Sunday, December 8, 2013

0

Lebih Dari Indah [Chapter 6: Ketika Masa Lalu Kembali Mengusik]







                Perlahan-lahan sang mentari mulai menampakkan sinar kehidupan dari ufuk timur. Ia seakan tersenyum, membangunkan seluruh alam raya untuk memulai hari ini dengan penuh semangat dan harapan.
            Dari salah satu ruangan makan yang terdapat dirumah yang lumayan besar itu, tampak Alvin dan Kintan sedang menikmati sarapan mereka masing-masing dalam hening. Sesekali Kintan melihat kearah Putera semata wayangnya itu dengan tatapan yang susah diartikan, berkali-kali ia seperti ingin menyampaikan sesuatu, tetapi seperti ada yang menahan.
            Kintan dapat menyaksikan, bagaimana semalam Alvin membentak Via dengan begitu sengitnya. Kintan bukannya tidak ingin melerai pertengkaran itu, hanya saja Kintan merasa tidak perlu untuk ikut campur dalam urusan kedua muda-mudi itu. Tapi sekarang, saatnya lah Kintan buka suara dan menyampaikan pada Putera mahkotanya ini, bahwa apa yang telah ia lakukan pada Via semalam sama sekali tidak pantas dilakukan oleh seorang laki-laki yang hendak beranjak dewasa. Kendatipun Alvin memang dingin pada semua Gadis, tapi tidak seharusnya lah Alvin sampai harus membentak Via seperti semalam, apalagi hanya karena hal kecil yang tidaklah berarti.
            “Vin, semalam Mama lihat bagaimana kamu marahin Via bahkan sampai dia nangis. Kamu tahu? Kamu tidak seharusnya berbuat seperti itu, dan Mama ataupun almarhum Papa kamu tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbuat kasar pada seorang Gadis” ucap Kintan sehati-hati mungkin, berusaha untuk tidak membuat Alvin tersinggung.
            Mendengar itu, Alvin menghentikan sejenak aktifitas memakannya. Ya, Alvin mendengarkanya, dan Alvin sama sekali tidak berusaha untuk menutup diri dengan itu, bahkan tanpa Kintan tahu, Alvin memasukan betul apa yang baru saja ia sampaikan, hanya saja… hanya saja…
            “tapi dia udah nyentuh kamera aku dan ngelihat semua isinya”
            “apa yang salah dengan itu?”
            “karena dia nggak berhak, Ma”
            “hanya karena itu? Tapi apa kamu tidak bisa menyampaikannya dengan cara yang lebih baik lagi?  toh itu hanya kamera biasa, dan isinya juga Cuma foto-foto—“
            “itu bukan kamera biasa, Ma” sela Alvin sebelum Kintan melanjutkan perkataanya. Tapi tanpa Kintan melanjutkan perkataannya, Alvin sudah tahu pasti apa yang hendak ingin Kintan sampaikan, dan Alvin tidak ingin mendengarnya, tidak pernah ingin.
            “kamera itu berharga buat aku, dan siapapun, termasuk Via nggak berhak buat nyentuh kamera itu apalagi sampai harus ngelihat foto-foto Kak Febby, dia nggak berhak, Ma….”
            “sampai kapan kamu harus seperti ini, Vin? Febby, Febby udah—“
            “Kak Febby belum meninggal, mungkin buat kalian Kak Febby sudah meninggal, tapi tidak buat aku, Ma. Kak Febby selalu hidup, dan selamanya akan terus seperti itu” sela Alvin lagi, tapi kali ini dengan nada suara yang terdengar bergetar, begitu menyayat hati. Ada banyak luka disana, dan Alvin kembali merasakan perih itu saat nama Febby kembali diungkit.
            Alvin menghela nafas panjang. Ia berusaha mengendalikan dirinya dan mengontrol emosinya meski sulit. Jika nama Febby kembali diungkit seperti ini, rasa bersalah serta penyesalan yang teramat dalam itu kembali hadir dan menyiksanya. Alvin tidak sanggup, bertahun-tahun ia tinggal dan menetap di Belanda hanya untuk melupakan kejadian mengerikan yang telah merenggut nyawa Febby, tapi hal itu tidak lantas membuat Alvin terbebas dari semua rasa bersalahnya. Rasa bersalah itu tetap menghantuinya, bahkan hingga detik ini.
            Hal itu pulalah yang membuat Alvin sangat membenci kata maaf dan siapapun yang mengucapkannya. Karena buat Alvin, kata Maaf itu tidak berarti dan sama sekali tidak berguna. Karna kaat maaf tidak akan pernah bisa mengembalikan apa yang sudah hilang. Dan selamanya juga, kata maaf-nya tidak akan pernah bisa membuat Febby hidup kembali.
            Alvin bangkit dari meja makan lantas pamit,
            “aku udah kenyang. Dan aku harus berangkat sekarang, Ma” Alvin berlalu begitu saja setelah pamit. Kintan menatap dengan sedih punggung Alvin yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya.
            “sampai kapan kamu harus seperti ini, Nak?” sebulir air mata Kintan menetes pelan membasahi wajahnya.


