“Dia memang telah pergi dan terkubur bersama
seluruh cintanya padamu. Tapi bukan berarti hatimu harus ikut terkubur
bersamanya juga kan? Fikirkan lagi, betapa berharganya hidupmu untuk kau
sia-siakan demi menangisinya yang telah tiada dan tidak akan kembali
lagi….”
****
Satu
persatu orang-orang berpakaian serba hitam itu pergi meninggalkan makam
dan menyisakan satu Pria itu disana. Meski berusaha untuk terlihat
tegar, tapi kegetiran tetap Nampak diwajahnya. Sekuat tenaga ia kerahkan
demi mencoba menutupi mendung pekat yang membingkai wajahnya tapi tidak
berhasil. Semua orang tahu ia rapuh.
Meski
rapuh, ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa kenyataan ini tidak
akan pernah membuat ia terpuruk. Ia harus tetap menjalani hidupnya
dengan normal. Karena jika ia sendiri saja tidak mampu menjalani
hidupnya dengan sebaik mungkin, lantas bagaimana ia bisa memenuhi janji
yang telah ia buat untuk Kakaknya beberapa saat sebelum Kakaknya
menghembuskan nafas terakhir. Janji yang telah ia tanamkan didasar
hatinya. Janjinya sebagai seorang laki-laki.
Maka
pria itu menghelakan nafas panjangnya untuk meredam rasa perih yang
mengoyak batinnya. Dengan berat ia mengayunkan langkahnya mendekati
gundukan tanah basah yang didalamnya bersamayam jasad Kakak
kesayangannya. Kakak yang selama hidupnya selalu menguatkannya dan
mengajarkannya untuk selalu tegar menghadapi hidup yang penuh dengan
ujian ini.
Dalam diamnya,
Pria itu masih berharap bahwa kepergian Kakaknya saat ini hanyalah
bagian dari mimpi buruknya yang akan sirna saat ia terjaga nanti. Namun
ia merasakan hatinya remuk redam manakala menyadari bahwa semua ini
bukanlah mimpi buruk, melainkan sebuah kenyataan yang harus ia hadapi
dengan berani.
Tangannya
terangkat gemetaran menyentuh batu nisan itu. Kedua pundaknya bergemetar
hebat berusaha menahan isak tangisnya agar tidak pecah ditempat itu. Ia
tidak ingin Kakaknya tahu bahwa ternyata ia serapuh ini. Kuat, ia harus
bisa kuat.
~
“Bie,
kamu kenapa sih dari tadi cemberut terus? Kamu jelek tau nggak kalo
kayak gitu terus” ujar Cakka seraya membelai lembut rambut sebahu milik
Sivia –Kekasihnya-
“Cakka,
apa kamu bener-bener nggak bisa Menuhin permintaan aku buat nggak pergi
dulu ke Eropa? Satu minggu lagi kita tunangan, Kka. Dan aku nggak mau
terjadi apa-apa sama kamu”
Cakka
tersenyum tenang, sangat tenang. Dan ia juga ingin Gadisnya ini bisa
setenang seperti dirinya saat ini. Cakka tahu tidak kurang dari satu
minggu lagi ia akan melakukan acara pertunangan dengan Sivia, dan Cakka
juga mengerti alasan kenapa Sivia tidak ingin ia pergi ke Eropa selama 3
hari untuk menghadapi pertandingan Balapan internasional. Tapi Cakka
harus tetap pergi, bisa sampai dikejuaraan internasional seperti ini
merupakan mimpi besar Cakka selama ia bergelut didunia balap nasional
selama ini.
“Bie, kamu tau
kan kalo semua ini adalah mimpi aku. Dan ketika mimpi itu sudah ada
dalam genggamanku, apa kamu mau aku ngelepasinnya begitu saja? Nggak,
Vi, aku yakin kamu nggak mau” Cakka meraih kedua tangan Sivia lalu
menggenggamnya seerat mungkin.
“aku
janji akan kembali dengan selamat 3 hari yang akan datang, dan aku
pastikan minggu depan kamu sudah resmi jadi tunangan aku dan calon
isteri aku. Disini kamu Cuma perlu menunggu, doa’in semoga aku disana
baik-baik saja, ya?”
