Wednesday, May 1, 2013

1

C I N T A (Cerpen AlVia)



C I N T A

(Ketika Aku Berusaha Untuk Tetap Tegar)
                                                    
“Cerita tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan,
Oohh..cinta..”


            Alunan lagu CINTA dari miliknya Melly Goeslow feat Krisdayanti mengalun dengan merdu dari sebuah ruangan disalah satu aula sebuah sekolah SMA international. Rio tengah memperhatikan gadis cantik itu dengan seksama. Rupanya gadis cantik berambut panjang itulah yang tengah menyanyikan lagu itu, sebuah lagu CINTA yang benar-benar menggambarkan isi hatinya saat ini, sebuah lagu yang mewakili perasaannya.
            Rio mengerti apa yang terjadi, bahkan sangat mengerti.  Gadis itu memejamkan matanya, ingatannya pun kembali ke masa lalu, masa lalunya yang begitu indah …

Flash Back Sivia
            “Alvin, kamu kenapa sih kaya’ gini ?” tanyaku pada Alvin dengan emosi yang memuncak, Alvin terlihat santai dan tak terlihat merasa bersalah sedikitpun atas kesalahannya padaku.
            Apa yang akan terjadi, apabila kita melihat bahkan sering melihat kekasih yang kita cintai selingkuh didepan mata kita sendiri tanpa memikirkan hancurnya perasaan kita ? ya… hal menyedihkan itu kini tengah terjadi pada nasib kisah cinta ku yang malang. Alvin, adalah sosok pemuda sempurna yang sangat aku cintai, berkali-kali ia menyakitiku aku tetap tak bisa membencinya.
            Selama beberapa bulan terakhir ini, Alvin lebih sering membuat aku terluka, sakit dan menangis, entah setan mana yang sudah merasuki kekasih tercintaku hingga ia tega melakukan hal itu padaku. Berkali-kali aku sering memergokinya tengah jalan bersama gadis lain, tak jarang juga ia sering menggoda gadis lain saat aku tengah jalan bersamanya, sakit yang menderaku saat semua itu terjadi ternyata tak mampu mengetuk pintu hati Alvin, Tuhan apa salahku ?
            “kamu kenapa sih marah-marah terus kerjaannya, ga’ bosen apa ?” Tanya Alvin sinis, aku menghela nafas panjang, butiran-butiran bening mulai menetes dari pelupuk mataku, tapi Alvin tak sedikitpun melunak,
            “gimana aku ga’ marah, kamu selalu kaya’ gitu dihadapan aku, kamu ga’ mikirin bagaimana perasaan aku ? aku punya hati Vin, AKU SAKIT kamu ngerti ga’ sih ?”
            “kamunya aja yang sensi, aku Cuma berteman sama cewek-cewek itu..”
            “ga’ gitu caranya berteman, itu selingkuh namanya..”
            “terserah kamu mau nyebut itu apa, aku ga’ peduli, dan kamu juga sebaiknya ga’ usah ngurusin aku lagi deh..”
            Ucapan Alvin yang terakhir itu membuat dadaku sesak. Bagaimana bisa Alvin menyruhku untuk tidak mengurusinya lagi, dia pacarku yang sudah aku pacari selama hampir 4 tahun, lalu kenapa sekarang Alvin malah dengan mudahnya berkata seperti itu ?
            “Alvin aku masih PACAR kamu, dan kamu ga’ berhak berkata seperti itu sama aku “
            “kamu Cuma PACAR aku Vi, bukan istri aku, ingat itu..!”
            “ALVIN…??” ucapku nyaris tak percaya,
            “udah deh Vi,  aku capek sama kamu, mulai sekarang terserah kamu ngelakuin apa aja, aku ga’ peduli, ngerti kamu..”
            Saat Alvin akan melangkah pergi aku langsung menahan lengannya lantas berkata,
            “ma..maksud kamu..?”
            Bukannya menjawab pertanyaanku Alvin malah pergi begitu saja tanpa sedikitpun menoleh kebelakang. Apa arti ucapan Alvin tadi ? apa itu artinya dia memutuskan hubungan kami ? tidak, aku tidak akan pernah rela putus dari Alvin, aku sayang dia, dan aku tidak mau kehilangan Alvin apapun yang terjadi, aku ingin tetap bersama Alvin.
            4 tahun sudah aku menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih dengan Alvin. Selama 4 tahun berpacaran dengannya, tak pernah sekalipun Alvin menyakiti perasaanku, malahan selama 4 tahun ini akulah yang lebih banyak menyakiti Alvin dengan sikap manjaku dan kecerewetanku, tapi meski begitu Alvin tetap sabar dalam menghadapiku.
            3 bulan yang lalu, sosok Alvin yang aku cintai, tiba-tiba saja berubah menjadi sosok yang tak pernah aku kenal sebelumnya, ia dingin, sedikit jahat, dan tak pernah sekalipun memperdulikan aku, Alvin juga tak pernah memanjakan aku lagi, kemana Alvinku yang dulu ? aku benar-benar merindukan dia.
            Hari-hari berlalu, aku menjalani hubungan tanpa status dengan Alvin, sungguh ini bukan mauku, sama sekali bukan mau ku, aku selalu meminta kepastian pada Alvin tentang hubungan kami yang sekarang, tapi Alvin selalu saja menghindariku, ia menghindariku seolah-olah aku sedang mengidap penyakit menular yang sangat mematikan.
            Mungkin hanya Rio yang akhir-akhiran lebih sering menemaniku, Rio adalah sahabat terdekat Alvin, ia tau semua tentang Alvin, tapi hanya ada satu hal yang Rio tak pernah tau dari  Alvin, dan hal itu adalah, kenapa tiba-tiba sikap Alvin berubah padaku, Rio juga tak mengerti, ia sering mencoba untuk mencari tahu, tapi selalu saja tak pernah berhasil, aku sempat putus asa dan berfikir, ‘Mungkin Alvin telah bosan denganku’
