SMA Patuh Karya
Cowok
manis bertubuh tinggi kurus itu berdiri didepan pintu kelas sambil menatap Ify
tanpa henti yang tampak focus menyelesaikan catatan Kimia nya. Ia mendesah
pelan. Baru-baru ini ia mendengar kabar, saat kenaikan kelas nanti Ify akan
pindah ke Speranza High School. Saat mengetahui itu, perasaannya malah tidak
tenang. Banyak hal yang ingin ia sampaikan pada Ify. Tapi ketidaksiapannya
justru menghentikan setiap langkahnya.
Sejak mengenal Ify ditempat Les
Pianonya setahun yang lalu, ia sudah sangat kagum dengan kelihaian Gadis
berdagu tirus itu dalam memainkan piano. Dan sejak mereka mulai berteman karna
ternyata mereka satu sekolah, mereka semakin dekat dan menimbulkan benih-benih
cinta dihatinya. Tapi hingga detik ini, hingga Ify memutuskan untuk pindah
sekolah, ia masih saja merasa belum siap menyatakan isi hatinya. Ia terlalu
takut kehilangan Ify disaat ia belum memilikinya jika ia menyatakan perasaannya
pada Ify. Ia takut menerima kenyataan bahwa ternyata ia tidak memiliki perasaan
yang sama dengan Ify.
“woi Tristan! Kenapa ngelamun disitu?
sini masuk!” panggil Ify sambil melambaikan tangannya. Cowok manis yang ia
panggil Tristan itu langsung membuyarkan keterpanaannya dan terlihat sedikit
salah tingkah. Ia berharap semoga gadis itu tidak menangkap basah dirinya yang
sedang menatapnya.
“Lo kok belum pulang sih, Fy?”
tanyanya seraya berjalan mendekati Ify.
“Lagi nyelesein catetan Kimia. Tapi
udah selese kok” jawab Ify seadanya sambil membereskan buku-bukunya dan
memasukannya kedalam tas.
“denger-denger katanya lo mau pindah
ya? Ke Speranza?”
Ify mengangguk mantap. “Iya nih.
Habisnya gue kesepian kalo gak ada Via, hehe…” jawab Ify dengan sedikit
bergurau. Tristan hanya mengangguk. Sebenarnya Tristan ingin mengajak Ify jalan
hari ini, tapi yang jadi permasalahannya sekarang adalah, apa ia berani
mengajak Ify jalan?
Tristan menepis semua ketakutannya.
Tidak, ia tidak boleh menjadi seorang pecundang jika ingin memenangkan hati
gadis ini.
“Fy, elo ada acara gak sore ini?”
Tanya Tristan takut-takut.
“sore ini? emmm kayaknya gak ada
deh. Kenapa?” jawab Ify yang merasa sedikit curiga dengan pertanyaan Tristan.
Jujur saja, ia mulai mencium bau-bau yang tidak beres dari gelagat teman
dekatnya ini.
“Senin besok kan kita udah mulai UKK
nih, dan semester depan lo udah pindah, jadiiii –“ jeda beberapa saat. Tristan
semakin ragu.
“Jadi?”
“Gue mau ngajakin lo jalan sore ini
sebelum lo pindah”
Ify sedikit kaget. Tapi ia berusaha
menutupinya.
“Nge-date?” Tanya Ify ceplas-ceplos.
Tristan sukses dibuat salah tingkah.
Ify terkekeh pelan saat menangkap
kesalah tingkahan cowok berwajah manis ini.
“Hahaha bencanda kok Tris…”
“jadi lo mau?”
Sebagai jawaban atas pertanyaan dari
Tristan, Ify hanya mengangguk, yang menandakan bahwa ia setuju. Saat itu
Tristan langsung tersenyum lega. Ia merasa memiliki sedikit harapan.
“Thanks Fy, nanti sore gue jemput
kerumah lo, ya?”
Sekali lagi Ify mengangguk.
