Dosakah aku bila dicintaimu
Bila jalinan hati kini menjeratku
Tapi haruskah diriku pasrah
Diriku mengalah
Memang cinta tiada bermata
Bisa ciptakan sedih juga bahagia
Aku kini terjerat karenanya
Susah lepaskan dia
Jalannya cinta nodai hati
Aku dicinta jalinan tiada pasti
Dan aku tak harus terkalahkan
Dan diriku terabaikan
Kuikuti cahaya hati
Bila jalinan hati kini menjeratku
Tapi haruskah diriku pasrah
Diriku mengalah
Memang cinta tiada bermata
Bisa ciptakan sedih juga bahagia
Aku kini terjerat karenanya
Susah lepaskan dia
Jalannya cinta nodai hati
Aku dicinta jalinan tiada pasti
Dan aku tak harus terkalahkan
Dan diriku terabaikan
Kuikuti cahaya hati
***
Aku duduk termenung
disebuah bangku panjang yang terdapat disalah satu taman di pusat kota Paris.
Aku menatap jalan yang terhampar luas dihadapanku. Dedaunan jatuh yang berwarna
kuning terang berserakan disepanjang jalan menandakan bahwa saat ini sedang
musim gugur. Musim Gugur, ahhh… aku pedih tiap kali mengingat musim ini. Aku
memejamkan mataku sejenak, berusaha menghirup udara sebanyak mungkin dan
mengisinya didadaku agar tidak sesak lagi. Aku merasakan kedua mataku mulai
memanas dan perlahan mengabur, semuanya terekam kembali dalam memoriku dan
menyeretku pada satu rentetan kisah panjang nan rumit yang aku alami 6 bulan
yang lalu. Tentang sebuah kisah, rahasia, dan Cakka.
Cakka….
Seharusnya dia ada disini sekarang bersamaku, duduk disampingku dengan
mengenggam erat jemari tanganku, dan menikmati musim gugur bersamaku disini, di
Paris, kota impiannya, kota impian kita. Tapi sekarang ia bahkan tidak disini,
tidak juga bersama ku, apa dia telah melupakan janjinya? Apa dia berusaha
mengingkari janji itu? Musim gugur yang memilukan tanpa Cakka disampingku…
***
1
bulan yang lalu…
“Vi…
Via… lihat deh! Kak Cakka ngeliatin lo terus, dari tadi malah” ku dengar Ify
berbisik pelan ditelingaku seraya menyenggol lenganku dan berusaha mengalihkan
perhatianku dari buku yang sejak tadi aku tekuri.
Aku
sedikit berdecak, sedikit kesal juga karena merasa terganggu oleh Ify. Aku
menutup bukuku lalu menatap Ify tajam dari balik kaca mata min yang aku
gunakan. Namun bukannya takut dengan tatapan tajamku, Ify malah terkekeh geli
dan menganggapku lucu.
“nggak
usah sok garang begitu! Lo tau nggak, lo lebih kelihatan seperti seekor anak
kucing lucu nan imut yang berusaha terlihat seperti seekor singa galak,
hahaha…” Ify tertawa puas dan semakin membuat aku kesal.
Aku
menghela nafas beberapa kali, memang dibutuhkan kesabaran yang super ekstra
jika sedang berhadapan dengan cewek yang terkenal paling bawel se-SMA Tunas
Bangsa ini. Siapapun tidak akan pernah bisa menang melawannya. Ify memang
jagoan.
Ify
tahu-tahu mengangkat kedua tangannya, ia meraih wajahku lalu memutarnya
kesamping, kedua mata ku pun akhirnya tertumbuk pada sepasang manic mata indah
nan meneduhkan yang sedang menatapku dari kejauhan sana dengan seulas senyuman
manis. Aku melepaskan kedua tangan Ify begitu saja, kemudian aku membalas
senyum itu dengan senyuman paling kaku yang pernah aku miliki, sungguh aku
benar-benar belum merasa siap. Merasa mendapatkan respons dariku, si Pemilik
kedua manic mata indah nan meneduhkan itu langsung melambaikan tangannya ke
arahku, tapi itu sama sekali tidak menarik perhatianku, perhatianku malah
tertuju pada satu sosok pria yang sedang duduk disamping Kak Cakka dengan
gayanya yang terlihat angkuh, dingin, cuek dan tidak peduli, namanya Kak Alvin,
sahabat kental Kak Cakka.
