Alvin tidak
berkata apapun saat Johan mengintrogasinya diruang kerjanya prihal
pertengkarannya dengan Iel disekolah beberapa hari yang lalu. Sama seperti yang
Iel lakukan saat Johan mengintrogasinya juga, Alvin tidak sedikitpun
mengeluarkan pembelaan apapun atas dirinya. Jika Iel melakukan hal itu karna ia
memang merasa bersalah, maka lain halnya dengan Alvin, ia memilih bungkam karna
ia sudah terlalu malas menghadapi Ayahnya.
Tadi pagi-pagi sekali, dua orang
suruhan Johan membawa paksa Alvin dari apartemennya, dan Alvin sangat kesal
saat tahu apa tujuan Ayahnya hingga sampai harus menculiknya segala, ternyata
untuk urusan tidak penting ini. Memangnya sejak kapan Johan mau susah-susah
mengurus Alvin? Dulu saat SMP Alvin bahkan pernah terlibat perkelahian yang
lebih parah dari ini, tapi Johan tetap tenang-tenang saja dan malah mengutus
sekertarisnya untuk mengurus semuanya, tapi sekarang Johan benar-benar berbeda.
Apa ini semua karna Iel turut andil didalamnya?
Ciihh… dalam hati Alvin mencibir,
ternyata Iel memang benar-benar telah merebut segalanya dari Alvin, dan ini
semua semakin menumpuk kebencian Alvin pada Iel.
“Udah selese, Dad?” Tanya Alvin
dengan nada datar sesaat setelah Johan menyelesaikan introgasinya. Johan
menatap Alvin dengan kedua alis bertaut, kenapa semakin hari Alvin semakin
kurang ajar begini? Pikirnya.
“kalo udah selese, aku mau pulang.
Masa skorsing aku Cuma tinggal 2 hari lagi, dan aku bener-bener pengen nikmatin
ini” kata Alvin santai seakan tanpa beban yang justru membuat Johan semakin
naik pitam. Tapi kali ini Johan memilih untuk tetap tenang, betapapun dia
sangat ingin melayangkan pukulannya pada Alvin.
Sebelum mendapat jawaban dari
Ayahnya, Alvin malah bangkit dari sofa yang sejak tadi ia duduki lalu melangkah
tanpa permisi hendak keluar dari ruang ‘neraka’ itu. Tapi kemudian langkah
Alvin lagi-lagi terhenti saat suara berat Johan menyapa gendang telinganya.
“Daddy sudah memutuskan satu hal…”
jeda sesaat. Johan melangkah mendekati
Alvin lalu berdiri tepat dibelakang Alvin, “Daddy akan menjual apartemen milik
Mami mu, jadi Daddy peringatkan supaya kamu cepat-cepat angkat kaki dari
apartemen itu”
Kali ini Alvin meradang. Setelah
semua hal yang ia lewati selama beberapa tahun terakhir ini, setelah banyak
usaha yang ia lakukan demi menyembuhkan luka hatinya, lalu apa begini cara yang
Ayahnya lakukan untuk melumpuhkannya? Benar-benar licik.
“Jangan pernah sentuh apartemen
Mami, karna Daddy gak punya hak melakukan itu. Kalo Daddy pikir cara itu bisa
membuat aku kembali kerumah ini lagi, maka Daddy salah besar. Dan kalopun aku
harus keluar dari apartemen itu, aku gak akan pernah pulang kerumah ini. Sampai
kapanpun!” ungkap Alvin sinis namun sarat akan sebuah kegetiran yang menyayat
hatinya. Alvin menghela napas panjangnya sebelum akhirnya ia benar-benar keluar
dari ruangan itu.
Arika dan Ify sedikit terkejut saat
Alvin keluar dari ruang kerja Johan. Sejak Alvin memasuki ruangan itu, Arika
dan Ify memang sudah menunggu diruang tengah. Alvin menghentikan langkahnya
lalu menatap sekilas kearah Ibu dan Anak itu dengan pandangan kosong. Arika
tersenyum lalu melangkah mendekati Alvin,
“Alvin, kamu pulang ya?”
