Friday, December 6, 2013

0

SOCRATES [TOKOH FILSAFAT]







                Kira-kira selama dua ribu tahun, para filosof membangun fondasi falsafahnya sehingga mengguncang filsafat dunia barat. Para filosof klasik muncul untuk membangkitkan kembali kepercayaan masayarakat terhadap ilmu pengetahuan yang waktu itu mengalami pendakalan dan melemahnya tanggung jawab manusia karena pengaruh negative dari para filosof aliran sofisme. Kehadiran filosof Yunani klasik sama dengan kehadiran raksasa yang mengguncang bumi. Berbagai pandangan para filosof Yunani merupakan motivasi kuat untuk bangkit kembali ilmu pengetahuan yang telah semakin lemah dan dangkal oleh pengaruh filsafat kaum sofis yang merelativitaskan segala sesuatu.
            Socrates, Plato dan Aristoteles adalah para filosof yang bangkit pada masa Yunani klasik. Zaman klasik berawal dari Socrates, tetap Socrates belum sampai pada suatu system filosofi, yang merupakan nama klasik kepada filosofi itu. Ia baru membuka jalan, ia baru mencari kebenaran; ia belum sampai menegakkan suatu system pandangan. Tujuannya terbatas hingga mencari dasar yang baru dan kuat bagi kebenaran dan moral.
            System ajaran fisafat klasik baru dibangun oleh Plato dan Aristoteles. Berdasarkan ajaran Socrates tentang pengetahuan dan etik berserta filosofi alam yang berkembang sebelum Socrates.
            Socrates lahir di Athena pada tahun 470 SM dan meninggal pada tahun 399 SM. Bapaknya adalah tukang pembuat patung, sedangkan Ibu nya seorang Bidan. Pada permulaannya, Socrates mau menuruti jejak Bapaknya, menjadi tukang pembuat patung pula, tetapi ia berganti haluan. Dari membentuk batu menjadi patung, ia membentuk watas manusia.
            Masa hidupnya hampir sejalan dengan perkembangan sofisme di Athena. Pada hari tuanya, Socrates melihat kota tumpah darahnya mulai mundur, setelah mencapai puncak kebesaran yang gilang-gemilang.
            Socrates terkenal sebagai orang yang berbudi baik, jujur dan adil. Cara penyampaian pemikirannya kepada para pemuda menggunakan metode Tanya jawab. Oleh sebab itu, ia memperoleh banyak simpati dari pada pemuda di negerinya. Namun, ia juga kurang disenangi oleh orang banyak dengan menuduhkannya sebagai orang yang merusak moral para pemuda negerinya. Selain itu, ia juga dituduh menolak dewa-dewa atau Tuhan-Tuhan yang telaj diakui Negara.
            Sebagai kelanjutan atas tuduhan terhadap dirinya, ia diadili oleh pengadilan Athena. Dalam proses pengadilan, ia mengatakan pembelaannya yang kemudian ditulis oleh Plato dalam naskahnya yang berjudul Apologi. Plato mengisahkan adanya tuduhan itu. Socrates dituduh tidak hanya menentang Agama yang diakui oleh Negara, juga mengajarkan Agama baru buatannya sendiri. Salah seorang yang mendakwanya, yaitu Melethus, mengatakan bahwa Socrates adalah seorang yang tak bertuhan, dan menambahkan bahwa Socrates berkata bahwa matahari adalah abut dan bulan adalah tanah. Socrates menangkal tuduhan itu, dan menanyakan kepadanya, siapakah orang yang memperbaiki pemuda? Melethus menjawab mula-mula para hakim, lalu semua orang, kecuali Socrates. Kemudian, Socrates mengucapkan selamat bahwa Athena memiliki nasib baik untuk memiliki begitu banyak orang yang berusaha memperbaiki pemuda, dan orang-orang baik tentu lebih pantas untuk digauli daripada orang jelek. Oleh karena itu, tidak akan menjadi begitu bodoh untuk merusak mereka dengan sengaja, Melethus seharusnya mengajar dia dan tidak menyeretnyak ke pengadilan. (Ahmad Syadali dan Mudzakir, 2004 : 66-67)