Sejak
pertama kali aku menginjakkan kaki disekolah ini, hatiku sudah tertambat
padanya, tetapi ia –Kak Alvin- bahkan tidak sedikitpun melirikku, tidak
sekalipun. Dari sana aku tahu bahwa perasaanku bertepuk sebelah tangan, aku
tidak ingin mengharapkannya lagi, tidak setelah ia menolakku secara
terang-terangan bahkan sebelum aku mengungkapkan perasaan ku padanya.
Lain
Kak Alvin, lain pula Kak Cakka. Sejak pertama kali bertemu dengannya, ia selalu
memperhatikanku. Aku bukannya tidak tahu akan hal itu, tapi aku hanya berusaha
untuk pura-pura tidak tahu saja. Aku tidak bisa memaksakan perasaanku padanya,
tidak pernah bisa. Aku terlalu takut dan tidak kuasa jika harus menyakiti Pria
sebaik Kak Cakka, dia terlampau sempurna dan terlalu indah untukku, untukku
yang bahkan tidak sedikitpun menyimpan hati padanya.
“kayaknya
Kak Cakka beneran suka sama lo, Vi. Kasih respon kek” perkataan Ify itu
tiba-tiba saja menarikku dari lamunan panjangku, aku terkesiap lalu buru-buru
membuang tatapanku dari kedua Pria itu, utamanya Alvin.
“belom
tentu” jawabku cuek lalu kembali sibuk dengan buku yang ada ditanganku. Ify
menatapku dengan tatapan tidak habis fikir. ‘Dasar kutu buku’ gumamnya pelan,
aku mendengar, tapi aku lebih memilih untuk tidak peduli.
***
Ketika
hati akhirnya memilih…
Sejak
hari itu, hari dimana aku membalas senyumannya untuk yang pertama kalinya, Kak
Cakka mulai mendekati aku dan sebisa mungkin memberikan aku perhatian yang
lebih. Aku yang tidak ingin mengecawakannya berusaha untuk menerima semua
perhatiannya sebaik mungkin. Sementara aku sedang mati-matian berusaha membalas
perasaan Kak Cakka, Kak Alvin malah tetap bergeming, tetapi aku berusaha untuk
tidak peduli dengan itu, toh dia juga tidak pernah memperdulikan aku kan?
Dan
hari ini, tepatnya sebulan setelah kami melakukan pendekatan, Kak Cakka akhirnya
menyatakan perasaannya padaku, seperti yang pernah aku duga sebelumnya, tapi
cara yang ia lakukan sungguh diluar perkiraanku.
Senja
itu, Kak Cakka mengajakku pergi ke sebuah taman. Tangan kananya mengenggam erat
jemari tanganku, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk membawa gitar
kesayangannya. Sepanjang perjalanan aku hanya terdiam, tidak juga berusaha
untuk bertanya.
Ditangah
taman itu, ditengah-tengah puluhan pasang pasang mata yang tengah memperhatikan
kami, Kak Cakka melepaskan gandengannya. Kak Cakka berjalan mundur secara
perlahan menjauhiku, senyuman itu tetap mengembang diwajah tampannya.
Kak
Cakka lalu memetik gitarnya, memainkan sebuah lagu untukku,
“Andai engkau tahu
Bila menjadi aku
Sejuta rasa di hati
Lama tlah ku pendamBila menjadi aku
Sejuta rasa di hati
Tapi akan kucoba mengatakan
ku ingin kau menjadi milikku
entah bagaimana caranya
lihatlah mataku untuk memintamu
ku ingin jalani bersamamu
coba dengan sepenuh hati
kuingin jujur apa adanya dari hati
Kini yg kau tahu
Aku menginginkanmu tapi takkan ku paksakan
Dan ku pastikan
Kau belahan hati bila milikku
ku ingin kau menjadi milikku
entah bagaimana caranya
lihatlah mataku untuk memintamu
ku ingin jalani bersamamu
coba dengan sepenuh hati
kuingin jujur apa adanya dari hati
menarilah bersamaku dengan bintang-bintang
sambutlah diriku untuk memelukmu
ku ingin kau menjadi milikku
entah bagaimana caranya
lihatlah mataku untuk memintamu
ku ingin jalani bersamamu
coba dengan sepenuh hati
kuingin jujur apa adanya dari hati…”
Kak Cakka akhirnya menyelesaikan lagu yang begitu indah dan begitu menyentuh hati itu. Tanpa terasa air mataku menetes entah sejak kapan. Dari lagu yang baru saja Kak Cakka nyanyikan itu, aku benar-benar bisa merasakan ketulusannya bahkan sampai ke relung hatiku yang terdalam. Dan hari itu aku menyesal karena selama ini telah berusaha menepikan rasa Kak Cakka hanya karna Kak Alvin yang selama ini bahkan tidak pernah melirikku sekalipun.
