Wednesday, July 23, 2014

0

If Mr.Arrogant In Love (Saat Cinta Datang Tanpa Bilang-Bilang) -Chapter 9-


Alvin tidak berkata apapun saat Johan mengintrogasinya diruang kerjanya prihal pertengkarannya dengan Iel disekolah beberapa hari yang lalu. Sama seperti yang Iel lakukan saat Johan mengintrogasinya juga, Alvin tidak sedikitpun mengeluarkan pembelaan apapun atas dirinya. Jika Iel melakukan hal itu karna ia memang merasa bersalah, maka lain halnya dengan Alvin, ia memilih bungkam karna ia sudah terlalu malas menghadapi Ayahnya.
            Tadi pagi-pagi sekali, dua orang suruhan Johan membawa paksa Alvin dari apartemennya, dan Alvin sangat kesal saat tahu apa tujuan Ayahnya hingga sampai harus menculiknya segala, ternyata untuk urusan tidak penting ini. Memangnya sejak kapan Johan mau susah-susah mengurus Alvin? Dulu saat SMP Alvin bahkan pernah terlibat perkelahian yang lebih parah dari ini, tapi Johan tetap tenang-tenang saja dan malah mengutus sekertarisnya untuk mengurus semuanya, tapi sekarang Johan benar-benar berbeda. Apa ini semua karna Iel turut andil didalamnya?
            Ciihh… dalam hati Alvin mencibir, ternyata Iel memang benar-benar telah merebut segalanya dari Alvin, dan ini semua semakin menumpuk kebencian Alvin pada Iel.
            “Udah selese, Dad?” Tanya Alvin dengan nada datar sesaat setelah Johan menyelesaikan introgasinya. Johan menatap Alvin dengan kedua alis bertaut, kenapa semakin hari Alvin semakin kurang ajar begini? Pikirnya.
            “kalo udah selese, aku mau pulang. Masa skorsing aku Cuma tinggal 2 hari lagi, dan aku bener-bener pengen nikmatin ini” kata Alvin santai seakan tanpa beban yang justru membuat Johan semakin naik pitam. Tapi kali ini Johan memilih untuk tetap tenang, betapapun dia sangat ingin melayangkan pukulannya pada Alvin.
            Sebelum mendapat jawaban dari Ayahnya, Alvin malah bangkit dari sofa yang sejak tadi ia duduki lalu melangkah tanpa permisi hendak keluar dari ruang ‘neraka’ itu. Tapi kemudian langkah Alvin lagi-lagi terhenti saat suara berat Johan menyapa gendang telinganya.
            “Daddy sudah memutuskan satu hal…” jeda sesaat.  Johan melangkah mendekati Alvin lalu berdiri tepat dibelakang Alvin, “Daddy akan menjual apartemen milik Mami mu, jadi Daddy peringatkan supaya kamu cepat-cepat angkat kaki dari apartemen itu”
            Kali ini Alvin meradang. Setelah semua hal yang ia lewati selama beberapa tahun terakhir ini, setelah banyak usaha yang ia lakukan demi menyembuhkan luka hatinya, lalu apa begini cara yang Ayahnya lakukan untuk melumpuhkannya? Benar-benar licik.
            “Jangan pernah sentuh apartemen Mami, karna Daddy gak punya hak melakukan itu. Kalo Daddy pikir cara itu bisa membuat aku kembali kerumah ini lagi, maka Daddy salah besar. Dan kalopun aku harus keluar dari apartemen itu, aku gak akan pernah pulang kerumah ini. Sampai kapanpun!” ungkap Alvin sinis namun sarat akan sebuah kegetiran yang menyayat hatinya. Alvin menghela napas panjangnya sebelum akhirnya ia benar-benar keluar dari ruangan itu.
            Arika dan Ify sedikit terkejut saat Alvin keluar dari ruang kerja Johan. Sejak Alvin memasuki ruangan itu, Arika dan Ify memang sudah menunggu diruang tengah. Alvin menghentikan langkahnya lalu menatap sekilas kearah Ibu dan Anak itu dengan pandangan kosong. Arika tersenyum lalu melangkah mendekati Alvin,
            “Alvin, kamu pulang ya?”
            Tepat saat kedua tangan Arika hendak menyentuh wajahnya, Alvin langsung menepisnya pelan. Terbersit sebentuk rasa kecewa yang melingkupi Arika.
            “Jangan sentuh gue!” ucap Alvin dengan tegas.
            “Alvin, please, lo bisa sopan dikit kan sama Mama?” sambut Ify pada akhirnya. Kali ini ia benar-benar sudah tidak bisa lagi mentolerir sikap kurang ajar Alvin pada Mamanya.
            “Dia Nyokap lo, bukan Nyokap gue!” jawab Alvin dengan nada memperingatkan. Ify langsung bungkam seketika, tapi tidak sedikitpun melepaskan tatapan tajamnya dari kedua manik mata Alvin, begitu juga dengan Alvin.
            Hening.
            “dan denger! Lo mungkin bisa ngerebut posisi nyokap gue dirumah ini, dan lo juga bisa ngerebut jabatan nyokap gue disekolah, tapi yang harus lo inget adalah, lo gak akan pernah bisa ngerebut hati gue sebagai anak. Jadi gue minta, berhenti untuk bersikap manis sama gue”
            PLAAK. Sebuah tamparan mendarat dengan sempurna diwajah Alvin sebelum Arika sempat menghentikannya. Tamparan yang cukup keras itu sukses membuat tepi bibir Alvin mengeluarkan darah. Alvin mengusap darahnya tanpa sedikitpun melihat kearah Johan yang kali ini benar-benar terlihat kalap.
            “anak kurang ajar!” cerca Johan dengan emosi memuncak tak terkendali. Alvin mengangguk beberapa kali, ia mengangkat wajahnya lalu menatap Johan seraya tersenyum miris.
            “Ya… aku memang kurang ajar. Dan Daddy yang bikin aku kayak gini”
            Alvin melesat pergi melewati Johan dan Arika tanpa sekalipun menoleh meski Johan sudah dengan tegas memintanya untuk berhenti dan kembali.
            Kali ini Alvin sudah benar-benar muak dan sakit hati.

