Perlahan-lahan sang mentari mulai
menampakkan sinar kehidupan dari ufuk timur. Ia seakan tersenyum, membangunkan
seluruh alam raya untuk memulai hari ini dengan penuh semangat dan harapan.
Dari salah satu ruangan makan yang
terdapat dirumah yang lumayan besar itu, tampak Alvin dan Kintan sedang
menikmati sarapan mereka masing-masing dalam hening. Sesekali Kintan melihat
kearah Putera semata wayangnya itu dengan tatapan yang susah diartikan,
berkali-kali ia seperti ingin menyampaikan sesuatu, tetapi seperti ada yang
menahan.
Kintan dapat menyaksikan, bagaimana
semalam Alvin membentak Via dengan begitu sengitnya. Kintan bukannya tidak
ingin melerai pertengkaran itu, hanya saja Kintan merasa tidak perlu untuk ikut
campur dalam urusan kedua muda-mudi itu. Tapi sekarang, saatnya lah Kintan buka
suara dan menyampaikan pada Putera mahkotanya ini, bahwa apa yang telah ia
lakukan pada Via semalam sama sekali tidak pantas dilakukan oleh seorang
laki-laki yang hendak beranjak dewasa. Kendatipun Alvin memang dingin pada
semua Gadis, tapi tidak seharusnya lah Alvin sampai harus membentak Via seperti
semalam, apalagi hanya karena hal kecil yang tidaklah berarti.
“Vin, semalam Mama lihat bagaimana
kamu marahin Via bahkan sampai dia nangis. Kamu tahu? Kamu tidak seharusnya
berbuat seperti itu, dan Mama ataupun almarhum Papa kamu tidak pernah
mengajarkan kamu untuk berbuat kasar pada seorang Gadis” ucap Kintan
sehati-hati mungkin, berusaha untuk tidak membuat Alvin tersinggung.
Mendengar itu, Alvin menghentikan
sejenak aktifitas memakannya. Ya, Alvin mendengarkanya, dan Alvin sama sekali
tidak berusaha untuk menutup diri dengan itu, bahkan tanpa Kintan tahu, Alvin
memasukan betul apa yang baru saja ia sampaikan, hanya saja… hanya saja…
“tapi dia udah nyentuh kamera aku
dan ngelihat semua isinya”
“apa yang salah dengan itu?”
“karena dia nggak berhak, Ma”
“hanya karena itu? Tapi apa kamu
tidak bisa menyampaikannya dengan cara yang lebih baik lagi? toh itu hanya kamera biasa, dan isinya juga
Cuma foto-foto—“
“itu bukan kamera biasa, Ma” sela
Alvin sebelum Kintan melanjutkan perkataanya. Tapi tanpa Kintan melanjutkan
perkataannya, Alvin sudah tahu pasti apa yang hendak ingin Kintan sampaikan,
dan Alvin tidak ingin mendengarnya, tidak pernah ingin.
“kamera itu berharga buat aku, dan
siapapun, termasuk Via nggak berhak buat nyentuh kamera itu apalagi sampai
harus ngelihat foto-foto Kak Febby, dia nggak berhak, Ma….”
“sampai kapan kamu harus seperti
ini, Vin? Febby, Febby udah—“
“Kak Febby belum meninggal, mungkin
buat kalian Kak Febby sudah meninggal, tapi tidak buat aku, Ma. Kak Febby
selalu hidup, dan selamanya akan terus seperti itu” sela Alvin lagi, tapi kali
ini dengan nada suara yang terdengar bergetar, begitu menyayat hati. Ada banyak
luka disana, dan Alvin kembali merasakan perih itu saat nama Febby kembali
diungkit.
Alvin menghela nafas panjang. Ia
berusaha mengendalikan dirinya dan mengontrol emosinya meski sulit. Jika nama
Febby kembali diungkit seperti ini, rasa bersalah serta penyesalan yang teramat
dalam itu kembali hadir dan menyiksanya. Alvin tidak sanggup, bertahun-tahun ia
tinggal dan menetap di Belanda hanya untuk melupakan kejadian mengerikan yang telah
merenggut nyawa Febby, tapi hal itu tidak lantas membuat Alvin terbebas dari
semua rasa bersalahnya. Rasa bersalah itu tetap menghantuinya, bahkan hingga
detik ini.
