Wednesday, July 10, 2013

1

Ajari Aku Mencintaimu (Cerpen AlVia: Ala Suka-Suka Mimy)

“Dia memang telah pergi dan terkubur bersama seluruh cintanya padamu. Tapi bukan berarti hatimu harus ikut terkubur bersamanya juga kan? Fikirkan lagi, betapa berharganya hidupmu untuk kau sia-siakan demi menangisinya yang telah tiada dan tidak akan kembali lagi….”


****


                Satu persatu orang-orang berpakaian serba hitam itu pergi meninggalkan makam dan menyisakan satu Pria itu disana. Meski berusaha untuk terlihat tegar, tapi kegetiran tetap Nampak diwajahnya. Sekuat tenaga ia kerahkan demi mencoba menutupi mendung pekat yang membingkai wajahnya tapi tidak berhasil. Semua orang tahu ia rapuh.
            Meski rapuh, ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa kenyataan ini tidak akan pernah membuat ia terpuruk. Ia harus tetap menjalani hidupnya dengan normal. Karena jika ia sendiri saja tidak mampu menjalani hidupnya dengan sebaik mungkin, lantas bagaimana ia bisa memenuhi janji yang telah ia buat untuk Kakaknya beberapa saat sebelum Kakaknya menghembuskan nafas terakhir. Janji yang telah ia tanamkan didasar hatinya. Janjinya sebagai seorang laki-laki.
            Maka pria itu menghelakan nafas panjangnya untuk meredam rasa perih yang mengoyak batinnya. Dengan berat ia mengayunkan langkahnya mendekati gundukan tanah basah yang didalamnya bersamayam jasad Kakak kesayangannya. Kakak yang selama hidupnya selalu menguatkannya dan mengajarkannya untuk selalu tegar menghadapi hidup yang penuh dengan ujian ini.
            Dalam diamnya, Pria itu masih berharap bahwa kepergian Kakaknya saat ini hanyalah bagian dari mimpi buruknya yang akan sirna saat ia terjaga nanti. Namun ia merasakan hatinya remuk redam manakala menyadari bahwa semua ini bukanlah mimpi buruk, melainkan sebuah kenyataan yang harus ia hadapi dengan berani.
            Tangannya terangkat gemetaran menyentuh batu nisan itu. Kedua pundaknya bergemetar hebat berusaha menahan isak tangisnya agar tidak pecah ditempat itu. Ia tidak ingin Kakaknya tahu bahwa ternyata ia serapuh ini. Kuat, ia harus bisa kuat.

~

            “Bie, kamu kenapa sih dari tadi cemberut terus? Kamu jelek tau nggak kalo kayak gitu terus” ujar Cakka seraya membelai lembut rambut sebahu milik Sivia –Kekasihnya-
            “Cakka, apa kamu bener-bener nggak bisa Menuhin permintaan aku buat nggak pergi dulu ke Eropa? Satu minggu lagi kita tunangan, Kka. Dan aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu”
            Cakka tersenyum tenang, sangat tenang. Dan ia juga ingin Gadisnya ini bisa setenang seperti dirinya saat ini. Cakka tahu tidak kurang dari satu minggu lagi ia akan melakukan acara pertunangan dengan Sivia, dan Cakka juga mengerti alasan kenapa Sivia tidak ingin ia pergi ke Eropa selama 3 hari untuk menghadapi pertandingan Balapan internasional. Tapi Cakka harus tetap pergi, bisa sampai dikejuaraan internasional seperti ini merupakan mimpi besar Cakka selama ia bergelut didunia balap nasional selama ini.
            “Bie, kamu tau kan kalo semua ini adalah mimpi aku. Dan ketika mimpi itu sudah ada dalam genggamanku, apa kamu mau aku ngelepasinnya begitu saja? Nggak, Vi, aku yakin kamu nggak mau” Cakka meraih kedua tangan Sivia lalu menggenggamnya seerat mungkin.
            “aku janji akan kembali dengan selamat 3 hari yang akan datang, dan aku pastikan minggu depan kamu sudah resmi jadi tunangan aku dan calon isteri aku. Disini kamu Cuma perlu menunggu, doa’in semoga aku disana baik-baik saja, ya?”
            Sivia menggeleng berkali-kali. Ia belum siap menerima kepergian Cakka. Selama beberapa hari terakhir ini, terhitung sejak Cakka mengabarkan bahwa ia akan mengikuti kejuaraan Internasional di Eropa, Sivia merasa tidak pernah tenang. Firasatnya mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak pernah ia inginkan, untuk itulah Sivia tetap kekeuh dengan keinginanya yang tidak membiarkan Cakka pergi.
            “Kka…”
            “please, Vi. Kamu tau kan sekalipun aku nggak pernah ngingkarin janji aku ke kamu?”
            Sivia mengangguk. Meski bertentangan dengan kata hatinya, ia harus tetap merelakan Cakka pergi dan menunggunya kembali.
            “baiklah Kka… tapi kalo kamu nggak kembali, aku bersumpah aku nggak akan pernah maafin kamu”
            Cakka tersenyum puas. Akhirnya Sivia melepas kepergiannya juga. Cakka menarik pelan kepala Sivia lalu menyandarkannya tepat didadanya. Cakka mengecup puncak kepala Sivia dengan sayang,
            “aku janji akan kembali, Bie…. Aku mencintai kamu” Bisik Cakka pelan ditelinga Sivia. Secara perlahan air mata Sivia menetes membasahi wajahnya. Semoga Cakka akan memenuhi janjinya.