            Lebih lanjut, Plato mengisahkan pembelaan Socrates yang mempunyai nada Agama. Ia pernah menjadi Tentara, dan tetap pada pos ini selama ia diperintahkankan untuk tak meninggalkannya. Kini, Tuhan menyuruh saya untuk menaikan tugas amanat filosof untuk mengenal diri saya dan orang lain, dan tentu sangat memalukan jika kau meninggalkan pos ini sekarang seperti halnya pula pada waktu peperangan dan pertempuran. Lebih baik mati daripada takut mati yang akhirnya mati juga. Kalau dia diminta untuk berhenti merenung dan mengadakan penyelidikan agar dia selama dari maut, ia tentu menjawab, “Wahai warga Athena, aku menghormati dan mencintai kamu, tetapi aku akan lebih tunduk kepada Tuhan daripada kamu, dan selama hayat dikandung badan dan aku memiliki kekuatan aku tak akan berhenti mengajarkan dan mengajarkan filsafat, menganjurkan setiap orang yang kutemui…. Karena ketahuilah bahwa ini adalah perintah Tuhan; dan aku percaya bahwa tak ada kebaikan lebih besar bagi Negara daripada pengabdianku kepada Tuhan.” (Ahmad Syadali dan Mudzakir, 2004 : 66-67)
            Dalam proses pengadilan diputuskan bahwa Socrates dinyatakan bersalah dengan suara 200 melawan 220. Ia dituntut hukuman mati.
            Adapun Falsafah pemikiran Socrates, diantaranya adalah pernyataan adanya kebenaran objektif, yaitu yang tidak bergantung kepada aku dan kita. Dalam membenarkan kebenaran yang objektif, ia menggunakan metode tertentu yang dikenal dengan metode dialektika. Dialektika berasal dari kata Yunani yang berarti bercakap-cakap atau berdialog.
            Menurut Socrates, ada kebenaran objektif, yang tidak bergantung kepada aku atau kita. Untuk membuktikan adanya kebenaran objektif, Socrates menggunakan metode tertentu. Metode ini bersifat praktis dan dijalankan melalui percakapan-percakapab. Ia menganalisis pendapat-pendapat. Setiap orang mempunyai pendapat mengenai salah dan benar. Ia bertanya kepada negarawan, hakim, tukang, pedagangan dan sebagainya. Menurut Xenophon, ia bertanya tentang benar-salah, adul-zalim, berani-pengecut, dan lain-lain kepada siapapun yang menurutnya patut ditanya. Socrates selalu menganggap jawaban pertama sebagai hipotesis, dan dengan jawaban yang lebih lanjut, ia menarik konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban tersebut. Jika ternyata hipotesis pertama tidak dapat dipertahankan, karena menghasilkan konsekuensi yang mustahil, hipotesis itu diganti dengan hipotesis lain, dan begitu seterusnya. Sering terjadi, percakapan itu berakhir dengan apoira (kebingungan). Akan tetapi, tidak jarang, dialog itu menghasilkan suatu definisi yang dianggap berguna. (Ahmad Syadali dan Mudzakir, 2004 : 66-67)
            Dari metode dialektikanya, ia menemukan dua penemuan metode yang lain, yakni induksi dan definisi. Ia menggunakan istilah induksi manakala pemikiran bertolak belakang dari pengetahuan yang khusus, lalu menyimpulkannya dengan pengertian yang umum. Pengertian umum diperoleh dari mengambil sifat-sifat yang sama (umum) dari masing-masing kasus khusus dan cirri-ciri khusus yang tidak disetujui bersama disisihkan. Cirri umum tersebut dinamakan cirri esensi dan semua cirri khusus itu dinamakan cirri eksistensi. Suatu definisi dibuat dengan menyebutkan semua cirri esensi suatu objek dengan menyisihkan cirri eksistensinya. Demikianlah jalan untuk memperoleh definisi tentang suatu persoalan. (Ahmad Syadali dan Mudzakir, 2004 : 66-67)
            Sebagaimana disebutkan bahwa filsafat klasik ini merupakan reaksi dari melemahnya pandangan manusia terhadap ilmu pengetahuan, sains, dan agama karena pengaruh filsafat aliran Sofisme yang didominasi paham relativisme. Dengan mengajukan penemuan baru ini, Socrates dapat menangkalnya sehingga mampu membangkitkan dan mengajak orang-orang Athena kembali memegang kaidah-kaidah ilmu pengetahuan, sains, dan agama.
