Wednesday, December 4, 2013

0

Lebih Dari Indah [Chapter 5: Alvin, I Hate You!]







                Sepulang dari sekolah, Ify langsung berlari memasuki kamarnya tanpa sedikitpun menghiraukan panggilan Mami. Setibanya dikamar Ifypun menghempaskan tubuhnya diatas kasur lalu menangis sejadi-jadinya disana.
            Kejadian disekolah tadi, saat ia harus dengan terpaksa memutuskan hubungannya dengan Rio membuat perasaan Ify hancur sehancur-hancurnya. Andai saja perbedaan diantara mereka ini tidak pernah ada dan menghalangi semuanya, andai saja perbedaan diantara mereka ini tidak pernah ada dan mengusik kebahagiaannya, dan andai saja perbedaan diantara mereka ini tidak pernah ada dan memisahkan mereka. Ify hanya ingin hidup bahagia dengan orang yang ia cintai, apa keinginan Ify itu salah, dan apa keinginan itu terlampau mustahil untuk bisa terkabulkan?
            Ify tiba-tiba saja merasakan sebuah belaian hangat dikepalanya. Tanpa melihatpun Ify sudah tahu kalau yang saat ini sedang membelainya adalah Mami. Ify memejamkan matanya sejenak, berusaha meredam isakkannya yang semakin menjadi.
            “Ify kenapa, sayang…?” Tanya Mami khawatir.
            Ify tersenyum jengah detik itu juga, apa perlu Mami masih menanyakan keadaannya saat ini? Atau apa Mami hanya ingin berbasa-basi saja?
            “Ify sudah ikutin apa mau kalian, hiks… Ify…”
            “kamu sama Rio udaah—“
            “PUTUS!  Dan itu kan yang Papi dan Mami mau?” potong Ify sebelum Mami menyelesaikan ucapannya.
            Kali ini Mami hanya diam dan  memilih untuk tidak menanggapi ucapan Ify tadi. Mami bingung harus berkata apa. Dalam hati Mami hanya bisa mengucapkan kata maaf. Mami menyesal harus melakukan ini, tapi mau bagaimana lagi? Ia juga sama sekali merasa tidak berdaya jika harus melawan kehendak suaminya.

^_^

            “sebelum pulang, gimana kalo kita tanding dulu?” tantang Cakka pada Agni yang ketika itu sudah bersiap-siap untuk pulang.
            Mendengar tantangan Cakka, Agni menghentikan sejenak aktifitas memasukan barang-barangnya kedalam tas, Agni tersenyum meremehkan lantas berkata,
            “gue nggak ada waktu” Agni kembali membereskan barang-barangnya, tapi kali ini dengan gerakan yang lebih cepat. Agni hanya ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini, dan Agni tidak ingin berdua dengan Cakka dalam waktu yang lumayan lama.
            “lo emang nggak ada waktu atau lo emang takut ngelawan gue?” kata Cakka semakin menantang. Tapi Agni lebih memilih untuk tetap masa bodoh.
            “terserah lo mau ngomong apa”
            Cakka tersenyum licik, ia mendrible bola yang ada ditangannya, melakukan lay up lalu menembakkan bola itu kedalam ring dan masuk. Cakka kembali menangkap bola itu dan mengapitnya dilengan.
            “jadi kesimpulannya, lo emang cemen”
            Kali ini Agni mengangkat wajahnya lalu menatap Cakka tajam. Ia merasa tidak terima dengan ucapan Cakka yang terakhir. Menanggapi tatapan tajam yang dilemparkan oleh Mantan Pacarnya ini, Cakka hanya bisa memamerkan senyum maut andalannya seraya mengedipkan mata sebelah kananya. Agni yang merasa geram dan tertantang langsung melepaskan tas nya dan berjalan perlahan ketengah lapangan.
            “jangan panggil gue Agnia Renata kalo gue nggak bisa ngalahin lo!!”

            Cakka tersenyum penuh kemenangan detik itu juga. Ia merasa berada diatas angin.
            “kalo gue yang menang, besok, selama seharian penuh lo jadi milik gue, dan lo harus ikutin kemana pun gue pergi” kata Cakka seraya mendrible bola itu. Agni sedikit kaget, tapi ia berusaha untuk tidak gentar. Ia yakin bisa mengalahkan Cakka.
            “dan kalo gue yang menang, lo harus ngejauhin gue dan nggak usah ngejer-ngejer gue lagi. SELAMANYA” balas Agni tidak kalah sengitnya. Ia pun berhasil merebut bola itu dari tangan Cakka.
            “heh! Siapa takut??”

^_^

            “Bunda, bisa kan lain kali nggak usah minta Alvin buat nganter aku pulang lagi?” omel Via saat ia baru saja memasuki rumahnya dengan wajah sebal. Via melepaskan tas nya diatas meja begitu saja lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa yang nyaman.
            “emangnya kenapa? Sukur-sukur Alvin masih mau pulang sama kamu” jawab Bunda dengan tatapan yang tak lepas dari Majalah yang sedari tadi ia baca. Via berdecak pelan, ia memutar bola matanya lalu kembali meraih tasnya.
            Via bangkit dari sofa dan telah siap untuk menganyunkan langkahnya menuju kamarnya dilantai 2. Tepat sebelum Via melangkah, Bunda kembali buka suara,
            “Bunda suka sama Alvin, Vi… dan kayaknya kamu cocok sama Alvin”
            “Bunda” kata Via malas.
            Bunda mengurai sebuah senyum. Perhatiannya tetap tidak ia alihkan dari majalah yang saat ini ada ditangannya.
            “karena seenggaknya, Alvin lebih baik dari Gabriel”
            “Bunda jangan bawa-bawa nama Gabriel dalam masalah ini bisa kan?” jawab Via sedikit emosi.
            Sejak kepergian Gabriel beberapa hari yang lalu, sejak saat itulah Via tidak ingin lagi mendengar nama itu disebut entah oleh siapapun itu. Bahkan Via sudah mengajarkan pada dirinya sendiri untuk membuang nama Gabriel jauh-jauh dari hati dan ingatannya. Via tidak ingin lagi mengingat Pria itu, Pria yang sudah menorehkan luka terparah didinding hatinya dengan pergi meninggalkannya begitu saja tanpa alas an yang pasti.
            Via berdecak kecil lalu berjalan dengan langkah terburu menaiki anak tangga. Bunda mengalihkan perhatiannya dari majalah yang ia baca lalu menatap punggung Via yang nyaris hilang dari pandangannya.


^_^

            Pertandingan One On One yang dilakukan oleh Cakka dan Agni ternyata dimenangkan oleh Cakka. Seperti yang sudah Cakka duga sebelumnya, ia pasti akan memenangkan pertandingan ini, dan ternyata dugaan Cakka itu terbukti. Agni terduduk lemah ditengah lapangan dengan keringat bercucuran membanjiri seluruh tubuhnya. Tamat sudah riwayatnya, besok ia akan menjadi milik Cakka sepenuhnya dan tanpa penolakan apapun.
            Cakka tersenyum dengan seringai liciknya ketika melihat wajah pasrah Agni. Dan Cakka sama sekali tidak peduli dengan apa yang Agni rasakan saat ini, yang Cakka tahu hanyalah, besok Agni akan menjadi miliknya, walaupun hanya sehari, itu semua sudah lebih dari cukup buat Cakka.
            Cakka berjalan perlahan menghampiri Agni lantas mengulurkan tangannya dihadapan Mantan Pacar yang selalu ia sayangi itu. Agni menatap tangan Cakka yang terulur, tidak berapa lama kemudian, Agni mengangkat wajahnya, senyuman mematikan serta tatapan teduh dari Cakka langsung menyambutnya detik itu. Deg… jantung Agni tiba-tiba berdegub kencang, ia mendadak salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa. Lalu tanpa ia komando, Agni menepis tangan Cakka dengan kasar lantas berdiri sendiri, Cakka tersenyum kecil atas penolakan yang baru saja ia terima,
            “nggak usah, gue bisa sendiri” Agni berjalan melewati Cakka. Tapi kemudian Agni mendadak menghentikan langkahnya ketika sebuah suara kembali terdengar,
            “lo masih ingat dengan taruhan kita tadi kan, Agnia Renata? Dan lo nggak berniat untuk lari kan?”
            Agni tersenyum miring. Ia merasa Cakka telah merendahkannya.
            “gue nggak sepengecut itu. Tenang aja, gue sportif kok orangnya, dan gue nggak akan lari” kata Agni tegas lalu melanjutkan langkahnya.
            “Agni… Cakka… untung saja kalian berdua masih disini” kata Pak Imam yang tiba-tiba saja hadir ditengah-tengah mereka. Pak Imam adalah pelatih Basket mereka. Agni menghentikan langkahnya lalu menatap Pak Imam dengan pandangan heran, begitu juga dengan Cakka.
            “emang ada apa, Pak?” Tanya Cakka.
            “kita harus dapet pengganti Iel sebelum pertandingan tiba. Setidaknya, pengganti Iel nanti sama hebatnya dengan Iel”
            “kenapa nggak ngadain audisi aja, Pak?” usul Agni yang masih berdiri membelakangi Cakka. Cakka berjalan perlahan hingga sejajar dengan posisi Agni sekarang. Cakka dan Agni saling menatap sejenak lalu kembali mengalihkan tatapan mereka kearah Pak Imam.
            “proses audisi itu lama, dan kita nggak mungkin ngadain audisi sementara pertandingan Cuma tinggal 2 minggu lagi, Agni” jawab Pak Imam dengan nada sedikit putus asa.
            “tapi kalo untuk mendapatkan pengganti yang setara dengan Iel, akan lebih nggak mungkin lagi kalo kita mencarinya dengan sembarang dan tanpa audisi. Kita semua tau kan gimana luar biasanya kemampuan seorang Gabriel Nata Pratama? Dan saya agak pesimis bisa menemukan pengganti Iel tanpa melakukan proses audisi, Pak” jelas Agni panjang lebar. Pak Imam hanya mengangguk, tapi raut kebingungan tidak kunjung menghilang dari wajah manis Guru Muda itu.
            “saya tau siapa yang bisa menggantikan posisi Iel, bahkan tanpa ngelakuin audisi” kata Cakka tiba-tiba sambil menatap lurus kedepan.


^_^

            “Gue nggak bisa!” kata Alvin tegas. Ia menembakkan bola basket yang sejak tadi ia drible kearah ring. Bola itu pun memasuki ring dengan sempurna dan membuat Cakka berdecak kagum.
            Sore itu, sepulangnya dari sekolah, Cakka langsung menemui Alvin yang saat itu tengah bermain basket sendiri di lapangan komplek. Niat Cakka menemui Alvin adalah untuk menyampaikan maksudnya yang ingin menawarkan Alvin untuk ikut bergabung dengan Tim Basket SMA Patuh Karya menggantikan posisi Iel. Diawal Cakka sempat optimis, Alvin akan menyetujui tawarannya itu, tapi ternyata Cakka salah. Karena begitu Cakka menyampaikan tawarannya, Alvin langsung menolaknya mentah-mentah. Tapi hal itu tidak lantas membuat Cakka putus asa. Ia yakin Alvin bisa menggantikan posisi Iel, dan dengan cara apapun, Cakka akan berusaha untuk membawa Alvin masuk kedalam Tim Basket SMA Patuh Karya dan mengikuti pertandingan Basket antar sekolah yang akan diselenggarakan 2 minggu dari sekarang.
            “tapi Alv, saat ini Cuma lo harapan kita semua, dan kita semua yakin kalo lo itu mampu ngegantiin posisi Iel. Lo percaya kan sama gue?”
            “gue bukannya nggak percaya sama lo, Kka, gue Cuma nggak percaya sama diri gue sendiri” kata Alvin pesimis lalu duduk ditengah lapangan. Ia menatap hampa kedepan, tatapannya seakan menerawang jauh ke masa lalu.
            “kenapa?” Tanya Cakka penasaran lantas duduk disamping Sahabat barunya itu. Alvin menggeleng pelan. Ia rasa, Cakka tidak perlau tahu apa alasannya. Yang jelas Alvin sudah mantap dengan keputusannya untuk tidak ikut serta dalam Tim Basket SMA Patuh Karya. Dan itu sudah keputusan mutlak, tidak bisa diganggu gugat lagi.
            Alvin tersenyum kecil, ia menatap Cakka sejenak lalu menepuk pundak Cakka beberapa kali.
            “semoga lo bisa dapet pengganti Iel yang jauh lebih layak dari gue”
            Alvin bangkit dari sisi Cakka lalu berjalan perlahan meninggalkan lapangan Komplek. Cakka tidak yakin dengan dugaannya saat ini, tapi ia menduga, Alvin memiliki pengalaman buruk tentang basket, dan Cakka bersumpah akan mencari tahu tentang itu. Entahlah, Cakka sudah terlanjur yakin dengan kemampuan yang Alvin miliki.


^_^

            Alvin kaget setengah mati ketika melihat Via yang saat itu duduk dengan santainya diruang tengahnya sambil menonton TV. Kedua mata Alvin membelalak lebar, bagaimana ceritanya Via ada dirumahnya? Jangan-jangan Mama yang mengundang, fikir Alvin.
            Alvin berjalan mendekati Via dan berdiri disampingnya. Alvin lalu berdehem pelan dan membuat Via kaget. Via menatap Alvin dengan pandangan tidak suka,
            “eh elo? Ngapain disini? Bikin kaget aja” kata Via lantas kembali mengalihkan perhatiannya pada layar yang ada dihadapannya.
            “harusnya gue yang nanya, lo ngapain dirumah gue?” Tanya Alvin dingin. Via menghela nafas panjang lalu menjawab pertanyaan Alvin tanpa sedikitpun melihat kearah Pria itu,
            “Nyokap lo yang nyulik gue”
            “lo kalo ngomong nggak usah sembarangan ya?”
            “ya emang kenyataannya. Tadi Nyokap lo kerumah gue dan minta supaya gue ikut sama dia kerumah lo, mau nolak tapi gue nggak enak hati, soalnya kan Nyokap lo itu baik banget, nggak kayak elo!”
            “iya, tapi ngapain Nyokap gue bawa lo kesini?”
            “diundang makan malam. Udah nggak usah nanya lagi, puyeng gue”
            Alvin tidak lagi terdengar menimpali perkataan Via. Dengan langkah terburu ia meninggalkan ruang tengah dan menaiki anak tangga hendak ke kamarnya. Via melirik Alvin sejenak lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Dasar aneh! Rutuk Via dalam hati.
            Tidak berselang lama setelah kepergian Alvin, Kintan pun keluar dari dapur lantas duduk disamping Via,
            “Alvin udah pulang, Vi?”
            “udah Tan, dia baruuu aja masuk ke kamarnya” jawab Via. Kintan hanya menganggukan kepalanya beberapa kali.
            “Vi…” panggil Kintan pelan,
            “iya Tante?”
            “kalo Alvin berkata kasar ada berbuat kasar sama kamu, jangan dimasukin kedalam hati ya, sayang? Alvin emang gitu anaknya. Dia emang dingin sama semua cewek”
            “kok bisa?”
            Kintan tersenyum penuh misteri. Tangan kananya bergerak perlahan lalu membelai lembut rambut sebahu milik Via.
            “pokoknya nggak usah dimasukin kedalam hati semua sikap Alvin itu. Ya jelas, secuek apapun Alvin, sedingin apapun Alvin, sebenarnya dia punya hati yang lembut dan mudah rapuh. Tante minta tolong sama kamu untuk bisa ngertiin Alvin, nanti ada saatnya kamu akan mengerti, Via”
            Jujur saja, perkataan Kintan baru saja semakin membuat Via merasa penasaran. Ada apa sebenarnya dengan Alvin? Kenapa tiba-tiba Kintan memintanya untuk berusaha mengerti Alvin? Terus terang saja, Via merasa bingung dengan semua ini.
            Seakan bisa membaca rasa penasaran Via, Kintan kembali berkata,
            “Tante Cuma percaya sama kamu, Nak” Kintan memeluk Via sejenak, ia menyentuh kedua pipi chubby Via sambil tersenyum lebar,
            “udah nggak usah bingung, sekarang kamu panggil Alvin ya dikamarnya? Udah jam nya kita makan malam”
            Via terkesiap dan langsung menjawab “ba… baik Tante”
            Via bangkit dari sofa lalu melangkah kearah anak tangga hendak memanggil Alvin dikamarnya.
            Via tiba didepan kamar Alvin, ragu-ragu ia mengetuk pintu kamar itu, tapi tidak ada jawaban dari dalam sana. Via kembali mengetuk seraya memanggil nama Alvin, tapi tetap tidak ada jawaban apapun. Via menghela nafas panjang, ia berusaha mengumpulkan keberaniannya lalu menarik kenop pintu, tidak lama, pintu kamar Alvin terbuka, Via melihat kedalam, ternyata disana tidak ada siapa-siapa.