­^_^

            Berkali-kali Agni memeriksa ponselnya, berharap ia akan mendapatkan respon dari seseorang yang beberapa menit lalu ia kirimi pesan singkat, tapi hingga jauh waktu ia tidak juga mendapatkan respon. Agni cemas, Agni juga takut jika Pria itu bertindak nekad. Agni bangkit dari tepi ranjangnya, meraih tasnya dan telah siap hengkang dari kamarnya. Tapi begitu ia akan melangkahkan kaki, tiba-tiba saja handphonenya berbunyi. Agni tersentak, jantungnya mendadak berdetak 2 kali lebih cepat dari sebelumnya, apa mungkin dia yang menelpon? Tapi Agni langsung mencelos ketika sebuah nama yang ia harapkan tidak muncul dilayar ponselnya. Ternyata itu bukan panggilan dari dia yang Agni tunggu-tunggu, melainkan itu adalah sebuah panggilang dari seseorang yang selama ini justru menunggu-nunggu Agni tanpa kenal putus asa. Cakka.
            “hallo” sapa Agni dengan malas.
            “Hallo Mantan! Masih inget kan sama taruhan kita kemarin?” kata Cakka dari sebrang sana. Agni memutar kedua bola matanya lantas berdecak kecil nyaris tanpa suara.
            “iya iya, gue masih inget”
            “ya udah sekarang keluar! Gue udah didepan rumah lo nih”
            “WHAATT??” Kaget Agni lalu berjalan cepat kearah jendela kamarnya. Ia menyingkap gorden yang menutupi jendelanya, dan Agni langsung menghela nafas kesal ketika ia mendapati Cakka yang ketika itu ternyata sudah berdiri didepan gerbang rumahnya seraya melambaikan tangan kearah Agni. Agni pasrah. Ingin melarikan diri tapi percuma.
            “iya iya, gue turun sekarang” ucap Agni malas lalu berjalan lunglai keluar kamarnya untuk menyusul Cakka.
            Hari ini, selama seharian penuh ia akan menjadi milik Cakka tanpa penolakan apapun. Agni pasrah.


^_^

            Alvin semakin mempercapat laju motornya tanpa menghiraukan suasana jalan raya yang saat itu sedang ramai. Bahkan Alvin tidak segan-segan menembus lampu merah. Bayang-bayang Febby terus menjamah fikirannya tanpa henti. dan kenangan memilukan itu kembali berpendar dikepalanya seperti sebuah film yang diputar ulang.