Sivia
menggeleng berkali-kali. Ia belum siap menerima kepergian Cakka. Selama
beberapa hari terakhir ini, terhitung sejak Cakka mengabarkan bahwa ia
akan mengikuti kejuaraan Internasional di Eropa, Sivia merasa tidak
pernah tenang. Firasatnya mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu yang
tidak pernah ia inginkan, untuk itulah Sivia tetap kekeuh dengan
keinginanya yang tidak membiarkan Cakka pergi.
“Kka…”
“please, Vi. Kamu tau kan sekalipun aku nggak pernah ngingkarin janji aku ke kamu?”
Sivia mengangguk. Meski bertentangan dengan kata hatinya, ia harus tetap merelakan Cakka pergi dan menunggunya kembali.
“baiklah Kka… tapi kalo kamu nggak kembali, aku bersumpah aku nggak akan pernah maafin kamu”
Cakka
tersenyum puas. Akhirnya Sivia melepas kepergiannya juga. Cakka menarik
pelan kepala Sivia lalu menyandarkannya tepat didadanya. Cakka mengecup
puncak kepala Sivia dengan sayang,
“aku
janji akan kembali, Bie…. Aku mencintai kamu” Bisik Cakka pelan
ditelinga Sivia. Secara perlahan air mata Sivia menetes membasahi
wajahnya. Semoga Cakka akan memenuhi janjinya.
~
Nyawa
Sivia seakan terlepas dari raganya ketika ia melihat jasad Cakka
terbujur kaku dihadapannya. Sivia merasa sudah tidak sanggup lagi
berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Langit seolah rubuh dan
menimpanya.
Cakka mengalami
kecelakaan saat sedang balapan. Ia langsung meninggal ditempat sebelum
sempat dilarikan kerumah sakit. Otaknya mengalami pendarahan yang serius
yang akhirnya melemeparnya kepintu maut.
Beberapa
saat sebelum turun ke arena balap. Cakka sempat menelpon Adiknya yang
saat itu sedang berada di Perth. Cakka berpesan, supaya adiknya segera
pulang. Cakka juga meminta kepada Adiknya untuk selalu menjaga dan
menguatkan Sivia jika nanti ia telah tiada. Cakka ingin Adiknya
menggantikan posisinya.
Alvin
yang awalnya berfikir bahwa Cakka sudah gila akhirnya mengikuti
permintaan Cakka. Ia pulang ke Indonesia. Tapi sebelum menaiki pesawat,
Alvin malah menerima sebuah kabar bahwa Cakka sudah meninggal diarena
balapan.
Pada akhirnya
tangis Sivia pecah. Ini pukulan terhebat yang pernah ia terima. Dan
Sivia benar-benar tidak bisa menerima takdir yang telah digariskan ini.
Tidak, tidak seharusnya Cakka pergi meninggalkannya dengan cara seperti
ini.
Sivia memeluk jasad
Cakka sekuat mungkin dengan harapan akan datang sebuah keajaiban yang
bisa membuat Cakka terbangun kembali. Namun terlambat, Tuhan sudah
berkehendak melalui takdirnya, dan Sivia tidak bisa mengelak.
~
“Cakka…
Cakka…. Cakka jangan pergi, jangan tinggalin aku, Cakka” lirih Sivia
dengan kedua mata terpejam. Nada bicaranya terdengar bergetar.
Benar-benar menyayat hati.
“Tante
udah nggak tau lagi, Vin gimana cara menghadapi Sivia, sejak kemarin
Sivia tidak mau makan, bahkan minumpun tidak pernah. Tante Cuma takut
Sivia kekurangan banyak cairan” jelas Mama Sivia ketika Alvin datang
kerumahnya untuk berkunjung sehari setelah pemakaman Cakka.
Selama
3 tahun Cakka dan Sivia berpacaran, ini baru pertama kalinya Alvin
melihat wajah Sivia, karena memang, selama 3 tahun terakhir ini Alvin
tinggal dan menetap di Perth untuk menyelesaikan Kuliah Bisnisnya.