            Socrates dikenal sebagai orang yang berbudi luhur, arif dan bijaksana. Namun ia tak pernah mengaku mempunyai kearifan dan kebijaksanaan. Ia hanya mengaku sebagai penggemar kearifan atau amateur kebijaksanaan, bukan professional dan mengambil untuk kebendaan dari apa yang ia gemari seperti kaum sofis pada zamannya.
            Konon Dewa yang berada di tempat peribadatan bagi orang Yunani di Delphi menyatakan dengan cara luar biasa bahwa ia adalah orang yang paling arif di negeri Yunani. Ia menafsirkan bisikan dewa itu sebagai persetujuan atas cara agnosticism yang menjati titik-tolak dari filsafatnya: “One thing only I know, and that is I know nothing”. Memang, filsafat bermula jika seseorang belajar bagaimana meninjau kembali kepercayaan yang telah sejak kecil dianut, meninjau kembali keyakinan dan meragukan aksioma pengetahuan.
            Bagaimana kepercayaan-kepercayaan menjadi keyakinan, apa tidak ada tujuan tertentu dan maksud rahasia dibelakang yang menyebabkan kelahirannya, dan menaruhnya dalam baju yang merahasiakan hakikat sebenarnya? Tida ada filsafat yang sebenarnya sebelum pikiran menengok dan menyelidiki lebih mendalam. Berfilsafaf yang terbaik adalah melakukan kajian filosofis atas filsafat itu sendiri.
            Paham etika Socrates merupakan kelanjutan dari metode yang ia temukan (Induksi dan Definisi). Sayangnya, Socrates tidak pernah menulis pemikiran falsafahnya sendiri. Untuk mengetahuinya, kita dapat memperolehnya dari tulisan murid-muridnya. (Ahmad Syadali dan Mudzakir, 2004 : 66-67)
            Socrates bergaul dengan semua orang, tua dan muda, kaya dan miskin. Ia seorang filosof dengan corak sendiri. Ajaran filosofinya tak pernah dituliskannya, melainkan dilakukannya dengan perbuatan, dengan cara hidup. Sahabat-sahabatnya mengatakan bahwa Socrates adalah orang yang sangat adil, ia tak pernah berlaku zalim. Ia pandai menguasai dirinya, sehingga ia tak pernah memuaskan hawa nafsu dengan merugikan kepentingan umum. Socrates seorang yang cerdas dan bermoral. Ia senantiasa memikirkan perbedaan baik dan buruk, sehingga kehidupan manusia lebih terjamin dan ketentraman dan kedamaian.
            Tabiat Socrates tercermin dalam pernyataannya sebagai berikut, “padang rumput dan pohon kayu tak member pelajara apa pun kepadaku, manusia ada”. Ia memerhatikan yang baik dan buruk, yang terpuji dan tercela. Suatu saat didapati ditanah lapang dimana banyak orang berkumpul, tidak lama ia berada dipasar. Ia berbicara dengan semua orang, menanyakan apa yang dibuatnya. Ia ingin mengetahui sesuatu dari orang yang mengajarkan sesuatu. Ia selalu bertanya, sungguh-sungguh bertanya, karena ia ingin tahu. Ia bercakap dengan seorang tukang, bertanya tentang pertukangannya. Ia bertanya pada pelukis tentang apa yang dikatakannya indah. Kepada prajurit atau ahli perang, ia tanyakan, apa yang dikatakan berani. Kepada ahli politik, ditanyakannya berbagai hal yang biasa dipersoalkan mereka. Dengan jalan bertanya itu, ia memaksa orang yang ia tanyakan supaya memerhatikan apa yang ia thu hingga disisi mana tahunya. Pertanyaan itu mulanya mudah dan sederhana. Setiap jawaban disusul dengan pertanyaan baru yang lebih mendalam. Dari pertanyaan biasa, ia lalu membawanya kepada pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut. Akhirnya, orang menganggap tahu tadi dihadapkannya pada tanggung jawab tentang pengetahuannya, mengaku dia tidak tahu lagi. Lalu, Socrates, yang mengaku tak tahu, merasa bahwa ia lebih banyak tahu dari mereka yang menganggap dirinya mengetahui.