Flashback on~

“Calvin tunggu! kamu mau kemana?” cegat seorang Gadis Cantik yang berusia sekitar 17 tahun itu. Ia menahan lengan Alvin, hingga membuat Alvin mau tidak mau harus menghentikan langkahnya.
            “Lepasin tangan gue, Kak. Gue mau pergi”
            “iya tapi kenapa?”
            “gue benci sama lo, Kak. Gue benci”
            “Calvin kamu ngomong apa sih, Cal?”
            “Kakak nolak aku karna cowok yang didalem itu kan? Iya kan? Aku sayang sama Kakak, tapi kenapa Kakak nggak mau ngasih aku kesempatan, kenapa Kak?”
            “Calvin… kita nggak bisa sama-sama, karna kamu…. Karna kamu—“
            “Karna aku masih 14 tahun kan, Kak? Dan karna Kakak Cuma nganggep aku sebagai adek kan, iya kan?”
            “tapi memang itu kenyataannya, Cal. Umur Kakak jauh diatas kamu, dan kita emang lebih pantes jadi Kakak-Adik, dan nggak bisa lebih dari itu”
            “kalau begitu mulai sekarang, jangan pernah temuin Calvin lagi, Kak. Calvin nggak mau ngeliat muka Kakak lagi, NGGAK MAU!!” Ujar Alvin dengan nada membentak. Lalu dalam satu sentakan kuat, Alvin melepaskan begitu saja lengannya dari cengkraman Gadis cantik itu. Dan tanpa berkata apa-apa lagi, Alvin langsung pergi dari tempat itu. Tempat yang membuat hatinya terasa sakit. Padahal hari ini adalah hari ulang tahunnya, ia sangat berharap bahwa dihari ulang tahunya yang ke-14 kali ini, ia bisa merayakannya bersama Gadis yang sangat ia sayangi ini –Febby- ,  Gadis yang telah memperkenalkannya betapa indahnya cinta pertama.
            “CALVIN AWAAASSSS!!!!” Pekik Febby secara tiba-tiba ketika melihat sebuah truk yang melaju dengan kecepatan maksimal hendak menyongsong Alvin dan Alvin tidak menyadarinya. Lalu tanpa berfikir panjang lagi, ia berlari ketengah jalan raya untuk menyusul Calvin. Semunya terjadi begitu cepat. Febby mendorong tubuh Alvin dengan kuat hingga sedikit terlempar ke pinggir jalan. Sementara itu ia membiarkan dirinya menjadi korban dalam kecelakaan itu.
            Febby terpental hingga beberapa meter. Seluruh tubuhnya yang telah bersimbah darah tergeletak dengan mengenaskan ditengah jalan. Alvin terdiam sejenak sebelum tangis itu akhirnya tumpah ruah bersama segala rasa ketidakberdayaannya.
            “K.. Kk…. KAKAAAAAKKKKKK…..!!!” Teriak Alvin sekuat ia mampu. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Alvin berlari menghampiri Febby, yang saat ini mungkin sudah berada di ambang maut.
            “Kakak…. Kakak maafin Calvin, Kak…” Alvin menopang kepala Febby dengan lengannya. Sebisa mungkin Febby berusaha untuk tetap tersenyum.
            “Calvin nggak apa-apa kan?” tanyanya dengan nada melemah. Tangan kanannya yang juga bersimbah darah bergerak perlahan lalu menyentuh pipi Alvin. Alvin menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan linangan air mata yang membanjiri seluruh wajahnya. Gadis ini terlalu baik. Bahkan disaat maut akan menjemputnya, ia masih sempat menanyakan keadaan Alvin.
            “tadi Calvin bilang, Calvin nggak mau ngeliat muka Kakak lagi, kan? Sepertinya Tuhan juga sependapat dengan Calvin…”
            “Kakak ngomong apa sih, Kak? TOLONG…. TOLOOOONGGGGG!!!” Teriak Alvin meminta pertolongan entah pada siapa saja yang mau menolongnya. Tapi tak seorangpun yang mendengarkan, suasana jalanan sudah cukup sepi, bahkan truk yang tadi nyaris saja merenggut nyawa Alvin sudah pergi entah kemana.
            “Kakak sayang sama Calvin, jaga diri Calvin baik-baik ya? D.. dan per… percaya sama Kakak… s.. s.. suatu saat nanti, Calvin a.. akan dapetin cewek y… yang jauuuhhh lebih s… segala-galanya dari K… K… Kakak…”
            “Calvin nggak mau, Kak… Calvin nggak mau…” ujar Alvin seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali.
            “s… selamat u… lang t..tahun Cal d… dan s… lamat  ti… nggal” Febby akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dalam dekapan Alvin. Ia bahkan masih bisa tersenyum ikhlas pada hembusan nafas terakhirnya. Alvin memeluk erat-erat tubuh kaku yang sudah tak bernyawa itu,
            “KAKAAAAKKK…. JANGAN PERGI, JANGAN TINGGALIN CALVIN…. KAKAAAAKKKKK!!! CALVIN MINTA MAAF, KAKAK TOLONG JANGAN TINGGALIN CALVIN, KAKAAAAAKKKKKK……!!!!”