Alvin
mengangguk paham. Jadi ini dia Gadis yang harus ia jaga dan yang harus
ia kuatkan? Sepertinya akan sangat sulit, tapi Alvin harus mencoba. Demi
Cakka, Kakaknya.
Alvin mengambil alih nampan yang
diatasnya terdapat sepiring nasi dan segelas susu beserta segelas air
putih yang saat itu berada ditangan Mama Sivia. Alvin tersenyum kecil
pada Wanita paruh baya itu.
“biar aku yang coba buat ngebujuk Sivia makan. Semoga berhasil”
“makasih
ya, Vin, Cuma kamu harapan kita satu-satunya saat ini” ujar Mama Sivia
seraya mengusap lengan Alvin beberapa kali lalu pergi meninggalkan Alvin
dan Sivia hanya berdua saja didalam kamar itu.
Alvin
menghelakan nafas panjangnya lantas berjalan mendekati Sivia yang saat
itu terbaring lemah diatas ranjangnya. Dengan hati-hati Alvin meletakkan
nampan itu diatas meja kecil yang terdapat disamping ranjang Sivia.
Dengan
hati-hati juga Alvin duduk ditepi ranjang Sivia, tepatnya disamping
Sivia. Alvin menatap sejenak Gadis yang tengah tertidur itu. Kedua mata
Sivia sembab dan bengkak, wajahnya pucat, bibirnya kering, dan tubuhnya
terlihat sangat lemas. Alvin tersenyum kecil dalam bisu, entah kenapa
Gadis ini terlihat begitu menarik dimatanya? Apa mungkin ia telah jatuh
cinta pada pandangan pertama?
Dengan
gerakan yang amat lembut Alvin mengangkat tangan kanannya lalu
menyentuh kening Sivia yang terasa panas. Alvin mengusap peluh yang
terdapat dikening Sivia.
“pantes
aja Kak Cakka cinta mati sama lo, orang lo cantik begini” puji Alvin
tanpa sadar. Jemari tangannya terus bergerak menelusuri wajah Sivia.
Merasa
ada yang menyentuh wajahnya, Sivia akhirnya membuka kedua matanya yang
sejak tadi terpejam. Tatapannya langsung mengarah pada Alvin yang saat
itu langsung menyingkirkan tangannya dari wajah Sivia. Hening untuk
beberapa saat.
Alvin dan
Sivia saling menatap dalam diam. Dan Alvin semakin mengagumi Gadis ini
ketika kedua mata mereka bertemu dan jatuh pada satu titik yang sama.
Melihat
Alvin, entah kenapa Sivia seperti melihat Cakka. Sivia buru-buru
bangkit dari lalu menghambur kedalam pelukan Alvin. Alvin yang kaget
dengan perlakuan Sivia mendadak merasakan seluruh tubuhnya kaku tak bisa
digerakkan.
“Cakka….” Lirih Sivia.
“Cakka?” Alvin heran.
“Cakka, aku tahu kamu pasti bakal kembali, aku tahu itu Cakka, hiks….”
“tapi aku—“
“Cakka jangan pergi lagi dari aku. Aku bisa mati kalo kamu pergi lagi…”
Alvin
melepaskan pelukan Sivia darinya dengan setengah paksa. Alvin memegang
kedua pundak Sivia dan kembali menatap gadis itu dalam-dalam,
“Hey
Sivia….” Kali ini kedua tangan Alvin beralih menyentuh kedua pipi
Sivia, “Lihat aku! Aku bukan Kak Cakka. Aku Alvin, adiknya Kak Cakka…”
Sivia menggeleng berkali-kali. Air matanya mulai menetes secara perlahan,
“CAKKA MANA? MANA CAKKA???” Teriak Sivia dihadapan Alvin.
“sttt…. Cukup Sivia! Cukup! Jangan siksa diri kamu seperti ini lagi. Kak Cakka udah tenang disisi Tuhan, Kak Cakka—“
“NGGAK! CAKKA BELUM MATI. ASAL KAMU TAHU ITU”
“Sivia,
kamu jangan kayak gini lagi ya? Jangan siksa diri kamu lagi, karna aku
yakin kalo kamu kayak gini terus, Kak Cakka nggak akan bisa hidup tenang
disis Tuhan, Kak Cakka mau kamu bahagia” Alvin berusaha untuk bersabar.