Tidak cukup sampai disitu Kak Cakka membuatku terharu, ia lagi-lagi membuat aku terharu dengan ucapannya, tidak hanya terharu, bahkan Kak Cakka mampu membuat aku ingin segera berlari kepadanya dan memeluknya seerat mungkin. Hari ini Kak Cakka telah berhasil membuat aku jatuh cinta padanya.
“aku pernah bermimpi bisa menyatakan perasaan aku ke kamu ditengah taman di kota Paris pada sebuah musim gugur, tapi mungkin untuk sekarang aku belum bisa mewujudkan mimpi itu, tapi suatu saat nanti aku berjanji, aku akan bawa kamu ke Paris pada satu musim gugur terindah, disana akan aku katakan bahwa aku sangat mencintai kamu dan ingin kamu jadi milik aku seutuhnya. Via…. Aku cinta sama kamu…”
Merasa tidak kuasa membendung segala luapan perasaanku, aku berlari kearah Kak Cakka lalu memeluknya seerat mungkin, persis seperti apa yang aku inginkan tadi. Aku menangis terisak dalam dekapannya, susah payah aku akhirnya berucap,
“aku nggak butuh kota Paris, Kak, aku nggak butuh musim gugur terindah seperti apa yang Kak Cakka bilang, semua ini cukup buat aku Kak, aku mau jadi milik Kakak, karna aku juga memiliki rasa yang sama seperti Kakak…”
Hari itu hatiku akhirnya resmi memilih. Dan Kak Cakka adalah pilihanku.
Entah aku salah lihat atau hanya halusinasi saja,
dikejauhan sana, aku melihat Kak Alvin tersenyum, ia lalu berbalik dan
melangkah pergi. Aku terus menatap punggungnya yang semakin lama semakin
menghilang dari pandanganku. Tapi benarkah itu Kak Alvin? Buat apa dia disini?
Tapi aku tidak peduli, karena sekarang ini yang ada fikiranku hanyalah Kak
Cakka, bukan Kak Alvin lagi. Pintu hatiku telah benar-benar tertutup untuknya.
Final.
***
Saat ia akhirnya memelukku untuk yang pertama kalinya….
“Jika dalam sebulan kamu tidak mendapatkan donor hati, maka tidak akan ada lagi harapan untuk kesembuhan kamu, Via”
Vonis dari Dokter Septian itu langsung menohok dadaku tanpa ampun. Seketika, udara disekitarku lamat-lamat menghilang, rasanya sesak. Air mata itu telah tergenang dipelupuk mataku dan telah siap merembes keluar, tapi sebisa mungkin aku berusaha untuk menahan. Aku tidak boleh cengeng, aku harus tetap kuat apapun yang terjadi.
“yang itu berarti saya akan meninggal?” tanyaku dengan suara lirih. Dokter Septian langsung menunduk dalam. Entahlah, mungkin ia tidak tega melihatku.
2 tahun yang lalu, disini, diruangan yang sama seperti yang aku datangi hari ini, Dokter Septian memvonis ku menderita Hepatoma atau kanker hati. Saat vonis itu dijatuhkan padaku dihadapan kedua orang tua ku, aku merasa saat itu juga hidupku telah berakhir, aku tidak lagi melihat cahaya masa depan yang bersinar terang dihadapanku, yang ada hanyalah segumpalan awan mendung dalam hidupku, semuanya terasa gelap tak bercahaya. Tapi ketika aku menginjakkan kakiku di SMA Tunas Bangsa, semangat hidupku mendadak terpompa kembali ketika aku melihat satu sosok Pria yang langsung membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dialah Kak Alvin.