Tepat saat kedua tangan Arika hendak
menyentuh wajahnya, Alvin langsung menepisnya pelan. Terbersit sebentuk rasa
kecewa yang melingkupi Arika.
“Jangan sentuh gue!” ucap Alvin
dengan tegas.
“Alvin, please, lo bisa sopan dikit
kan sama Mama?” sambut Ify pada akhirnya. Kali ini ia benar-benar sudah tidak
bisa lagi mentolerir sikap kurang ajar Alvin pada Mamanya.
“Dia Nyokap lo, bukan Nyokap gue!”
jawab Alvin dengan nada memperingatkan. Ify langsung bungkam seketika, tapi
tidak sedikitpun melepaskan tatapan tajamnya dari kedua manik mata Alvin,
begitu juga dengan Alvin.
Hening.
“dan denger! Lo mungkin bisa
ngerebut posisi nyokap gue dirumah ini, dan lo juga bisa ngerebut jabatan
nyokap gue disekolah, tapi yang harus lo inget adalah, lo gak akan pernah bisa
ngerebut hati gue sebagai anak. Jadi gue minta, berhenti untuk bersikap manis
sama gue”
PLAAK. Sebuah tamparan mendarat
dengan sempurna diwajah Alvin sebelum Arika sempat menghentikannya. Tamparan
yang cukup keras itu sukses membuat tepi bibir Alvin mengeluarkan darah. Alvin
mengusap darahnya tanpa sedikitpun melihat kearah Johan yang kali ini
benar-benar terlihat kalap.
“anak kurang ajar!” cerca Johan
dengan emosi memuncak tak terkendali. Alvin mengangguk beberapa kali, ia
mengangkat wajahnya lalu menatap Johan seraya tersenyum miris.
“Ya… aku memang kurang ajar. Dan
Daddy yang bikin aku kayak gini”
Alvin melesat pergi melewati Johan
dan Arika tanpa sekalipun menoleh meski Johan sudah dengan tegas memintanya
untuk berhenti dan kembali.
Kali ini Alvin sudah benar-benar
muak dan sakit hati.
♥♥♥
B-Café…
“Lo tega banget sih ngegantung perasaan
Ify kayak gini?” todong Via sesaat setelah Rio menyelesaikan ceritanya tentang
apa yang Ify ungkapkan padanya beberapa hari yang lalu. Rio mengusap wajahnya
putus asa, ia menghela napas panjang lalu mengehembuskannya dengan tidak sabar.
“Tapi gue gak bisa ngasih Ify
jawaban selama gue belum bisa ngelupain Dea”
“Dea lagi, Dea lagi…” cerca Via yang
merasa benar-benar kehilangan kesabaran kali ini.
Bagaimana tidak? Sudah hampir 1
tahun Rio dan Dea putus, dan 3 bulan setelah mereka putus, Dea langsung menggaet
Riko, yang tidak lain dan tidak bukan adalah ketua ekskul karate Speranza High
School sebagai pacar barunya, tapi meski begitu, Rio tetap tidak bisa melupakan
Dea dan malah menyia-nyikan Ify yang ia sendiri tahu telah lama menyimpan rasa
untuknya. Itulah mengapa, Via begitu kesal dengan sahabat tampannya yang satu
ini.
“Cerita lo sama Dea udah lama
selese, dan malah selama kalian jadian, Si Dea terang-terangan ngincer cowok
laen kan? dan itu semua kebukti, saat 3 bulan setelah kalian putus Dea bener-bener
jadian sama si Riko itu, tapi kenapa lo tetep berusaha buat membutakan mata lo
sendiri, Kak?”
“Vi….”
“Ayolah Kak Rio, move on! Ada Ify yang sayang banget sama
lo masa mau lo sia-siain demi Dea yang udah nyakitin lo? Terus terang aja ya,
Kak? Gue ngerasa kalo lo gak punya harga diri sebagai cowok!”
Sebelum Rio sempat membalas
perkataan Via, Via malah sudah bangkit dari hadapan Rio sambil menyelempangkan
tasnya.