Alvin sudah bertekad akan membuat Sivia melupakan segala kesedihannya.
Alvin juga sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan selalu
menemani Sivia sampai nanti Sivia bisa menjalani hidupnya dengan normal
kembali.
“kamu nggak ngerti
perasaan aku. Kamu nggak tau gimana sakitnya jadi aku, kamu nggak tau,
nggak akan pernah tau…” kata Sivia dengan suara bergetar.
“AKU NGERTI SIVIA! AKU TAHU GIMANA RASANYA JADI KAMU” Nada bicara Alvin mulai meninggi.
“KAMU NGGAK NGERTI”
“TAPI AKU ADIKNYA!!”
Sivia akhirnya terdiam. Alvin melanjutkan kembali ucapannya.
“kalo
ada orang yang paling terpukul dan sakit, maka itu seharusnya adalah
aku, Sivia, bukan kamu. Kita sama-sama sakit atas kepergian Kak Cakka,
kita sama-sama terpukul. Tapi aku hanya berusaha untuk menerima
kenyataan ini, karna aku tahu semua ini sudah menjadi bagian dari
rencana Tuhan yang harus bisa kita terima”
Sivia
masih terdiam. Semakin lama isakkannya semakin kuat terdengar. Sivia
menunduk dalam, berusaha mendengarkan Alvin meskipun sebenarnya
perkataan Alvin akan semakin membuatnya sakit nantinya.
“Kak
Cakka memang udah pergi dan terkubur bersama seluruh cintanya sama
kamu. Tapi bukan berarti hatimu harus ikut terkubur bersamanya juga kan?
Fikirkan lagi, betapa berharganya hidupmu untuk kamu sia-siakan demi
menangisinya yang udah nggak ada dan nggak akan kembali lagi….”
“kamu
mau nangis sampe keluar darahpun nggak akan ngubah apa-apa, Vi. Yang
bisa kita lakuin sekarang Cuma menerima dan berusaha ikhlas, Cuma itu.
Kamu harus tetap menjalani hidupmu”
“aku nggak bisa! AKU NGGAK BISA. Aku nggak bisa hidup tanpa Cakka, AKU NGGAK BISA, AKU NGGAK BISA!!!!”
Merasa
tidak tahan lagi melihat kondisi Sivia, Alvin langsung merengkuh tubuh
Gadis itu. Sivia memukul dada Alvin berkali-kali untuk melampiaskan
emosinya,
“kamu bisa! Kamu
pasti bisa! Sejak aku tahu Kak Cakka milih kamu sebagai pendamping
hidupnya, sejak itu aku tau bahwa pasti pilihan Kak Cakka adalah seorang
gadis yang kuat, seorang gadis yang tegar. Aku yakin, Kak Cakka nggak
pernah salah pilih”
“tapi aku nggak sekuat itu”
“kamu
bukannya nggak sekuat itu, Cuma aja kamu belum sekuat itu dan akan
segera sekuat itu. Asal kamu mau, asal kamu punya keinginan…”
~
Sejak
hari itu kehidupan Sivia mulai berubah. Pelan tapi pasti ia mulai bisa
merelakan kepergian Cakka, meskipun disetiap malam menjelang tidur ia
masih merindukan Cakka bahkan sampai menangisinya.
Kehadiran
Alvin benar-benar mengubah kehidupan Sivia. Alvin bisa membuat Sivia
tertawa lepas bahkan disaat Sivia tidak ingin tersenyum. Berada
disamping Alvin, membuat Sivia benar-benar bisa menghargai hidupnya.
Sebulan
setelah kematian Cakka, Sivia mulai bisa menjalani kehidupannya dengan
normal. Alvin dan Siviapun sudah menjadi sepasang sahabat yang begitu
akrab dan sangat dekat. Dimana ada Sivia, disana pasti ada Alvin. Dan
kedekatan mereka yang semakin hari semakin intens itulah yang akhirnya
mampu menimbulkan benih-benih cinta didada Alvin. Meski tidak mengakui
secara langsung, Alvin telah jatuh cinta pada Sivia. Tapi bagaimana
dengan perasaan Sivia sendiri? Sepertinya Alvin masih meragukannya.