            Tujuan Socrates ialah mengajar orang mencari kebenaran. Sikap itu merupakan suatu reaksi terhadap ajaran sofisme yang merajalela pada waktu itu. Karena guru-guru sofis mengajarkan bahwa kebenaran yang sebenar-benarnya tidak tercapai. Oleh sebab itu, tiap-tiap pendirian dapat “dibenarkan” dengan jalan retorika. Dengan daya kata dicoba memperoleh persetujuan orang banyak. Apabila orang banyak sudah setuju, itu dianggap sudah benar. Dengan cara begitu, pengetahuan menjadi dangkal.
            Terhadap aliran yang mendangkalkan pengetahuan dan melemahkan rasa tanggung jawab itu, semangat Socrates memberontak. Dengan filosofi yang diamalkannya dan dengan cara hidupnya, ia mencoba memperbaiki masyarakat yang rusak. Orang diajak memperhitungkan tanggung jawabnya. Ia selalu berkata, “Yang ia ketahui Cuma satu, yaitu bahwa ia tak tahu, sebab itu ia bertanya. Tanya jawab adalah jalan baginya untuk memperoleh pengetahuan“. Itulah permulaan dialektika. Dialektika asal katanya “dialog”, artinya bersoal jawab antara dua orang.
            Guru-guru sofis yang mengobralkan “ilmu” ditengah-tengah pasar ditantangnya dengan cara berguru. Ia yang tidak mengetahui itu ingin tahu dan bertanya. Tiap jawaban atas pertanyaannya disusul dengan pertanyaan baru. Demikianlah seterusnya. Pertanyaannya itu beruntun sehingga kaum sofis terdesak dan menyerah. Akhirnya guru sofia tak sanggup lagi menjawab dan mengakui kekalahan perdebatannya dengan Socrates, atau mereka mengakui ketidaktahuannya. Lalu Socrates mengunci Tanya-jawab tersebut dengan berkata, “Demikianlah adanya, kita sama-sama tidak tahu.”
            Permulaan perdebatan ditonton oleh banyak orang. Para penonton mulanya berpihak kepada kamu sofis. Ketika perdebatan semakin memanas, dan kaum sofis mulai kewalahan menjawab pertanyaan Socrates yang beruntun, hingga akhirnya kaum sofis tidak berkutik, para pendengar pun berteriak menertawakan kaum sofis dan Socrates semakin dielu-elukan. Akan tetapi, lagi-lagi Socrates berkata bahwa pada dasarnya kita tidak tahu, maka perlu bertanya, dan kembali tidak tahu, lalu bertanya lagi, sehingga jawaban-jawaban pertanyaan merupakan ilmu pengetahuan yang mendalam, yang semakin mendekatkan diri pada hakikat yang sebenar-benarnya.
            Dengan cara yang berani dan jujur itu, Socrates banyak memperoleh kawan. Para pemuda Athena sangat menyuakinya. Akan tetapi sebaliknya musuhnya juga banyak, terutama dari pihak guru sofis serta pengikutnya yang berpolitik, yang memperoleh kemenangan dengan jalan retorika. Akhirnya, Socrates diajukan ke muka pengadilan rakyat dengan dua tuduhan. Tuduhan pertama bahwa meniadakan dewa-dewa yang diakui oleh Negara, dan mengemukakan dewa-dewa baru. Tuduhan kedua bahwa ia menyesatkan dan merusak kreativitas kaum muda.
            Dalam pembelaannya, Socrates tegas dengan sikapnya. Dengan memerhatikan susunan mahkamah rakyat itu, sudah tentu ia akan disalahkan dan dihukum. Namun, pantang baginya menjilat, beriba-iba mengambil hati para hakim supaya hukumannya diringankan. Dengan cerdas ia mengatakan bahwa ia tidak bersalah, melainkan berjasa pada pemuda dan masyarakat Athena. Bukan hukuman, melainkan upah yang harus diterimanya. Socrates berkata, seharusnya Negara Prytaneion, yaitu balai kota pada masa itu, yang member makanan seumur hidupnya, karena dia telah membangkitkan para pemuda untuk mempertanyakan segala sesuatu, karena pada hakikatnya semua kita tidak tahu.