Namun aku kembali terhempas dan terpuruk saat aku tahu bahwa ternyata perasaanku padanya hanya perasaan cinta bertepuk sebelah tangan yang selamanya tidak akan pernah bisa ia sambut. Kendati pun kenyataan hidup yang harus aku terima begitu pahit, tapi aku selalu mencoba untuk tetap terlihat tegar dan kuat demi kedua orang tua ku yang selama ini sudah mengorbankan banyak hal demi kesembuhanku, meskipun hasil akhirnya tetap sia-sia.
Dan Tuhan ternyata sangat mencintaiku, Ia tidak pernah membiarkan aku terpuruk terlalu lama, dan Ia selalu memelukku disaat aku merasa lelah dengan kenyataan hidup ini. Dan Tuhan pun menunjukan rasa cintanya padaku dengan mengirimkan sosok Kak Cakka yang sempurna dalam hidupku, selain kedua orang tua ku, Kak Cakka adalah alas an lain yang membuatku untuk terus ingin hidup bahkan sampai seribu tahun lagi, Kak Cakka menghidupkan kembali semangatku meskipun hingga detik ini aku belum memiliki keberanian yang cukup untuk memberitahukan yang sebenarnya padanya. Aku bukannya ingin merahasiakan tentang penyakitku ini, hanya saja aku tidak ingin Kak Cakka ikut terlarut dalam penderitaanku ini. Dengan dia berada disampingku saja sudah cukup membuat aku merasa bahagia, aku tidak ingin apapun selain itu.
Jika aku boleh meminta pada Tuhan sekali ini saja, aku ingin terus hidup. Aku masih ingin membahagiakan kedua orang tua ku, aku masih ingin membalas semua jasa-jasa mereka. Aku juga masih ingin pergi ke Paris bersama Kak Cakka pada liburan semester nanti, aku masih ingin menikmati musim gugur di Paris bersama Kak Cakka satu bulan lagi, aku masih ingin bersama Kak Cakka. Bisakah Tuhan mengabulkan permohonan ku untuk kali ini saja?
Aku terduduk disalah satu bangku taman yang terdapat dihalaman rumah sakit yang cukup luas itu. Disana aku menumpahkan habis air mataku tanpa ada satu orang pun yang tahu, disana aku menangis sejadi-jadinya untuk melegakan hatiku. Ya… saat ini yang aku butuhkan hanyalah menangis, aku ingin melampiaskan semuanya dalam sebuah tangisan. Biarlah untuk kali ini aku membuka topeng kemunafikan yang selama ini aku gunakan, biarlah untuk kali ini saja aku menunjukan diriku yang sebenernya, diriku yang sebenernya hanyalah makhluk cengeng yang sama sekali tidak berdaya, diriku yang sebenarnya sangatlah rapuh dan tidak setegar seperti apa yang orang-orang lihat selama ini.
Tahu-tahu aku merasakan seseorang menarik pundakku lalu membawa aku kedalam dekapan hangatnya. Aku tahu siapa dia, aku dapat merasakannya bahkan dengan sangat jelas, tapi sekali lagi aku katakana, saat ini aku hanya ingin menangis, hanya itu.
“Tuhan selalu punya rencana yang indah dibalik ujian-ujian menyakitkan yang Ia kirimkan” bisiknya pelan seraya membelai lembut rambut sebahuku. Aku mengangkat wajahku, saat itu juga langsung ku dapati sosok Kak Alvin yang tengah tersenyum padaku sambil menatapku dengan kedua mata elang nya. Seumur hidupku, itu adalah senyuman serta pelukan pertama yang ia hadiahkan untukku, ini juga pertama kalinya dalam hidupku ia mengajakku berbicara. Tapi aku sedikit heran, apa ia tahu tentang penyakit ku? Tapi ia tahu darimana?
Seakan bisa membaca rasa penasaranku, ia menyeka air mataku dengan lembut lantas berkata,
“Dokter Septian itu Om gue” katanya singkat seolah menjawab rasa penasaranku, kedua mataku membelalak lebar, jangan-jangan…
“rahasia lo aman dari Cakka” saat itu juga aku langsung menghela nafas lega. Sungguh, aku benar-benar tidak ingin jika Kak Cakka tahu tentang semuanya, aku tidak ingin membebani Kak Cakka, sama sekali tidak ingin.