♥♥♥
Selama 3 hari terakhir ini, baik Rio
maupun Iel sama-sama melarang keras Via untuk bertemu dengan Alvin apalagi sampai
harus pergi ke apartemennya lagi. Rio juga berjanji akan mencari pekerjaan baru
untuk Via asal ia mau berhenti bekerja dari tempat Alvin. Via yang memang tidak
punya pilihan lain akhirnya hanya bisa menerima tanpa syarat apapun, sekalipun
hati kecilnya merasa… sedikit tidak rela.
Via yang sejak tadi memandang
ponselnya berharap mendapat telfon atau SMS dari Alvin langsung membanting
ponselnya diatas tempat tidurnya. Via merutuki dirinya habis-habisan setelah
sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan.
“begok, begok, begok! Kenapa gue
berharap si Songong itu bakalan nelpon atas SMS gue. Itu gak mungkin Viana
Aurora, itu gak mungkin. Begok, begok, begoooook!” Via beberapa kali memukul
pelan kepalanya dengan boneka kodok kesayangannya.
Tanpa sengaja Via menatap bonekanya,
tidak lama ia tersenyum dan berujar pelan,
“boneka ini kok lama-lama mirip
Alvin ya?” Via tersenyum.
Tidak lama kemudian…
“GAK! GAK! GAK! Apa yang udah gue
pikirin? Inget Via, cowok kurang ajar itu udah bikin malu lo didepan umum, lo
harusnya bales dendem dan ngasih pelajaran buat dia, bukannya malah mikirin dia
kayak gini”
Via kembali melamun. Ia merebahkan
tubuhnya diatas kasur sambil menatap dengan pandangan menerawang keatas
langit-langit kamarnya.
“Dia udah makan belom ya? Itu anak
kan begok, gak bisa masak buat dirinya sendiri…”
♥♥♥
Alvin baru saja bangun dari tidurnya
saat tiba-tiba ia memegangi perutnya erat-erat menahan rasa sakit yang seakan
melilit. Sejak pulang sekolah tadi, Alvin sama sekali belum memakan apapun. Rasa
lapar yang sejak tadi ia rasakan kini kian memuncak dan membuat otaknya tidak
dapat berpikir dengan baik.
“VIAAAAA!! LO UDAH MASAK BELOM? GUE
LAPER”
Alvin bangkit dari tempat tidurnya
lalu berjalan keluar kamar.
“VIAAA! LO KEMANA AJ –“ Alvin tidak
melanjutkan kalimatnya saat ia baru mengingat bahwa sejak 3 hari yang lalu Via
tidak pernah muncul lagi di apartemennya. Alvin terduduk lunglai di kursi
makan. Ia bahkan belum bisa membiasakan diri untuk hidup tanpa bantuan orang
lain disaat ia memilih untuk keluar dari rumah dan menjalani kehidupan yang
mandiri.
Alvin mengepalkan tangannya lalu
memukulkannya tanpa ampun diatas meja. Alvin buru-buru mencari nama Via pada contact list-nya.
“tamat riwayat lo hari ini juga! Lo
pikir lo siapa bisa mangkir dari kerjaan lo seenak udel lo?” baru saja Alvin
akan menekan tombol hijau, ia malah membatalkan niatnya. Alvin menggeram marah,
tapi kali ini ia memilih untuk menelpon kepala asisten rumah tangga dikediaman
Ayahnya.
“Heh! Mana pembantu pesenan gue?
Udah hampir sebulan belom juga nongol. Lo pikir gue bisa apa ngerjain pekerjaan
rumah sendiri? Gak mikir lo ya?” emosi Alvin benar-benar memuncak kali ini, dan
itu karna ia belum bisa berhenti memikirkan Via.
“Maaf, Tuan. Tapi bukannya 2 minggu
yang lalu, Tuan sendiri yang mengatakan bahwa Tuan sudah memiliki pembantu
baru?”
Alvin memijat keningnya frustasi
lalu mengehembuskan napas kuat-kuat.
“gue gak minta dijawab! Gue mintanya
pembantu baru. Gue gak mau tau, besok pagi itu pembantu harus sudah ada
diapartemen gue. Kalo gak, lo bakalan gue pecat” Ancam Alvin yang merasa
emosinya semakin naik saja.