~

            Nyawa Sivia seakan terlepas dari raganya ketika ia melihat jasad Cakka terbujur kaku dihadapannya. Sivia merasa sudah tidak sanggup lagi berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Langit seolah rubuh dan menimpanya.
            Cakka mengalami kecelakaan saat sedang balapan. Ia langsung meninggal ditempat sebelum sempat dilarikan kerumah sakit. Otaknya mengalami pendarahan yang serius yang akhirnya melemeparnya kepintu maut.
            Beberapa saat sebelum turun ke arena balap. Cakka sempat menelpon Adiknya yang saat itu sedang berada di Perth. Cakka berpesan, supaya adiknya segera pulang. Cakka juga meminta kepada Adiknya untuk selalu menjaga dan menguatkan Sivia jika nanti ia telah tiada. Cakka ingin Adiknya menggantikan posisinya.
            Alvin yang awalnya berfikir bahwa Cakka sudah gila akhirnya mengikuti permintaan Cakka. Ia pulang ke Indonesia. Tapi sebelum menaiki pesawat, Alvin malah menerima sebuah kabar bahwa Cakka sudah meninggal diarena balapan.
            Pada akhirnya tangis Sivia pecah. Ini pukulan terhebat yang pernah ia terima. Dan Sivia benar-benar tidak bisa menerima takdir yang telah digariskan ini. Tidak, tidak seharusnya Cakka pergi meninggalkannya dengan cara seperti ini.
            Sivia memeluk jasad Cakka sekuat mungkin dengan harapan akan datang sebuah keajaiban yang bisa membuat Cakka terbangun kembali. Namun terlambat, Tuhan sudah berkehendak melalui takdirnya, dan Sivia tidak bisa mengelak.


