1.
Hakikat Filsafat
Filsafat adalah ilmu
yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu
berdasarkan pikiran atau rasio. Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau
sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang
dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang
sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin
melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. Filsafat
juga merupakan sumber dari segala cabang ilmu yang ada.
Berfilsafat berarti berpikir secara radikal. Filsuf adalah pemikir
yang radikal. Karena berpikir secara radikal, ia tidak pernah berhenti hanya
pada suatu fenomena suatu entitas tertentu. Ia tidak akan pernah berhenti hanya
pada suatu wujud realitas tertentu. Keradikalan berpikirnya itu senantiasa mengobarkan
hasratnya untuk menemukan akar seluruh kenyataan.
Bagi seorang filsuf, hanya apabila akar atau radix realitas telah
ditemukan, segala sesuatu yang bertumbuh di atas akar itu akan dapat dipahami.
Hanya bila akar suatu permasalahan telah ditemukan, permasalahan itu dapat
dimengerti sebagaimana mestinya.
Filsafat bukan hanya mengacu kepada bagian tertentu dari realitas,
melainkan kepada keseluruhannya. Dalam memandang
keseluruhan realitas, filsafat senantiasa berupaya mencari
asas yang paling hakiki dari keseluruhan realitas. Seorang
filsuf akan selalu berupaya untuk menemukan asas yang paling hakiki dari
realitas.
Filsuf adalah pemburu kebenaran. Kebenaran yang diburunya adalah
kebenaran hakiki tentang seluruh realitas dan setiap hal yang dapat
dipersoalkan. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa berfilsafat berarti memburu
kebenaran tentang segala sesuatu.
Tentu saja kebenaran yang hendak digapai bukanlah kebenaran yang
meragukan. Untuk memperoleh kebenaran yang sungguh-sungguh dapat
dipertanggungjawabkan, setiap kebenaran yang telah diraih harus senantiasa
terbuka untuk dipersoalkan kembali dan diuji demi meraih kebenaran yang lebih
pasti. Demikian seterusnya.
Jelas terlihat bahwa kebenaran filsafat tidak pernah bersifat
mutlak dan final, melainkan terus bergerak dari suatu kebenaran menuju
kebenaran baru yang lebih pasti. Kebenaran yang baru ditemukan itu juga terbuka
untuk dipersoalkan kembali demi menemukan kebenaran yang lebih
meyakinkan.dengan demikian, terlihat bahwa salah satu sifat dasar filsafat
ialah memburu kebenaran. Upaya memburu kebenaran itu adalah demi kebenaran itu
sendiri, dan kebenaran yang diburu adalah kebenaran yang meyakinkan serta lebih
pasti.
2. Sejarah Filsafat
Filsafat berkembang dan lahir ketika
manusia merasa kagum terhadap dunia sekelilingnya. Dan filsafat itu sendiri
adalah sesuatu rangkaian kegiatan dari budi pekerti manusia yang pada dasarnya
bersifat reflektif atau memantul diri, dalam arti senantiasa bertanya dan
mencari jawaban terhadap berbagai masalah yang membuat manusia merasa kagum
terhadap dunia sekelilingnya. Menusia melakukan pemikiran reflektif itu agar
dirinya bisa merasa tenang dan bebas dari ketidaktahuan. Humans learn from ignorance.
Kini masalah-masalah yang mencengangkan itu oleh para filsuf (sebutan orang ahli ilmu filsafat) disebut persoalan filsafati. Dan sejarah filsafat itu sendiri terdiri dari 3 bagian, yaitu sejarah filsafat menurut pembagian masa, sejarah filsafat dari sesuatu negara (seperti sejarah filsafat dari negara India atau Inggris), dan sejarah cabang-cabang filsafat. Sejarah filsafat menurut pembagian masa dapat mengikuti beberapa ukuran pembagian.
Sebuah pembagian yang terinci dari sejarah filsafat Barat menurut masa adalah sebagai berikut :
1. Masa dari pemikiran reflektif pemula
2. Masa pra-Sokrates
3. Masa Klasik
4. Zaman Hellenistik Permulaan
5. Abad Kristen Pemula
6. Abad Pertengahan (Zaman Kepercayaan)
7. Masa Renaisanse (Zaman Petualangan)
8. Abad ke-17 (Zaman Akal)
9. Abad ke-18 (Zaman Pencerahan)
10. Abad ke-19 (Zaman Ideologi)
11. Abad ke-20 (Zaman Analisis)
Sejarah filsafat menurut cabang-cabang filsafat menunjuk pada uraian sejarah tentang 6 cabang filsafat sistematis, yaitu sejarah metafisika (semula menurut istilah Aristoteles (filsafat pertama) dinamakan prote philosophia), sejarah epistemologi, sejarah metodologi, sejarah logika, sejarah etika, dan sejarah estetika.