Hal itu pulalah yang membuat Alvin
sangat membenci kata maaf dan siapapun yang mengucapkannya. Karena buat Alvin,
kata Maaf itu tidak berarti dan sama sekali tidak berguna. Karna kaat maaf
tidak akan pernah bisa mengembalikan apa yang sudah hilang. Dan selamanya juga,
kata maaf-nya tidak akan pernah bisa membuat Febby hidup kembali.
Alvin bangkit dari meja makan lantas
pamit,
“aku udah kenyang. Dan aku harus
berangkat sekarang, Ma” Alvin berlalu begitu saja setelah pamit. Kintan menatap
dengan sedih punggung Alvin yang semakin lama semakin menghilang dari
pandangannya.
“sampai kapan kamu harus seperti
ini, Nak?” sebulir air mata Kintan menetes pelan membasahi wajahnya.
^_^
Berkali-kali Agni memeriksa
ponselnya, berharap ia akan mendapatkan respon dari seseorang yang beberapa
menit lalu ia kirimi pesan singkat, tapi hingga jauh waktu ia tidak juga
mendapatkan respon. Agni cemas, Agni juga takut jika Pria itu bertindak nekad. Agni
bangkit dari tepi ranjangnya, meraih tasnya dan telah siap hengkang dari
kamarnya. Tapi begitu ia akan melangkahkan kaki, tiba-tiba saja handphonenya
berbunyi. Agni tersentak, jantungnya mendadak berdetak 2 kali lebih cepat dari
sebelumnya, apa mungkin dia yang menelpon? Tapi Agni langsung mencelos ketika
sebuah nama yang ia harapkan tidak muncul dilayar ponselnya. Ternyata itu bukan
panggilan dari dia yang Agni tunggu-tunggu, melainkan itu adalah sebuah
panggilang dari seseorang yang selama ini justru menunggu-nunggu Agni tanpa
kenal putus asa. Cakka.
“hallo” sapa Agni dengan malas.
“Hallo Mantan! Masih inget kan sama
taruhan kita kemarin?” kata Cakka dari sebrang sana. Agni memutar kedua bola
matanya lantas berdecak kecil nyaris tanpa suara.
“iya iya, gue masih inget”
“ya udah sekarang keluar! Gue udah
didepan rumah lo nih”
“WHAATT??” Kaget Agni lalu berjalan
cepat kearah jendela kamarnya. Ia menyingkap gorden yang menutupi jendelanya,
dan Agni langsung menghela nafas kesal ketika ia mendapati Cakka yang ketika
itu ternyata sudah berdiri didepan gerbang rumahnya seraya melambaikan tangan
kearah Agni. Agni pasrah. Ingin melarikan diri tapi percuma.
“iya iya, gue turun sekarang” ucap
Agni malas lalu berjalan lunglai keluar kamarnya untuk menyusul Cakka.
Hari ini, selama seharian penuh ia
akan menjadi milik Cakka tanpa penolakan apapun. Agni pasrah.
^_^
Alvin semakin mempercapat laju
motornya tanpa menghiraukan suasana jalan raya yang saat itu sedang ramai.
Bahkan Alvin tidak segan-segan menembus lampu merah. Bayang-bayang Febby terus
menjamah fikirannya tanpa henti. dan kenangan memilukan itu kembali berpendar
dikepalanya seperti sebuah film yang diputar ulang.
Flashback
on~
“Calvin
tunggu! kamu mau kemana?” cegat seorang Gadis Cantik yang berusia sekitar 17
tahun itu. Ia menahan lengan Alvin, hingga membuat Alvin mau tidak mau harus
menghentikan langkahnya.
“Lepasin tangan gue, Kak. Gue mau
pergi”
“iya tapi kenapa?”
“gue benci sama lo, Kak. Gue benci”
“Calvin kamu ngomong apa sih, Cal?”
“Kakak nolak aku karna cowok yang
didalem itu kan? Iya kan? Aku sayang sama Kakak, tapi kenapa Kakak nggak mau
ngasih aku kesempatan, kenapa Kak?”