Flashback off~

            Alvin menutup ingatan yang memilukan itu dengan sebulir air matanya yang menetes bahkan tanpa ia sendiri sadari. Dan tanpa terasa Alvin tiba disekolah. Alvin yang saat itu sedang dalam keadaan kalut sama sekali tidak menyadari bahwa didepannya ada seseorang yang tengah berjalan. Gadis itu menoleh kebelakang dan langsung berteriak ketika motor milik Alvin nyaris menyongsong tubuhnya,
            “AAAAAAAAA….” Alvin yang kaget langsung terkesiap dan mengerem mendadak motornya. Tapi terlambat, karena Alvin sudah terlanjur menabraknya. Untungnya Gadis itu tidak apa-apa, yang terluka hanya siku sebelah kirinya, tadi ia menggunakan siku sebelah kirinya untuk menahan tubuhnya. Tidak hanya disiku, ia juga mengalami luka yang lumayan parah pada lututnya. Gadis yang ternyata adalah Via itu langsung meringis merasakan sakit yang lumayan disekujur tubuhnya,
            “awww….”
            “VI… VIA?” Alvin yang panic langsung meloncat turun dari atas motornya lalu menghampiri Via yang ketika itu tengah berusaha untuk bangkit.
            Alvin memegang pundak Via dengan kedua tangannya lalu membantunya untuk berdiri,
            “lo nggak apa-apa?” Tanya Alvin yang masih dalam keadaan panic. Sebelum menjawab pertanyaan Alvin, Via buru-buru menyingkirkan tangan kekar milik Alvin dari pundaknya.
            “lo baru aja nabrak gue sampe jatoh, dan sekarang berani-beraninya lo nanya gue nggak apa-apa? Otak lo dimana sih?” bentak Via yang merasa jengkel atas ulah Alvin yang seolah tanpa perhitungan itu.
            “gue nggak sengaja” ucap Alvin singkat, padat dan jelas. Via lalu tertawa mencibir. Semudah itu ia berkata tidak sengaja? Heh, apa Via tidak salah dengar?
            “gampang sekali lo ngomong kayak gitu tanpa minta maaf sama gue” Alvin terdiam sejenak. Minta maaf? seumur-umur Alvin tidak akan pernah mengucapkan kata terlarang itu dalam hidupnya. Tidak sekalipun.
            “nggak penting” jawab Alvin seenaknya.
            “lo bener-bener sakit jiwa, ya?” kata Via tidak habis fikir lalu berjalan hendak pergi dari hadapan Alvin.
Tapi belum beberapa langkah ia menggerakan kakinya, Via malah kembali terjatuh. Kali ini Alvin dengan sigap menghampiri Via lalu mengangkat tubuhnya dan membawanya ke ruang kesehatan. Bahkan Alvin sama sekali tidak peduli ketika Via meronta-ronta dalam gendongannya minta diturunkan, dan Alvin lebih tidak peduli lagi, ketika beberapa tatapan iri nan dengki dari beberapa cewek-cewek SMA Patuh Karya yang menyaksikan kejadian itu mengarah sinis kearah Via. Meskipun enggan meminta maaf, tapi Alvin tahu ini semua kesalahannya, dan dia harus bertanggung jawab atas kesalahan yang telah ia lakukan.