“Baik Tuan, saya akan kirimkan salah
satu pembantu dari rumah ini”
“Lo begok atau apa? Gue minta
pembantu baru, bukan pembantu lama” Alvin makin senewen. Setelah puas
marah-marah ditelfon, Alvin langsung memutuskan sambungan telfonnya dan membuat
kepala asisten rumah tangganya jauh lebih frustasi dari dirinya sekarang.
“DAMN! Rese semuanya” umpat Alvin
sambil membanting ponselnya diatas meja. Nada lapar diperut Alvin kembali
berbunyi diiringi dengan rasa melilit dibagian perutnya yang kembali terasa.
“aw… gue lapar!”
Alvin segera menyambar kunci
mobilnya. Jika ingin tetap hidup besok pagi, maka ia harus keluar untuk mencari
makanan sendiri.
♥♥♥
Via mendorong trolley yang berisi berbagai macam keperluan dapur sambil membaca
sebuah catatan kecil yang tadi diberikan oleh Bunda. Semua barang pesanan Bunda
hampir ia dapatkan. Sekarang Via hanya perlu mencari keperluannya sendiri.
Via lalu mendorong trolley nya kearah bagian buah-buahan
untuk mencari buah melon kesukaannya. Ia lalu tersenyum puas saat melihat buah
berwarna hijau itu bertengger dengan manisnya dirak. Tapi, kok Cuma satu?
Pikirnya.
Saat kedua tangan Via sudah
menyentuh buah melon itu, tiba-tiba saja sepasang tangan kekar muncul lalu
membungkus kedua tangannya yang telah siap mengangkat buah melon itu. Via
sedikit kaget lalu buru-buru menatap seseorang yang telah menyentuh tangannya,
dan Via membelalak maksimal saat itu bahwa orang itu adalah…
“Eloooo??” pekiknya dengan suara
melengking nyaris tidak percaya dengan apa yang saat ini ada didepan kedua
matanya.
Seseorang yang ternyata adalah Alvin
sebenarnya sama kagetnya dengan Via, tapi ia berusaha terlihat biasa saja
didepan Gadis yang sekarang sudah menjadi mantan babunya ini.
“Lepasin! Ini melon gue” pinta Alvin
dengan nada memerintah, seperti yang biasa ia lakukan.
Via berusaha menormalkan reaksinya.
Kini ia melotot pada Alvin, berusaha menantang.
“enak aja! Gue duluan yang dapet
ini” Via semakin mempererat pegangannya pada melon itu, tapi Alvin tidak mau
kalah.
“tapi gue duluan yang liat ini”
“gak bisa! Tetep aja gue duluan yang
pegang melon ini”
“gue!”
“gue”
“gue, gue, gue, GUEEEE”
“GU –“
“Maaf, Mbak, Mas… ini ada apa ya?”
ucapan Via tahu-tahu terpotong saat seorang pelayan supermarket tiba-tiba saja
datang saat melihat ada keributan yang terjadi antara dua orang ini. Baik Alvin
maupun Via sama-sama menoleh kearah pelayan supermarket yang tampak sangat
kebingungan itu.
“ini kan SUPERMARKET ya, Mbak? Ada
kata SUPER didepannya, tapi kenapa melon yang tersedia Cuma satu sih?” semprot
Alvin tanpa babibu lagi.
“Maaf Mas sebelumnya, persediaan
Melon kami habis sejam yang lalu, dan hanya ini yang tersisa. Kalo mau dapet
melon yang banyak, coba deh ke toko buah” jelas sang Pelayan Supermarket itu,
berusaha terdengar sabar.
“APA? Berani-beraninya lo merintah
gue kayak gitu. Emang lo sia – umphhh…”
Via langsung membekap mulut Alvin
agar Alvin tidak melanjutkan perkataannya yang sudah pasti sangat menusuk itu.
Via tersenyum pada pelayan itu,
“Maaf ya, Mbak? Temen saya ini emang
sedikit gak waras. Jadi maklumin aja kalo omongannya rada nyelekit”
“iya… iya…” jawab pelayan itu yang
merasa sedikit aneh dengan kedua pengunjungnya ini.