~

            “Cakka… Cakka…. Cakka jangan pergi, jangan tinggalin aku, Cakka” lirih Sivia dengan kedua mata terpejam. Nada bicaranya terdengar bergetar. Benar-benar menyayat hati.
            “Tante udah nggak tau lagi, Vin gimana cara menghadapi Sivia, sejak kemarin Sivia tidak mau makan, bahkan minumpun tidak pernah. Tante Cuma takut Sivia kekurangan banyak cairan” jelas Mama Sivia ketika Alvin datang kerumahnya untuk berkunjung sehari setelah pemakaman Cakka.
            Selama 3 tahun Cakka dan Sivia berpacaran, ini baru pertama kalinya Alvin melihat wajah Sivia, karena memang, selama 3 tahun terakhir ini Alvin tinggal dan menetap di Perth untuk menyelesaikan Kuliah Bisnisnya.
            Alvin mengangguk paham. Jadi ini dia Gadis yang harus ia jaga dan yang harus ia kuatkan? Sepertinya akan sangat sulit, tapi Alvin harus mencoba. Demi Cakka, Kakaknya.
Alvin mengambil alih nampan yang diatasnya terdapat sepiring nasi dan segelas susu beserta segelas air putih yang saat itu berada ditangan Mama Sivia. Alvin tersenyum kecil pada Wanita paruh baya itu.
            “biar aku yang coba buat ngebujuk Sivia makan. Semoga berhasil”
            “makasih ya, Vin, Cuma kamu harapan kita satu-satunya saat ini” ujar Mama Sivia seraya mengusap lengan Alvin beberapa kali lalu pergi meninggalkan Alvin dan Sivia hanya berdua saja didalam kamar itu.
            Alvin menghelakan nafas panjangnya lantas berjalan mendekati Sivia yang saat itu terbaring lemah diatas ranjangnya. Dengan hati-hati Alvin meletakkan nampan itu diatas meja kecil yang terdapat disamping ranjang Sivia.
            Dengan hati-hati juga Alvin duduk ditepi ranjang Sivia, tepatnya disamping Sivia. Alvin menatap sejenak Gadis yang tengah tertidur itu. Kedua mata Sivia sembab dan bengkak, wajahnya pucat, bibirnya kering, dan tubuhnya terlihat sangat lemas. Alvin tersenyum kecil dalam bisu, entah kenapa Gadis ini terlihat begitu menarik dimatanya? Apa mungkin ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama?
            Dengan gerakan yang amat lembut Alvin mengangkat tangan kanannya lalu menyentuh kening Sivia yang terasa panas. Alvin mengusap peluh yang terdapat dikening Sivia.
            “pantes aja Kak Cakka cinta mati sama lo, orang lo cantik begini” puji Alvin tanpa sadar. Jemari tangannya terus bergerak menelusuri wajah Sivia.
            Merasa ada yang menyentuh wajahnya, Sivia akhirnya membuka kedua matanya yang sejak tadi terpejam. Tatapannya langsung mengarah pada Alvin yang saat itu langsung menyingkirkan tangannya dari wajah Sivia. Hening untuk beberapa saat.
            Alvin dan Sivia saling menatap dalam diam. Dan Alvin semakin mengagumi Gadis ini ketika kedua mata mereka bertemu dan jatuh pada satu titik yang sama.
            Melihat Alvin, entah kenapa Sivia seperti melihat Cakka. Sivia buru-buru bangkit dari lalu menghambur kedalam pelukan Alvin. Alvin yang kaget dengan perlakuan Sivia mendadak merasakan seluruh tubuhnya kaku tak bisa digerakkan.
            “Cakka….” Lirih Sivia.
            “Cakka?” Alvin heran.
            “Cakka, aku tahu kamu pasti bakal kembali, aku tahu itu Cakka, hiks….”
            “tapi aku—“
            “Cakka jangan pergi lagi dari aku. Aku bisa mati kalo kamu pergi lagi…”