Diakhir pekan, Alvin dan Sivia selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke makam Cakka.
Seperti
dihari sabtu ini misalnya. Pagi-pagi sekali Alvin sudah menjemput Sivia
dirumahnya. Tapi ada yang berbeda dengan Alvin hari ini, jika biasanya
Alvin menggunakan mobil, maka hari ini Alvin menggunakan motor
kesayangan milik Cakka, Kakaknya.
Sivia
terkejut ketika mendapati Alvin sudah bertengger didepan gerbang
rumahnya bersama motor kesayangan Cakka. Langkah Sivia yang tadinya
cepat mendadak pelan ketika melihat motor Cakka.
Dulu semasa Cakka masih hidup, Cakka sering membonceng Sivia kemana-mana menggunakan motor itu.
Dan kematian Cakka, malah membuat Sivia trauma melihat motor itu. Sivia tidak ingin lagi menaiki motor itu.
“Via,
kamu kok pucet?” Tanya Alvin heran ketika melihat wajah Sivia yang
mendadak pucat, “kamu baik-baik aja kan, Vi?” lanjut Alvin.
“Alvin… mo… motor itu…. Aku nggak mau naik motor itu, aku nggak mau…” wajah Sivia semakin pucat.
“aku
tahu Vi kamu trauma sama motor ini… untuk itulah aku akan ngebunuh rasa
trauma kamu itu dengan cara membonceng kamu dengan motor ini”
Sivia menggeleng, menolak ajakan Alvin barusan,
“nggak, Vin, aku nggak bisa, aku takut….”
Alvin tersenyum tenang, ia meraih kedua tangan Sivia lalu menggenggamnya dengan erat, berusaha menenangkan perasaan Gadis itu,
“aku minta kamu percaya sama aku, sekaliiii ini aja. Bisa?”
“tapi Vin….”
“please Sivia”
Setelah
berfikir lumayan lama, akhirnya Sivia berusaha untuk meyakini dirinya
sendiri dan mempercayai Alvin tentunya. Beberapa saat kemudian Sivia
mengangguk. Saat itulah Alvin langsung tersenyum lega.
~
Alvin
mengendarai motor milik Cakka dengan kecepatan maksimal. Sivia yang
duduk dibelakang Alvin memeluk erat-erat tubuh pria itu dan
menenggelamkan wajahnya pada bahu Alvin. Alvin sudah berjanji akan
membantu Sivia, dan Alvin bersumpah akan memenuhi janjinya itu dengan
cara apapun.
Kelamaan Sivia
mulai merasa nyaman. Hanya dalam hitungan menit saja, rasa trauma itu
tidak lagi menghantui dirinya. Setelah menghela nafas beberapa kali,
Sivia akhirnya mengangkat wajahnya. Ia tidak lagi menelenggamkan
wajahnya dibahu Alvin.
Sebulan setelah kematian Cakka, ini baru pertama kalinya Sivia merasa sebebas dan selepeas ini.
Tiba-tiba Sivia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi lalu berteriak sekuat ia mampu.
“AAAAAAAAAAAAAAAA…….”
Dalam
diam Alvin tersenyum. Usahanya selama ini tidak pernah sia-sia. Dan
sekarang saatnya Alvin menyatakan perasaannya pada Sivia.
~
Senja
itu, dihadapan makam Cakka, Alvin memutuskan untuk menyatakan
perasaannya yang sesungguhnya pada Sivia. Alvin sama sekali tidak
memikirkan bagaimana jawaban Sivia nanti. Dan Alvin sama sekali tidak
peduli, entah nanti Sivia akan menerimanya atau justru menolaknya, yang
Alvin tahu saat ini hanyalah, ia harus menyatakan perasaannya pada Sivia
sebelum semuanya terlambat.
“Via…”
panggil Alvin pelan seraya mengulurkan tangannya dihadapan Sivia. Sivia
yang saat itu terduduk langsung menyambut uluran tangan Alvin dan
berdiri dihadapan Pria itu.
“kenapa, Vin?” Tanya Sivia. Sebenarnya Sivia agak sedikit heran, tidak biasanya Alvin menggenggam tangannya sampai seerat ini.
