Friday, July 25, 2014

0

If Mr.Arrogant In Love (Saat Cinta Datang Tanpa Bilang-Bilang) -Chapter 10-




SMA Patuh Karya

            Cowok manis bertubuh tinggi kurus itu berdiri didepan pintu kelas sambil menatap Ify tanpa henti yang tampak focus menyelesaikan catatan Kimia nya. Ia mendesah pelan. Baru-baru ini ia mendengar kabar, saat kenaikan kelas nanti Ify akan pindah ke Speranza High School. Saat mengetahui itu, perasaannya malah tidak tenang. Banyak hal yang ingin ia sampaikan pada Ify. Tapi ketidaksiapannya justru menghentikan setiap langkahnya.
            Sejak mengenal Ify ditempat Les Pianonya setahun yang lalu, ia sudah sangat kagum dengan kelihaian Gadis berdagu tirus itu dalam memainkan piano. Dan sejak mereka mulai berteman karna ternyata mereka satu sekolah, mereka semakin dekat dan menimbulkan benih-benih cinta dihatinya. Tapi hingga detik ini, hingga Ify memutuskan untuk pindah sekolah, ia masih saja merasa belum siap menyatakan isi hatinya. Ia terlalu takut kehilangan Ify disaat ia belum memilikinya jika ia menyatakan perasaannya pada Ify. Ia takut menerima kenyataan bahwa ternyata ia tidak memiliki perasaan yang sama dengan Ify.
            “woi Tristan! Kenapa ngelamun disitu? sini masuk!” panggil Ify sambil melambaikan tangannya. Cowok manis yang ia panggil Tristan itu langsung membuyarkan keterpanaannya dan terlihat sedikit salah tingkah. Ia berharap semoga gadis itu tidak menangkap basah dirinya yang sedang menatapnya.
            “Lo kok belum pulang sih, Fy?” tanyanya seraya berjalan mendekati Ify.
            “Lagi nyelesein catetan Kimia. Tapi udah selese kok” jawab Ify seadanya sambil membereskan buku-bukunya dan memasukannya kedalam tas.
            “denger-denger katanya lo mau pindah ya? Ke Speranza?”
            Ify mengangguk mantap. “Iya nih. Habisnya gue kesepian kalo gak ada Via, hehe…” jawab Ify dengan sedikit bergurau. Tristan hanya mengangguk. Sebenarnya Tristan ingin mengajak Ify jalan hari ini, tapi yang jadi permasalahannya sekarang adalah, apa ia berani mengajak Ify jalan?
            Tristan menepis semua ketakutannya. Tidak, ia tidak boleh menjadi seorang pecundang jika ingin memenangkan hati gadis ini.
            “Fy, elo ada acara gak sore ini?” Tanya Tristan takut-takut.
            “sore ini? emmm kayaknya gak ada deh. Kenapa?” jawab Ify yang merasa sedikit curiga dengan pertanyaan Tristan. Jujur saja, ia mulai mencium bau-bau yang tidak beres dari gelagat teman dekatnya ini.
            “Senin besok kan kita udah mulai UKK nih, dan semester depan lo udah pindah, jadiiii –“ jeda beberapa saat. Tristan semakin ragu.
            “Jadi?”
            “Gue mau ngajakin lo jalan sore ini sebelum lo pindah”
            Ify sedikit kaget. Tapi ia berusaha menutupinya.
            “Nge-date?” Tanya Ify ceplas-ceplos. Tristan sukses dibuat salah tingkah.
            Ify terkekeh pelan saat menangkap kesalah tingkahan cowok berwajah manis ini.
            “Hahaha bencanda kok Tris…”
            “jadi lo mau?”
            Sebagai jawaban atas pertanyaan dari Tristan, Ify hanya mengangguk, yang menandakan bahwa ia setuju. Saat itu Tristan langsung tersenyum lega. Ia merasa memiliki sedikit harapan.

            “Thanks Fy, nanti sore gue jemput kerumah lo, ya?”

            Sekali lagi Ify mengangguk.