“Calvin… kita nggak bisa sama-sama,
karna kamu…. Karna kamu—“
“Karna aku masih 14 tahun kan, Kak?
Dan karna Kakak Cuma nganggep aku sebagai adek kan, iya kan?”
“tapi memang itu kenyataannya, Cal.
Umur Kakak jauh diatas kamu, dan kita emang lebih pantes jadi Kakak-Adik, dan
nggak bisa lebih dari itu”
“kalau begitu mulai sekarang, jangan
pernah temuin Calvin lagi, Kak. Calvin nggak mau ngeliat muka Kakak lagi, NGGAK
MAU!!” Ujar Alvin dengan nada membentak. Lalu dalam satu sentakan kuat, Alvin
melepaskan begitu saja lengannya dari cengkraman Gadis cantik itu. Dan tanpa
berkata apa-apa lagi, Alvin langsung pergi dari tempat itu. Tempat yang membuat
hatinya terasa sakit. Padahal hari ini adalah hari ulang tahunnya, ia sangat
berharap bahwa dihari ulang tahunya yang ke-14 kali ini, ia bisa merayakannya
bersama Gadis yang sangat ia sayangi ini –Febby- , Gadis yang telah memperkenalkannya betapa
indahnya cinta pertama.
“CALVIN AWAAASSSS!!!!” Pekik Febby
secara tiba-tiba ketika melihat sebuah truk yang melaju dengan kecepatan
maksimal hendak menyongsong Alvin dan Alvin tidak menyadarinya. Lalu tanpa
berfikir panjang lagi, ia berlari ketengah jalan raya untuk menyusul Calvin.
Semunya terjadi begitu cepat. Febby mendorong tubuh Alvin dengan kuat hingga
sedikit terlempar ke pinggir jalan. Sementara itu ia membiarkan dirinya menjadi
korban dalam kecelakaan itu.
Febby terpental hingga beberapa
meter. Seluruh tubuhnya yang telah bersimbah darah tergeletak dengan
mengenaskan ditengah jalan. Alvin terdiam sejenak sebelum tangis itu akhirnya
tumpah ruah bersama segala rasa ketidakberdayaannya.
“K.. Kk…. KAKAAAAAKKKKKK…..!!!”
Teriak Alvin sekuat ia mampu. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Alvin
berlari menghampiri Febby, yang saat ini mungkin sudah berada di ambang maut.
“Kakak…. Kakak maafin Calvin, Kak…”
Alvin menopang kepala Febby dengan lengannya. Sebisa mungkin Febby berusaha
untuk tetap tersenyum.
“Calvin nggak apa-apa kan?” tanyanya
dengan nada melemah. Tangan kanannya yang juga bersimbah darah bergerak perlahan
lalu menyentuh pipi Alvin. Alvin menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan
linangan air mata yang membanjiri seluruh wajahnya. Gadis ini terlalu baik.
Bahkan disaat maut akan menjemputnya, ia masih sempat menanyakan keadaan Alvin.
“tadi Calvin bilang, Calvin nggak
mau ngeliat muka Kakak lagi, kan? Sepertinya Tuhan juga sependapat dengan
Calvin…”
“Kakak ngomong apa sih, Kak?
TOLONG…. TOLOOOONGGGGG!!!” Teriak Alvin meminta pertolongan entah pada siapa
saja yang mau menolongnya. Tapi tak seorangpun yang mendengarkan, suasana
jalanan sudah cukup sepi, bahkan truk yang tadi nyaris saja merenggut nyawa
Alvin sudah pergi entah kemana.
“Kakak sayang sama Calvin, jaga diri
Calvin baik-baik ya? D.. dan per… percaya sama Kakak… s.. s.. suatu saat nanti,
Calvin a.. akan dapetin cewek y… yang jauuuhhh lebih s… segala-galanya dari K…
K… Kakak…”
“Calvin nggak mau, Kak… Calvin nggak
mau…” ujar Alvin seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali.