^_^

            Ify melirik jam tangan yang terlingkar dengan manis dipergelangan tangannya. 10 menit lagi bel masuk berbunyi, tapi hingga detik ini Rio belum juga menampakkan dirinya disekolah. Hari ini, Ify memutuskan untuk datang kesekolah lebih pagi dari biasanya. Ia sengaja melakukan hal itu supaya ia bisa memantau Rio dari jauh selepas mereka putus, tapi sekarang, seseorang yang Ify tunggu-tunggu itu malah tidak menampakkan dirinya. Ify menghela nafas putus asa. Kemana Rio? Apa Rio tidak tahu bahwa sejak semalam Ify tidak bisa berhenti memikirkannya? Bahkan sedetikpun Ify tidak bisa memejamkan kedua matanya dengan tenang. Ify nyaris tidak tidur semalaman penuh, masalah ini benar-benar membebaninya, sangat membebaninya.
            “kita harus lihat keadaan Via sekarang!” kata Shilla yang tiba-tiba saja menarik pergelangan tangan Ify dan membawanya pergi dari depan kelas, tempat dimana daritadi Ify berusaha memantau Rio. Ify terkesiap, tahu-tahu ia sudah berjalan dibelakang Shilla dengan pergelangan tangannya yang masih ditarik oleh Shilla.
            “emang Via kenapa, Shill?” Tanya Ify penasaran.
            “tadi kata anak-anak, Alvin nabrak Via, dan sekarang mereka lagi diruang kesehatan”
            “APA??” Kaget Ify yang mendadak panic. Mendadak juga ia melupakan sejenak tentang Rio. Saat ini keadaan Via lah yang paling penting baginya.
            “kok bisa??”
            “gue juga nggak tau. Nanti kita minta penjelasan mereka”
            “lo udah ngabarin Agni?”
            “iya, tadi gue udah sms dia, dan sekarang Agni masih di jalan”
            Ify tidak lagi terdengar bertanya. Kali ini ia mengikuti Shilla tanpa mengaluarkan sepatah kalimatpun. Ia begitu cemas dengan keadaan Via sekarang.


^_^

            Alvin membaringkan tubuh Via dengan sehati-hati mungkin diatas ranjang yang disediakan di UKS sekolah. Melihat tidak ada petugas PMR yang berjaga hari itu, Alvin terlihat sedikit kesal. Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Alvin langsung menyiapkan semua peralatan yang akan ia gunakan untuk membersihkan serta membalut luka Via. Dan jujur saja, sejak pertama kali bertemu dengan Alvin yang dingin, ini kali pertamanya Via melihat Alvin sepanik seperti sekarang ini.
            “makanya laen kali kalo bawa motor itu hati-hati, jangan ngelamun aja kerjaan lo!” Alvin tidak menyahut, ia tetap sibuk dengan menyiapkan segala sesuatu yang ia butuhkan.
            Alvin menuangkan beberapa cairan betadine diatas kapas, setelah merasa cukup, Alvin menarik tangan kiri Via dengan sedikit kasar, Via meringis pelan, dasar tidak punya hati! Cerca Via dalam hati. Dengan sangat telaten Alvin membersihkan luka yang terdapat pada siku kiri Via.
            “aw.. pelan-pelan kali. Sakit tau?” protes Via seraya meringis –lagi-
            “nggak usah manja deh”
            “lo kalo ngomong nggak usah pake nyolot bisa kan? Lagian ini juga salah elo kok”