            Alvin melepaskan pelukan Sivia darinya dengan setengah paksa. Alvin memegang kedua pundak Sivia dan kembali menatap gadis itu dalam-dalam,
            “Hey Sivia….” Kali ini kedua tangan Alvin beralih menyentuh kedua pipi Sivia, “Lihat aku! Aku bukan Kak Cakka. Aku Alvin, adiknya Kak Cakka…”
            Sivia menggeleng berkali-kali. Air matanya mulai menetes secara perlahan,
            “CAKKA MANA? MANA CAKKA???” Teriak Sivia dihadapan Alvin.
            “sttt…. Cukup Sivia! Cukup! Jangan siksa diri kamu seperti ini lagi. Kak Cakka udah tenang disisi Tuhan, Kak Cakka—“
            “NGGAK! CAKKA BELUM MATI. ASAL KAMU TAHU ITU”
            “Sivia, kamu jangan kayak gini lagi ya? Jangan siksa diri kamu lagi, karna aku yakin kalo kamu kayak gini terus, Kak Cakka nggak akan bisa hidup tenang disis Tuhan, Kak Cakka mau kamu bahagia” Alvin berusaha untuk bersabar. Alvin sudah bertekad akan membuat Sivia melupakan segala kesedihannya. Alvin juga sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan selalu menemani Sivia sampai nanti Sivia bisa menjalani hidupnya dengan normal kembali.
            “kamu nggak ngerti perasaan aku. Kamu nggak tau gimana sakitnya jadi aku, kamu nggak tau, nggak akan pernah tau…” kata Sivia dengan suara bergetar.
            “AKU NGERTI SIVIA! AKU TAHU GIMANA RASANYA JADI KAMU” Nada bicara Alvin mulai meninggi.
            “KAMU NGGAK NGERTI”
            “TAPI AKU ADIKNYA!!”
            Sivia akhirnya terdiam. Alvin melanjutkan kembali ucapannya.
            “kalo ada orang yang paling terpukul dan sakit, maka itu seharusnya adalah aku, Sivia, bukan kamu. Kita sama-sama sakit atas kepergian Kak Cakka, kita sama-sama terpukul. Tapi aku hanya berusaha untuk menerima kenyataan ini, karna aku tahu semua ini sudah menjadi bagian dari rencana Tuhan yang harus bisa kita terima”
            Sivia masih terdiam. Semakin lama isakkannya semakin kuat terdengar. Sivia menunduk dalam, berusaha mendengarkan Alvin meskipun sebenarnya perkataan Alvin akan semakin membuatnya sakit nantinya.
            “Kak Cakka memang udah pergi dan terkubur bersama seluruh cintanya sama kamu. Tapi bukan berarti hatimu harus ikut terkubur bersamanya juga kan? Fikirkan lagi, betapa berharganya hidupmu untuk kamu sia-siakan demi menangisinya yang udah nggak ada dan nggak akan kembali lagi….”
            “kamu mau nangis sampe keluar darahpun nggak akan ngubah apa-apa, Vi. Yang bisa kita lakuin sekarang Cuma menerima dan berusaha ikhlas, Cuma itu. Kamu harus tetap menjalani hidupmu”
            “aku nggak bisa! AKU NGGAK BISA. Aku nggak bisa hidup tanpa Cakka, AKU NGGAK BISA, AKU NGGAK BISA!!!!”
            Merasa tidak tahan lagi melihat kondisi Sivia, Alvin langsung merengkuh tubuh Gadis itu. Sivia memukul dada Alvin berkali-kali untuk melampiaskan emosinya,
            “kamu bisa! Kamu pasti bisa! Sejak aku tahu Kak Cakka milih kamu sebagai pendamping hidupnya, sejak itu aku tau bahwa pasti pilihan Kak Cakka adalah seorang gadis yang kuat, seorang gadis yang tegar. Aku yakin, Kak Cakka nggak pernah salah pilih”
            “tapi aku nggak sekuat itu”
            “kamu bukannya nggak sekuat itu, Cuma aja kamu belum sekuat itu dan akan segera sekuat itu. Asal kamu mau, asal kamu punya keinginan…”