            Majelis hakim sangat tersinggung dengan perkataan Socrates, hingga diputuskan untuk menghukum mati dengan cara meminum racun. Socrates tidak bergeming dengan sanksi hokum tersebut, dan ia mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat tragis, yaitu meminum racun. Mulutnya masih mengeluarkan filsafat tentang keberakhiran ajal, tubuhnya mengejang sambil mengingat sisa utang kepada temannya, matanya menatap keindahan kebenaran, dan falsafah hidupnya tetap “Tidak Tahu”, maka bertanyalah.
            Dengan hati yang tegar, ia menolak segala bujukan kawan-kawannya untuk lari dari penjara dan menyingkir ke kota lain, ke Megara. Socrates, yang selalu patuh pada undang-undang, tidak mau durhaka pada saat ia akan meninggal. Cara matinya juga memberikan contoh, betapa seorang filosof setia kepada ajarannya. Socrates pulang kea lam baka, tetapi namanya hidup untul selamanya. (Mohammd Hatta, 1986 : 73-76)
            Plato dalam Phaidon menggambarkan saat-saat Socrates meninggal dunia.
            “Engkau semuanya hendaklah sabar dan ingatlah bahwa hanya badanku yang akan kau tanam. Setelah mengucapkan kata ini, berdirilah ia dan pergi ke kamar mandi dengan Crito, yang meminta kami menunggu. Kami pun menunggu sambil bercakap-cakap dan memikirkan kesedihan besar yang menimpa hati kami. Kami seolah-olah kehilangan bapak dan seumur hidup kami akan hidup sebagai anak piatu. Pada saat itu, matahari hampir tenggelam, karena Socrates lama sekali perginya. Setelah ia kembali duduklah ia bersama-sama dengan kami, tetapi percakapan tak banyak. Tidak lama sesudah itu, datanglah sipir sambil berkata, “Aduhai Socrates, aku tahu engkaulah yang termulia dan yang terbaik hatinya dari semua yang pernah datang kemari; aku tak mau menuduh engkau mempunyai perasaan benci kepadaku seperti orang-orang yang lain itu, yang berteriak-teriak dan menyumpahi aku, apabila aku, dalam menjalankan perintah atasan, meminta mereka meminum racun. Sesungguhnya aku percaya engkau tak marah padaku, sebab seperti kau tahu orang lain, bukan aku yang bersalah. Selamat jalan, hadapilah yang tak dapat dielakkan ini dengan hati yang tenang. Inilah pesanku.” Sesudah itu, sambil menangis tersedu-sedu ia berbalik dan pergi.
            Socrates melihat kepadanya dan berkata, “Engkau juga, selamat tinggal. Akan ku kerjakan apa yang kau minta,” Alangkah baiknya orang itu. Selama aku dalam penjara, selalu ia datang kepadaku dan lihatlah betapa ia menangisi aku. Akan tetapi, kita sekarang harus berbuat seperti apa yang dikatakannya, Crito, bawalah kemari gelas yang berisi racun kalau sudah dibuat. Jika belum, suruhlah pelayanmu membuatmu.” Socratesm kata Crito –matahari masih diatas puncak bukit, banyaklah sudah orang yang meminum isi gelas racun sampai habis. Sesudah pemberitahuan itu, ia masih makan dan minum dan memuaskan segala hawa nafsunya. Engkau tak perlu buru-buru, masih ada waktu.”
            Socrates mejawab, “Ya, Crito orang-orang yang kau sebut itu benar kalau mereka berbuat begitu, sebab mereka mengira bahwa mereka beruntung dengan menangguhkan. Akan tetapi, benar juga kalau aku tidak berbuat begitu, sebab sepanjang fikiranku, aku tidak beruntung sedikitpun apabila aku tangguhkan meminum racun itu. Aku hanya akan menyimpan dan menahan hidup yang sudah hilang. Dengan itu, aku hanya akan mencemoohkan diriku sendiri. Buatlah seperti kukatakan dan jangan menampik.”