♥♥♥
B-Café…

            “Lo tega banget sih ngegantung perasaan Ify kayak gini?” todong Via sesaat setelah Rio menyelesaikan ceritanya tentang apa yang Ify ungkapkan padanya beberapa hari yang lalu. Rio mengusap wajahnya putus asa, ia menghela napas panjang lalu mengehembuskannya dengan tidak sabar.
            “Tapi gue gak bisa ngasih Ify jawaban selama gue belum bisa ngelupain Dea”
            “Dea lagi, Dea lagi…” cerca Via yang merasa benar-benar kehilangan kesabaran kali ini.
            Bagaimana tidak? Sudah hampir 1 tahun Rio dan Dea putus, dan 3 bulan setelah mereka putus, Dea langsung menggaet Riko, yang tidak lain dan tidak bukan adalah ketua ekskul karate Speranza High School sebagai pacar barunya, tapi meski begitu, Rio tetap tidak bisa melupakan Dea dan malah menyia-nyikan Ify yang ia sendiri tahu telah lama menyimpan rasa untuknya. Itulah mengapa, Via begitu kesal dengan sahabat tampannya yang satu ini.
            “Cerita lo sama Dea udah lama selese, dan malah selama kalian jadian, Si Dea terang-terangan ngincer cowok laen kan? dan itu semua kebukti, saat 3 bulan setelah kalian putus Dea bener-bener jadian sama si Riko itu, tapi kenapa lo tetep berusaha buat membutakan mata lo sendiri, Kak?”
            “Vi….”
            “Ayolah Kak Rio, move on! Ada Ify yang sayang banget sama lo masa mau lo sia-siain demi Dea yang udah nyakitin lo? Terus terang aja ya, Kak? Gue ngerasa kalo lo gak punya harga diri sebagai cowok!”
            Sebelum Rio sempat membalas perkataan Via, Via malah sudah bangkit dari hadapan Rio sambil menyelempangkan tasnya.
            “Gue pamit, Kak. Gue masih ada urusan. Gue harap, lo mau mikirin lagi kata-kata gue ini”
            Rio buru-buru mencekal pergelangan tangan Via. Via menatap Rio dengan pandangan heran,
            “ada apa, Kak?”
            “Lo mau kemana? Ke Apartemen Alvin, ya?”
            Via tersentak. Kenapa Rio tahu? Darimana Rio tahu? Via kan tidak pernah meceritakan apapun pada Rio tentang masalah ini, apa jangan-jangan Alvin sendiri yang memberitahukan Rio?
            Melihat mimic wajah Via yang berubah drastic, Rio tersenyum tenang, ia berdiri dan semakin erat menggenggam jari jemari Via.
            “Tenang aja, gue gak akan nanya lebih banyak lagi sampe elo sendiri yang mau suka rela ngejelasin semuanya ke gue. Gue anter yuk!”
            Sebelum Via menjawab, Rio sudah menarik tangan Via yang masih terbengong dan membawanya keluar dari B-Café. Tapi tanpa mereka sadari, ada sepasang tatapan penuh luka yang tengah mengarah pada mereka dan mengikuti setiap pergerakan langkah mereka. Dia berusaha keras menahan laju air matanya agar tidak terjatuh walaupun hanya setetes. Ia ingin kuat.
            “Ternyata Via cewek yang lo suka, Kak? Ternyata Via yang udah berhasil ngerebut hati lo?” ujar Ify penuh kegetiran sambil tetap berusaha menahan diri untuk menghamburkan air mata.


♥♥♥

            Via memasuki apartemen Alvin sambil memijat pelan keningnya yang mendadak terasa berdenyut. Tadi Rio langsung pulang setelah mengantarnya ke Apartemen Alvin, dan selama diperjalanan, Rio benar-benar menepati perkataannya. Ia tidak menanyakan apapun pada Via tentang masalah ini sekalipun Rio sangat penasaran. Dan reaksi Rio yang benar-benar tidak terduga ini justru membuat Via bingung setengah mati. Bukannya seharusnya Rio marah, tapi ini, Rio tidak marah sedikitpun dan tidak memaksa Via untuk menjelaskan semuanya. Sikap Rio ini benar-benar membuatnya bingung.
            Via menghempaskan tubuh lelahnya diatas sofa sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Pikirannya yang saat ini benar-benar kalut bahkan sampai membuat Via tidak menyadari bahwa Alvin tepat duduk disebelahnya dengan posisi yang lumayan dekat.
            Alvin menatap Via dengan pandangan bertanya lalu berdehem pelan. Via terkesiap, ia menoleh dan sedikit terkejut saat melihat Alvin.
            “Elo?” Via sedikit menjauhkan posisinya dari Alvin. Alvin terkekeh pelan lalu mengalihkan tatapannya dari wajah Via.
            “Bibir lo kenapa? Kok luka?” Tanya Via tanpa sadar saat melihat luka kecil ditepi bibir Alvin, hasil karya Ayahnya tadi. Alvin kembali menatap Via, tanpa sadar, Via mengangkat salah satu tangannya lalu mennyentuh dagu Alvin dan sedikit memalingkan wajahnya untuk melihat luka ditepi bibir Alvin dengan lebih jelas lagi.
            Alvin menatap Via tajam. Via yang akhirnya tersadar dengan apa yang ia lakukan langsung saja menyingkirkan tangannya dari dagu Alvin.
            “sorry…” Via sedikit salah tingkah dan memutuskan untuk segera memulai pekerjaannya. Tapi Via tiba-tiba merasakan tangannya ditarik oleh Alvin saat ia hendak bangkit dari sofa. Via menatap Alvin dengan pandangan sedikit bingung. Sementara Alvin, ia hanya menatap Via datar, lalu dengan sangat pelan berujar,
            “Tolong obatin luka gue. Bisa?” pinta Alvin penuh kesungguhan.
            Dan selama hampir satu bulan Via mendekam bersama Alvin ditempat ini, ini baru pertama kalinya Via mendengar Alvin menyertakan kata ‘tolong’ dalam perintahnya. Via menelan ludahnya dalam-dalam, apa ia tidak salah dengar? Atau apa ia tidak sedang berhalusinasi?
            Cukup lama mereka saling menatap dalam hening sebelum akhirnya Via menarik tangannya dari genggaman Alvin. Via berusaha mengontrol detak jantungnya yang mulai berdetak dalam irama yang tidak beraturan. Satu kenyataan yang sangat ia benci sekarang ini: ia semakin salah tingkah karna ulah si Mister Arrogant ini.
            “Oke, gue ambil kotak obat dulu” Via baru saja berdiri saat tiba-tiba Alvin kembali menarik tangannya lalu memeluknya dengan erat. Kedua mata Via terbuka maksimal, apalagi kali ini?

            “bukan luka itu yang gue maksud” bisik Alvin pelan seraya membelai lembut rambut sebahu milik Via. Berada dalam pelukan gadis ini selalu membuat Alvin merasa jauh lebih baik. Sebagin beban dipundaknya seolah terangkat, dan lukanya yang menganga lebar selama beberapa tahun ini seakan tertutupi saat ia memeluk Via.

            “te.. terus?” Tanya Via sedikit terbata. Perasaannya mulai tidak karuan.

            “tolong sembuhin luka hati gue…” Alvin semakin mempererat pelukannya dan semakin membuat perasaan Via semakin tidak menentu. Apa maksud ucapan Pria ini? Via sama sekali tidak bisa membacanya. Ia terlalu takut melakukan kesalahan dalam menebak. Ia terlalu takut bahwa apa yang sebenarnya ia harapkan sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan ada. Via tidak ingin terjatuh, Via tidak ingin terhempas.

            ‘Calvin Bramantya… apa lo udah berhasil bikin gue jatuh cinta sama lo?’ bathin Via sambil berusaha keras melawan keinginannya untuk membalas pelukan Alvin. Tidak, Via tidak ingin terjerumus lebih dalam lagi karna perasaan yang sama sekali tidak ia mengerti ini.

♥♥♥

            Seminggu sebelum ujian kenaikan kelas, Alvin dan Iel telah resmi kembali kesekolah setelah melewati masa skorsing selama satu minggu lamanya. Dan pagi ini, seluruh perhatian siswa-siswi Speranza High School tidak henti-hentinya tertuju pada Alvin, yang pagi itu sudah bertengger dengan manisnya didepan Lamborghini putih kebanggaannya. Alvin berdiri dengan cool-nya seraya memasukan kedua tangannya pada kantong celana seragamnya. Dan Alvin sama sekali tidak peduli, saat tatapan-tatapan serta decakan-decakan penuh kekaguman menghujaninya tanpa henti sejak ia berdiri disana beberapa menit yang lalu.
            Alvin seperti sedang menunggu seseorang. Siapa yang sedang ia tunggu? Entahlah, hanya Alvin yang tahu.
            Beberapa saat kemudian, Alvin dibuat membelalak kaget, saat kedua indera pelihatnya menangkap sosok Iel yang keluar dari Jaguar Hitamnya dan berlari kecil kearah pintu penumpang. Dengan senyum merekah dibibir, Iel membuka pintu penumpang.
            Alvin merasakan kepalanya seakan mendidih saat melihat Via keluar dari jaguar hitam milik Iel sambil memegang erat tangan Iel. Via tampak canggung saat tersenyum pada Iel, tapi Alvin sama sekali tidak bisa menangkapnya. Ia justru mengepalkan kuat jemari tangannya lalu memilih pergi dari parkiran dengan emosi yang tidak terjelaskan.
            Alvin melangkah cepat menyusuri koridor tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Karna hal itu, tanpa sadar Alvin bertubrukan dengan Zevana CS yang juga sedang berjalan dikoridor, menebar pesona dimana-mana. Zevana yang awalnya ingin memuntahkan rasa kesalnya, langsung menelannya bulat-bulat saat tahu bahwa yang menganggu jalannya adalah Alvin. Tanpa meminta maaf, tanpa merasa bersalah sedikitpun Alvin tetap berjalan dengan tidak pedulinya.
            “Oh my god! Itu Alvin”
            Zevana berlari kecil mengejar Alvin, meninggalkan kedua sahabatnya, Dea dan Aren dibelakang.
            “Alvin… selamat datang My Baby kesayangan gueee…” seru Zevana dengan centilnya sambil menggamit lengan Alvin. Mau tidak mau Alvin menghentikan langkahnya lalu menatap tajam kearah cewek centil yang hampir selalu mengganggu harinya disekolah.
            “Lepasin tangan gue!” pinta Alvin sambil menatap lengannya yang berada dalam cengkaraman Zevana. Zevana menggeleng. Alvin menghela napas beberapa kali lalu menarik paksa lengannya dari Zevana. Saat itu, Zevana langsung mengerucutkan bibirnya.
            “kalo gue bilang lepas ya lepas! Gue lagi males ngeladenin lo. Ngerti?” bentak Alvin tanpa perasaan lalu meninggalkan Zevana yang telah sukses ia permalukan didepan anak-anak Speranza High School yang kebetulan sedang berjalan dikoridor.
            Zevana rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya, tapi ia tahan. Alvin sudah terlanjur mempermalukannya.


♥♥♥

            Via menatap arloji putih pemberian Rio yang melingkar dipergelangan tangannya. Masih ada 10 menit sebelum bel masuk berbunyi. Via tersenyum lebar lalu mengeluarkan sebuah kotak bekal dari dalam tas nya.
            “Tumben bawa bekal, Vi” kata Agni –sahabat baru Via- yang tiba-tiba sudah muncul disamping Via. Gara-gara kehadiran Agni yang secara tiba-tiba itu, Via akhirnya kaget dan secara reflex memeluk erat-erat kotak bekalnya.
            “Agni! Lo ngagetin aja” protes Via.
            “Lo aja yang suka kagetan. Makanya jangan kebanyakan ngelamun. Eh iya, itu bekal buat siapa? Buat lo makan sendiri? Tumben bawa?”
            Via menggeleng seraya tersenyum dengan sedikit salah tingkah.
            “Bukan. Ya udah, gue keluar bentar ya? Takutnya ntar malah bel. Bye Agni”
            Via melesat keluar dari kelas tanpa sedikitpun menghiraukan panggilan Agni. Yang Via tahu sekarang hanyalah, ia ingin cepat-cepat menyerahkan kotak bekal ini pada Alvin. Via tahu pasti, bahwa Alvin belum sarapan. Makanya tadi Via sengaja bangun tidur lebih pagi dari biasanya, lalu dengan penuh semangat memasak makanan kesukaan Alvin. Via berharap Alvin suka.
            Via berlari kecil mengejar langkah Alvin yang sedang berjalan menuju kelasnya bersama Cakka dan Shilla yang tampak sangat serasi pagi ini.
            “Alvin!” Via menepuk pelan pundak Alvin. Secara bersamaan, Alvin, Cakka dan Shilla menoleh kearah Via.
            “Hay Via” sapa Shilla dengan bersahabat sambil melambaikan tangannya.
            “Hay Kak Shilla” balas Via tidak kalah bersahabatnya. Via kembali mengalihkan tatapannya kearah Alvin.
            “Vin, lo udah sarapan?”
            Alvin menatap Via dengan pandangan tidak suka lalu menjawab sambil memalingkan wajahnya.
            “bukan urusan lo gue udah sarapan apa belom” jawabnya sinis. Via hanya tersenyum, ia sudah menganggap biasa dengan sikap tidak menyenangkan yang hampir selalu Alvin tunjukan padanya.
            “gue tau lo pasti belom sarapan. Ini gue bawa nasi goreng sea food kesukaan lo. Gue sengaja masak ini karna gue tau kalo lo belom sempet sarapan dirumah” ujar Via seraya menjulurkan kotak bekal itu dihadapan Alvin.
            Cakka dan Shilla yang memang belum mengetahui apa yang terjadi diantara mereka langsung saling tatap dengan kedua bahu terangkat.
            Alvin mendengus. Potongan adegan mesra yang tadi dipertontonkan oleh Via dan Iel tiba-tiba melintas dikepalanya. Alvin lalu menerima kotak bekal itu dan membukanya dihadapan Via, Cakka dan Shilla. Via tersenyum puas detik itu juga.
            “Lo masak ini buat gue?”
            Via hanya mengangguk. Alvin tersenyum sinis. Tanpa ada satupun yang menduga, Alvin langsung saja menumpahkan nasi goreng itu tepat diatas kepala Via. Cakka dan Shilla kaget setengah mati, begitu juga dengan Via. Apa yang Alvin lakukan itu kontan saja menarik perhatian semua penghuni Speranza yang saat itu kebetulan melewati mereka. Beberapa dari mereka mulai terlihat berbisik satu sama lain, bahkan ada juga yang secara terang-terangan menertawakan Via. Malu bercampur rasa tidak percaya, bergumul menjadi satu didadanya.
            “Alv, lo apa-apaan sih? Hah?” bentak Cakka yang justru tidak diindahkan oleh Alvin.
            “Gue bukan orang kelaperan! Jadi lo gak perlu repot-repot ngasih makanan murahan ini buat gue. Ngerti lo?” ujar Alvin sinis tanpa sedikitpun memikirkan bagaimana hancurnya perasaan Via. Via hanya menunduk dalam sambil berusaha keras menahan laju air matanya. Harusnya sejak awal Via tahu bahwa Alvin bukanlah sosok cowok yang gampang tersentuh, lalu buat apa Via harus mempermalukan dirinya seperti ini didepan halayak banyak? Semuanya sia-sia dan hanya menyisakan rasa malu juga rasa sakit yang mendalam.
            Kenapa hanya dengan ciuman dan pelukan itu, Via jadi luluh begini? Mungkin Alvin melakukan itu tanpa perasaan, dan seharusnya Via juga tidak terbawa oleh perasaan, seharusnya Via sadar diri sejak awal bahwa dia bukanlah siapa-siapa, dan dia bukanlah apa-apa untuk Alvin, selain… pelampiasan untuk rasa sakitnya.
            Beberapa saat setelah Alvin membentak Via, Rio tiba-tiba datang lalu segera menghampiri Via dengan terheran-heran.
            “Via, lo kenapa? Kok berantakan banget?” Rio memegang kedua pundak Via lalu mengangkat dagunya, saat itu Rio tahu, bahwa Via sedang menangis.
            “Via…? Lo kenapa?” kali ini Rio membersihkan kepala Via dengan tangannya sendiri. Via yang sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi langsung menyingkirkan tangan Rio dari kepalanya dan berlari meninggalkan tempat itu dengan menahan rasa malu serta rasa sakit hatinya.
            Ada sedikit rasa ngilu dihatinya saat Alvin tahu bahwa Via menangis karna ulahnya, tapi Alvin memilih untuk tidak peduli dan berusaha untuk tidak sedikitpun menyesal dengan apa yang baru saja Ia lakukan.
            “ajarin sahabat lo itu untuk bisa sedikit tahu diri dan sadar sama posisinya” ucap Alvin pada Rio. Rio buru-buru menoleh, kaget dengan apa yang baru saja Alvin katakan.
            “maksud lo?”
            “apa perlu gue jelasin, kalo dia Cuma pembantu dan sama sekali gak pantes buat gue?”
            Rio mencengkram kuat jemari tangannya, tepat saat kepalan tangannya hendak mendarat dengan mulus diwajah Alvin, Rio malah membatalkan niatnya. Sekarang ia mengerti maksud Alvin. Apa yang terjadi pada Via hari ini pasti karna ulah Alvin.
            “Apa yang lo lakuin hari ini sudah bener-bener keterlaluan. Gue diem selama ini bukan beararti gue terima semua perlakuan lo terhadap Via. Tapi kali ini gue gak akan tinggal diem, gue akan melakukan sesuatu buat Via, dan lo… gak akan gue ijinin buat nyentuh dia sehelai rambutpun. Mulai hari ini”
            “Lo ngancem gue?”
            “iya gue ngancem lo” jawab Rio dengan berani.
            “oke, kalo lo lebih membela dia, mulai hari ini lo bukan bagian dari gue dan Cakka lagi”
            Cakka dan Shilla lagi-lagi dibuat tercengang oleh keputusan sepihak yang dibuat oleh Alvin. Rio tersenyum getir, sejak awal dia sudah menduga dan bersiap-siap akan hal ini. Sejak awal Rio sudah tahu bahwa nasibnya akan berakhir sama dengan Iel. Sama-sama ditendang oleh Alvin.
            “tanpa lo minta pun gue gak akan mau jadi bagian dari lo lagi” ucap Rio dengan tegas lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Saat ini Rio sudah benar-benar merasa bosan hanya duduk dikursi penonton dan menyaksikan Alvin berbuat sesuka hatinya terhadap Via. Sudah saatnya Rio keluar dari kursi penonton dan melakukan sesuatu untuk sahabat manisnya. Via.
            Mungkin Rio akan menyesal dengan keputusannya ini. Tapi dia harus tetap melakukan sesuatu.

♥♥♥

            Via menangis dihalaman belakang sekolah dengan suara tertahan. Mati-matian ia berusaha agar tidak sampai terisak, tapi semuanya runtuh begitu saja. Hatinya terlalu sakit untuk bisa menahan perlakuan Alvin tadi padanya. dan Via menyesali dirinya saat menyadari bahwa hatinya telah benar-benar jatuh ditangan Alvin hanya dalam waktu yang sedemikian singkat. Via baru menyadarinya disaat Alvin justru menyakiti perasaannya tanpa ampun, Via baru menyadarinya disaat Alvin malah menorehkan luka dihatinya.
            Seseorang tiba-tiba saja datang lalu membersihkan sisa-sisa nasi yang masih mengotori kepala Via dengan sebuah sapu tangan. Via yang saat ini sudah tidak dapat lagi berpikir jernih sama sekali tidak menyadari kehadiran seseorang itu. Ia tetap menunduk seraya meneteskan air mata dan berusaha menahan isakkannya.
            Iel akhirnya memutuskan untuk duduk dihadapan Via, ia mengangkat dagu Via lalu mengusap air matanya lembut dengan kedua tangannya. Iel telah menyaksikan semuanya, tapi sebelum Iel sempat melakukan sebuah tindakan untuk menghentikan Alvin, Rio malah sudah mendahuluinya.
            “Kak Iel?”
            “nangis aja, Vi. Gak usah lo tahan” ujar Iel lembut sambil terus mengusap air mata Via yang berdesakan keluar. Entah karna Via sudah tidak sanggup lagi menahan semuanya, tanpa ijin ia langsung menjatuhkan kepalanya tepat dipundak Iel. Disana ia menangis sejadi-jadinya, disana Via tidak lagi menahan isakkannya, dan disana juga Via menumpahkan segala rasa sakitnya dengan harapan setelah ini, ia akan kembali baik-baik saja.
            Isakan Via semakin kuat terdengar. Sementara Iel ia hanya diam sambil menatap puncak kepala Via. Secara perlahan Iel mengangkat salah satu tangannya dan menepuk pelan pundak Via yang bergerak naik turun karna menangis.

            ‘gue janji, ini pertama dan terakhir kalinya gue ngeliat lo nangisin Alvin, Vi. Karena setelah ini, gue gak akan biarin Alvin nyakitin perasaan lo. Gak akan pernah…’



                                    To Be Continued…




0 comments:

Post a Comment