            Semenjak Alvin menghindariku, maka sejak saat itu aku tak pernah merasa memiliki seorang pacar, aku kesepian, jika bukan karna cintaku pada Tuhan dan kedua orang tuaku, mungkin saat ini aku sudah lebih memilih untuk mengakhiri hidupku, berlebihan memang kedengarannya, tapi aku sangat mencintai Alvin dan aku sama sekali tak bisa hidup tanpanya, aku selalu berharap, semoga kelak, Tuhan mengembalikan Alvin seperti sedia kala, sungguh aku sangat merindukan Alvin yang dulu.
            “kamu harus kuat Vi..” ucap Rio padaku memberi semangat, meski berkali-kali Rio mencoba memberi  semangat untukku, tapi tetap saja aku tak bisa sesemangat dulu ketika aku  masih bersama Alvin. Saat sedang bersama Rio aku melihat Alvin yang waktu itu tengah berjalan sendiri, aku berlari kecil dan menghampiri Alvin, aku menarik lengannya,
            “Vin, aku..”
            “kamu mau apa lagi Via ? marah-marah lagi ?” Tanya Alvin,
            “aku minta maaf Vin..” sebenarnya aku tak mau berkata seperti itu, karna aku tau bahwa bukan aku yang salah tetapi Alvin.
            “buat apa kamu minta maaf ?”
            “Vin..” sebelum aku sempat menyelesaikan ucapanku, Alvin malah menyela,
            “kamu cinta sama aku ?” Tanya Alvin, aku mengangguk,
            “kalo begitu, aku boleh minta sesuatu dari kamu ?” Tanya Alvin lagi,
            “a..apa ?” Tanya ku ragu, Alvin menghela nafas panjang, ia seperti sedang menahan tangisannya,
            “putusin aku sekarang juga..” aku tersentak hebat mendengarkan permintaan Alvin, kenapa tiba-tiba Alvin meminta hal yang sangat janggal padaku, bukankah kalau ia mau ia bisa saja memutuskan aku langsung, lalu kenapa ia malah meminta aku yang memutuskan hubungan kami ? ada apa ini ?
            “A..Alvin..?”
            “iya Vi putusin aku sekarang juga !” air mataku mulai menetes dan aku sudah tak sanggup lagi menahan isakkanku,
            “hik..hik..tapi kenapa Vin, kenapa kamu minta aku buat mutusin kamu ? aku ga’ bisa, aku sayang banget sama kamu, aku ga’ bisa mutusin kamu, aku ga’ bisa, hik..hik..”
            “kalo kamu ga’ bisa berarti akulah yang akan mutusin kamu “ mendengar ucapan Alvin, aku hanya menggeleng berkali-kali sambil terus berkata TIDAK didalam hatiku.
            “KITA PUTUS !” seru Alvin tegas tapi dengan nada yang sedikit bergetar. Baru saja Alvin melangkah, aku kembali menahannya, aku bersujud sambil memeluk kaki Alvin,
            “plis Vin jangan kaya’ gini, kita udah pacaran 4 tahun, dan kamu ga’ bisa ngeakhirin semuanya gitu aja, hik..hik..”
            “Via, lepas kaki aku, aku harus pergi !” aku menggeleng sambil terus menangis terisak,
            “apa salah aku Vin, apa kurangnya aku, pliss kamu ngomong supaya aku bisa berubah, Alvin pliss..” tanpa berkata apa-apa, Alvin menunduk lalu melepaskan tanganku dari kakinya, setelah ia berhasil melepaskan tanganku, Alvin kembali melanjutkan perjalanannya. Langkah Alvin terhenti saat Rio secara tiba-tiba muncul dihadapannya lalu mendaratkan sebuah pukulan yang keras diwajah Alvin, darah segar menetes dari bibir Alvin, Rio kembali memukul Alvin, bukannya melawan, Alvin malah pasrah dihajar oleh Rio tanpa melakukan perlawanan sedikitpun,
            “brengsek lo Vin, lo Cuma bisa nyakitin Via doang, lo bener-bener ga’ punya hati..” ucap Rio dengan amarah yang memuncak, Alvin tetap diam,
            “LO JANGAN MUNCUL LAGI DIHADAPAN VIA, KALO LO BERANI MUNCUL DIHADAPAN VIA, GUE BUNUH LO..!” ancam Rio, sungguh aku tak pernah melihat Rio semarah ini sebelumnya.
            Aku yang sudah tidak sanggup lagi melihat Alvin dihajar seperti itu langsung menghampiri Alvin dan Rio, aku duduk disamping Alvin lalu memeluk pundaknya agar Rio tidak memukulinya lagi,
            “plis Yo jangan saikitin Alvin lagi !” pintaku pada Rio,
            “tapi Vi, dia udah nyakitin kamu..”
            “tapi aku ga’ mau Alvin terluka, aku ga’ mau dia sakit..” Alvin berdecak lalu melepaskan pelukanku darinya. Tanpa berkata apa-apa, Alvin pergi dan meninggalkan ku bersama Rio. Saat Rio akan mengejar Alvin aku langsung menahannya,
            “jangan Yo, biarin Alvin pergi..”
            “tapi Vi..”
            “AKU BILANG BIARIN ALVIN PERGI…” Bentakku tanpa sadar, Rio duduk disampingku lalu memelukku dengan erat,
            “hik..hik..aku sayang Alvin, sayaaang banget..” Rio semakin mengeratkan pelukannya padaku, ah..andai saja yang memelukku ini adalah Alvin dan bukan Rio,
            “Alvin ga’ pantes buat kamu sayang, mending kamu lupain dia, dan jangan nginget dia lagi..”
            “aku ga’ bisa Yo..”
            “kamu pasti bisa, percaya sama aku “