♥♥♥

            Selama 3 hari terakhir ini, baik Rio maupun Iel sama-sama melarang keras Via untuk bertemu dengan Alvin apalagi sampai harus pergi ke apartemennya lagi. Rio juga berjanji akan mencari pekerjaan baru untuk Via asal ia mau berhenti bekerja dari tempat Alvin. Via yang memang tidak punya pilihan lain akhirnya hanya bisa menerima tanpa syarat apapun, sekalipun hati kecilnya merasa… sedikit tidak rela.
            Via yang sejak tadi memandang ponselnya berharap mendapat telfon atau SMS dari Alvin langsung membanting ponselnya diatas tempat tidurnya. Via merutuki dirinya habis-habisan setelah sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan.
            “begok, begok, begok! Kenapa gue berharap si Songong itu bakalan nelpon atas SMS gue. Itu gak mungkin Viana Aurora, itu gak mungkin. Begok, begok, begoooook!” Via beberapa kali memukul pelan kepalanya dengan boneka kodok kesayangannya.
            Tanpa sengaja Via menatap bonekanya, tidak lama ia tersenyum dan berujar pelan,
            “boneka ini kok lama-lama mirip Alvin ya?” Via tersenyum.
            Tidak lama kemudian…
            “GAK! GAK! GAK! Apa yang udah gue pikirin? Inget Via, cowok kurang ajar itu udah bikin malu lo didepan umum, lo harusnya bales dendem dan ngasih pelajaran buat dia, bukannya malah mikirin dia kayak gini”
            Via kembali melamun. Ia merebahkan tubuhnya diatas kasur sambil menatap dengan pandangan menerawang keatas langit-langit kamarnya.

            “Dia udah makan belom ya? Itu anak kan begok, gak bisa masak buat dirinya sendiri…”

♥♥♥

            Alvin baru saja bangun dari tidurnya saat tiba-tiba ia memegangi perutnya erat-erat menahan rasa sakit yang seakan melilit. Sejak pulang sekolah tadi, Alvin sama sekali belum memakan apapun. Rasa lapar yang sejak tadi ia rasakan kini kian memuncak dan membuat otaknya tidak dapat berpikir dengan baik.
            “VIAAAAA!! LO UDAH MASAK BELOM? GUE LAPER”
            Alvin bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan keluar kamar.
            “VIAAA! LO KEMANA AJ –“ Alvin tidak melanjutkan kalimatnya saat ia baru mengingat bahwa sejak 3 hari yang lalu Via tidak pernah muncul lagi di apartemennya. Alvin terduduk lunglai di kursi makan. Ia bahkan belum bisa membiasakan diri untuk hidup tanpa bantuan orang lain disaat ia memilih untuk keluar dari rumah dan menjalani kehidupan yang mandiri.
            Alvin mengepalkan tangannya lalu memukulkannya tanpa ampun diatas meja. Alvin buru-buru mencari nama Via pada contact list-nya.
            “tamat riwayat lo hari ini juga! Lo pikir lo siapa bisa mangkir dari kerjaan lo seenak udel lo?” baru saja Alvin akan menekan tombol hijau, ia malah membatalkan niatnya. Alvin menggeram marah, tapi kali ini ia memilih untuk menelpon kepala asisten rumah tangga dikediaman Ayahnya.
            “Heh! Mana pembantu pesenan gue? Udah hampir sebulan belom juga nongol. Lo pikir gue bisa apa ngerjain pekerjaan rumah sendiri? Gak mikir lo ya?” emosi Alvin benar-benar memuncak kali ini, dan itu karna ia belum bisa berhenti memikirkan Via.
            “Maaf, Tuan. Tapi bukannya 2 minggu yang lalu, Tuan sendiri yang mengatakan bahwa Tuan sudah memiliki pembantu baru?”
            Alvin memijat keningnya frustasi lalu mengehembuskan napas kuat-kuat.
            “gue gak minta dijawab! Gue mintanya pembantu baru. Gue gak mau tau, besok pagi itu pembantu harus sudah ada diapartemen gue. Kalo gak, lo bakalan gue pecat” Ancam Alvin yang merasa emosinya semakin naik saja.
            “Baik Tuan, saya akan kirimkan salah satu pembantu dari rumah ini”
            “Lo begok atau apa? Gue minta pembantu baru, bukan pembantu lama” Alvin makin senewen. Setelah puas marah-marah ditelfon, Alvin langsung memutuskan sambungan telfonnya dan membuat kepala asisten rumah tangganya jauh lebih frustasi dari dirinya sekarang.
            “DAMN! Rese semuanya” umpat Alvin sambil membanting ponselnya diatas meja. Nada lapar diperut Alvin kembali berbunyi diiringi dengan rasa melilit dibagian perutnya yang kembali terasa.
            “aw… gue lapar!”
            Alvin segera menyambar kunci mobilnya. Jika ingin tetap hidup besok pagi, maka ia harus keluar untuk mencari makanan sendiri.