“lo mau berjanji satu hal sama gue?” Tanya Kak Alvin tiba-tiba. Untuk sejenak aku berfikir lalu mengangguk,
“gimanapun keadaan lo sekarang, jangan pernah tinggalin Cakka, Cakka sangat mencintai lo lebih dari apapun itu…”
Aku mengangguk pasti, tentu saja aku tidak akan pernah meninggalkannya, kecuali nanti jika Tuhan telah memanggilku…
***
Bagiku ini adalah malam minggu terindah yang pernah aku lewati bersama Cakka. Bagaimana tidak, mala mini Cakka mengajakku pergi kesebuah bukit, dan dari atas bukit ini aku bisa melihat dengan sangat jelas pemandangan kota yang terhampar luas dibawah sana. Lampu-lampu dari kendaraan yang sedang berlalu-lalang dijalan raya ditambah lagi dengan lampu-lampu gedung semakin membuat pemandangan itu terlihat indah dimataku. Bulan menggantung sempurna diatas langit, serta jutaan bintang-bintang yang berkelap-kelip semakin membuat malam itu terasa bermakna. Aku menatap Cakka yang duduk disampingku, tidak lama aku menggerakkan wajahku perlahan lalu mengecup kilat pipinya. Cakka yang terkejut dengan perlakuanku langsung menoleh kesamping seraya memegangi pipinya. Sejenak Cakka terpaku, ia lalu tersenyum dan berkata,
“dasar curang!”
“makasih ya?” lirihku pelan nyaris meneteskan air mata. Cakka hanya tersenyum seraya mengangguk. Tapi terus terang saja, aku merasa ada yang aneh dengan Cakka malam ini. Aku menggeser posisi dudukku hingga berdekatan dengan Cakka, aku menggandeng lengannya seerat mungkin lalu merebahkan kepalaku diatas pundaknya,
“Kak Cakka…”
“hmmm…” gumam Cakka pelan,
“kalo suatu saat nanti Tuhan memanggil aku lebih dulu, Kak Cakka akan bagaimana?”
Cakka terdengar menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku.
“kamu kok ngomong kayak gitu, sih? Aku nggak suka ya, Vi” aku semakin mempererat gandengaku padanya,
“jawab aja! Pliss..” pintaku dengan nada memohon. Cakka kembali menghela nafas beratnya, 3 detik kemudian ia akhirnya buka suara,
“aku nggak bisa bayangin itu, maaf”
“Kak… aku sayaaangg banget sama Kak Cakka, aku nggak mau jauh-jauh dari Kakak, aku mau selamanya bisa terus berada disamping Kak Cakka, hiks…” isakkan itu akhirnya terdengar pelan. Cakka lalu melepaskan gandenganku, ia memegang kedua pundakku dan menatap wajahku untuk beberapa lama,
“emang siapa yang mau pergi ninggalin kamu, Vi? Aku nggak akan kemana-mana, aku tetep disini, sama kamu, selamanya…”
Merasa tidak sanggup lagi membendung segala luapan perasaanku, akupun akhirnya membawa diriku kedalam pelukan Cakka, dengan sigap ia menangkap tubuhku dan memelukku seerat mungkin.
5 detik kemudian kami sama-sama mengurai pelukan kami. Cakka menyeka air mata yang tergenang disudut mataku, lalu setelahnya ia menjawil hidungku seraya berkata,
“dasar cengeng!”
“cengeng-cengeng begini juga Kak Cakka tetep sayang, haha…”
Aku dan Cakka sama-sama tertawa. Dari jauh semuanya terlihat sempurna tanpa cela. Tapi Cakka tidak pernah tahu, bahwa jauh didalam lubuk hatiku yang terdalam aku menyimpan ribuan luka. Aku menghentikan tawaku sejenak lalu menatap wajah Cakka dari samping dengan lekat-lekat. Aku gamang membayangkan bahwa sebulan lagi aku tidak akan pernah bisa mendengar suara yang nyaring itu, aku gamang memikirkan bahwa sebulan lagi aku akan pergi meninggalkannya sejauh mungkin. Tanpa terasa sebulir air mataku menetes secara perlahan, aku mengisak pelan hingga menyebabkan Cakka menghentikan tawanya, Cakka menoleh kearahku lalu kembali menyeka air mataku,
“kok nangis lagi?”