~

            Sejak hari itu kehidupan Sivia mulai berubah. Pelan tapi pasti ia mulai bisa merelakan kepergian Cakka, meskipun disetiap malam menjelang tidur ia masih merindukan Cakka bahkan sampai menangisinya.
            Kehadiran Alvin benar-benar mengubah kehidupan Sivia. Alvin bisa membuat Sivia tertawa lepas bahkan disaat Sivia tidak ingin tersenyum. Berada disamping Alvin, membuat Sivia benar-benar bisa menghargai hidupnya.
            Sebulan setelah kematian Cakka, Sivia mulai bisa menjalani kehidupannya dengan normal. Alvin dan Siviapun sudah menjadi sepasang sahabat yang begitu akrab dan sangat dekat. Dimana ada Sivia, disana pasti ada Alvin. Dan kedekatan mereka yang semakin hari semakin intens itulah yang akhirnya mampu menimbulkan benih-benih cinta didada Alvin. Meski tidak mengakui secara langsung, Alvin telah jatuh cinta pada Sivia. Tapi bagaimana dengan perasaan Sivia sendiri? Sepertinya Alvin masih meragukannya.
Diakhir pekan, Alvin dan Sivia selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke makam Cakka.
            Seperti dihari sabtu ini misalnya. Pagi-pagi sekali Alvin sudah menjemput Sivia dirumahnya. Tapi ada yang berbeda dengan Alvin hari ini, jika biasanya Alvin menggunakan mobil, maka hari ini Alvin menggunakan motor kesayangan milik Cakka, Kakaknya.
            Sivia terkejut ketika mendapati Alvin sudah bertengger didepan gerbang rumahnya bersama motor kesayangan Cakka. Langkah Sivia yang tadinya cepat mendadak pelan ketika melihat motor Cakka.
            Dulu semasa Cakka masih hidup, Cakka sering membonceng Sivia kemana-mana menggunakan motor itu.
            Dan kematian Cakka, malah membuat Sivia trauma melihat motor itu. Sivia tidak ingin lagi menaiki motor itu.
            “Via, kamu kok pucet?” Tanya Alvin heran ketika melihat wajah Sivia yang mendadak pucat, “kamu baik-baik aja kan, Vi?” lanjut Alvin.
            “Alvin… mo… motor itu…. Aku nggak mau naik motor itu, aku nggak mau…” wajah Sivia semakin pucat.
            “aku tahu Vi kamu trauma sama motor ini… untuk itulah aku akan ngebunuh rasa trauma kamu itu dengan cara membonceng kamu dengan motor ini”
            Sivia menggeleng, menolak ajakan Alvin barusan,
            “nggak, Vin, aku nggak bisa, aku takut….”
            Alvin tersenyum tenang, ia meraih kedua tangan Sivia lalu menggenggamnya dengan erat, berusaha menenangkan perasaan Gadis itu,
            “aku minta kamu percaya sama aku, sekaliiii ini aja. Bisa?”
            “tapi Vin….”
            “please Sivia”
            Setelah berfikir lumayan lama, akhirnya Sivia berusaha untuk meyakini dirinya sendiri dan mempercayai Alvin tentunya. Beberapa saat kemudian Sivia mengangguk. Saat itulah Alvin langsung tersenyum lega.

~

            Alvin mengendarai motor milik Cakka dengan kecepatan maksimal. Sivia yang duduk dibelakang Alvin memeluk erat-erat tubuh pria itu dan menenggelamkan wajahnya pada bahu Alvin. Alvin sudah berjanji akan membantu Sivia, dan Alvin bersumpah akan memenuhi janjinya itu dengan cara apapun.
            Kelamaan Sivia mulai merasa nyaman. Hanya dalam hitungan menit saja, rasa trauma itu tidak lagi menghantui dirinya. Setelah menghela nafas beberapa kali, Sivia akhirnya mengangkat wajahnya. Ia tidak lagi menelenggamkan wajahnya dibahu Alvin.
            Sebulan setelah kematian Cakka, ini baru pertama kalinya Sivia merasa sebebas dan selepeas ini.
            Tiba-tiba Sivia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi lalu berteriak sekuat ia mampu.
            “AAAAAAAAAAAAAAAA…….”

            Dalam diam Alvin tersenyum. Usahanya selama ini tidak pernah sia-sia. Dan sekarang saatnya Alvin menyatakan perasaannya pada Sivia.