            “iya ini emang salah gue. Udah puas? Sekarang mending lo diem kalo mau ini cepet beres”
            Alvin kembali melanjutkan aktifitasnya yang tadi sempat terhenti. Tapi kali ini Alvin mencoba untuk hati-hati supaya tidak menyakiti Via lagi. Tanpa sadar, Via menatap wajah Alvin yang terlihat sangat serius saat mengobati lukanya. Tanpa sadar juga Via tersenyum kecil. Ternyata si Angkuh ini terlihat lumayan juga kalau sedang serius plus panic seperti ini. Mendadak, ingatan Via tiba-tiba saja tertuju pada kejadian semalam dikamar Alvin, dimana Alvin membentaknya dengan tidak berperasaan hingga akhirnya membuat ia menangis karna sakit hati. Ketika mengingat itu, senyuman yang tadi merekah diwajah manisnya perlahan memudar.
5 menit kemudian, akhirnya Alvin menyelesaikan pekerjaannya. Ia mengangkat wajahnya dan menangkap basah Via yang saat itu tengah menatapnya bahkan tanpa berkedip. Menyadari itu, Via langsung membuang mukanya kearah lain, pura-pura tidak melihat Alvin. Alvin berusaha untuk tidak sedikitpun merespon itu meskipun tadi jelas-jelas ia sudah menangkap basah Via yang sedang menatapnya.
            Alvin membereskan peralatan P3K lalu meletakkan kembali kotak P3K itu ditempatnya semula.
            “lo bener-bener nggak mau minta maaf sama gue nih” Via mulai mencari penyakit. Sedetik Alvin membeku. Apa gadis bawel ini sedang berusaha untuk menantangnya? Alvin menghela nafas panjang, berusaha menenangkan dirinya, dan berusaha menahan diri untuk tidak membentak Gadis ini lagi.
            Alvin menutup lemari kecil yang ada dihadapannya lalu membalik badannya hingga menghadap kearah Via. Alvin memasukan kedua tangannya pada kedua saku celana seragam kotak-kotaknya. Ia menatap Via dengan tatapan menerawang, berusaha menebak apa yang saat ini tengah difikirkan olehnya. Merasa risih ditatap seperti itu, Via langsung protes.
            “nggak usah tatap gue kayak gitu bisa kan?” Via manyun lalu membuang mukanya kearah lain. Sekali lagi Alvin menghela nafas panjang dan memilih untuk hengkang dari tempat itu. Sambil berlalu Alvin berkata,
            “lo nggak usah masuk kelas dulu. Nanti gue yang ijinin sama Bu Netty”
            Tepat ketika Alvin membuka pintu ruang UKS, menyembullah Shilla dan Ify dari balik pintu yang langsung memasuki ruang UKS tanpa sedikitpun menghiraukan Alvin. Mereka yang benar-benar cemas dengan keadaan Via sekarang langsung menghampiri Via.
            “Via lo nggak apa-apa kan? Apa nya yang sakit, Vi?” Tanya Ify bertubi-tubi,
            “kok bisa kayak gini sih, Vi?” kali ini Shilla yang terdengar bertanya.
            “tuh gara-gara dia” jawab Via seraya menunjuk kearah Alvin yang sudah keluar dari ruang UKS dengan menggunakan dagunya.
            Shilla dan Ify menatap sekilas punggung Alvin yang nyaris menghilang dari pandangan. Mereka berdua hanya diam dan tidak mengeluarkan komentar apapun lagi.