♥♥♥

            Via mendorong trolley yang berisi berbagai macam keperluan dapur sambil membaca sebuah catatan kecil yang tadi diberikan oleh Bunda. Semua barang pesanan Bunda hampir ia dapatkan. Sekarang Via hanya perlu mencari keperluannya sendiri.
            Via lalu mendorong trolley nya kearah bagian buah-buahan untuk mencari buah melon kesukaannya. Ia lalu tersenyum puas saat melihat buah berwarna hijau itu bertengger dengan manisnya dirak. Tapi, kok Cuma satu? Pikirnya.
            Saat kedua tangan Via sudah menyentuh buah melon itu, tiba-tiba saja sepasang tangan kekar muncul lalu membungkus kedua tangannya yang telah siap mengangkat buah melon itu. Via sedikit kaget lalu buru-buru menatap seseorang yang telah menyentuh tangannya, dan Via membelalak maksimal saat itu bahwa orang itu adalah…
            “Eloooo??” pekiknya dengan suara melengking nyaris tidak percaya dengan apa yang saat ini ada didepan kedua matanya.
            Seseorang yang ternyata adalah Alvin sebenarnya sama kagetnya dengan Via, tapi ia berusaha terlihat biasa saja didepan Gadis yang sekarang sudah menjadi mantan babunya ini.
            “Lepasin! Ini melon gue” pinta Alvin dengan nada memerintah, seperti yang biasa ia lakukan.
            Via berusaha menormalkan reaksinya. Kini ia melotot pada Alvin, berusaha menantang.
            “enak aja! Gue duluan yang dapet ini” Via semakin mempererat pegangannya pada melon itu, tapi Alvin tidak mau kalah.
            “tapi gue duluan yang liat ini”
            “gak bisa! Tetep aja gue duluan yang pegang melon ini”
            “gue!”
            “gue”
            “gue, gue, gue, GUEEEE”
            “GU –“
            “Maaf, Mbak, Mas… ini ada apa ya?” ucapan Via tahu-tahu terpotong saat seorang pelayan supermarket tiba-tiba saja datang saat melihat ada keributan yang terjadi antara dua orang ini. Baik Alvin maupun Via sama-sama menoleh kearah pelayan supermarket yang tampak sangat kebingungan itu.
            “ini kan SUPERMARKET ya, Mbak? Ada kata SUPER didepannya, tapi kenapa melon yang tersedia Cuma satu sih?” semprot Alvin tanpa babibu lagi.
            “Maaf Mas sebelumnya, persediaan Melon kami habis sejam yang lalu, dan hanya ini yang tersisa. Kalo mau dapet melon yang banyak, coba deh ke toko buah” jelas sang Pelayan Supermarket itu, berusaha terdengar sabar.
            “APA? Berani-beraninya lo merintah gue kayak gitu. Emang lo sia – umphhh…”
            Via langsung membekap mulut Alvin agar Alvin tidak melanjutkan perkataannya yang sudah pasti sangat menusuk itu. Via tersenyum pada pelayan itu,
            “Maaf ya, Mbak? Temen saya ini emang sedikit gak waras. Jadi maklumin aja kalo omongannya rada nyelekit”
            “iya… iya…” jawab pelayan itu yang merasa sedikit aneh dengan kedua pengunjungnya ini.
            “sekarang Mbak bisa pergi, kami akan selesaikan berdua”
            Pelayan itu akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan Alvin dan Via setelah sebelumnya ia melemparkan senyuman. Beberapa saat kemudian, Via langsung membuka bekapannya pada mulut Alvin.
            “berani banget lo bekap-bekap mulut gue? Lo pikir lo siapa? Hah?”
            “omongan lo tadi terlalu kasar, lo sadar gak sih?”
            “itu hak gue. Elo ataupun pelayan tadi sama sekali gak berhak buat ngelarang gue. Dan kalo gue mau, gue bisa beli supermarket ini kapanpun gue mau”
            “ya, lo bisa beli apapun kapanpun dan dimanapun lo mau. Tapi satu hal yang gak bisa lo beli… harga diri seseorang. Dan biar bagaimanapun, Mbak-mbak tadi punya perasaan, dan lo gak bisa nginjek-nginjek harga diri dia seenak hati lo dengan ngebentak-bentak dia kayak tadi”
            “Elo –“ ucap Alvin tertahan.
            Via lalu meraih melon tadi dan meletakkannya didalam trolley milik Alvin,
            “ambil aja ini. Gue bisa cari sendiri nanti dipasar”
            Via lalu melangkah, mendorong trolley nya dan meninggalkan Alvin seorang diri disana. Alvin tampak terdiam melihat kepergian Via. Ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
            Via sedikit terkejut saat Alvin ternyata sudah berjalan dengan santai disampingnya. Alvinpun kemudian meletakkan kembali melon itu didalam trolley milik Via tanpa mengucapkan sepatah katapun, lalu dengan tidak pedulinya, Alvin semakin mempercepat langkahnya, meninggalkan Via dibelakang dengan sejuta tanda Tanya yang memenuhi ruang dikepalanya.
            ‘itu benar-benar Alvin, ya? Tumben ngalah’ pikirnya skeptis.