^_^
            Maka sejak hari itu aku berusaha melupakan Alvin. Tapi semakin aku berusaha untuk melupakan Alvin, semakin aku mencintainya, aku tak mengerti dengan apa yang aku rasakan saat ini, bukankah Alvin sudah menyakitiku, lalu kenapa aku masih saja mencintainya ?
            Sebulan berlalu, dan selama sebulan ini aku tak pernah melihat kehadiran Alvin disekolah ? kemana dia ? apa dia pindah sekolah ? tapi jika memang itu yang terbaik buat kami,maka aku akan berusaha untuk ikhlas.
            Aku tak bisa melawan perasaan rindu ini, perasaan dendamku pada Alvin ternyata tak mampu mengalahkan rasa rinduku pada Alvin, aku merindukan Alvin. Demi apapun itu aku ingin melihat Alvin.
            “aku sudah tau semuanya, Via..” ucap Rio sembari disampingku, suasana kelas sepi, yang ada hanya aku dan Rio. Aku menatap Rio dengan wajah bertanya,
            “apa yang kamu tau ?” Rio terlihat berfikir, ia menghela nafas panjang lantas menjawab pertanyaanku,
            “aku tau kenapa Alvin berubah seperti itu ?” aku terkejut, apa yang Rio tahu tentang perubahan yang terjadi pada Alvin ? aku yang penasaran langsung bertanya pada Rio tanpa membuang-buang waktu lagi,
            “kenapa ?”
            “Alvin..” ucap Rio ragu, aku menggenggam tangan Rio erat,
            “Alvin kenapa ?” Rio menunduk dalam,
            “Alvin terkena leukimia stadium akhir, Dokter sudah angkat tangan dan tidak bisa memastikan sampai kapan Alvin bisa bertahan..” jawab Rio dengan nada yang sangat menyesal. Air mataku menetes secara perlahan, aku tak percaya dengan apa yang Rio ucapkan, aku berusaha tertawa,
            “hehehe..kamu becanda kan Yo, hehe..iya, kamu becanda, hehehe..” aku tertawa sambil menangis, Rio menatapku dengan tatapan yang prihatin,
            “Via, aku ga’ becanda, dan penyakitnya inilah yang membuat Alvin terpaksa nyakitin kamu selama ini, Alvin ga’ mau kamu punya pacar yang penyakitan kaya’ dia, dan mesti kamu tau Vi, tiap Alvin nyakitin kamu, dia pasti akan menyakiti dirinya juga..” aku terhenyuk mendengarkan pernyataan Rio, ternyata aku telah salah paham pada Alvin,
            “hik..hik..” aku tak sanggup berkata apa-apa lagi, yang terdengar hanyalah suara isakkan ku saja yang semakin lama semakin kencang saja.
            “Alvin mencintai kamu Vi, dan selalu mencintai kamu..”
            “hikk..hik..hik..Alvin, Alviinn..”
            “waktu Alvin ga’ banyak lagi Vi, sebenernya Alvin ga’ mau kamu tau tentang semua ini, tapi aku terpaksa aku  tau kamu..” Sivia menyeka air matanya lalu berkata pada Rio,
            “dimana Alvin ? Alvin dimana ?”
            “sekarang Alvin lagi dirawat dirumah sakit”
            “anterin aku !”
            “tapi Vi..”
            “plis Yo, anterin aku..”
^_^
            Tibalah aku dan Rio disebuah ruangan salah satu rumah sakit. Aku berdiri dan menatap Alvin yang waktu itu tengah terbaring lemah tak berdaya. Air mataku kembali menetes, sungguh aku tak sanggup melihat pemandangan itu, pemandangan yang betul-betul menyesakkan dadaku. Alvin begitu mencintaiku, bahkan saking besarnya rasa cintanya padaku, ia tak mau melihat aku bersedih gara-gara penyakit yang saat ini ia derita. Menyadari aku hanya ingin berdua saja dengan Alvin, Riopun meninggalkan ruangan Alvin.