^_^

            Dengan setia Ify menemani Via yang saat itu masih berada diruang UKS. Sementara Shilla dan Agni, saat bel tanda masuk berbunyi sekitar 3 jam yang lalu, mereka sudah pamit pada Ify dan Via hingga tinggalah Ify dan Via hanya berdua saja diruang UKS. Via menatap Ify yang duduk tidak jauh dari tempat ia berbaring sekarang. Saat itu Ify tengah sibuk berkutat dengan handphonenya. Via terlihat seperti ingin menanyakan sesuatu yang sejak kemarin mengganjal fikirannya. Sesuatu itu tentu saja mengenai hubungan Ify dan dan Rio saat ini.
            “emm… Fy?” panggil Via ragu-ragu.
            “iya?” sahut Ify sambil tetap focus dengan ponselnya.
            “elo sama Rio gimana?” Tanya Via pada akhirnya memberanikan dirinya. Jika tidak begini, maka selamanya rasa penasarannya tidak akan pernah terjawab. Ify memang selalu seperti ini, ia tidak akan pernah menceritakan masalah yang sedang ia hadapi jika tidak ditanya.
            Ify terdiam sejenak, ia menghela nafas beratnya lalu menjawab,
            “udah putus”
            “Apa? Pu… putus?” kaget Via. Ify hanya mengangguk, ia membenahi posisi duduknya lalu memulai ceritanya,
            “Papi ngancem bakalan ngirim gue ke London kalo gue tetap bertahan sama Rio, disatu sisi, gue nggak mau putus dari Rio, tapi disisi lain, gue harus nurutin kemauan Papi, gue Cuma pengen selalu ada disamping Rio sekalipun dia bukan milik gue, Vi…. Dan gue sama sekali nggak bisa bayangin gimana hidup gue kalo sampe gue nggak bisa ngelihat Rio lagi, gue sayang sama Rio, tapi gue sadar gue nggak bisa milikin dia”
            “lo yakin dengan keputusan lo ini?”
            “yakin nggak yakin harus tetep yakin, Vi. Sekalipun sulit, sekalipun itu nyakitin buat gue. Gue Cuma pengen terus ada disamping Rio, itu aja” air mata Ify menetes pelan, ia lalu bangkit dan berjalan kearah Via. Ify duduk dipinggir ranjang lalu memeluk Via erat. Dalam pelukan Via, Ify menumpahkan habis tangisannya.
            “gue nggak tau harus berbuat apa lagi supaya gue bisa terus sama-sama Rio, Vi. Gue nggak tau harus ngelakuin apa? Gue bingung, bener-bener bingung”
            Via menepuk pundak Ify beberapa kali, berusaha menguatkan hati sahabatnya yang rapuh. Via memang tidak tahu persis bagaimana rasa sakit yang saat ini Ify tanggung, tapi Via berusaha untuk mengerti.
            “lo jangan takut ya, Fy? Gue, Agni sama Shilla selalu ada buat lo. Kalo ada apa-apa, lo cerita aja sama kita. Kita mungkin nggak bisa bantu banyak, kita pasti bisa buat bantu lo untuk sekedar meringkan beban lo. Kita sayang lo, Vi…”
            “gue juga sayang kalian….”
            Via dan Ify pun mengurai pelukan mereka, dan tepat ketika itu, bel tanda istirahat berbunyi. Suasana sekolah yang tadinya sepi senyap sekarang berubah gaduh.
            “udah istirahat, bentar lagi Shilla ama Agni pasti dateng” kata Ify seraya berusaha menyeka air matanya. Via hanya tersenyum.
            “eh, Vi..”
            “iya?”
            “kok lo bisa sih ditabrak sama Alvin? Emangnya lo ngapain sampe ditabrak sama dia?”
            “tau deh tuh anak! Lagi kesambet kali. Dia itu emang rese sama gue, dan gue nggak ngerti kenapa dia selalu bawaannya emosiii aja kalo udah ketemu sama gue, pokoknya gue sebel banget sama dia, gue benci super duper benci sama makhluk bernama Calvin Adryan itu”
            “kok dia bisa sampe segitunya sih sama lo?”
            “tau ah! Lagi PMS kali” jawab Via seenaknya yang langsung membuat Ify terkekeh geli. Bertepatan dengan itu, pintu ruang UKS pun terbuka. Via dan Ify menoleh secara bersamaan kearah pintu. Dan Via langsung kaget sekaget-kagetnya ketika melihat sosok Alvin yang berdiri diambang pintu dengan wajah dinginnya.
            Mendadak jantung Via berdegub dengan kencang. Apa jangan-jangan tadi Alvin mendengarkan obrolannya dengan Ify? Jika iya, maka tamatlah riwayatnya hari ini juga, Alvin pasti akan menerkamnya dan memakannya hidup-hidup. Via tertunduk malu. Saat ini merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.
            Alvin melangkah perlahan mendekati posisi Via dan Ify. Via dan Ify sama-sama membeku ditempat masing-masing. Lalu tanpa Via duga sebelumnya, Alvin meletakkan sebatang cokelat dimeja kecil yang berada tepat disamping ranjang yang saat ini Via tempati.
            “hari ini lo pulang bareng gue aja. Lo tunggu disini! Nanti gue yang jemput kesini” kata Alvin dingin lalu berbalik pergi.
            Alvin membanting pintu ruang UKS dengan lumayan keras, hal itupun langsung membuat Via dan Ify sama-sama terkejut dan sama-sama melihat kearah pintu. Via dan Ify saling melirik satu sama lain seraya mengangkat kedua pundak mereka. Tapi jauh didalam lubuk hatinya terdalam, tanpa ia sendiri sadari, terselip sebuah rasa bahagia yang semarak, entah rasa bahagia untuk apa.



                                    BERSAMBUNG…

0 comments:

Post a Comment