~

            Senja itu, dihadapan makam Cakka, Alvin memutuskan untuk menyatakan perasaannya yang sesungguhnya pada Sivia. Alvin sama sekali tidak memikirkan bagaimana jawaban Sivia nanti. Dan Alvin sama sekali tidak peduli, entah nanti Sivia akan menerimanya atau justru menolaknya, yang Alvin tahu saat ini hanyalah, ia harus menyatakan perasaannya pada Sivia sebelum semuanya terlambat.
            “Via…” panggil Alvin pelan seraya mengulurkan tangannya dihadapan Sivia. Sivia yang saat itu terduduk langsung menyambut uluran tangan Alvin dan berdiri dihadapan Pria itu.
            “kenapa, Vin?” Tanya Sivia. Sebenarnya Sivia agak sedikit heran, tidak biasanya Alvin menggenggam tangannya sampai seerat ini.
            “aku Cuma mau bilang sama kamu. Pada senja ini, dan dihadapan makam Kak Cakka, aku ingin bilang kalau aku…. Sangat mencintai kamu, Sivia. Aku ingin jadi bagian hidup kamu, aku ingin mengganti posisi Kak Cakka dihidup dan dihati kamu…”
            Sivia tersentak. Kedua tangannya terlepas begitu saja dari genggaman erat Alvin. Sivia membekap mulutnya. Benar-benar sulit ia bisa percaya, bahwa pada senja ini, dihadapan Makam Cakka, Alvin menyatakan perasaannya padanya.
            Sivia tahu Alvin tulus, dan Sivia sangat menghargai ketulusan Alvin itu. Hanya saja saat ini, Sivia merasa belum bisa menggantikan posisi Cakka. Sivia masih sangat mencintai Cakka. Sivia tidak ingin  menerima perasaan Alvin sementara dalam hatinya ia masih sangat mencintai Cakka.
            Sivia menggeleng beberapa kali. Untuk beberapa saat ia kehabisan kata-kata. Selama ini Alvin sudah berbuat banyak untuk hidupnya, akan sangat jahat dirinya jika ia melukai perasaan Alvin sekarang. Tapi Sivia juga tidak bisa membohongi hatinya.
            Alvin yang mengerti apa yang ada dalam fikiran Sivia saat ini hanya bisa memaklumi. Alvin tahu betul bagaimana besarnya rasa cinta Sivia pada Cakka, Kakaknya. Dan Alvin tidak ingin memaksakan hati Sivia. Alvin tidak setega itu.
            “Via, aku Cuma mau nyatain perasaan aku ke kamu, kalo kamu mau terima atopun nolak itu hak kamu dan itu sama sekali nggak jadi masalah buat aku. Aku ngerti perasaan kamu saat ini”
            “maafin aku ya, Vin?” ucap Sivia dengan penuh penyesalan. Alvin mengangguk beberapa kali seraya tersenyum ikhlas. Demi Tuhan, Alvin sangat ikhlas dengan jawaban Sivia.

            “tapi jika suatu saat nanti, Tuhan memberikan aku kesempatan untuk memilih jodoh, maka aku akan berlari padamu dan memilihmu. Hanya padamu, dan bukan pada yang lainnya. I promise you, Alvin…”
            “thanks, Via….”