            Aku melangkah lebih mendekat lagi kearah Alvin, aku berusaha meredam suara isakkanku supaya tak menganggu istirahat Alvin. Aku duduk ditepi kasur Alvin, secara perlahan aku mengangkat tanganku lalu menyentuh wajah Alvin yang sudah lama tak pernah aku sentuh. Air mata ku semakin deras menetes melihat wajah pucat Alvin. Air mataku menetes dan jatuh pas diwajah Alvin, saat itulah Alvin langsung terbangun dari tidurnya, ia membuka matanya secara perlahan lalu menatapku,
            “Via..?” ucapnya lemah, aku yang sudah tak sanggup lagi melihat Alvin langsung memeluknya, isakkan ku semakin kuat,
            “hik..hik..maafin aku, maafin aku, hikk..hikk..” Alvin membelai lembut rambutku,
            “kamu ga’ salah, yang salah itu aku, maafin aku..” aku melepaskan pelukanku dari Alvin, aku memegang kedua pipinya lantas berkata,
            “kenapa kamu ga’ pernah bilang tentang penyakit kamu ke aku Vin ? kenapa kamu sembunyiin semuanya dari aku, kenapa ? hikk..hik..”
            “aku Cuma ga’ mau kamu sedih gara-gara kamu tau tentang penyakit aku..” tangisanku semakin kencang, Alvinpun meletakkan jari telunjuk tangannya dibibirku,
            “husss, kamu jangan cengeng dong, kamu harus senyum, sebentar lagi malaikat mau dateng jemput aku, dan aku mau disaat-saat terakhir aku ini kamu tersenyum, biar aku bisa pergi dengan tenang “ aku menggeleng berkali-kali,
            “enggak..kamu ga’ boleh pergi ninggalin aku, kalo kamu pergi aku ikut, pokoknya kamu ga’ boleh pergi” akupun kembali memeluk Alvin,
            “Cinta kamu ke aku dan cinta aku ke kamu, itulah yang bikin aku bertahan hidup selama ini, cinta kita yang bikin aku kuat, tapi hari ini aku udah ga’ sanggup lagi, aku lelah, aku mau istirahat..” aku menggeleng lagi, aku tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun. Alvin melepaskan pelukanku, kali ini ia memegang wajahku menggunakan kedua tanganya yang lemah, Alvin tersenyum tenang, lalu berkata,
            “aku cinta kamu, dan selamanya akan tetep cinta sama kamu..”
            “aku juga…” Alvin tersenyum, tapi ia sama sekali tak bisa menghilangkan raut sedih yang tergores diwajah tampannya, Alvin mendorong pelan kepalaku hingga wajah kami berdekatan, aku memejamkan mataku sambil meneteskan air mata, Alvin pun akhirnya mencium bibirku dengan lembut. Aku betul-betul menikmati suasan indah itu, sebuah suasana yang mungkin takkan bisa aku rasakan lagi. Alvin memindahkan tangannya keatas punggungku dan membiarkan tubuh kami berdekatan satu sama lain, pada hitungan ke 30 Alvin melepaskan ciumannya, ia kembali memegang wajahku, Alvin berusaha tersenyum,
            “sekarang aku udah boleh pergi kan ?” Tanya Alvin lirih, aku menggeleng, akupun mencium Alvin setelah tadi ia yang menciumku, 2 detik kemudian, aku menjauhkan wajahku dari wajah Alvin,
            “enggak..aku bilang kamu ga’ boleh pergi, kamu harus sembuh..harus..” Alvin membelai wajahku, ia tetap tersenyum,