“s… selamat u… lang t..tahun Cal d…
dan s… lamat ti… nggal” Febby akhirnya
menghembuskan nafas terakhirnya dalam dekapan Alvin. Ia bahkan masih bisa
tersenyum ikhlas pada hembusan nafas terakhirnya. Alvin memeluk erat-erat tubuh
kaku yang sudah tak bernyawa itu,
“KAKAAAAKKK…. JANGAN PERGI, JANGAN
TINGGALIN CALVIN…. KAKAAAAKKKKK!!! CALVIN MINTA MAAF, KAKAK TOLONG JANGAN
TINGGALIN CALVIN, KAKAAAAAKKKKKK……!!!!”
Flashback
off~
Alvin menutup ingatan yang memilukan
itu dengan sebulir air matanya yang menetes bahkan tanpa ia sendiri sadari. Dan
tanpa terasa Alvin tiba disekolah. Alvin yang saat itu sedang dalam keadaan
kalut sama sekali tidak menyadari bahwa didepannya ada seseorang yang tengah
berjalan. Gadis itu menoleh kebelakang dan langsung berteriak ketika motor
milik Alvin nyaris menyongsong tubuhnya,
“AAAAAAAAA….” Alvin yang kaget
langsung terkesiap dan mengerem mendadak motornya. Tapi terlambat, karena Alvin
sudah terlanjur menabraknya. Untungnya Gadis itu tidak apa-apa, yang terluka
hanya siku sebelah kirinya, tadi ia menggunakan siku sebelah kirinya untuk
menahan tubuhnya. Tidak hanya disiku, ia juga mengalami luka yang lumayan parah
pada lututnya. Gadis yang ternyata adalah Via itu langsung meringis merasakan
sakit yang lumayan disekujur tubuhnya,
“awww….”
“VI… VIA?” Alvin yang panic langsung
meloncat turun dari atas motornya lalu menghampiri Via yang ketika itu tengah
berusaha untuk bangkit.
Alvin memegang pundak Via dengan
kedua tangannya lalu membantunya untuk berdiri,
“lo nggak apa-apa?” Tanya Alvin yang
masih dalam keadaan panic. Sebelum menjawab pertanyaan Alvin, Via buru-buru
menyingkirkan tangan kekar milik Alvin dari pundaknya.
“lo baru aja nabrak gue sampe jatoh,
dan sekarang berani-beraninya lo nanya gue nggak apa-apa? Otak lo dimana sih?”
bentak Via yang merasa jengkel atas ulah Alvin yang seolah tanpa perhitungan
itu.
“gue nggak sengaja” ucap Alvin
singkat, padat dan jelas. Via lalu tertawa mencibir. Semudah itu ia berkata
tidak sengaja? Heh, apa Via tidak salah dengar?
“gampang sekali lo ngomong kayak
gitu tanpa minta maaf sama gue” Alvin terdiam sejenak. Minta maaf? seumur-umur
Alvin tidak akan pernah mengucapkan kata terlarang itu dalam hidupnya. Tidak
sekalipun.
“nggak penting” jawab Alvin
seenaknya.
“lo bener-bener sakit jiwa, ya?”
kata Via tidak habis fikir lalu berjalan hendak pergi dari hadapan Alvin.
Tapi belum beberapa langkah ia menggerakan kakinya, Via malah
kembali terjatuh. Kali ini Alvin dengan sigap menghampiri Via lalu mengangkat
tubuhnya dan membawanya ke ruang kesehatan. Bahkan Alvin sama sekali tidak
peduli ketika Via meronta-ronta dalam gendongannya minta diturunkan, dan Alvin
lebih tidak peduli lagi, ketika beberapa tatapan iri nan dengki dari beberapa
cewek-cewek SMA Patuh Karya yang menyaksikan kejadian itu mengarah sinis kearah
Via. Meskipun enggan meminta maaf, tapi Alvin tahu ini semua kesalahannya, dan
dia harus bertanggung jawab atas kesalahan yang telah ia lakukan.
^_^
Ify melirik jam tangan yang
terlingkar dengan manis dipergelangan tangannya. 10 menit lagi bel masuk
berbunyi, tapi hingga detik ini Rio belum juga menampakkan dirinya disekolah.
Hari ini, Ify memutuskan untuk datang kesekolah lebih pagi dari biasanya. Ia
sengaja melakukan hal itu supaya ia bisa memantau Rio dari jauh selepas mereka
putus, tapi sekarang, seseorang yang Ify tunggu-tunggu itu malah tidak
menampakkan dirinya. Ify menghela nafas putus asa. Kemana Rio? Apa Rio tidak
tahu bahwa sejak semalam Ify tidak bisa berhenti memikirkannya? Bahkan
sedetikpun Ify tidak bisa memejamkan kedua matanya dengan tenang. Ify nyaris
tidak tidur semalaman penuh, masalah ini benar-benar membebaninya, sangat
membebaninya.
“kita harus lihat keadaan Via
sekarang!” kata Shilla yang tiba-tiba saja menarik pergelangan tangan Ify dan
membawanya pergi dari depan kelas, tempat dimana daritadi Ify berusaha memantau
Rio. Ify terkesiap, tahu-tahu ia sudah berjalan dibelakang Shilla dengan
pergelangan tangannya yang masih ditarik oleh Shilla.
“emang Via kenapa, Shill?” Tanya Ify
penasaran.
“tadi kata anak-anak, Alvin nabrak
Via, dan sekarang mereka lagi diruang kesehatan”
“APA??” Kaget Ify yang mendadak
panic. Mendadak juga ia melupakan sejenak tentang Rio. Saat ini keadaan Via lah
yang paling penting baginya.
“kok bisa??”
“gue juga nggak tau. Nanti kita
minta penjelasan mereka”
“lo udah ngabarin Agni?”
“iya, tadi gue udah sms dia, dan
sekarang Agni masih di jalan”
Ify tidak lagi terdengar bertanya.
Kali ini ia mengikuti Shilla tanpa mengaluarkan sepatah kalimatpun. Ia begitu
cemas dengan keadaan Via sekarang.
^_^
Alvin membaringkan tubuh Via dengan
sehati-hati mungkin diatas ranjang yang disediakan di UKS sekolah. Melihat
tidak ada petugas PMR yang berjaga hari itu, Alvin terlihat sedikit kesal.
Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Alvin langsung menyiapkan semua
peralatan yang akan ia gunakan untuk membersihkan serta membalut luka Via. Dan
jujur saja, sejak pertama kali bertemu dengan Alvin yang dingin, ini kali
pertamanya Via melihat Alvin sepanik seperti sekarang ini.
“makanya laen kali kalo bawa motor
itu hati-hati, jangan ngelamun aja kerjaan lo!” Alvin tidak menyahut, ia tetap
sibuk dengan menyiapkan segala sesuatu yang ia butuhkan.
Alvin menuangkan beberapa cairan
betadine diatas kapas, setelah merasa cukup, Alvin menarik tangan kiri Via
dengan sedikit kasar, Via meringis pelan, dasar tidak punya hati! Cerca Via
dalam hati. Dengan sangat telaten Alvin membersihkan luka yang terdapat pada
siku kiri Via.
“aw.. pelan-pelan kali. Sakit tau?”
protes Via seraya meringis –lagi-
“nggak usah manja deh”
“lo kalo ngomong nggak usah pake
nyolot bisa kan? Lagian ini juga salah elo kok”
“iya ini emang salah gue. Udah puas?
Sekarang mending lo diem kalo mau ini cepet beres”
Alvin kembali melanjutkan
aktifitasnya yang tadi sempat terhenti. Tapi kali ini Alvin mencoba untuk
hati-hati supaya tidak menyakiti Via lagi. Tanpa sadar, Via menatap wajah Alvin
yang terlihat sangat serius saat mengobati lukanya. Tanpa sadar juga Via
tersenyum kecil. Ternyata si Angkuh ini terlihat lumayan juga kalau sedang
serius plus panic seperti ini. Mendadak, ingatan Via tiba-tiba saja tertuju
pada kejadian semalam dikamar Alvin, dimana Alvin membentaknya dengan tidak
berperasaan hingga akhirnya membuat ia menangis karna sakit hati. Ketika
mengingat itu, senyuman yang tadi merekah diwajah manisnya perlahan memudar.
5 menit kemudian, akhirnya Alvin menyelesaikan pekerjaannya.
Ia mengangkat wajahnya dan menangkap basah Via yang saat itu tengah menatapnya
bahkan tanpa berkedip. Menyadari itu, Via langsung membuang mukanya kearah
lain, pura-pura tidak melihat Alvin. Alvin berusaha untuk tidak sedikitpun
merespon itu meskipun tadi jelas-jelas ia sudah menangkap basah Via yang sedang
menatapnya.
Alvin membereskan peralatan P3K lalu
meletakkan kembali kotak P3K itu ditempatnya semula.
“lo bener-bener nggak mau minta maaf
sama gue nih” Via mulai mencari penyakit. Sedetik Alvin membeku. Apa gadis
bawel ini sedang berusaha untuk menantangnya? Alvin menghela nafas panjang,
berusaha menenangkan dirinya, dan berusaha menahan diri untuk tidak membentak
Gadis ini lagi.
Alvin menutup lemari kecil yang ada
dihadapannya lalu membalik badannya hingga menghadap kearah Via. Alvin
memasukan kedua tangannya pada kedua saku celana seragam kotak-kotaknya. Ia
menatap Via dengan tatapan menerawang, berusaha menebak apa yang saat ini
tengah difikirkan olehnya. Merasa risih ditatap seperti itu, Via langsung
protes.
“nggak usah tatap gue kayak gitu
bisa kan?” Via manyun lalu membuang mukanya kearah lain. Sekali lagi Alvin
menghela nafas panjang dan memilih untuk hengkang dari tempat itu. Sambil
berlalu Alvin berkata,
“lo nggak usah masuk kelas dulu.
Nanti gue yang ijinin sama Bu Netty”
Tepat ketika Alvin membuka pintu
ruang UKS, menyembullah Shilla dan Ify dari balik pintu yang langsung memasuki
ruang UKS tanpa sedikitpun menghiraukan Alvin. Mereka yang benar-benar cemas
dengan keadaan Via sekarang langsung menghampiri Via.
“Via lo nggak apa-apa kan? Apa nya
yang sakit, Vi?” Tanya Ify bertubi-tubi,
“kok bisa kayak gini sih, Vi?” kali
ini Shilla yang terdengar bertanya.
“tuh gara-gara dia” jawab Via seraya
menunjuk kearah Alvin yang sudah keluar dari ruang UKS dengan menggunakan
dagunya.
Shilla dan Ify menatap sekilas punggung
Alvin yang nyaris menghilang dari pandangan. Mereka berdua hanya diam dan tidak
mengeluarkan komentar apapun lagi.
^_^
Dengan setia Ify menemani Via yang
saat itu masih berada diruang UKS. Sementara Shilla dan Agni, saat bel tanda
masuk berbunyi sekitar 3 jam yang lalu, mereka sudah pamit pada Ify dan Via
hingga tinggalah Ify dan Via hanya berdua saja diruang UKS. Via menatap Ify
yang duduk tidak jauh dari tempat ia berbaring sekarang. Saat itu Ify tengah
sibuk berkutat dengan handphonenya. Via terlihat seperti ingin menanyakan
sesuatu yang sejak kemarin mengganjal fikirannya. Sesuatu itu tentu saja
mengenai hubungan Ify dan dan Rio saat ini.
“emm… Fy?” panggil Via ragu-ragu.
“iya?” sahut Ify sambil tetap focus
dengan ponselnya.
“elo sama Rio gimana?” Tanya Via
pada akhirnya memberanikan dirinya. Jika tidak begini, maka selamanya rasa
penasarannya tidak akan pernah terjawab. Ify memang selalu seperti ini, ia
tidak akan pernah menceritakan masalah yang sedang ia hadapi jika tidak ditanya.
Ify terdiam sejenak, ia menghela
nafas beratnya lalu menjawab,
“udah putus”
“Apa? Pu… putus?” kaget Via. Ify
hanya mengangguk, ia membenahi posisi duduknya lalu memulai ceritanya,
“Papi ngancem bakalan ngirim gue ke
London kalo gue tetap bertahan sama Rio, disatu sisi, gue nggak mau putus dari
Rio, tapi disisi lain, gue harus nurutin kemauan Papi, gue Cuma pengen selalu
ada disamping Rio sekalipun dia bukan milik gue, Vi…. Dan gue sama sekali nggak
bisa bayangin gimana hidup gue kalo sampe gue nggak bisa ngelihat Rio lagi, gue
sayang sama Rio, tapi gue sadar gue nggak bisa milikin dia”
“lo yakin dengan keputusan lo ini?”
“yakin nggak yakin harus tetep
yakin, Vi. Sekalipun sulit, sekalipun itu nyakitin buat gue. Gue Cuma pengen
terus ada disamping Rio, itu aja” air mata Ify menetes pelan, ia lalu bangkit
dan berjalan kearah Via. Ify duduk dipinggir ranjang lalu memeluk Via erat.
Dalam pelukan Via, Ify menumpahkan habis tangisannya.
“gue nggak tau harus berbuat apa
lagi supaya gue bisa terus sama-sama Rio, Vi. Gue nggak tau harus ngelakuin
apa? Gue bingung, bener-bener bingung”
Via menepuk pundak Ify beberapa
kali, berusaha menguatkan hati sahabatnya yang rapuh. Via memang tidak tahu
persis bagaimana rasa sakit yang saat ini Ify tanggung, tapi Via berusaha untuk
mengerti.
“lo jangan takut ya, Fy? Gue, Agni
sama Shilla selalu ada buat lo. Kalo ada apa-apa, lo cerita aja sama kita. Kita
mungkin nggak bisa bantu banyak, kita pasti bisa buat bantu lo untuk sekedar
meringkan beban lo. Kita sayang lo, Vi…”
“gue juga sayang kalian….”
Via dan Ify pun mengurai pelukan
mereka, dan tepat ketika itu, bel tanda istirahat berbunyi. Suasana sekolah
yang tadinya sepi senyap sekarang berubah gaduh.
“udah istirahat, bentar lagi Shilla
ama Agni pasti dateng” kata Ify seraya berusaha menyeka air matanya. Via hanya
tersenyum.
“eh, Vi..”
“iya?”
“kok lo bisa sih ditabrak sama
Alvin? Emangnya lo ngapain sampe ditabrak sama dia?”
“tau deh tuh anak! Lagi kesambet
kali. Dia itu emang rese sama gue, dan gue nggak ngerti kenapa dia selalu
bawaannya emosiii aja kalo udah ketemu sama gue, pokoknya gue sebel banget sama
dia, gue benci super duper benci sama makhluk bernama Calvin Adryan itu”
“kok dia bisa sampe segitunya sih
sama lo?”
“tau ah! Lagi PMS kali” jawab Via
seenaknya yang langsung membuat Ify terkekeh geli. Bertepatan dengan itu, pintu
ruang UKS pun terbuka. Via dan Ify menoleh secara bersamaan kearah pintu. Dan
Via langsung kaget sekaget-kagetnya ketika melihat sosok Alvin yang berdiri
diambang pintu dengan wajah dinginnya.
Mendadak jantung Via berdegub dengan
kencang. Apa jangan-jangan tadi Alvin mendengarkan obrolannya dengan Ify? Jika
iya, maka tamatlah riwayatnya hari ini juga, Alvin pasti akan menerkamnya dan
memakannya hidup-hidup. Via tertunduk malu. Saat ini merasa seperti seorang
pencuri yang tertangkap basah.
Alvin melangkah perlahan mendekati
posisi Via dan Ify. Via dan Ify sama-sama membeku ditempat masing-masing. Lalu
tanpa Via duga sebelumnya, Alvin meletakkan sebatang cokelat dimeja kecil yang
berada tepat disamping ranjang yang saat ini Via tempati.
“hari ini lo pulang bareng gue aja.
Lo tunggu disini! Nanti gue yang jemput kesini” kata Alvin dingin lalu berbalik
pergi.
Alvin membanting pintu ruang UKS
dengan lumayan keras, hal itupun langsung membuat Via dan Ify sama-sama
terkejut dan sama-sama melihat kearah pintu. Via dan Ify saling melirik satu
sama lain seraya mengangkat kedua pundak mereka. Tapi jauh didalam lubuk
hatinya terdalam, tanpa ia sendiri sadari, terselip sebuah rasa bahagia yang
semarak, entah rasa bahagia untuk apa.
BERSAMBUNG…



0 comments:
Post a Comment