Aku hanya menggeleng, tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaannya itu. Beberapa detik kemudian Cakka menggerakkan wajahnya perlahan mendekati wajahku. Dan saat kedua mata indah nan meneduhkan itu tertutup, aku juga menutup kedua mataku, berusaha menyambut kehangatan yang ia berikan. Tubuhku terasa begitu ringan, aku merasa seperti terbang menembus langit malam yang bertahtakan jutaan bintang-bintang.
***
Harapanku untuk hidup kembali bersinar… masa depan itu kembali terlihat, awan mendung itu perlahan pergi… terimakasih Tuhan…
“kamu sudah mendapatkan pendonor hati, Via. Operasinya akan segera kita lakukan mala mini juga” perkataan Dokter Septian itu benar-benar membuat aku terkejut. Ini diluar dugaanku. Baru seminggu yang lalu Dokter Septian memvonis bahwa aku tidak akan bisa bertahan lebih dari satu bulan, baru seminggu yang lalu Vonis yang Dokter Septian jatuhkan padaku membuat semua harapan-harapan serta mimpi-mimpiku musnah dalam hitungan detik saja, tapi sekarang, semua harapan-harapan serta mimpi-mimpi yang telah punah itu seakan hidup kembali.
Aku membekap mulutku sendiri, perlahan Kristal-kristal bening itu mulai berjatuhan dari pelupuk mataku. Ini bukan tangis duka seperti sebelum-belumnya, tapi ini tangis bahagia. Seumur hidupku, aku tidak pernah merasa sebahagia ini.
“boleh saya tahu siapa pendonor itu, Dok?” dengan lirih aku bertanya. Dokter Septian langsung menunduk lesu, dari gurat-gurat wajahnya yang penuh dengan kebimbangan, aku bisa membaca dengan jelas kegetiran hatinya saat ini.
Dokter Septian menghela nafas beratnya, ia berusaha menyunggingkan seulas senyuman diwajah manisnya,
“saya sangat ingin memberitahukannya, Via, tapi maaf saya tidak bisa. Ini permintaan langsung dari si Pendonor itu, dia ingin identitasnya di rahasiakan” ucap Dokter Septian berusaha terdengar meyakinkan, tapi meski begitu hati kecilku merasa sedikit tidak yakin. Apa mungkin pendonor itu adalah…. Alvin?
Tapi mana mungkin. Tidak ada satupun alas an yang bisa membuat Alvin harus rela mendonorkan hati nya untukku. Itu mustahil.
***
Sebongkah hati yang baru, aku ingin terus menjaganya seumur hidupku, aku ingin hidup seribu tahun lagi… dan untuk kota Paris… tunggu aku, sebentar lagi aku dan Kak Cakka akan kesana untuk menikmati satu musim gugur terindah yang pernah ia janjikan… musim gugur di kota Paris akan menjadi saksi atas semuanya… atas cintaku, Kak Cakka, dan satu musim gugur terindah…
Saat ini aku telah hidup dengan sebongkah hati yang baru, Dokter Septian pun telah menyatakan bahwa aku sembuh total dari penyakit Hepatoma yang aku derita selama beberapa tahun terakhir ini. Tidak hanya hidup dengan sebongkah hati yang baru, tapi aku merasa hidup dengan nafas yang baru juga, semuanya terasa lebih bermakna. 2 minggu pasca operasi Dokter Septian masih tetap kekeuh merahasiakan identitas si Pendonor itu dariku, tapi siapapun itu aku tetap mengucapkan rasa terimakasih yang tiada terhingga, tanpa dia mungkin hari ini aku tidak akan pernah bisa melihat matahari terbit dengan cantiknya, tanpa dia mungkin hari ini aku tidak akan bisa menghirup udara pagi yang selalu aku rindukan. Dengan sepenuh hatiku, aku benar-benar berterimakasih padanya.
Selama 2 minggu ini juga, aku benar-benar menenggelamkan diri dari kehidupan Cakka. Aku tahu, Cakka pasti akan sangat mencemaskanku. Dan aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana Cakka pergi kesana kemari hanya untuk mencari tahu tentang kabarku. Ya… aku jahat, aku jahat karena telah menyiksa ia selama 2 minggu terakhir ini.
Untuk itu hari ini aku memutuskan untuk menemuinya, aku ingin memberikannya sebuah kejutan. Hari ini juga aku akan menceritakan yang sebenarnya pada Cakka.
“Mas Cakka nggak ada dirumah, Non, tapi Mas Cakka titip ini buat Non Via” ujar Bi Ratna, salah satu asisten rumah tangga dikediaman Cakka. Bi Ratna menyerahkan sebuah amplop berwarna putih untukku, dengan tangan gemetar aku menerima amplop itu. Kenapa perasaanku mendadak tidak karuan begini? Apa yang sebenarnya terjadi?
Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, aku langsung membuka amplop itu. Dalam amplop itu aku mendapati sebuah tiket pesawat tujuan Paris. Aku kembali bertanya-tanya, ada apa ini? Selain tiket pesawat, aku juga menemukan sepucuk surat. Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, aku langsung membaca surat itu. Ya… itu tulisan tangan dari Cakka, isi surat itupun sangat amat singkat namun sukses membuat jantungku terasa seperti diremukkan…
Sayang… kamu berangkat ke Paris sendiri yaa?
Seenggaknya sekarang aku udah nggak punya hutang lagi sama kamu, kamu tetep
bisa nikmatin musim gugur di Paris seperti apa yang aku janjikan dulu, tapi
mungkin aku nggak bisa nemenin kamu. Tuhan udah panggil aku terlebih dahulu
ternyata. Jaga hati ini baik-baik yaa? Aku mungin udah nggak didunia lagi, tapi
selamanya aku akan selalu hidup dan bersemayam didalam hati kamu. Bukankah kita
ditakdirkan untuk sehati dan senyawa??
Kalau kamu bener-bener cinta sama
aku, terima hati yang udah kasih dengan ikhlas, hargai hidup yang hari ini
Tuhan berikan untuk kamu, dan satu lagi… berangkatlah ke Paris untuk satu musim
gugur terindah impian kita…
Love;
Cakka
***
Selamat jalan kekasih…
Kaulah cinta dalam hidupku
Aku kehilanganmu… untuk selama-lamanya…
Air mataku lolos begitu saja ketika ingatan sebulan yang lalu kembali berputar di otakku. Dan entah kenapa, setiap aku menghelakan nafas rasanya begitu perih. Cakka… dia telah mengorbankan hidupnya demi aku, tapi kenapa harus Cakka, Tuhan? Kenapa harus Cakka?
Dan sekarang aku telah disini, duduk disebuah taman di Kota Paris dan menikmati musim gugur tanpa Cakka. Bukankah dulu ia yang menjanjikan semua ini untukku? Tapi kenapa sekarang dia malah pergi terlebih dahulu dan membiarkan aku menikmati musim gugur ini sendiri?
Aku telah memenuhi keinginannya untuk pergi ke Paris sendiri, tapi kenapa ia malah mengingkari janjinya? Janji yang ia sendiri buat sebulan yang lalu ketika ia untuk yang pertama kalinya menyatakan perasaannya padaku?
“Kak Cakka… aku kangen sama Kak Cakka… aku mau Kak Cakka ada disini, sama aku Kak…” ujarku lirih seraya menutup kedua mataku. Aku menyentuh dadaku dan merasakan air mataku kembali lolos entah untuk yang keberapa kalinya.
“Tuhan selalu punya rencana yang indah dibalik ujian-ujian menyakitkan yang Ia kirimkan”
Aku langsung membuka kedua mataku ketika mendengar ada seseorang yang mengucapkan kalimat itu untukku. Aku pernah mendengar kalimat itu sebelumnya, dan hingga sekarangpun kalimat itu masih terekam dengan jelas dalam ingatanku.
Aku menoleh kesamping, disana aku dapati Alvin yang tengah tersenyum padaku. Aku hanya diam, menatapnya datar tanpa ekspresi. Lalu tiba-tiba saja salah satu tangannya bergerak perlahan, ia meraih tanganku lalu menggenggamnya lembut. Alvin menatapku yang masih terpana dalam beberapa detik, lalu setelahnya Alvin langsung mengalihkan perhatiannya, menatap jalanan yang nyaris tertutupi oleh dedaunan musim gugur.
Samar-samar aku mendengar ia bergumam pelan,
“ada sebuah rahasia yang harus kamu ketahui…”
THE END…



0 comments:
Post a Comment