            “dalam hidup ini ga’ ada yang abadi, kita sebagai manusia hanya bisa ikhlas, ikhlaas, ada awal jelas ada akhir, dan cinta hanya cerita tentang yang meninggalkan dan yang ditinggalkan, kita akan selalu berada dalam posisi itu, dan saat ini aku yang ada dalam posisi meninggalkan, dan kamu yang ditinggalkan, tapi percayalah, Tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang sangat indah dibalik semua itu..” aku tak sanggup mendengarkan ucapan Alvin itu, sama sekali tak sanggup, aku tak ingin kehilangan Alvin, sungguh aku tak ingin Tuhan memanggil Alvin sekarang.
            “cintai dia yang mencintai kamu, Vi..”
            “ma..maksud kamu..?” Alvin tersenyum,
            “Rio cowok yang baik, aku yakin, dia bisa bahagiain kamu..”
            Rio pun memasuki ruangan Alvin, ia mendekat kearah aku dan Alvin lalu berdiri disamping kanan Alvin. Alvin menatapku dan Rio secara bergantian, aku mulai bertanya, apa yang akan Alvin lakukan ?
Alvin meraih tanganku dan meraih tangan Rio, Alvin pun menyatukan tangan kami,
            “Yo, gue titip Via, jaga dia baik-baik, gantiin posisi gue baik dihidup maupun dihatinya dia..” berkali-kali aku menggeleng saat mendengarkan ucapan Alvin, kali ini Alvin menatapku, ia menyeka air mataku,
            “Rio sangat mencintai kamu Vi, dan cintailah CINTA itu..” aku melihat Rio yang waktu itu tengah menunduk dalam, dan aku tak pernah menyangka sebelumnya, bahwa ternyata Rio diam-dima telah menyimpan rasa untukku.
            “s..sekarang su..susah saatnya..” ucap Alvin lirih,,
            “Alvin, plis kamu jangan ngomong kaya’ gitu Vin, pliss..”
            “selamat tinggal Vi, aku cinta sama kamu, dan aku akan selalu nungguin kamu didepan pintu surga, kelak kita akan bertemu disana, sekali lagi aku bilang, aku..cin..cinta ka..mu..” genggaman tangan Alvin terlepas dari tangan ku dan tangan Rio, Rio langsung pergi dari ruangan Alvin tanpa berkata apa-apa lagi, aku tahu bagaimana perasaannya.
            Aku menangis hiseteris dan berusaha mengguncangkan tubuh Alvin berharap Alvin hanya tertidur,
            “ALVIIN BANGUN, ALVIN JANGAN TINGGALIN AKU, AKU GA’ BISA TANPA KAMU VIN, PLISS BANGUNN, ALVIN, ALVIIINNN…..”
            Seorang Dokter dan 2 orang suster pun memasuki ruangan Alvin, salah seorang suster berusaha menjauhkan aku dari Alvin, tapi aku bersikeras, tak ingin dijauhkan dari Alvin,
            “Alvin belum pergi, dia Cuma tertidur..”
            “anda harus keluar Mbak..”
            “tidak, aku mau tetep disini, aku mau jagain Alvin sampai dia bangun, ALVIN BANGUN VIN, ALVIN BANGUUN..”
            Saat itu juga Rio datang, ia menarik lenganku dan berusaha untuk menenangkan perasaanku,
            “Via, kamu yang ikhlas, ini sudah jalan takdir..”
            “ga’ Yo, Alvin masih hidup, dia Cuma tertidur, kamu percaya dong sama aku, Alvin Cuma tertidur..”
            “Via, udah Vi…” aku menggeleng berkali-kali sambil menatap Alvin, saat Dokter secara perlahan menutupi tubuh Alvin menggunakan sebuah kain putih aku semakin histeris,
            “JANGAAANN…ALVIN BELUM MENINGGAL, DIA MASIH HIDUP, hik..hik..”
            “VIA, ALVIN SUDAH PERGI, KAMU SADAR DONG, ALVIN SUDAH GA’ ADA…” bentak Rio,
            “enggak Yo, enggak…”
            “BUKA MATA KAMU VI, DENGAN KAMU KAYA’ GINI ITU GA’ AKAN NGEMBALIIN ALVIN, KAMU HARUS IKHLAS…” aku mulai melemah lalu secara perlahan memeluk Rio, dalam pelukan Rio isakkan ku semakin kuat, Rio membelai lembut rambutku.
            “hik..hik..Alvin, Alvin, hik…hik ALVIIIINNN….”