“sekarang Mbak bisa pergi, kami akan
selesaikan berdua”
Pelayan itu akhirnya berbalik dan
pergi meninggalkan Alvin dan Via setelah sebelumnya ia melemparkan senyuman.
Beberapa saat kemudian, Via langsung membuka bekapannya pada mulut Alvin.
“berani banget lo bekap-bekap mulut
gue? Lo pikir lo siapa? Hah?”
“omongan lo tadi terlalu kasar, lo
sadar gak sih?”
“itu hak gue. Elo ataupun pelayan
tadi sama sekali gak berhak buat ngelarang gue. Dan kalo gue mau, gue bisa beli
supermarket ini kapanpun gue mau”
“ya, lo bisa beli apapun kapanpun
dan dimanapun lo mau. Tapi satu hal yang gak bisa lo beli… harga diri
seseorang. Dan biar bagaimanapun, Mbak-mbak tadi punya perasaan, dan lo gak
bisa nginjek-nginjek harga diri dia seenak hati lo dengan ngebentak-bentak dia
kayak tadi”
“Elo –“ ucap Alvin tertahan.
Via lalu meraih melon tadi dan
meletakkannya didalam trolley milik
Alvin,
“ambil aja ini. Gue bisa cari
sendiri nanti dipasar”
Via lalu melangkah, mendorong trolley nya dan meninggalkan Alvin
seorang diri disana. Alvin tampak terdiam melihat kepergian Via. Ia terlihat
seperti sedang memikirkan sesuatu.
Via sedikit terkejut saat Alvin
ternyata sudah berjalan dengan santai disampingnya. Alvinpun kemudian
meletakkan kembali melon itu didalam trolley
milik Via tanpa mengucapkan sepatah katapun, lalu dengan tidak pedulinya, Alvin
semakin mempercepat langkahnya, meninggalkan Via dibelakang dengan sejuta tanda
Tanya yang memenuhi ruang dikepalanya.
‘itu benar-benar Alvin, ya? Tumben
ngalah’ pikirnya skeptis.
♥♥♥
Disalah satu rak yang terdapat
disebuah toko buku, Rio tampak sibuk memilih beberapa buku yang akan ia gunakan
sebagai persiapannya untuk menghadapi ujian kenaikan kelas pada hari senin
nanti. Ditangannya Rio sudah memegang beberapa buku. Rio terus berjalan hingga
tanpa sadar, tibalah ia dibagian novel.
Perhatian Rio tiba-tiba tertuju pada
sebuah novel remaja. Rio tersenyum kecil lalu mengambil salah satu novel itu
dari tempatnya. Pada cover novel itu tertulis: Cinta Dalam Diam By Alyssa Pratama. “akhirnya terbit juga” gumam
Rio pelan.
“novel nya mau dibeli kan, Kak?”
Tanya seseorang yang tiba-tiba saja sudah berdiri tepat disamping Rio. Rio
terkesiap lalu menoleh kesamping.
“Ify? Sejak kapan lo disini?”
“sejak lo senyum-senyum sambil
ngeliatin novel gue. Mau dibeli kan?” Ify tersenyum sangat manis. Dan untuk
yang pertama kalinya, Rio merasakan jantungnya berdegub kencang saat melihat
senyuman cantik milik Ify. Rio lantas mengangguk tanpa sedikitpun mengalihkan
tatapannya dari wajah Ify.
“lo disini ngapain, Fy?” kali ini
giliran Rio yang bertanya, tapi tanpa ia sadari, pertanyaannya yang terkesan
basa-basi itu justru membuat Ify terkekeh geli.
“hehe… emang keliatannya gue lagi
ngapain disini, kak? Ini kan toko buku, gak mungkin kan gue pergi ketoko
bangunan buat beli buku?”
Rio tampak salah tingkah.
“em… tumben gak sama Via?” Tanya Ify
dengan penekanan yang amat jelas pada setiap kata, tapi Rio malah tidak
menyadarinya.