~

            Selama 3 hari ini Alvin tidak pernah lagi menampakkan dirinya dihadapan Sivia. Sivia yang mengerti dengan perasaan Alvin saat ini berusaha menerima semuanya dengan lapang dada. Tapi jujur saja, selama 3 hari ini, Sivia benar-benar merasa kosong. Ia telah kehilangan senyuman itu, dan Sivia sangat merindukannya. Lebih dari apapun, Sivia sangat ingin bertemu dengan Alvin.
            “Alvin kemana, Vi? Kok selama 3 hari ini nggak pernah kelihatan?” Tanya Mama yang tiba-tiba saja sudah disamping Sivia.
            “eh” Sivia terkesiap dan baru menyadari kehadiran Mamanya.
            “iya, Alvin kemana?”
            “nggak tau, Ma” jawab Sivia sekenanya.
            “kok bisa nggak tau? Bukannya selama satu bulan ini kamu deket banget ya sama Alvin?”
            “itu dia Ma masalahnya”
            “maksud kamu?”
            Kali ini Sivia menatap Mamanya dan menjelaskan semuanya. Dengan sabar Mama berusaha mendengarkan cerita Sivia hingga Sivia menyelesaikan ceritanya.
            Setelah Sivia menyelesaikan ceritanya, Mama langsung mengangguk paham dan berkata pada Sivia,
            “Via, dengerin Mama ya sayang! Seharusnya kamu ngasih kesempatan dulu sama Alvin, bukannya malah langsung nolak dia kayak yang kamu lakuin. Wajar kalo Alvin kecewa. Coba deh kamu inget-inget, Vi, selama sebulan ini Alvin udah ngelakuin banyak hal buat kamu, bahkan dia rela ninggalin Kuliahnya di Perth Cuma buat nemenin kamu disini. Harusnya kamu hargai usaha Alvin itu dan mau ngasih dia kesempatan. Mama ngerti kamu masih cinta sama Cakka, kamu masih belum bisa ngelupain Cakka, tapi sampai kapan kamu mau terus kayak gini? Kalo kamu nggak berusaha buat bisa buka hatimu, maka selamanya kamu akan terus kayak gini, Vi…”
            “jadi Via harus gimana, Ma?”
            “terima Alvin, kasih dia kesempatan. Masalah hati dan Cinta kamu nggak usah fikirin. Karna hati kapanpun bisa berubah, dan cinta bisa tumbuh seiring waktu. Mama yakin, saat ini sebenarnya kamu sudah mencintai Alvin, hanya saja kamu belum menyadari perasaan itu, karna sampai saat ini kamu terus berada dibawah bayang-bayang Cakka. Ayolah, Vi, buka hati kamu. Mama percaya kalau Cuma Alvin yang bisa bikin kamu bahagia….”
            Sivia terdiam, berusaha mencerna setiap kalimat demi kalimat yang Mamanya ucapkan. Tiba-tiba Mama menyentuh pundak Sivia dan kembali berkata,
            “nggak usah banyak mikir! Sekarang bukan saatnya mikir, tapi saatnya kamu untuk mencari Alvin”
            “maksud Mama?” Sivia tidak mengerti,
            “hari ini Alvin mau balik ke perth. Pesawatnya take off sekitar pukul 9. Kejer dia, Vi, bilang ke dia kalo kamu ngasih dia kesempatan”
            “tapi, Ma…”
            “nggak ada tapi-tapian kalo kamu nggak mau nyesel. Kamu tentu nggak mau kehilangan orang yang kamu cintai untuk yang kedua kalinya kan? Sekarang Alvin pasti masih bersiap-siap dirumahnya. Jadi kamu masih  punya waktu lebih banyak lagi untuk mencegah kepergian Alvin, Nak”
            Sivia berfikir sejenak lalu melirik jam didinding yang saat itu sudah menunjukan pukul setengah 8. Sivia memiliki waktu sekitar 60 menit untuk mengejar Alvin dan mencegah kepergiannya.