“Gue pamit, Kak. Gue masih ada
urusan. Gue harap, lo mau mikirin lagi kata-kata gue ini”
Rio buru-buru mencekal pergelangan
tangan Via. Via menatap Rio dengan pandangan heran,
“ada apa, Kak?”
“Lo mau kemana? Ke Apartemen Alvin,
ya?”
Via tersentak. Kenapa Rio tahu?
Darimana Rio tahu? Via kan tidak pernah meceritakan apapun pada Rio tentang
masalah ini, apa jangan-jangan Alvin sendiri yang memberitahukan Rio?
Melihat mimic wajah Via yang berubah
drastic, Rio tersenyum tenang, ia berdiri dan semakin erat menggenggam jari
jemari Via.
“Tenang aja, gue gak akan nanya
lebih banyak lagi sampe elo sendiri yang mau suka rela ngejelasin semuanya ke
gue. Gue anter yuk!”
Sebelum Via menjawab, Rio sudah
menarik tangan Via yang masih terbengong dan membawanya keluar dari B-Café.
Tapi tanpa mereka sadari, ada sepasang tatapan penuh luka yang tengah mengarah
pada mereka dan mengikuti setiap pergerakan langkah mereka. Dia berusaha keras
menahan laju air matanya agar tidak terjatuh walaupun hanya setetes. Ia ingin
kuat.
“Ternyata Via cewek yang lo suka,
Kak? Ternyata Via yang udah berhasil ngerebut hati lo?” ujar Ify penuh
kegetiran sambil tetap berusaha menahan diri untuk menghamburkan air mata.
♥♥♥
Via memasuki apartemen Alvin sambil
memijat pelan keningnya yang mendadak terasa berdenyut. Tadi Rio langsung
pulang setelah mengantarnya ke Apartemen Alvin, dan selama diperjalanan, Rio
benar-benar menepati perkataannya. Ia tidak menanyakan apapun pada Via tentang
masalah ini sekalipun Rio sangat penasaran. Dan reaksi Rio yang benar-benar
tidak terduga ini justru membuat Via bingung setengah mati. Bukannya seharusnya
Rio marah, tapi ini, Rio tidak marah sedikitpun dan tidak memaksa Via untuk
menjelaskan semuanya. Sikap Rio ini benar-benar membuatnya bingung.
Via menghempaskan tubuh lelahnya
diatas sofa sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Pikirannya
yang saat ini benar-benar kalut bahkan sampai membuat Via tidak menyadari bahwa
Alvin tepat duduk disebelahnya dengan posisi yang lumayan dekat.
Alvin menatap Via dengan pandangan
bertanya lalu berdehem pelan. Via terkesiap, ia menoleh dan sedikit terkejut
saat melihat Alvin.
“Elo?” Via sedikit menjauhkan
posisinya dari Alvin. Alvin terkekeh pelan lalu mengalihkan tatapannya dari
wajah Via.
“Bibir lo kenapa? Kok luka?” Tanya
Via tanpa sadar saat melihat luka kecil ditepi bibir Alvin, hasil karya Ayahnya
tadi. Alvin kembali menatap Via, tanpa sadar, Via mengangkat salah satu
tangannya lalu mennyentuh dagu Alvin dan sedikit memalingkan wajahnya untuk
melihat luka ditepi bibir Alvin dengan lebih jelas lagi.
Alvin menatap Via tajam. Via yang
akhirnya tersadar dengan apa yang ia lakukan langsung saja menyingkirkan
tangannya dari dagu Alvin.
“sorry…” Via sedikit salah tingkah
dan memutuskan untuk segera memulai pekerjaannya. Tapi Via tiba-tiba merasakan
tangannya ditarik oleh Alvin saat ia hendak bangkit dari sofa. Via menatap
Alvin dengan pandangan sedikit bingung. Sementara Alvin, ia hanya menatap Via
datar, lalu dengan sangat pelan berujar,
“Tolong obatin luka gue. Bisa?”
pinta Alvin penuh kesungguhan.