“aku
Cuma mau bilang sama kamu. Pada senja ini, dan dihadapan makam Kak
Cakka, aku ingin bilang kalau aku…. Sangat mencintai kamu, Sivia. Aku
ingin jadi bagian hidup kamu, aku ingin mengganti posisi Kak Cakka
dihidup dan dihati kamu…”
Sivia
tersentak. Kedua tangannya terlepas begitu saja dari genggaman erat
Alvin. Sivia membekap mulutnya. Benar-benar sulit ia bisa percaya, bahwa
pada senja ini, dihadapan Makam Cakka, Alvin menyatakan perasaannya
padanya.
Sivia tahu Alvin
tulus, dan Sivia sangat menghargai ketulusan Alvin itu. Hanya saja saat
ini, Sivia merasa belum bisa menggantikan posisi Cakka. Sivia masih
sangat mencintai Cakka. Sivia tidak ingin menerima perasaan Alvin sementara dalam hatinya ia masih sangat mencintai Cakka.
Sivia
menggeleng beberapa kali. Untuk beberapa saat ia kehabisan kata-kata.
Selama ini Alvin sudah berbuat banyak untuk hidupnya, akan sangat jahat
dirinya jika ia melukai perasaan Alvin sekarang. Tapi Sivia juga tidak
bisa membohongi hatinya.
Alvin
yang mengerti apa yang ada dalam fikiran Sivia saat ini hanya bisa
memaklumi. Alvin tahu betul bagaimana besarnya rasa cinta Sivia pada
Cakka, Kakaknya. Dan Alvin tidak ingin memaksakan hati Sivia. Alvin
tidak setega itu.
“Via, aku
Cuma mau nyatain perasaan aku ke kamu, kalo kamu mau terima atopun nolak
itu hak kamu dan itu sama sekali nggak jadi masalah buat aku. Aku
ngerti perasaan kamu saat ini”
“maafin
aku ya, Vin?” ucap Sivia dengan penuh penyesalan. Alvin mengangguk
beberapa kali seraya tersenyum ikhlas. Demi Tuhan, Alvin sangat ikhlas
dengan jawaban Sivia.
“tapi
jika suatu saat nanti, Tuhan memberikan aku kesempatan untuk memilih
jodoh, maka aku akan berlari padamu dan memilihmu. Hanya padamu, dan
bukan pada yang lainnya. I promise you, Alvin…”
“thanks, Via….”
~
Selama
3 hari ini Alvin tidak pernah lagi menampakkan dirinya dihadapan Sivia.
Sivia yang mengerti dengan perasaan Alvin saat ini berusaha menerima
semuanya dengan lapang dada. Tapi jujur saja, selama 3 hari ini, Sivia
benar-benar merasa kosong. Ia telah kehilangan senyuman itu, dan Sivia
sangat merindukannya. Lebih dari apapun, Sivia sangat ingin bertemu
dengan Alvin.
“Alvin kemana, Vi? Kok selama 3 hari ini nggak pernah kelihatan?” Tanya Mama yang tiba-tiba saja sudah disamping Sivia.
“eh” Sivia terkesiap dan baru menyadari kehadiran Mamanya.
“iya, Alvin kemana?”
“nggak tau, Ma” jawab Sivia sekenanya.
“kok bisa nggak tau? Bukannya selama satu bulan ini kamu deket banget ya sama Alvin?”
“itu dia Ma masalahnya”
“maksud kamu?”
Kali
ini Sivia menatap Mamanya dan menjelaskan semuanya. Dengan sabar Mama
berusaha mendengarkan cerita Sivia hingga Sivia menyelesaikan ceritanya.
Setelah Sivia menyelesaikan ceritanya, Mama langsung mengangguk paham dan berkata pada Sivia,
“Via,
dengerin Mama ya sayang! Seharusnya kamu ngasih kesempatan dulu sama
Alvin, bukannya malah langsung nolak dia kayak yang kamu lakuin. Wajar
kalo Alvin kecewa. Coba deh kamu inget-inget, Vi, selama sebulan ini
Alvin udah ngelakuin banyak hal buat kamu, bahkan dia rela ninggalin
Kuliahnya di Perth Cuma buat nemenin kamu disini. Harusnya kamu hargai
usaha Alvin itu dan mau ngasih dia kesempatan. Mama ngerti kamu masih
cinta sama Cakka, kamu masih belum bisa ngelupain Cakka, tapi sampai
kapan kamu mau terus kayak gini? Kalo kamu nggak berusaha buat bisa buka
hatimu, maka selamanya kamu akan terus kayak gini, Vi…”
“jadi Via harus gimana, Ma?”