Sejarah filsafat sebagai cabang yang ke 7 dari filsafat sistematis mempunyai kedudukan yang khas dalam hal ini secara serentak berhubungan dengan semua 6 cabang filsafat sistematis. Dan saling berkaitan dan menyeluruh dari 7 cabang ini, dapat dipandang sebagai struktur filsafat sistematis.
Kini masalah-masalah yang mencengangkan itu oleh para filsuf (sebutan orang ahli ilmu filsafat) disebut persoalan filsafati. Dan sejarah filsafat itu sendiri terdiri dari 3 bagian, yaitu sejarah filsafat menurut pembagian masa, sejarah filsafat dari sesuatu negara (seperti sejarah filsafat dari negara India atau Inggris), dan sejarah cabang-cabang filsafat. Sejarah filsafat menurut pembagian masa dapat mengikuti beberapa ukuran pembagian.
Sebuah pembagian yang terinci dari sejarah filsafat Barat menurut masa adalah sebagai berikut :
1. Masa dari pemikiran reflektif pemula
2. Masa pra-Sokrates
3. Masa Klasik
4. Zaman Hellenistik Permulaan
5. Abad Kristen Pemula
6. Abad Pertengahan (Zaman Kepercayaan)
7. Masa Renaisanse (Zaman Petualangan)
8. Abad ke-17 (Zaman Akal)
9. Abad ke-18 (Zaman Pencerahan)
10. Abad ke-19 (Zaman Ideologi)
11. Abad ke-20 (Zaman Analisis)
Sejarah filsafat menurut cabang-cabang filsafat menunjuk pada uraian sejarah tentang 6 cabang filsafat sistematis, yaitu sejarah metafisika (semula menurut istilah Aristoteles (filsafat pertama) dinamakan prote philosophia), sejarah epistemologi, sejarah metodologi, sejarah logika, sejarah etika, dan sejarah estetika.
Sejarah filsafat sebagai cabang yang ke 7 dari filsafat sistematis mempunyai kedudukan yang khas dalam hal ini secara serentak berhubungan dengan semua 6 cabang filsafat sistematis. Dan saling berkaitan dan menyeluruh dari 7 cabang ini, dapat dipandang sebagai struktur filsafat sistematis.
3.
Kemungkinan Perkembangan Filsafat Pada
Zaman Modern
Filsafat merupakan sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap
kehidupan alam dan biasanya diterima secara tidak kritis. Filsafat juga
dianggap sebagai kreasi berpikir dengan menggunakan metode-metode ilmiah untuk
memahami dunia. Filsafat bertujuan untuk memahami dunia dan memperpadukan hasil
dan ilmu pengetahuan ke ilmu pengetahuan special agar menjadi suatu pandangan
hidup yang seragam. Itu merupakan tujuan Filsafat dari jaman Thales (Bapak
Filsafat) hingga jaman sekarang.
Di masa sekarang ini, manusia bercorak individualistis,
humanistis, romantis, sehingga manusia cepat beralih pada
kepentingan-kepentingan dekat dan “dunia” memiliki arti yang lain bagi manusia.
Kondisi manusia yang hidup di perkotaan, dengan kendaraan, perumahan, dan
segalanya yang ada di kota, membuat manusia semakin jauh dengan dunia astronomis.
Dahulu, bangsa Yunani purba banyak dicemaskan oleh masalah diam
dan perubahan, yang mana perubahan yang mereka maksudkan adalah perubahan
fisik/alam, seperti atom-atom yang bergerak, air yang mengalir, dan lain-lain.
Tapi, ketika masalah itu belum selesai, perhatian manusia tertarik ke
perubahan-perubahan dalam bentuk lain, seperti adat istiadat,
hubungan-hubungan, dan lain-lain. Hal itu menunjukkan keragaman, sementara
keragaman menghasilkan banyak penafsiran. Maka, hal itulah yang membuat Filsafat
tetap ada hingga sekarang, hanya saja, sekarang ia menjadi penafsiran dari
hidup, maka kondisinya menjadi sama seperti dahulu, dimana Filsafat adalah
suatu usaha untuk memahami dunia dimana kita hidup.
Karena kehidupan yang kita jalani penuh kekerasan, maka dorongan
untuk berfilsafat terus muncul dan bersemayam dalam kehidupan modern. Tapi
waktu sekarang ini amat terbatas, sehingga untuk berfilsafat kita hanya
mempunyai kesempatan untuk memikirkan sebagian masalah-masalah dengan
mengajukan pertanyaan yang tidak menyeluruh, sehingga tidak bisa menyelesaikan
permasalahan yang menjadi hajat hidup banyak orang.



0 comments:
Post a Comment