            Via memberanikan dirinya untuk memasuki kamar Alvin lebih dalam lagi. Via sedikit kagum ketika melihat kamar Alvin yang terlihat begitu rapi dan bersih, jarang-jarang Via melihat kamar cowok serapi ini, bahkan kamar Cakka tidak serapi ini. Pada dinding kamar Alvin yang berwarna putih itu, Via melihat sejumlah foto yang tertempel, darisana Via bisa menebak bahwa Alvin adalah salah seorang pecinta Photografy.
            Via berhenti tepat didepan meja belajar Alvin, sebuah kamera bermerk Canon yang tergeletak dimeja belajar Alvin tiba-tiba saja menarik perhatiannya. Tanpa berfikir panjang lagi, salah satu tangan Via bergerak perlahan lalu meraih kamera itu. Iseng-iseng Via mencoba melihat-lihat hasil jepretan Alvin dalam kamera itu.
            Via sedikit kaget namun juga kagum ketika melihat gambar seorang Gadis yang terlihat sangat cantik dalam kamera itu. Via kembali melihat foto yang lainnya, ternyata isi kamera itu hanya foto-foto dari satu gadis yang sama. Siapa Gadis ini? Bathin Via bertanya.
            “ngapain lo dikamar gue?” sebuah suara dingin yang terdengar sinis menyapa indera pendengar Via. Via berbalik lalu melihat kearah Alvin yang saat itu berdiri dipintu dengan tatapan pembunuh yang siap menerkam. Tanpa Via sadari, kedua tangannya masih memegangi kamera milik Alvin.
            “gu… gue… ta.. tadi Nyokap lo, nyu… nyuruh gue manggil lo—“ Via mendadak gelagapan, ia merasa salah tingkah karena Alvin telah menangkap basah dirinya.
            Tatapan Alvin tiba-tiba saja tertuju pada kedua tangan Via yang ketika itu sedang memegang kamera miliknya. Alvin melangkah besar-besar kearah Via lalu merenggut kamera itu dengan kasar dari tangan Via, Via menunduk dalam. Ia takut menatap kedua mata yang penuh dengan kilat-kilat kebencian itu. Sepertinya Via salah karena telah melihat-lihat isi dari kamera itu.
            “lo lihat isi kamera ini?” Tanya Alvin dingin seraya menunjukan kamera itu tepat didepan wajah Via. Via mengangguk sambil tetap menunduk.
            “nggak sopan banget lo masuk kamar gue tanpa ijin terus bongkar-bongkar isi kamera gue”
            “ma.. maaf…”
            “gue nggak butuh kata maaf, dan untuk yang kesekian kalinya gue bilang sama lo, gue benci sama kata maaf”
            Via terdiam. Sejak mereka pertama kali bertemu, Alvin memang sering membentaknya, tapi entah kenapa Via merasa lain kali ini. Ia merasakan sebuah perasaan takut.
            “Nyokap gue emang sayang sama lo, tapi buat gue elo tetep bukan siapa-siapa, jadi lo nggak berhak buat nyentuh barang-barang gue. Dan jangan mentang-mentang Nyokap gue sayang sama lo, lo jadi bisa seenaknya masuk kamar gue tanpa ijin terus nyentuh kamera gue, ngerti lo?”
            Via masih betah dengan kebisuannya. Entah kenapa perkataan Alvin barusan benar-benar menusuk jantungnya. Rasanya sakit sekali ketika Alvin membentaknya seperti saat ini. Apa kesalahan yang Via lakukan begitu fatal hingga membuat Alvin marah?
            “dan satu lagi, sekarang lo angkat kaki dari kamar gue. CEPETAN!!” Bentak Alvin dengan tidak berperasaan. Via masih bergeming, dan hal itu semakin membuat emosi Alvin membuncah,
            “atau lo mau gue seret dari sini?”
            Kali ini Via mengangkat wajahnya dan menatap Alvin tajam. Air matanya perlahan menetes, tapi hal itu tidak juga membuat Alvin luluh. Via menghela nafas dalam-dalam, ia mengangkat tangan kananya lalu mendaratkannya dengan cukup keras tepat dipipi sebelah kiri Alvin.
            “lo nggak berhak ngebentak-bentak gue kayak gini. Dan asal lo tau, GUE BENCI SAMA LO!!”
            “Gue nggak peduli. Sekarang keluar dari kamar gue!” kata Alvin sinis sambil menunjuk kearah pintu. Via pun berlari melewati Alvin sambil menabarakkan pundaknya pada pundak pundak Alvin.

            Kali ini Alvin sudah benar-benar menyakiti perasaannya.




                        BERSAMBUNG…


           

0 comments:

Post a Comment