“terima
Alvin, kasih dia kesempatan. Masalah hati dan Cinta kamu nggak usah
fikirin. Karna hati kapanpun bisa berubah, dan cinta bisa tumbuh seiring
waktu. Mama yakin, saat ini sebenarnya kamu sudah mencintai Alvin,
hanya saja kamu belum menyadari perasaan itu, karna sampai saat ini kamu
terus berada dibawah bayang-bayang Cakka. Ayolah, Vi, buka hati kamu.
Mama percaya kalau Cuma Alvin yang bisa bikin kamu bahagia….”
Sivia
terdiam, berusaha mencerna setiap kalimat demi kalimat yang Mamanya
ucapkan. Tiba-tiba Mama menyentuh pundak Sivia dan kembali berkata,
“nggak usah banyak mikir! Sekarang bukan saatnya mikir, tapi saatnya kamu untuk mencari Alvin”
“maksud Mama?” Sivia tidak mengerti,
“hari
ini Alvin mau balik ke perth. Pesawatnya take off sekitar pukul 9.
Kejer dia, Vi, bilang ke dia kalo kamu ngasih dia kesempatan”
“tapi, Ma…”
“nggak
ada tapi-tapian kalo kamu nggak mau nyesel. Kamu tentu nggak mau
kehilangan orang yang kamu cintai untuk yang kedua kalinya kan? Sekarang
Alvin pasti masih bersiap-siap dirumahnya. Jadi kamu masih punya waktu lebih banyak lagi untuk mencegah kepergian Alvin, Nak”
Sivia
berfikir sejenak lalu melirik jam didinding yang saat itu sudah
menunjukan pukul setengah 8. Sivia memiliki waktu sekitar 60 menit untuk
mengejar Alvin dan mencegah kepergiannya.
~
Setelah
merasa semuanya sudah siap, Alvinpun memantapkan langkahnya untuk
segera kembali ke Perth dan melanjutkan kuliahnya yang sempat ia
tinggalkan selama satu bulan ini. Mungkin tugas Alvin untuk berada
disisi Sivia sudah selesai hari ini juga. Toh Sivia juga sudah bisa
menjalani kehidupannya dengan normal. Alvin tersenyum puas, ia merasa
lega karna bisa memenuhi janjinya pada Cakka satu bulan yang lalu.
“jadi
kamu mau pergi tanpa pamit dulu sama aku?” ucap seseorang dari arah
gerbang rumahnya sebelum Alvin memasuki mobilnya. Sivia menoleh kearah
gerbang dan melihat Sivia yang saat itu berdiri didepan gerbang rumahnya
seraya menangis.
“Vi… Via??”
“kenapa?
Kenapa harus seperti ini?” Sivia berjalan perlahan menghampiri Alvin,
“selama 3 hari ini kamu ngilang tanpa kabar, dan sekarang kamu juga mau
ninggalin aku tanpa ngomong apa-apa, kamu jahat tau nggak, Vin?” isakkan
Sivia mulai terdengar samar-samar.
“nggak gitu, Via….”
“terus
gimana? Kamu sengaja kan ngehindarin aku selama 3 hari ini? Kamu sakit
hati kan gara-gara aku nggak bisa nerima perasaan kamu?”
“Via,
bukan kayak gitu. Asal kamu tahu, selama 3 hari ini aku ngehindarin
kamu bukan karna aku sakit hati sama kamu, Cuma aja aku mau menguatkan
hatiku dengan cara nggak ketemu dulu sama kamu supaya aku bisa balik ke
Perth dengan tenang tanpa kepikiran kamu, kalo aku terus-terusan ngeliat
kamu, gimana bisa aku pergi ninggalin kamu dengan tenang?”