            Mendengar itu, Crito memberikan isyarat kepada pelayan penjara itu. Dia pergi beberapa waktu lamanya dan kembali lagi bersama-sama dengan seorang lagi yang membawa sebuah gelas minuman berisi racun. Socrates berkata, “Hai sahabatku, engkaulah yang mengerti tentang ini, katakanlah apa yang harus aku kerjakan.” Orang itu menjawab, “Engkau harus berjalan bolak-balik sampai kedua kaki mu merasa lelah; lalu berbaringlah dan racun itu akan menamatkan kerjanya.” Seketika itu diberikannya gelas itu kepada Socrates, yang menerimanya dengan tenang dan air muka yang jernih. Sedikitpun ia tidak gemetar, wajahnya tidak berubah. Sambil memandang orang itu ia berkata, “Apa pendapatmu, dapatkah isi gelas ini ditumpahkan sedikit sebagai pujaan kepada seorang dewa? Bolehkah atau tidak?” orang itu menjawab, “kami hanya membuat sekedar cukup cukup saja, ya, Socrates,” “Baiklah –kata Socrates- tetapi aku boleh dan harus meminta pada dewa-dewa supaya perjalananku ke dunia yang lain selamat saja hendaknya. Semoga doaku ini dikabulkan.” Sudah itu, sambil mengangkat gelas itu ke bibirnya, diminumnya isinya dengan gembira sampai habis.
            Sampai sebegitu jauh, kebanyakan dari kami masih dapat menahan hati yang sedih. Tatkala kami melihat ia minum sampai gelas itu kosong, kami tak dapat lagi menguasai diri kami. Air mataku jatuh bercucuran, sehingga ku tutup mukaku dan menangis tersedu-sedu; karena bukan dia yang ku tangisi, melainkan aku memikirkan nasibku yang malang, yang kehilangan sahabat seperti dia. Aku bukanlah yang pertama menangis, karena Crito tak sanggup lagi menahan air matanya yang bercucuran, sudah berdiri dan pergi terlebih dahulu, dan aku mengikutinya dibelakang. Ketika itu Apollodorus, yang selama itu menangis saja, mulai menjerit-jerit dan menjadikan kami semuanya sebagai orang pengecut. Hanya Socrates yang tetap tenang. “apakah itu semuanya?” katanya. “aku sengaja menyuruh kamu wanita pergi dari sini supaya mereka janga menyusahkan aku, sebab menurut cerita yang aku dengar, seorang harus meninggal dengan tenang. Oleh sebab itu, diamlah dan sabarlah.”
            Saat mendengar itu, kami merasa malu dan menahan air mata kami, ia berjalan mondar-mandir sampai, seperti katanya, kakinyu sudah tidak berdaya lagi. Lalu ia tidur menelentang seperti yang ditunjukan kepadanya. Orang yang memberikan gelas berisi racun itu bertanya kepadanya sambil memegang kaki Socrates sebentar-sebentar; sesudah beberapa waktu, dicubitnya kaki Socrates keras-keras sambil menanyakan apakah terasa olehnya. Socrates menjawab “tidak”. Sesudah itu ia merasakan seluruh kakinya, berangsur-angsur dari bawah keatas dengan menunjukan kepada kami bahwa kaki itu mulai dingin dan tegang. Kemudian Socrates sendiri merasakan kedua kakinya dan berkata, “apabila racun itu sudah sampai ke jantung, sampailah ajalku.”
            Tatkala bagian tubuhnya sudah dingin, diangkatnya sebentar kain yang menutupi mukanya dan berkata –inilah katanya yang penghabisan “Crito, aku berutang seekor ayam kepada Aesculaap, jangan lupa membayarnya kembali.” “utang itu akan dibayar”, kata Crito. “adakah pesan yang lain?” Tidak ada jawabnya. Tidak lam sesudah itu, kami dengar orang datang dan pelayan penjara mengangkatkan kain yang menutupi muka Socrates. Matanya terbuka dengan tiada bercahaya lagi dan Crito menutupkan mulut dan matanya. (Mohmmad Hatta, 1986 : 78-79)
            Berkaitan dengan metode berpikir Socrates, Mohammad Hatta (1986: 80-82) mengmukakan secara panjang lebar bahwa Socrates tidak pernah menuliskan filosofinya. Jika ditilik benar-benar, ia bahkan tidak mengajarkan filosofi, melainkan hidup berfilosofi. Bagi dia filosofi bukan isi, bukan hasil bukan ajaran yang berdasarkan dogma, melainkan fungsi yang hidup. Filosofinya mencari kebenaran, karena ia mencari kebenaran, ia tidak mengajarkan. Ia bukan ahli pengetahuan, melainkan pemikir.