“Via lagi sibuk. Lo sendiri, kenapa
gak pernah sama Via?”
Ify bingung bagaimana harus menjawab
pertanyaan Rio. Masakah ia harus terus terang mengatakan bahwa ia cemburu
melihat kedekatan yang terjadi antara Via dan Rio? masakah ia harus terus
terang bahwa ia telah mengetahui bahwa Via adalah gadis yang Rio suka, bahwa
Via adalah gadis yang membuat Rio tidak bisa menerima perasaan Ify? Tidak, Ify
tidak mungkin melakukan itu.
“Fy, gue udah selese. Cabut yuk!
Bentar lagi film nya mulai nih” Tristan tiba-tiba datang sambil merangkul
pundak Ify. Apa yang Tristan lakukan itu membuat Rio sedikit kaget. “ini siapa,
Fy?” lanjut Tristan sesaat setelah ia melihat Rio.
“ooo… ini Kak Rio, Tris. Temen kakak
gue” jawab Ify seadanya. Tristan lalu tersenyum pada Rio dan mengulurkan tangan
kanannya, mengajak Rio berjabat tangan untuk berkenalan.
“Hay… kenalin gue Tristan”
Rio menyambut uluran tangan Tristan.
“ Rio” ucapnya singkat dengan nada yang terdengar dingin. Rio pun cepat-cepat
menarik tangannya dan segera membuang tatapannya kearah lain. Jauh didalam
sana, ada sebentuk perasaan aneh yang sangat menganggu yang ia rasakan.
“ya udah, gue sama Tristan duluan
ya? Kita mau nonton”
Sebagai jawaban, Rio hanya
mengangguk. Dan ia tidak sedikitpun menatap kearah Ify ataupun Tristan.
Ify dan Tristan berbalik dan
melangkah pergi meninggalkan toko buku.
“Fy, kok kayaknya temen kakak lo itu
gak suka sama gue?” Tanya Tristan setelah mereka keluar dari toko buku. Ify
tersenyum lalu menatap Tristan sekilas,
“Ck… Cuma perasaan lo aja”
♥♥♥
Senin pagi, tepatnya sebelum Via
berangkat kesekolah, ia menyempatkan diri untuk mengunjungi makam Ayahnya. Tadi
Via sengaja menolak ajakan Rio untuk berangkat kesekolah bersama karna memang
ia sudah sangat ingin mengunjungi makam Ayahnya sejak seminggu yang lalu.
Via yang tadinya melangkah dengan
penuh semangat menyusuri komplek taman pemakaman tiba-tiba saja menghentikan langkahnya saat melihat sosok
pemuda yang begitu familiar baginya tengah duduk bersimpuh disamping sebuah
makam yang terdapat tepat disamping makam Ayahnya. Meskipun hanya dengan
melihat bagian punggungnya saja, Via tahu pasti bahwa pemuda itu adalah Alvin. Untuk
sejenak Via diam berpikir. Akhirnya setelah beberapa tahun, makam yang selama
ini selalu ia rawat bersamaan dengan makam Ayahnya akhirnya ada juga yang
mengunjungi. Dan Via merasa kaget saat tahu yang mengunjungi makam itu adalah
Alvin.
“apa mungkin Alvin anaknya Tante
Aurora?”
Via kembali mengayunkan langkahnya
dan mencoba untuk lebih dekat lagi dengan posisi Alvin. Kini Viapun sudah
berdiri tepat dibelakang Alvin dengan satu buket bunga mawar putih ditangannya.
Baru saja Via berdiri disana, Ia
langsung menyaksikan kedua pundak Alvin bergerak naik turun, sayup-sayup kedua
indera pendengarnya menangkap sebuah suara seperti isakan tertahan. Apa mungkin
Alvin menangis? Apa mungkin pria yang ia kenal sangat arrogant itu menangis?
“Mi… apa Mami bisa jemput Alvin dan
bawa Alvin pergi dari sini? Mami tahu? Alvin capek, Mi… Alvin capek…” jeda
sesaat. Alvin terdengar menghela napasnya yang terdengar sangat berat, ia pun
kembali berujar. “Disini, Mi…” sambil menunjuk dada, “Disini rasanya sakiiittt
banget. Ketidakadilan Daddy, hilangnya kasih sayang Daddy bener-bener bikin aku
pengen mati aja… dan sekarang apa aku salah, kalau aku membenci mereka yang
udah ngerebut semua perhatian Daddy buat aku? Apa aku salah, Mi?”
Via tidak bisa lagi menahan air
matanya kali ini. Ucapan-ucapan Alvin benar-benar membuatnya terenyuh. Perasaan
sakit yang dirasakan oleh Alvin, seakan bisa ia rasakan, bahkan dengan jelas,
dan semuanya benar-benar menyayat. Ingin rasanya Via memeluk pemuda arrogant ini dari belakang, dan jika
Alvin mau, Via akan memberikannya ijin sepenuhnya untuk menangis dalam
pelukannya sekuat mungkin. Via sangat ingin menenangkannya.
Alvin mengusap air matanya, ia
menghela napas panjang lalu bangkit dari duduknya. Sudah cukup ia menangis. Sudah
cukup ia meneteskan air mata karena kenyataan yang Tuhan hadiahkan untuknya
ini. Alvin kuat. Alvin bisa.
Alvin sedikit terkejut saat melihat
Via yang berdiri tepat dibelakangnya dengan linangan air mata yang membasahi
kedua pipi chubby nya. Alvin sedikit heran, ia tahu cewek ini aneh, tapi Alvin
tidak pernah tahu bahwa ternyata cewek ini sangat aneh.
“elo? Ngapain disini?”
“tepat disamping makam Mami lo…” Via
menunjuk kearah makam Ayahnya, “ada makam Ayah gue” lanjutnya. Alvinpun menoleh
kebelakang untuk sejenak dan kembali menatap Via dengan pandangan sedikit aneh.
Via lalu mengambil beberapa tangkai
bunga mawar yang ia bawa dan menyerahkannya kepada Alvin.
“Ini…”
“buat apa?”
“taroh diatas makam Mami lo. Tapi lo
jangan geer, ini buat Mami lo, bukan lo…”
“lo kenapa nangis?” Tanya Alvin lagi
seakan tidak menghiraukan ucapan Via tadi.
“lo gak perlu tahu”
“tapi gue mau tahu. Kenapa lo
nangis?” Alvin belum mau menyerah. Ia ingin tahu, kenapa gadis ini menangis.
Via menggeleng. Ia sendiri bahkan
tidak mengerti untuk alasan apa sebenarnya ia menangis.
“gue gak tau. Gue gak tau” jawab Via
seraya menggeleng beberapa kali. Ia menunduk dalam, berusaha menyembunyikan
wajahnya yang dibanjiri oleh air mata.
“lo denger semua omongan gue tadi?”
Via mengangguk dengan masih menunduk. Alvin tersenyum miris.
“sekarang lo udah tahu kan, kalo gue
sebenernya rapuh?”
Via mengangguk lagi.
“Lo merasa puas karna tahu kelemahan
gue?”
Kali ini Via menggeleng.
“atau lo kasihan sama gue?”
Via langsung mengangkat wajahnya
seketika sesaat setelah Alvin menyelesaikan pertanyaannya. Via kembali
menggeleng untuk yang kedua kalinya.
“gue gak butuh lo kasihanin, gue gak
butuh air mata belas kasih dari lo. Gue gak butuh. Dan…. Makasih buat bunga ini”
Alvin menunjukan bunga itu pada Via sebelum akhirnya meletakkannya dengan
sangat hati-hati diatas pusara almarhum Maminya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Alvin
berjalan melewati Via begitu saja. Sesak didadanya kian terasa menyiksa. Kenapa
gadis ini harus menyaksikan kelemahan dan kerapuhannya? Jika harus ada yang
menyaksikannya, lalu kenapa harus Via?
‘gue
gak tahu, kalo ternyata lo sangat rapuh, Calvin… gue gak tahu, dan seharusnya…
gue gak pernah tahu…’
To Be Continued…


0 comments:
Post a Comment