lo ngapain
dirumah gue?” Tanya Alvin dingin. Via menghela nafas panjang lalu menjawab
pertanyaan Alvin tanpa sedikitpun melihat kearah Pria itu,
“Nyokap lo yang nyulik gue”
“lo kalo ngomong nggak usah
sembarangan ya?”
“ya emang kenyataannya. Tadi Nyokap
lo kerumah gue dan minta supaya gue ikut sama dia kerumah lo, mau nolak tapi
gue nggak enak hati, soalnya kan Nyokap lo itu baik banget, nggak kayak elo!”
“iya, tapi ngapain Nyokap gue bawa
lo kesini?”
“diundang makan malam. Udah nggak
usah nanya lagi, puyeng gue”
Alvin tidak lagi terdengar menimpali
perkataan Via. Dengan langkah terburu ia meninggalkan ruang tengah dan menaiki
anak tangga hendak ke kamarnya. Via melirik Alvin sejenak lalu menggelengkan
kepalanya beberapa kali. Dasar aneh! Rutuk Via dalam hati.
Tidak berselang lama setelah
kepergian Alvin, Kintan pun keluar dari dapur lantas duduk disamping Via,
“Alvin udah pulang, Vi?”
“udah Tan, dia baruuu aja masuk ke
kamarnya” jawab Via. Kintan hanya menganggukan kepalanya beberapa kali.
“Vi…” panggil Kintan pelan,
“iya Tante?”
“kalo Alvin berkata kasar ada
berbuat kasar sama kamu, jangan dimasukin kedalam hati ya, sayang? Alvin emang
gitu anaknya. Dia emang dingin sama semua cewek”
“kok bisa?”
Kintan tersenyum penuh misteri.
Tangan kananya bergerak perlahan lalu membelai lembut rambut sebahu milik Via.
“pokoknya nggak usah dimasukin
kedalam hati semua sikap Alvin itu. Ya jelas, secuek apapun Alvin, sedingin
apapun Alvin, sebenarnya dia punya hati yang lembut dan mudah rapuh. Tante
minta tolong sama kamu untuk bisa ngertiin Alvin, nanti ada saatnya kamu akan
mengerti, Via”
Jujur saja, perkataan Kintan baru
saja semakin membuat Via merasa penasaran. Ada apa sebenarnya dengan Alvin?
Kenapa tiba-tiba Kintan memintanya untuk berusaha mengerti Alvin? Terus terang
saja, Via merasa bingung dengan semua ini.
Seakan bisa membaca rasa penasaran
Via, Kintan kembali berkata,
“Tante Cuma percaya sama kamu, Nak”
Kintan memeluk Via sejenak, ia menyentuh kedua pipi chubby Via sambil tersenyum
lebar,
“udah nggak usah bingung, sekarang
kamu panggil Alvin ya dikamarnya? Udah jam nya kita makan malam”
Via terkesiap dan langsung menjawab
“ba… baik Tante”
Via bangkit dari sofa lalu melangkah
kearah anak tangga hendak memanggil Alvin dikamarnya.
Via tiba didepan kamar Alvin,
ragu-ragu ia mengetuk pintu kamar itu, tapi tidak ada jawaban dari dalam sana.
Via kembali mengetuk seraya memanggil nama Alvin, tapi tetap tidak ada jawaban
apapun. Via menghela nafas panjang, ia berusaha mengumpulkan keberaniannya lalu
menarik kenop pintu, tidak lama, pintu kamar Alvin terbuka, Via melihat
kedalam, ternyata disana tidak ada siapa-siapa.
Via memberanikan dirinya untuk
memasuki kamar Alvin lebih dalam lagi. Via sedikit kagum ketika melihat kamar
Alvin yang terlihat begitu rapi dan bersih, jarang-jarang Via melihat kamar
cowok serapi ini, bahkan kamar Cakka tidak serapi ini. Pada dinding kamar Alvin
yang berwarna putih itu, Via melihat sejumlah foto yang tertempel, darisana Via
bisa menebak bahwa Alvin adalah salah seorang pecinta Photografy.
Via berhenti tepat didepan meja
belajar Alvin, sebuah kamera bermerk Canon yang tergeletak dimeja belajar Alvin
tiba-tiba saja menarik perhatiannya. Tanpa berfikir panjang lagi, salah satu
tangan Via bergerak perlahan lalu meraih kamera itu. Iseng-iseng Via mencoba
melihat-lihat hasil jepretan Alvin dalam kamera itu.
Via sedikit kaget namun juga kagum
ketika melihat gambar seorang Gadis yang terlihat sangat cantik dalam kamera
itu. Via kembali melihat foto yang lainnya, ternyata isi kamera itu hanya
foto-foto dari satu gadis yang sama. Siapa Gadis ini? Bathin Via bertanya.
“ngapain lo dikamar gue?” sebuah
suara dingin yang terdengar sinis menyapa indera pendengar Via. Via berbalik
lalu melihat kearah Alvin yang saat itu berdiri dipintu dengan tatapan pembunuh
yang siap menerkam. Tanpa Via sadari, kedua tangannya masih memegangi kamera
milik Alvin.
“gu… gue… ta.. tadi Nyokap lo, nyu…
nyuruh gue manggil lo—“ Via mendadak gelagapan, ia merasa salah tingkah karena
Alvin telah menangkap basah dirinya.
Tatapan Alvin tiba-tiba saja tertuju
pada kedua tangan Via yang ketika itu sedang memegang kamera miliknya. Alvin
melangkah besar-besar kearah Via lalu merenggut kamera itu dengan kasar dari
tangan Via, Via menunduk dalam. Ia takut menatap kedua mata yang penuh dengan
kilat-kilat kebencian itu. Sepertinya Via salah karena telah melihat-lihat isi
dari kamera itu.
“lo lihat isi kamera ini?” Tanya
Alvin dingin seraya menunjukan kamera itu tepat didepan wajah Via. Via
mengangguk sambil tetap menunduk.
“nggak sopan banget lo masuk kamar
gue tanpa ijin terus bongkar-bongkar isi kamera gue”
“ma.. maaf…”
“gue nggak butuh kata maaf, dan
untuk yang kesekian kalinya gue bilang sama lo, gue benci sama kata maaf”
Via terdiam. Sejak mereka pertama
kali bertemu, Alvin memang sering membentaknya, tapi entah kenapa Via merasa
lain kali ini. Ia merasakan sebuah perasaan takut.
“Nyokap gue emang sayang sama lo,
tapi buat gue elo tetep bukan siapa-siapa, jadi lo nggak berhak buat nyentuh
barang-barang gue. Dan jangan mentang-mentang Nyokap gue sayang sama lo, lo
jadi bisa seenaknya masuk kamar gue tanpa ijin terus nyentuh kamera gue, ngerti
lo?”
Via masih betah dengan kebisuannya.
Entah kenapa perkataan Alvin barusan benar-benar menusuk jantungnya. Rasanya
sakit sekali ketika Alvin membentaknya seperti saat ini. Apa kesalahan yang Via
lakukan begitu fatal hingga membuat Alvin marah?
“dan satu lagi, sekarang lo angkat
kaki dari kamar gue. CEPETAN!!” Bentak Alvin dengan tidak berperasaan. Via
masih bergeming, dan hal itu semakin membuat emosi Alvin membuncah,
“atau lo mau gue seret dari sini?”
Kali ini Via mengangkat wajahnya dan
menatap Alvin tajam. Air matanya perlahan menetes, tapi hal itu tidak juga
membuat Alvin luluh. Via menghela nafas dalam-dalam, ia mengangkat tangan
kananya lalu mendaratkannya dengan cukup keras tepat dipipi sebelah kiri Alvin.
“lo nggak berhak ngebentak-bentak
gue kayak gini. Dan asal lo tau, GUE BENCI SAMA LO!!”
“Gue nggak peduli. Sekarang keluar
dari kamar gue!” kata Alvin sinis sambil menunjuk kearah pintu. Via pun berlari
melewati Alvin sambil menabarakkan pundaknya pada pundak pundak Alvin.
Kali ini Alvin sudah benar-benar
menyakiti perasaannya.
BERSAMBUNG…



0 comments:
Post a Comment