~

            Setelah merasa semuanya sudah siap, Alvinpun memantapkan langkahnya untuk segera kembali ke Perth dan melanjutkan kuliahnya yang sempat ia tinggalkan selama satu bulan ini. Mungkin tugas Alvin untuk berada disisi Sivia sudah selesai hari ini juga. Toh Sivia juga sudah bisa menjalani kehidupannya dengan normal. Alvin tersenyum puas, ia merasa lega karna bisa memenuhi janjinya pada Cakka satu bulan yang lalu.
            “jadi kamu mau pergi tanpa pamit dulu sama aku?” ucap seseorang dari arah gerbang rumahnya sebelum Alvin memasuki mobilnya. Sivia menoleh kearah gerbang dan melihat Sivia yang saat itu berdiri didepan gerbang rumahnya seraya menangis.
            “Vi… Via??”
            “kenapa? Kenapa harus seperti ini?” Sivia berjalan perlahan menghampiri Alvin, “selama 3 hari ini kamu ngilang tanpa kabar, dan sekarang kamu juga mau ninggalin aku tanpa ngomong apa-apa, kamu jahat tau nggak, Vin?” isakkan Sivia mulai terdengar samar-samar.
            “nggak gitu, Via….”
            “terus gimana? Kamu sengaja kan ngehindarin aku selama 3 hari ini? Kamu sakit hati kan gara-gara aku nggak bisa nerima perasaan kamu?”
            “Via, bukan kayak gitu. Asal kamu tahu, selama 3 hari ini aku ngehindarin kamu bukan karna aku sakit hati sama kamu, Cuma aja aku mau menguatkan hatiku dengan cara nggak ketemu dulu sama kamu supaya aku bisa balik ke Perth dengan tenang tanpa kepikiran kamu, kalo aku terus-terusan ngeliat kamu, gimana bisa aku pergi ninggalin kamu dengan tenang?”
            “jadi kamu emang bener-bener mau pergi ninggalin aku? Iya? Kamu mau pergi ninggalin aku?”
            “nggak gitu juga, Vi, aku—“
            “Alvin aku sayang sama kamu, dan aku butuh waktu buat ngeyakinin hati aku kalo aku bener-bener mencintai kamu. Please Alvin, tetep disisi aku, ajari aku bagaimana cara mencintai kamu, please….”
            “Via….”
            Sivia menghambur kedalam pelukan Alvin. Ia memeluk tubuh Alvin seerat mungkin,
            “aku ingin bisa mencintai kamu, Vin. Aku ingin perasaan sayang yang aku rasain saat ini bisa berubah jadi perasaan cinta. Please tetep tinggal disisi aku. Ajari aku mencintaimu, Alvin…. Aku nggak bisa ngebayangin gimana hidup aku kalo kamu bener-bener pergi ninggalin aku, Vin? Aku nggak mau kehilangan orang yang aku sayang untuk yang kedua kalinya. Aku cukup kehilangan Cakka, aku nggak mau kehilangan kamu, Vin….”
            Alvin membalas pelukan Sivia lalu mengecup puncak kepala Gadis itu. Alvin melakukannya agak lama.
            “aku nggak akan kemana-mana, selama aku akan terus ada disisi kamu, aku janji nggak akan kemana-mana”
            Tiba-tiba Sivia melepaskan pelukannya dari Alvin, ia menatap kedua mata Alvin lekat-lekat. Dengan penuh harap Sivia berkata,
            “kamu nggak jadi pergi kan?”
            Alvin menggeleng penuh keengganan, ia membelai lembut rambut Sivia lalu kembali membawa Sivia kedalam pelukannya,
            “aku tetep bakalan pergi, Vi, tapi nggak untuk selamanya. Aku janji akan kembali lagi buat kamu. Tunggu aku ya?”
            “tapi gimana kalo kamu nggak kembali lagi…. Kayak Cakka?”
            Lagi-lagi Alvin menggeleng,
            “aku pasti kembali. Percaya sama aku…. Dan aku mau saat aku kembali nanti—“ Alvin dan Sivia mengurai pelukan mereka. Alvin memegang kedua sisi wajah Sivia menggunakan kedua telapak tangannya, “kamu sudah bisa mencintai aku sepenuh hati kamu. Dan saat itu tiba, aku pastikan aku nggak akan ninggalin kamu lagi, aku nggak pernah ngelepasin kamu. Aku pasti akan kembali”
            “Alvin, tapi aku nggak bisa, aku belum siep kehilangan kamu”
            “kamu nggak akan kehilangan aku, Via…”
            “Vin….”
            Alvin melirik jam tangannya lalu kembali berkata pada Sivia,
            “udah saatnya aku berangkat, Vi…”
            “Alvin tapi….” Sivia menahan lengan Alvin.
            Dalam satu gerakan cepat, Alvin menarik wajah Sivia lalu mengecup bibirnya dengan lembut. Ketika Alvin semakin memperdalam ciumannya, Siviapun memejamkan matanya lalu dengan berani membalas ciuman Alvin.
            10 detik berlalu, Alvin dan Sivia sama-sama menjauhkan wajah mereka. Sivia menunduk dalam,
            “aku mencintai kamu, Via, selamanya akan selalu mencintai. Berjanjilah untuk selalu menunggu aku disini…”
            Sivia mengangguk tanpa mampu mengucapkan sepatah kalimatpun. Untuk yang terakhir kalinya Alvin kembali membawa Sivia kedalam pelukannya. Setelah melepaskan pelukannya, Alvinpun memasuki mobilnya dan mengemudikannya perlahan menjauhi Sivia.
            Jujur saja, ada perasaan tidak sanggup jauh didasar hatinya yang terdalam saat ia harus meninggalkan Sivia, tapi mau bagaimana lagi? Alvin harus tetap menyelesaikan kuliah Bisnisnnya di Perth.

            “kembalilah, Alvin. Aku disini aku selalu nungguin kamu….”



                        THE END….

1 comment: