C I N T A
(Ketika Aku Berusaha Untuk Tetap
Tegar)
“Cerita
tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan,
Oohh..cinta..”
Alunan
lagu CINTA dari miliknya Melly Goeslow feat Krisdayanti mengalun dengan merdu
dari sebuah ruangan disalah satu aula sebuah sekolah SMA international. Rio
tengah memperhatikan gadis cantik itu dengan seksama. Rupanya gadis cantik
berambut panjang itulah yang tengah menyanyikan lagu itu, sebuah lagu CINTA
yang benar-benar menggambarkan isi hatinya saat ini, sebuah lagu yang mewakili
perasaannya.
Rio mengerti apa yang terjadi,
bahkan sangat mengerti. Gadis itu
memejamkan matanya, ingatannya pun kembali ke masa lalu, masa lalunya yang
begitu indah …
Flash Back Sivia
“Alvin,
kamu kenapa sih kaya’ gini ?” tanyaku pada Alvin dengan emosi yang memuncak,
Alvin terlihat santai dan tak terlihat merasa bersalah sedikitpun atas
kesalahannya padaku.
Apa
yang akan terjadi, apabila kita melihat bahkan sering melihat kekasih yang kita
cintai selingkuh didepan mata kita sendiri tanpa memikirkan hancurnya perasaan
kita ? ya… hal menyedihkan itu kini tengah terjadi pada nasib kisah cinta ku
yang malang. Alvin, adalah sosok pemuda sempurna yang sangat aku cintai,
berkali-kali ia menyakitiku aku tetap tak bisa membencinya.
Selama
beberapa bulan terakhir ini, Alvin lebih sering membuat aku terluka, sakit dan
menangis, entah setan mana yang sudah merasuki kekasih tercintaku hingga ia
tega melakukan hal itu padaku. Berkali-kali aku sering memergokinya tengah
jalan bersama gadis lain, tak jarang juga ia sering menggoda gadis lain saat
aku tengah jalan bersamanya, sakit yang menderaku saat semua itu terjadi
ternyata tak mampu mengetuk pintu hati Alvin, Tuhan apa salahku ?
“kamu
kenapa sih marah-marah terus kerjaannya, ga’ bosen apa ?” Tanya Alvin sinis,
aku menghela nafas panjang, butiran-butiran bening mulai menetes dari pelupuk
mataku, tapi Alvin tak sedikitpun melunak,
“gimana
aku ga’ marah, kamu selalu kaya’ gitu dihadapan aku, kamu ga’ mikirin bagaimana
perasaan aku ? aku punya hati Vin, AKU SAKIT kamu ngerti ga’ sih ?”
“kamunya
aja yang sensi, aku Cuma berteman sama cewek-cewek itu..”
“ga’
gitu caranya berteman, itu selingkuh namanya..”
“terserah
kamu mau nyebut itu apa, aku ga’ peduli, dan kamu juga sebaiknya ga’ usah
ngurusin aku lagi deh..”
Ucapan
Alvin yang terakhir itu membuat dadaku sesak. Bagaimana bisa Alvin menyruhku
untuk tidak mengurusinya lagi, dia pacarku yang sudah aku pacari selama hampir
4 tahun, lalu kenapa sekarang Alvin malah dengan mudahnya berkata seperti itu ?
“Alvin
aku masih PACAR kamu, dan kamu ga’ berhak berkata seperti itu sama aku “
“kamu
Cuma PACAR aku Vi, bukan istri aku, ingat itu..!”
“ALVIN…??”
ucapku nyaris tak percaya,
“udah
deh Vi, aku capek sama kamu, mulai
sekarang terserah kamu ngelakuin apa aja, aku ga’ peduli, ngerti kamu..”
Saat
Alvin akan melangkah pergi aku langsung menahan lengannya lantas berkata,
“ma..maksud
kamu..?”
Bukannya
menjawab pertanyaanku Alvin malah pergi begitu saja tanpa sedikitpun menoleh
kebelakang. Apa arti ucapan Alvin tadi ? apa itu artinya dia memutuskan
hubungan kami ? tidak, aku tidak akan pernah rela putus dari Alvin, aku sayang
dia, dan aku tidak mau kehilangan Alvin apapun yang terjadi, aku ingin tetap
bersama Alvin.
4
tahun sudah aku menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih dengan Alvin.
Selama 4 tahun berpacaran dengannya, tak pernah sekalipun Alvin menyakiti
perasaanku, malahan selama 4 tahun ini akulah yang lebih banyak menyakiti Alvin
dengan sikap manjaku dan kecerewetanku, tapi meski begitu Alvin tetap sabar dalam
menghadapiku.
3
bulan yang lalu, sosok Alvin yang aku cintai, tiba-tiba saja berubah menjadi
sosok yang tak pernah aku kenal sebelumnya, ia dingin, sedikit jahat, dan tak
pernah sekalipun memperdulikan aku, Alvin juga tak pernah memanjakan aku lagi,
kemana Alvinku yang dulu ? aku benar-benar merindukan dia.
Hari-hari
berlalu, aku menjalani hubungan tanpa status dengan Alvin, sungguh ini bukan
mauku, sama sekali bukan mau ku, aku selalu meminta kepastian pada Alvin
tentang hubungan kami yang sekarang, tapi Alvin selalu saja menghindariku, ia
menghindariku seolah-olah aku sedang mengidap penyakit menular yang sangat
mematikan.
Mungkin
hanya Rio yang akhir-akhiran lebih sering menemaniku, Rio adalah sahabat
terdekat Alvin, ia tau semua tentang Alvin, tapi hanya ada satu hal yang Rio
tak pernah tau dari Alvin, dan hal itu
adalah, kenapa tiba-tiba sikap Alvin berubah padaku, Rio juga tak mengerti, ia
sering mencoba untuk mencari tahu, tapi selalu saja tak pernah berhasil, aku
sempat putus asa dan berfikir, ‘Mungkin Alvin telah bosan denganku’
Semenjak
Alvin menghindariku, maka sejak saat itu aku tak pernah merasa memiliki seorang
pacar, aku kesepian, jika bukan karna cintaku pada Tuhan dan kedua orang tuaku,
mungkin saat ini aku sudah lebih memilih untuk mengakhiri hidupku, berlebihan
memang kedengarannya, tapi aku sangat mencintai Alvin dan aku sama sekali tak
bisa hidup tanpanya, aku selalu berharap, semoga kelak, Tuhan mengembalikan
Alvin seperti sedia kala, sungguh aku sangat merindukan Alvin yang dulu.
“kamu
harus kuat Vi..” ucap Rio padaku memberi semangat, meski berkali-kali Rio
mencoba memberi semangat untukku, tapi
tetap saja aku tak bisa sesemangat dulu ketika aku masih bersama Alvin. Saat sedang bersama Rio
aku melihat Alvin yang waktu itu tengah berjalan sendiri, aku berlari kecil dan
menghampiri Alvin, aku menarik lengannya,
“Vin,
aku..”
“kamu
mau apa lagi Via ? marah-marah lagi ?” Tanya Alvin,
“aku
minta maaf Vin..” sebenarnya aku tak mau berkata seperti itu, karna aku tau
bahwa bukan aku yang salah tetapi Alvin.
“buat
apa kamu minta maaf ?”
“Vin..”
sebelum aku sempat menyelesaikan ucapanku, Alvin malah menyela,
“kamu
cinta sama aku ?” Tanya Alvin, aku mengangguk,
“kalo
begitu, aku boleh minta sesuatu dari kamu ?” Tanya Alvin lagi,
“a..apa
?” Tanya ku ragu, Alvin menghela nafas panjang, ia seperti sedang menahan
tangisannya,
“putusin
aku sekarang juga..” aku tersentak hebat mendengarkan permintaan Alvin, kenapa
tiba-tiba Alvin meminta hal yang sangat janggal padaku, bukankah kalau ia mau
ia bisa saja memutuskan aku langsung, lalu kenapa ia malah meminta aku yang
memutuskan hubungan kami ? ada apa ini ?
“A..Alvin..?”
“iya
Vi putusin aku sekarang juga !” air mataku mulai menetes dan aku sudah tak
sanggup lagi menahan isakkanku,
“hik..hik..tapi
kenapa Vin, kenapa kamu minta aku buat mutusin kamu ? aku ga’ bisa, aku sayang
banget sama kamu, aku ga’ bisa mutusin kamu, aku ga’ bisa, hik..hik..”
“kalo
kamu ga’ bisa berarti akulah yang akan mutusin kamu “ mendengar ucapan Alvin,
aku hanya menggeleng berkali-kali sambil terus berkata TIDAK didalam hatiku.
“KITA
PUTUS !” seru Alvin tegas tapi dengan nada yang sedikit bergetar. Baru saja
Alvin melangkah, aku kembali menahannya, aku bersujud sambil memeluk kaki
Alvin,
“plis
Vin jangan kaya’ gini, kita udah pacaran 4 tahun, dan kamu ga’ bisa ngeakhirin
semuanya gitu aja, hik..hik..”
“Via,
lepas kaki aku, aku harus pergi !” aku menggeleng sambil terus menangis
terisak,
“apa
salah aku Vin, apa kurangnya aku, pliss kamu ngomong supaya aku bisa berubah,
Alvin pliss..” tanpa berkata apa-apa, Alvin menunduk lalu melepaskan tanganku
dari kakinya, setelah ia berhasil melepaskan tanganku, Alvin kembali
melanjutkan perjalanannya. Langkah Alvin terhenti saat Rio secara tiba-tiba
muncul dihadapannya lalu mendaratkan sebuah pukulan yang keras diwajah Alvin,
darah segar menetes dari bibir Alvin, Rio kembali memukul Alvin, bukannya
melawan, Alvin malah pasrah dihajar oleh Rio tanpa melakukan perlawanan
sedikitpun,
“brengsek
lo Vin, lo Cuma bisa nyakitin Via doang, lo bener-bener ga’ punya hati..” ucap
Rio dengan amarah yang memuncak, Alvin tetap diam,
“LO
JANGAN MUNCUL LAGI DIHADAPAN VIA, KALO LO BERANI MUNCUL DIHADAPAN VIA, GUE
BUNUH LO..!” ancam Rio, sungguh aku tak pernah melihat Rio semarah ini
sebelumnya.
Aku
yang sudah tidak sanggup lagi melihat Alvin dihajar seperti itu langsung
menghampiri Alvin dan Rio, aku duduk disamping Alvin lalu memeluk pundaknya
agar Rio tidak memukulinya lagi,
“plis
Yo jangan saikitin Alvin lagi !” pintaku pada Rio,
“tapi
Vi, dia udah nyakitin kamu..”
“tapi
aku ga’ mau Alvin terluka, aku ga’ mau dia sakit..” Alvin berdecak lalu
melepaskan pelukanku darinya. Tanpa berkata apa-apa, Alvin pergi dan
meninggalkan ku bersama Rio. Saat Rio akan mengejar Alvin aku langsung
menahannya,
“jangan
Yo, biarin Alvin pergi..”
“tapi
Vi..”
“AKU
BILANG BIARIN ALVIN PERGI…” Bentakku tanpa sadar, Rio duduk disampingku lalu
memelukku dengan erat,
“hik..hik..aku
sayang Alvin, sayaaang banget..” Rio semakin mengeratkan pelukannya padaku,
ah..andai saja yang memelukku ini adalah Alvin dan bukan Rio,
“Alvin
ga’ pantes buat kamu sayang, mending kamu lupain dia, dan jangan nginget dia
lagi..”
“aku
ga’ bisa Yo..”
“kamu
pasti bisa, percaya sama aku “
^_^
Maka
sejak hari itu aku berusaha melupakan Alvin. Tapi semakin aku berusaha untuk
melupakan Alvin, semakin aku mencintainya, aku tak mengerti dengan apa yang aku
rasakan saat ini, bukankah Alvin sudah menyakitiku, lalu kenapa aku masih saja
mencintainya ?
Sebulan
berlalu, dan selama sebulan ini aku tak pernah melihat kehadiran Alvin
disekolah ? kemana dia ? apa dia pindah sekolah ? tapi jika memang itu yang
terbaik buat kami,maka aku akan berusaha untuk ikhlas.
Aku
tak bisa melawan perasaan rindu ini, perasaan dendamku pada Alvin ternyata tak
mampu mengalahkan rasa rinduku pada Alvin, aku merindukan Alvin. Demi apapun
itu aku ingin melihat Alvin.
“aku
sudah tau semuanya, Via..” ucap Rio sembari disampingku, suasana kelas sepi,
yang ada hanya aku dan Rio. Aku menatap Rio dengan wajah bertanya,
“apa
yang kamu tau ?” Rio terlihat berfikir, ia menghela nafas panjang lantas
menjawab pertanyaanku,
“aku
tau kenapa Alvin berubah seperti itu ?” aku terkejut, apa yang Rio tahu tentang
perubahan yang terjadi pada Alvin ? aku yang penasaran langsung bertanya pada
Rio tanpa membuang-buang waktu lagi,
“kenapa
?”
“Alvin..”
ucap Rio ragu, aku menggenggam tangan Rio erat,
“Alvin
kenapa ?” Rio menunduk dalam,
“Alvin
terkena leukimia stadium akhir, Dokter sudah angkat tangan dan tidak bisa
memastikan sampai kapan Alvin bisa bertahan..” jawab Rio dengan nada yang
sangat menyesal. Air mataku menetes secara perlahan, aku tak percaya dengan apa
yang Rio ucapkan, aku berusaha tertawa,
“hehehe..kamu
becanda kan Yo, hehe..iya, kamu becanda, hehehe..” aku tertawa sambil menangis,
Rio menatapku dengan tatapan yang prihatin,
“Via,
aku ga’ becanda, dan penyakitnya inilah yang membuat Alvin terpaksa nyakitin
kamu selama ini, Alvin ga’ mau kamu punya pacar yang penyakitan kaya’ dia, dan
mesti kamu tau Vi, tiap Alvin nyakitin kamu, dia pasti akan menyakiti dirinya
juga..” aku terhenyuk mendengarkan pernyataan Rio, ternyata aku telah salah
paham pada Alvin,
“hik..hik..”
aku tak sanggup berkata apa-apa lagi, yang terdengar hanyalah suara isakkan ku
saja yang semakin lama semakin kencang saja.
“Alvin
mencintai kamu Vi, dan selalu mencintai kamu..”
“hikk..hik..hik..Alvin,
Alviinn..”
“waktu
Alvin ga’ banyak lagi Vi, sebenernya Alvin ga’ mau kamu tau tentang semua ini,
tapi aku terpaksa aku tau kamu..” Sivia
menyeka air matanya lalu berkata pada Rio,
“dimana
Alvin ? Alvin dimana ?”
“sekarang
Alvin lagi dirawat dirumah sakit”
“anterin
aku !”
“tapi
Vi..”
“plis
Yo, anterin aku..”
^_^
Tibalah
aku dan Rio disebuah ruangan salah satu rumah sakit. Aku berdiri dan menatap
Alvin yang waktu itu tengah terbaring lemah tak berdaya. Air mataku kembali
menetes, sungguh aku tak sanggup melihat pemandangan itu, pemandangan yang
betul-betul menyesakkan dadaku. Alvin begitu mencintaiku, bahkan saking
besarnya rasa cintanya padaku, ia tak mau melihat aku bersedih gara-gara
penyakit yang saat ini ia derita. Menyadari aku hanya ingin berdua saja dengan
Alvin, Riopun meninggalkan ruangan Alvin.
Aku
melangkah lebih mendekat lagi kearah Alvin, aku berusaha meredam suara
isakkanku supaya tak menganggu istirahat Alvin. Aku duduk ditepi kasur Alvin,
secara perlahan aku mengangkat tanganku lalu menyentuh wajah Alvin yang sudah
lama tak pernah aku sentuh. Air mata ku semakin deras menetes melihat wajah
pucat Alvin. Air mataku menetes dan jatuh pas diwajah Alvin, saat itulah Alvin
langsung terbangun dari tidurnya, ia membuka matanya secara perlahan lalu
menatapku,
“Via..?”
ucapnya lemah, aku yang sudah tak sanggup lagi melihat Alvin langsung
memeluknya, isakkan ku semakin kuat,
“hik..hik..maafin
aku, maafin aku, hikk..hikk..” Alvin membelai lembut rambutku,
“kamu
ga’ salah, yang salah itu aku, maafin aku..” aku melepaskan pelukanku dari
Alvin, aku memegang kedua pipinya lantas berkata,
“kenapa
kamu ga’ pernah bilang tentang penyakit kamu ke aku Vin ? kenapa kamu
sembunyiin semuanya dari aku, kenapa ? hikk..hik..”
“aku
Cuma ga’ mau kamu sedih gara-gara kamu tau tentang penyakit aku..” tangisanku
semakin kencang, Alvinpun meletakkan jari telunjuk tangannya dibibirku,
“husss,
kamu jangan cengeng dong, kamu harus senyum, sebentar lagi malaikat mau dateng
jemput aku, dan aku mau disaat-saat terakhir aku ini kamu tersenyum, biar aku
bisa pergi dengan tenang “ aku menggeleng berkali-kali,
“enggak..kamu
ga’ boleh pergi ninggalin aku, kalo kamu pergi aku ikut, pokoknya kamu ga’
boleh pergi” akupun kembali memeluk Alvin,
“Cinta
kamu ke aku dan cinta aku ke kamu, itulah yang bikin aku bertahan hidup selama
ini, cinta kita yang bikin aku kuat, tapi hari ini aku udah ga’ sanggup lagi,
aku lelah, aku mau istirahat..” aku menggeleng lagi, aku tak sanggup
mengeluarkan sepatah katapun. Alvin melepaskan pelukanku, kali ini ia memegang
wajahku menggunakan kedua tanganya yang lemah, Alvin tersenyum tenang, lalu
berkata,
“aku
cinta kamu, dan selamanya akan tetep cinta sama kamu..”
“aku
juga…” Alvin tersenyum, tapi ia sama sekali tak bisa menghilangkan raut sedih
yang tergores diwajah tampannya, Alvin mendorong pelan kepalaku hingga wajah
kami berdekatan, aku memejamkan mataku sambil meneteskan air mata, Alvin pun
akhirnya mencium bibirku dengan lembut. Aku betul-betul menikmati suasan indah
itu, sebuah suasana yang mungkin takkan bisa aku rasakan lagi. Alvin
memindahkan tangannya keatas punggungku dan membiarkan tubuh kami berdekatan
satu sama lain, pada hitungan ke 30 Alvin melepaskan ciumannya, ia kembali
memegang wajahku, Alvin berusaha tersenyum,
“sekarang
aku udah boleh pergi kan ?” Tanya Alvin lirih, aku menggeleng, akupun mencium
Alvin setelah tadi ia yang menciumku, 2 detik kemudian, aku menjauhkan wajahku
dari wajah Alvin,
“enggak..aku
bilang kamu ga’ boleh pergi, kamu harus sembuh..harus..” Alvin membelai
wajahku, ia tetap tersenyum,
“dalam
hidup ini ga’ ada yang abadi, kita sebagai manusia hanya bisa ikhlas, ikhlaas,
ada awal jelas ada akhir, dan cinta hanya cerita tentang yang meninggalkan dan
yang ditinggalkan, kita akan selalu berada dalam posisi itu, dan saat ini aku
yang ada dalam posisi meninggalkan, dan kamu yang ditinggalkan, tapi
percayalah, Tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang sangat indah dibalik semua itu..”
aku tak sanggup mendengarkan ucapan Alvin itu, sama sekali tak sanggup, aku tak
ingin kehilangan Alvin, sungguh aku tak ingin Tuhan memanggil Alvin sekarang.
“cintai
dia yang mencintai kamu, Vi..”
“ma..maksud
kamu..?” Alvin tersenyum,
“Rio
cowok yang baik, aku yakin, dia bisa bahagiain kamu..”
Rio
pun memasuki ruangan Alvin, ia mendekat kearah aku dan Alvin lalu berdiri
disamping kanan Alvin. Alvin menatapku dan Rio secara bergantian, aku mulai
bertanya, apa yang akan Alvin lakukan ?
Alvin meraih tanganku dan meraih
tangan Rio, Alvin pun menyatukan tangan kami,
“Yo,
gue titip Via, jaga dia baik-baik, gantiin posisi gue baik dihidup maupun
dihatinya dia..” berkali-kali aku menggeleng saat mendengarkan ucapan Alvin,
kali ini Alvin menatapku, ia menyeka air mataku,
“Rio
sangat mencintai kamu Vi, dan cintailah CINTA itu..” aku melihat Rio yang waktu
itu tengah menunduk dalam, dan aku tak pernah menyangka sebelumnya, bahwa
ternyata Rio diam-dima telah menyimpan rasa untukku.
“s..sekarang
su..susah saatnya..” ucap Alvin lirih,,
“Alvin,
plis kamu jangan ngomong kaya’ gitu Vin, pliss..”
“selamat
tinggal Vi, aku cinta sama kamu, dan aku akan selalu nungguin kamu didepan
pintu surga, kelak kita akan bertemu disana, sekali lagi aku bilang,
aku..cin..cinta ka..mu..” genggaman tangan Alvin terlepas dari tangan ku dan
tangan Rio, Rio langsung pergi dari ruangan Alvin tanpa berkata apa-apa lagi,
aku tahu bagaimana perasaannya.
Aku
menangis hiseteris dan berusaha mengguncangkan tubuh Alvin berharap Alvin hanya
tertidur,
“ALVIIN
BANGUN, ALVIN JANGAN TINGGALIN AKU, AKU GA’ BISA TANPA KAMU VIN, PLISS BANGUNN,
ALVIN, ALVIIINNN…..”
Seorang
Dokter dan 2 orang suster pun memasuki ruangan Alvin, salah seorang suster
berusaha menjauhkan aku dari Alvin, tapi aku bersikeras, tak ingin dijauhkan
dari Alvin,
“Alvin
belum pergi, dia Cuma tertidur..”
“anda
harus keluar Mbak..”
“tidak,
aku mau tetep disini, aku mau jagain Alvin sampai dia bangun, ALVIN BANGUN VIN,
ALVIN BANGUUN..”
Saat
itu juga Rio datang, ia menarik lenganku dan berusaha untuk menenangkan
perasaanku,
“Via,
kamu yang ikhlas, ini sudah jalan takdir..”
“ga’
Yo, Alvin masih hidup, dia Cuma tertidur, kamu percaya dong sama aku, Alvin
Cuma tertidur..”
“Via,
udah Vi…” aku menggeleng berkali-kali sambil menatap Alvin, saat Dokter secara
perlahan menutupi tubuh Alvin menggunakan sebuah kain putih aku semakin
histeris,
“JANGAAANN…ALVIN
BELUM MENINGGAL, DIA MASIH HIDUP, hik..hik..”
“VIA,
ALVIN SUDAH PERGI, KAMU SADAR DONG, ALVIN SUDAH GA’ ADA…” bentak Rio,
“enggak
Yo, enggak…”
“BUKA
MATA KAMU VI, DENGAN KAMU KAYA’ GINI ITU GA’ AKAN NGEMBALIIN ALVIN, KAMU HARUS
IKHLAS…” aku mulai melemah lalu secara perlahan memeluk Rio, dalam pelukan Rio
isakkan ku semakin kuat, Rio membelai lembut rambutku.
“hik..hik..Alvin,
Alvin, hik…hik ALVIIIINNN….”
^_^
“yang
terjadi,biar saja terjadi, bagai menempuh hidup,
Hanya
cerita,
Cerita
tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan..
Ooww..C
I N T A…”
Sivia menyelesaikan lagu kesukaan
Alvin itu dengan linangan air mata yang menetes deras dari kedua mata indahnya,
demi Alvin ia berusaha untuk tegar..
Kehilangan Alvin sempat membuat Sivia terpuruk selama
beberapa minggu, tapi karna kegigihan Rio, Sivia bisa sedikit lebih tenang.
Seperti yang Alvin minta, Sivia
berusaha mencintai Rio, meskipun sulit, tapi Sivia terus berusaha.
“ini udah siang, kita pulang ya..?”
ucap Rio dari belakang Sivia. Sivia menyeka air matanya dan berusaha terlihat
baik-baik saja, ia pun menoleh kearah Rio sambil tersenyum sangat manis,
“ya udah, kita pulang..” Rio
mengulurkan tangannya, lalu Sivia dengan senang hati menyambut uluran tangan
Rio..
THE END..



ka miy ini udah kelihatan dari judulnya udah nyesek.. keren ka...
ReplyDeletenumpang promo yaa ka miy.. kunjungi blog gue yaa..
obat pelangsing herbal,obat pelangsing herbal