^_^

“yang terjadi,biar saja terjadi, bagai menempuh hidup,
Hanya cerita,
Cerita tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan..
Ooww..C I N T A…”

            Sivia menyelesaikan lagu kesukaan Alvin itu dengan linangan air mata yang menetes deras dari kedua mata indahnya, demi Alvin ia berusaha untuk tegar..
Kehilangan  Alvin sempat membuat Sivia terpuruk selama beberapa minggu, tapi karna kegigihan Rio, Sivia bisa sedikit lebih tenang.
            Seperti yang Alvin minta, Sivia berusaha mencintai Rio, meskipun sulit, tapi Sivia terus berusaha.
            “ini udah siang, kita pulang ya..?” ucap Rio dari belakang Sivia. Sivia menyeka air matanya dan berusaha terlihat baik-baik saja, ia pun menoleh kearah Rio sambil tersenyum sangat manis,
            “ya udah, kita pulang..” Rio mengulurkan tangannya, lalu Sivia dengan senang hati menyambut uluran tangan Rio..


                        THE END..
           

1 comment:

  1. ka miy ini udah kelihatan dari judulnya udah nyesek.. keren ka...



    numpang promo yaa ka miy.. kunjungi blog gue yaa..
    obat pelangsing herbal,obat pelangsing herbal

    ReplyDelete