Dan selama hampir satu bulan Via
mendekam bersama Alvin ditempat ini, ini baru pertama kalinya Via mendengar
Alvin menyertakan kata ‘tolong’ dalam perintahnya. Via menelan ludahnya
dalam-dalam, apa ia tidak salah dengar? Atau apa ia tidak sedang berhalusinasi?
Cukup lama mereka saling menatap
dalam hening sebelum akhirnya Via menarik tangannya dari genggaman Alvin. Via
berusaha mengontrol detak jantungnya yang mulai berdetak dalam irama yang tidak
beraturan. Satu kenyataan yang sangat ia benci sekarang ini: ia semakin salah
tingkah karna ulah si Mister Arrogant ini.
“Oke, gue ambil kotak obat dulu” Via
baru saja berdiri saat tiba-tiba Alvin kembali menarik tangannya lalu
memeluknya dengan erat. Kedua mata Via terbuka maksimal, apalagi kali ini?
“bukan luka itu yang gue maksud”
bisik Alvin pelan seraya membelai lembut rambut sebahu milik Via. Berada dalam
pelukan gadis ini selalu membuat Alvin merasa jauh lebih baik. Sebagin beban
dipundaknya seolah terangkat, dan lukanya yang menganga lebar selama beberapa
tahun ini seakan tertutupi saat ia memeluk Via.
“te.. terus?” Tanya Via sedikit
terbata. Perasaannya mulai tidak karuan.
“tolong sembuhin luka hati gue…”
Alvin semakin mempererat pelukannya dan semakin membuat perasaan Via semakin
tidak menentu. Apa maksud ucapan Pria ini? Via sama sekali tidak bisa
membacanya. Ia terlalu takut melakukan kesalahan dalam menebak. Ia terlalu
takut bahwa apa yang sebenarnya ia harapkan sama sekali tidak sesuai dengan
kenyataan ada. Via tidak ingin terjatuh, Via tidak ingin terhempas.
‘Calvin
Bramantya… apa lo udah berhasil bikin gue jatuh cinta sama lo?’ bathin Via
sambil berusaha keras melawan keinginannya untuk membalas pelukan Alvin. Tidak,
Via tidak ingin terjerumus lebih dalam lagi karna perasaan yang sama sekali
tidak ia mengerti ini.
♥♥♥
Seminggu sebelum ujian kenaikan
kelas, Alvin dan Iel telah resmi kembali kesekolah setelah melewati masa
skorsing selama satu minggu lamanya. Dan pagi ini, seluruh perhatian
siswa-siswi Speranza High School tidak henti-hentinya tertuju pada Alvin, yang
pagi itu sudah bertengger dengan manisnya didepan Lamborghini putih
kebanggaannya. Alvin berdiri dengan cool-nya
seraya memasukan kedua tangannya pada kantong celana seragamnya. Dan Alvin sama
sekali tidak peduli, saat tatapan-tatapan serta decakan-decakan penuh kekaguman
menghujaninya tanpa henti sejak ia berdiri disana beberapa menit yang lalu.
Alvin seperti sedang menunggu
seseorang. Siapa yang sedang ia tunggu? Entahlah, hanya Alvin yang tahu.
Beberapa saat kemudian, Alvin dibuat
membelalak kaget, saat kedua indera pelihatnya menangkap sosok Iel yang keluar
dari Jaguar Hitamnya dan berlari kecil kearah pintu penumpang. Dengan senyum
merekah dibibir, Iel membuka pintu penumpang.
Alvin merasakan kepalanya seakan
mendidih saat melihat Via keluar dari jaguar hitam milik Iel sambil memegang
erat tangan Iel. Via tampak canggung saat tersenyum pada Iel, tapi Alvin sama
sekali tidak bisa menangkapnya. Ia justru mengepalkan kuat jemari tangannya
lalu memilih pergi dari parkiran dengan emosi yang tidak terjelaskan.
Alvin melangkah cepat menyusuri
koridor tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Karna hal itu, tanpa sadar Alvin
bertubrukan dengan Zevana CS yang juga sedang berjalan dikoridor, menebar
pesona dimana-mana. Zevana yang awalnya ingin memuntahkan rasa kesalnya,
langsung menelannya bulat-bulat saat tahu bahwa yang menganggu jalannya adalah
Alvin. Tanpa meminta maaf, tanpa merasa bersalah sedikitpun Alvin tetap
berjalan dengan tidak pedulinya.
“Oh my god! Itu Alvin”
Zevana berlari kecil mengejar Alvin,
meninggalkan kedua sahabatnya, Dea dan Aren dibelakang.
“Alvin… selamat datang My Baby
kesayangan gueee…” seru Zevana dengan centilnya sambil menggamit lengan Alvin.
Mau tidak mau Alvin menghentikan langkahnya lalu menatap tajam kearah cewek
centil yang hampir selalu mengganggu harinya disekolah.
“Lepasin tangan gue!” pinta Alvin
sambil menatap lengannya yang berada dalam cengkaraman Zevana. Zevana
menggeleng. Alvin menghela napas beberapa kali lalu menarik paksa lengannya
dari Zevana. Saat itu, Zevana langsung mengerucutkan bibirnya.
“kalo gue bilang lepas ya lepas! Gue
lagi males ngeladenin lo. Ngerti?” bentak Alvin tanpa perasaan lalu
meninggalkan Zevana yang telah sukses ia permalukan didepan anak-anak Speranza
High School yang kebetulan sedang berjalan dikoridor.
Zevana rasanya ingin berteriak
sekencang-kencangnya, tapi ia tahan. Alvin sudah terlanjur mempermalukannya.
♥♥♥
Via menatap arloji putih pemberian
Rio yang melingkar dipergelangan tangannya. Masih ada 10 menit sebelum bel
masuk berbunyi. Via tersenyum lebar lalu mengeluarkan sebuah kotak bekal dari
dalam tas nya.
“Tumben bawa bekal, Vi” kata Agni
–sahabat baru Via- yang tiba-tiba sudah muncul disamping Via. Gara-gara
kehadiran Agni yang secara tiba-tiba itu, Via akhirnya kaget dan secara reflex
memeluk erat-erat kotak bekalnya.
“Agni! Lo ngagetin aja” protes Via.
“Lo aja yang suka kagetan. Makanya
jangan kebanyakan ngelamun. Eh iya, itu bekal buat siapa? Buat lo makan
sendiri? Tumben bawa?”
Via menggeleng seraya tersenyum
dengan sedikit salah tingkah.
“Bukan. Ya udah, gue keluar bentar
ya? Takutnya ntar malah bel. Bye Agni”
Via melesat keluar dari kelas tanpa
sedikitpun menghiraukan panggilan Agni. Yang Via tahu sekarang hanyalah, ia
ingin cepat-cepat menyerahkan kotak bekal ini pada Alvin. Via tahu pasti, bahwa
Alvin belum sarapan. Makanya tadi Via sengaja bangun tidur lebih pagi dari
biasanya, lalu dengan penuh semangat memasak makanan kesukaan Alvin. Via
berharap Alvin suka.
Via berlari kecil mengejar langkah
Alvin yang sedang berjalan menuju kelasnya bersama Cakka dan Shilla yang tampak
sangat serasi pagi ini.
“Alvin!” Via menepuk pelan pundak
Alvin. Secara bersamaan, Alvin, Cakka dan Shilla menoleh kearah Via.
“Hay Via” sapa Shilla dengan
bersahabat sambil melambaikan tangannya.
“Hay Kak Shilla” balas Via tidak
kalah bersahabatnya. Via kembali mengalihkan tatapannya kearah Alvin.
“Vin, lo udah sarapan?”
Alvin menatap Via dengan pandangan
tidak suka lalu menjawab sambil memalingkan wajahnya.
“bukan urusan lo gue udah sarapan
apa belom” jawabnya sinis. Via hanya tersenyum, ia sudah menganggap biasa
dengan sikap tidak menyenangkan yang hampir selalu Alvin tunjukan padanya.
“gue tau lo pasti belom sarapan. Ini
gue bawa nasi goreng sea food kesukaan lo. Gue sengaja masak ini karna gue tau
kalo lo belom sempet sarapan dirumah” ujar Via seraya menjulurkan kotak bekal
itu dihadapan Alvin.
Cakka dan Shilla yang memang belum
mengetahui apa yang terjadi diantara mereka langsung saling tatap dengan kedua
bahu terangkat.
Alvin mendengus. Potongan adegan
mesra yang tadi dipertontonkan oleh Via dan Iel tiba-tiba melintas dikepalanya.
Alvin lalu menerima kotak bekal itu dan membukanya dihadapan Via, Cakka dan
Shilla. Via tersenyum puas detik itu juga.
“Lo masak ini buat gue?”
Via hanya mengangguk. Alvin
tersenyum sinis. Tanpa ada satupun yang menduga, Alvin langsung saja
menumpahkan nasi goreng itu tepat diatas kepala Via. Cakka dan Shilla kaget
setengah mati, begitu juga dengan Via. Apa yang Alvin lakukan itu kontan saja
menarik perhatian semua penghuni Speranza yang saat itu kebetulan melewati
mereka. Beberapa dari mereka mulai terlihat berbisik satu sama lain, bahkan ada
juga yang secara terang-terangan menertawakan Via. Malu bercampur rasa tidak
percaya, bergumul menjadi satu didadanya.
“Alv, lo apa-apaan sih? Hah?” bentak
Cakka yang justru tidak diindahkan oleh Alvin.
“Gue bukan orang kelaperan! Jadi lo
gak perlu repot-repot ngasih makanan murahan ini buat gue. Ngerti lo?” ujar
Alvin sinis tanpa sedikitpun memikirkan bagaimana hancurnya perasaan Via. Via
hanya menunduk dalam sambil berusaha keras menahan laju air matanya. Harusnya
sejak awal Via tahu bahwa Alvin bukanlah sosok cowok yang gampang tersentuh,
lalu buat apa Via harus mempermalukan dirinya seperti ini didepan halayak
banyak? Semuanya sia-sia dan hanya menyisakan rasa malu juga rasa sakit yang
mendalam.
Kenapa hanya dengan ciuman dan
pelukan itu, Via jadi luluh begini? Mungkin Alvin melakukan itu tanpa perasaan,
dan seharusnya Via juga tidak terbawa oleh perasaan, seharusnya Via sadar diri
sejak awal bahwa dia bukanlah siapa-siapa, dan dia bukanlah apa-apa untuk
Alvin, selain… pelampiasan untuk rasa sakitnya.
Beberapa saat setelah Alvin
membentak Via, Rio tiba-tiba datang lalu segera menghampiri Via dengan
terheran-heran.
“Via, lo kenapa? Kok berantakan
banget?” Rio memegang kedua pundak Via lalu mengangkat dagunya, saat itu Rio
tahu, bahwa Via sedang menangis.
“Via…? Lo kenapa?” kali ini Rio
membersihkan kepala Via dengan tangannya sendiri. Via yang sudah tidak tahu
harus berbuat apa lagi langsung menyingkirkan tangan Rio dari kepalanya dan
berlari meninggalkan tempat itu dengan menahan rasa malu serta rasa sakit
hatinya.
Ada sedikit rasa ngilu dihatinya
saat Alvin tahu bahwa Via menangis karna ulahnya, tapi Alvin memilih untuk
tidak peduli dan berusaha untuk tidak sedikitpun menyesal dengan apa yang baru
saja Ia lakukan.
“ajarin sahabat lo itu untuk bisa
sedikit tahu diri dan sadar sama posisinya” ucap Alvin pada Rio. Rio buru-buru
menoleh, kaget dengan apa yang baru saja Alvin katakan.
“maksud lo?”
“apa perlu gue jelasin, kalo dia
Cuma pembantu dan sama sekali gak pantes buat gue?”
Rio mencengkram kuat jemari
tangannya, tepat saat kepalan tangannya hendak mendarat dengan mulus diwajah
Alvin, Rio malah membatalkan niatnya. Sekarang ia mengerti maksud Alvin. Apa
yang terjadi pada Via hari ini pasti karna ulah Alvin.
“Apa yang lo lakuin hari ini sudah
bener-bener keterlaluan. Gue diem selama ini bukan beararti gue terima semua
perlakuan lo terhadap Via. Tapi kali ini gue gak akan tinggal diem, gue akan
melakukan sesuatu buat Via, dan lo… gak akan gue ijinin buat nyentuh dia
sehelai rambutpun. Mulai hari ini”
“Lo ngancem gue?”
“iya gue ngancem lo” jawab Rio
dengan berani.
“oke, kalo lo lebih membela dia,
mulai hari ini lo bukan bagian dari gue dan Cakka lagi”
Cakka dan Shilla lagi-lagi dibuat
tercengang oleh keputusan sepihak yang dibuat oleh Alvin. Rio tersenyum getir,
sejak awal dia sudah menduga dan bersiap-siap akan hal ini. Sejak awal Rio
sudah tahu bahwa nasibnya akan berakhir sama dengan Iel. Sama-sama ditendang
oleh Alvin.
“tanpa lo minta pun gue gak akan mau
jadi bagian dari lo lagi” ucap Rio dengan tegas lalu melangkah pergi
meninggalkan tempat itu. Saat ini Rio sudah benar-benar merasa bosan hanya
duduk dikursi penonton dan menyaksikan Alvin berbuat sesuka hatinya terhadap
Via. Sudah saatnya Rio keluar dari kursi penonton dan melakukan sesuatu untuk
sahabat manisnya. Via.
Mungkin Rio akan menyesal dengan
keputusannya ini. Tapi dia harus tetap melakukan sesuatu.
♥♥♥
Via menangis dihalaman belakang
sekolah dengan suara tertahan. Mati-matian ia berusaha agar tidak sampai
terisak, tapi semuanya runtuh begitu saja. Hatinya terlalu sakit untuk bisa
menahan perlakuan Alvin tadi padanya. dan Via menyesali dirinya saat menyadari
bahwa hatinya telah benar-benar jatuh ditangan Alvin hanya dalam waktu yang
sedemikian singkat. Via baru menyadarinya disaat Alvin justru menyakiti
perasaannya tanpa ampun, Via baru menyadarinya disaat Alvin malah menorehkan
luka dihatinya.
Seseorang tiba-tiba saja datang lalu
membersihkan sisa-sisa nasi yang masih mengotori kepala Via dengan sebuah sapu
tangan. Via yang saat ini sudah tidak dapat lagi berpikir jernih sama sekali
tidak menyadari kehadiran seseorang itu. Ia tetap menunduk seraya meneteskan
air mata dan berusaha menahan isakkannya.
Iel akhirnya memutuskan untuk duduk
dihadapan Via, ia mengangkat dagu Via lalu mengusap air matanya lembut dengan
kedua tangannya. Iel telah menyaksikan semuanya, tapi sebelum Iel sempat
melakukan sebuah tindakan untuk menghentikan Alvin, Rio malah sudah
mendahuluinya.
“Kak Iel?”
“nangis aja, Vi. Gak usah lo tahan”
ujar Iel lembut sambil terus mengusap air mata Via yang berdesakan keluar.
Entah karna Via sudah tidak sanggup lagi menahan semuanya, tanpa ijin ia
langsung menjatuhkan kepalanya tepat dipundak Iel. Disana ia menangis
sejadi-jadinya, disana Via tidak lagi menahan isakkannya, dan disana juga Via
menumpahkan segala rasa sakitnya dengan harapan setelah ini, ia akan kembali
baik-baik saja.
Isakan Via semakin kuat terdengar.
Sementara Iel ia hanya diam sambil menatap puncak kepala Via. Secara perlahan
Iel mengangkat salah satu tangannya dan menepuk pelan pundak Via yang bergerak
naik turun karna menangis.
‘gue
janji, ini pertama dan terakhir kalinya gue ngeliat lo nangisin Alvin, Vi.
Karena setelah ini, gue gak akan biarin Alvin nyakitin perasaan lo. Gak akan
pernah…’
To Be Continued…


0 comments:
Post a Comment