♥♥♥

            Disalah satu rak yang terdapat disebuah toko buku, Rio tampak sibuk memilih beberapa buku yang akan ia gunakan sebagai persiapannya untuk menghadapi ujian kenaikan kelas pada hari senin nanti. Ditangannya Rio sudah memegang beberapa buku. Rio terus berjalan hingga tanpa sadar, tibalah ia dibagian novel.
            Perhatian Rio tiba-tiba tertuju pada sebuah novel remaja. Rio tersenyum kecil lalu mengambil salah satu novel itu dari tempatnya. Pada cover novel itu tertulis: Cinta Dalam Diam By Alyssa Pratama. “akhirnya terbit juga” gumam Rio pelan.
            “novel nya mau dibeli kan, Kak?” Tanya seseorang yang tiba-tiba saja sudah berdiri tepat disamping Rio. Rio terkesiap lalu menoleh kesamping.
            “Ify? Sejak kapan lo disini?”
            “sejak lo senyum-senyum sambil ngeliatin novel gue. Mau dibeli kan?” Ify tersenyum sangat manis. Dan untuk yang pertama kalinya, Rio merasakan jantungnya berdegub kencang saat melihat senyuman cantik milik Ify. Rio lantas mengangguk tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari wajah Ify.
            “lo disini ngapain, Fy?” kali ini giliran Rio yang bertanya, tapi tanpa ia sadari, pertanyaannya yang terkesan basa-basi itu justru membuat Ify terkekeh geli.
            “hehe… emang keliatannya gue lagi ngapain disini, kak? Ini kan toko buku, gak mungkin kan gue pergi ketoko bangunan buat beli buku?”
            Rio tampak salah tingkah.
            “em… tumben gak sama Via?” Tanya Ify dengan penekanan yang amat jelas pada setiap kata, tapi Rio malah tidak menyadarinya.
            “Via lagi sibuk. Lo sendiri, kenapa gak pernah sama Via?”
            Ify bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Rio. Masakah ia harus terus terang mengatakan bahwa ia cemburu melihat kedekatan yang terjadi antara Via dan Rio? masakah ia harus terus terang bahwa ia telah mengetahui bahwa Via adalah gadis yang Rio suka, bahwa Via adalah gadis yang membuat Rio tidak bisa menerima perasaan Ify? Tidak, Ify tidak mungkin melakukan itu.
            “Fy, gue udah selese. Cabut yuk! Bentar lagi film nya mulai nih” Tristan tiba-tiba datang sambil merangkul pundak Ify. Apa yang Tristan lakukan itu membuat Rio sedikit kaget. “ini siapa, Fy?” lanjut Tristan sesaat setelah ia melihat Rio.
            “ooo… ini Kak Rio, Tris. Temen kakak gue” jawab Ify seadanya. Tristan lalu tersenyum pada Rio dan mengulurkan tangan kanannya, mengajak Rio berjabat tangan untuk berkenalan.
            “Hay… kenalin gue Tristan”
            Rio menyambut uluran tangan Tristan. “ Rio” ucapnya singkat dengan nada yang terdengar dingin. Rio pun cepat-cepat menarik tangannya dan segera membuang tatapannya kearah lain. Jauh didalam sana, ada sebentuk perasaan aneh yang sangat menganggu yang ia rasakan.
            “ya udah, gue sama Tristan duluan ya? Kita mau nonton”
            Sebagai jawaban, Rio hanya mengangguk. Dan ia tidak sedikitpun menatap kearah Ify ataupun Tristan.
            Ify dan Tristan berbalik dan melangkah pergi meninggalkan toko buku.
            “Fy, kok kayaknya temen kakak lo itu gak suka sama gue?” Tanya Tristan setelah mereka keluar dari toko buku. Ify tersenyum lalu menatap Tristan sekilas,
            “Ck… Cuma perasaan lo aja”


♥♥♥

            Senin pagi, tepatnya sebelum Via berangkat kesekolah, ia menyempatkan diri untuk mengunjungi makam Ayahnya. Tadi Via sengaja menolak ajakan Rio untuk berangkat kesekolah bersama karna memang ia sudah sangat ingin mengunjungi makam Ayahnya sejak seminggu yang lalu.
            Via yang tadinya melangkah dengan penuh semangat menyusuri komplek taman pemakaman tiba-tiba saja  menghentikan langkahnya saat melihat sosok pemuda yang begitu familiar baginya tengah duduk bersimpuh disamping sebuah makam yang terdapat tepat disamping makam Ayahnya. Meskipun hanya dengan melihat bagian punggungnya saja, Via tahu pasti bahwa pemuda itu adalah Alvin. Untuk sejenak Via diam berpikir. Akhirnya setelah beberapa tahun, makam yang selama ini selalu ia rawat bersamaan dengan makam Ayahnya akhirnya ada juga yang mengunjungi. Dan Via merasa kaget saat tahu yang mengunjungi makam itu adalah Alvin.
            “apa mungkin Alvin anaknya Tante Aurora?”
            Via kembali mengayunkan langkahnya dan mencoba untuk lebih dekat lagi dengan posisi Alvin. Kini Viapun sudah berdiri tepat dibelakang Alvin dengan satu buket bunga mawar putih ditangannya.
            Baru saja Via berdiri disana, Ia langsung menyaksikan kedua pundak Alvin bergerak naik turun, sayup-sayup kedua indera pendengarnya menangkap sebuah suara seperti isakan tertahan. Apa mungkin Alvin menangis? Apa mungkin pria yang ia kenal sangat arrogant itu menangis?
            “Mi… apa Mami bisa jemput Alvin dan bawa Alvin pergi dari sini? Mami tahu? Alvin capek, Mi… Alvin capek…” jeda sesaat. Alvin terdengar menghela napasnya yang terdengar sangat berat, ia pun kembali berujar. “Disini, Mi…” sambil menunjuk dada, “Disini rasanya sakiiittt banget. Ketidakadilan Daddy, hilangnya kasih sayang Daddy bener-bener bikin aku pengen mati aja… dan sekarang apa aku salah, kalau aku membenci mereka yang udah ngerebut semua perhatian Daddy buat aku? Apa aku salah, Mi?”
            Via tidak bisa lagi menahan air matanya kali ini. Ucapan-ucapan Alvin benar-benar membuatnya terenyuh. Perasaan sakit yang dirasakan oleh Alvin, seakan bisa ia rasakan, bahkan dengan jelas, dan semuanya benar-benar menyayat. Ingin rasanya Via memeluk pemuda arrogant ini dari belakang, dan jika Alvin mau, Via akan memberikannya ijin sepenuhnya untuk menangis dalam pelukannya sekuat mungkin. Via sangat ingin menenangkannya.
            Alvin mengusap air matanya, ia menghela napas panjang lalu bangkit dari duduknya. Sudah cukup ia menangis. Sudah cukup ia meneteskan air mata karena kenyataan yang Tuhan hadiahkan untuknya ini. Alvin kuat. Alvin bisa.
            Alvin sedikit terkejut saat melihat Via yang berdiri tepat dibelakangnya dengan linangan air mata yang membasahi kedua pipi chubby nya. Alvin sedikit heran, ia tahu cewek ini aneh, tapi Alvin tidak pernah tahu bahwa ternyata cewek ini sangat aneh.
            “elo? Ngapain disini?”
            “tepat disamping makam Mami lo…” Via menunjuk kearah makam Ayahnya, “ada makam Ayah gue” lanjutnya. Alvinpun menoleh kebelakang untuk sejenak dan kembali menatap Via dengan pandangan sedikit aneh.
            Via lalu mengambil beberapa tangkai bunga mawar yang ia bawa dan menyerahkannya kepada Alvin.
            “Ini…”
            “buat apa?”
            “taroh diatas makam Mami lo. Tapi lo jangan geer, ini buat Mami lo, bukan lo…”
            “lo kenapa nangis?” Tanya Alvin lagi seakan tidak menghiraukan ucapan Via tadi.
            “lo gak perlu tahu”
            “tapi gue mau tahu. Kenapa lo nangis?” Alvin belum mau menyerah. Ia ingin tahu, kenapa gadis ini menangis.
            Via menggeleng. Ia sendiri bahkan tidak mengerti untuk alasan apa sebenarnya ia menangis.
            “gue gak tau. Gue gak tau” jawab Via seraya menggeleng beberapa kali. Ia menunduk dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang dibanjiri oleh air mata.
            “lo denger semua omongan gue tadi?” Via mengangguk dengan masih menunduk. Alvin tersenyum miris.
            “sekarang lo udah tahu kan, kalo gue sebenernya rapuh?”
            Via mengangguk lagi.
            “Lo merasa puas karna tahu kelemahan gue?”
            Kali ini Via menggeleng.
            “atau lo kasihan sama gue?”
            Via langsung mengangkat wajahnya seketika sesaat setelah Alvin menyelesaikan pertanyaannya. Via kembali menggeleng untuk yang kedua kalinya.
            “gue gak butuh lo kasihanin, gue gak butuh air mata belas kasih dari lo. Gue gak butuh. Dan…. Makasih buat bunga ini” Alvin menunjukan bunga itu pada Via sebelum akhirnya meletakkannya dengan sangat hati-hati diatas pusara almarhum Maminya.
            Tanpa berkata apa-apa lagi, Alvin berjalan melewati Via begitu saja. Sesak didadanya kian terasa menyiksa. Kenapa gadis ini harus menyaksikan kelemahan dan kerapuhannya? Jika harus ada yang menyaksikannya, lalu kenapa harus Via?

            ‘gue gak tahu, kalo ternyata lo sangat rapuh, Calvin… gue gak tahu, dan seharusnya… gue gak pernah tahu…’




To Be Continued…




0 comments:

Post a Comment