“jadi kamu emang bener-bener mau pergi ninggalin aku? Iya? Kamu mau pergi ninggalin aku?”
“nggak gitu juga, Vi, aku—“
“Alvin
aku sayang sama kamu, dan aku butuh waktu buat ngeyakinin hati aku kalo
aku bener-bener mencintai kamu. Please Alvin, tetep disisi aku, ajari
aku bagaimana cara mencintai kamu, please….”
“Via….”
Sivia menghambur kedalam pelukan Alvin. Ia memeluk tubuh Alvin seerat mungkin,
“aku
ingin bisa mencintai kamu, Vin. Aku ingin perasaan sayang yang aku
rasain saat ini bisa berubah jadi perasaan cinta. Please tetep tinggal
disisi aku. Ajari aku mencintaimu, Alvin…. Aku nggak bisa ngebayangin
gimana hidup aku kalo kamu bener-bener pergi ninggalin aku, Vin? Aku
nggak mau kehilangan orang yang aku sayang untuk yang kedua kalinya. Aku
cukup kehilangan Cakka, aku nggak mau kehilangan kamu, Vin….”
Alvin membalas pelukan Sivia lalu mengecup puncak kepala Gadis itu. Alvin melakukannya agak lama.
“aku nggak akan kemana-mana, selama aku akan terus ada disisi kamu, aku janji nggak akan kemana-mana”
Tiba-tiba Sivia melepaskan pelukannya dari Alvin, ia menatap kedua mata Alvin lekat-lekat. Dengan penuh harap Sivia berkata,
“kamu nggak jadi pergi kan?”
Alvin menggeleng penuh keengganan, ia membelai lembut rambut Sivia lalu kembali membawa Sivia kedalam pelukannya,
“aku tetep bakalan pergi, Vi, tapi nggak untuk selamanya. Aku janji akan kembali lagi buat kamu. Tunggu aku ya?”
“tapi gimana kalo kamu nggak kembali lagi…. Kayak Cakka?”
Lagi-lagi Alvin menggeleng,
“aku
pasti kembali. Percaya sama aku…. Dan aku mau saat aku kembali nanti—“
Alvin dan Sivia mengurai pelukan mereka. Alvin memegang kedua sisi wajah
Sivia menggunakan kedua telapak tangannya, “kamu sudah bisa mencintai
aku sepenuh hati kamu. Dan saat itu tiba, aku pastikan aku nggak akan
ninggalin kamu lagi, aku nggak pernah ngelepasin kamu. Aku pasti akan
kembali”
“Alvin, tapi aku nggak bisa, aku belum siep kehilangan kamu”
“kamu nggak akan kehilangan aku, Via…”
“Vin….”
Alvin melirik jam tangannya lalu kembali berkata pada Sivia,
“udah saatnya aku berangkat, Vi…”
“Alvin tapi….” Sivia menahan lengan Alvin.
Dalam
satu gerakan cepat, Alvin menarik wajah Sivia lalu mengecup bibirnya
dengan lembut. Ketika Alvin semakin memperdalam ciumannya, Siviapun
memejamkan matanya lalu dengan berani membalas ciuman Alvin.
10 detik berlalu, Alvin dan Sivia sama-sama menjauhkan wajah mereka. Sivia menunduk dalam,
“aku mencintai kamu, Via, selamanya akan selalu mencintai. Berjanjilah untuk selalu menunggu aku disini…”
Sivia
mengangguk tanpa mampu mengucapkan sepatah kalimatpun. Untuk yang
terakhir kalinya Alvin kembali membawa Sivia kedalam pelukannya. Setelah
melepaskan pelukannya, Alvinpun memasuki mobilnya dan mengemudikannya
perlahan menjauhi Sivia.
Jujur
saja, ada perasaan tidak sanggup jauh didasar hatinya yang terdalam
saat ia harus meninggalkan Sivia, tapi mau bagaimana lagi? Alvin harus
tetap menyelesaikan kuliah Bisnisnnya di Perth.
“kembalilah, Alvin. Aku disini aku selalu nungguin kamu….”
THE END….
Wednesday, July 10, 2013
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



Ending gantung fufufu~
ReplyDelete