            Karena Socrates tidak menuliskan filosofinya, sulit sekali mengetahui dengan sahih semua ajarannya. Ajarannya itu hanya dikenal dari catatan-catatan murid-muridnya, terutama Xenephon dan Plato. Catatan Xenephon kurang kebenarannya, karena ia sendiri bukan seorang filosof. Untuk mengetahui ajaran Socrates, orang banyak bersandar kepada Plato. Akan tetapi kesukarannya ialah bahwa Plato dalam tulisannya banyak menuangkan pendapatnya sendiri kedalam mulut Socrates. Dalam uraian-uraiannya, yang kebanyakan berbentuk dialog, hampir selalu Socrates yang dikemukakannya. Ia berpikir, tapi keluar seolah-olah Socrates yang berkata. Sungguhpun murid-muridnya, member isi sendiri-sendiri kepada ajaran gurunya, dalam satu hal pendapat mereka sama, yaitu tentang metode Socrates. Tujuan filosofi Socrates ialah mencari kebenaran yang berlaku untuk selama-lamanya. Disini, berlainan pendapatnya dengan guru-guru sofis, yang mengajarkan bahwa semuanya relative dan subjektif dan harus dihadapi dengan pendirian yang skeptic. Socrates berpendapat bahwa kebenaran itu tetap dan harus dicari.
            Dalam mencari kebenaran itu, ia tidak berfikir sendiri, melainkan berdua dengan orang lain, dengan jalan Tanya jawab. Orang yang kedua itu tidak dipandangnya sebagai lawan, melainkan sebagai kawan yang diajak bersama-sama mencari kebenaran. Kebenaran harus lahir dari jiwa kawan yang bercakap itu sendiri. Ia tidak mengajarkan, melainkan menolong mengeluarkan apa yang tersimpan didalam jiwa orang. Oleh sebab itu, metodenya disebut maieutik, meguraikan, seolah-olah menyerupai pekerjaan Ibu nya yang sebagai Bidan.
            Socrates mencari pengertian, yaitu bentuk yang tetap dari segala sesuatu. Oleh sebab itu, ia selalu bertanya, “apa itu? Apa yang dikatakan berani, apa yang disebut indah, dan apa yang bernama adil?” pertanyaan tentang “apa itu” harus lebih dahulu daripada “apa sebab”. Ini biasa bagi manusia dalam hidup sehari-hari. Anak kecil pun mulai bertanya dengan “apa itu”. Jawaban tentang “apa itu” harus dicari dengan Tanya jawab yang semakin meningkat dan mendalam. Maka Socrates di akui pula –sejak keterangan Aristoteles- sebagai pembangun dialektik pengetahuan. Tanya yang dilakukan secara meningkat dan mendalam, melahirkan pikiran yang kritis. Mencari kebenaran yang hakiki, yaitu mencari pengetahuan yang sebenar-benarnya, terletak pada seluruh filosofinya.
            Karena Socrates mencari kebenaran yang tetap dengan Tanya jawab sana dan sini, yang kemudian dibulatkan dengan pengertian, jalan yang ditempuhkanya ialah metode induksi dan definisi. Keduanya bersangkut-paut. Induksi menjadi dasar definisi.
            Induksi yang dimaksud berlainan artinya dengan induksi sekarang. Menurut Induksi, paham sekarang penyelidikan dimulai dengan memerhatikan yang satu-satunya dan dari situ –dengan mengumpulkan- dibentuk pengertian yang berlaku umum. Induksi yang menjadi metode Socrates ialah membandingkan secara kritis. Bukan kebenaran umum yang dicarinya, melainkan mencoba mencapai kebenaran dengan contoh dan persamaan, dan mengujinya pula dengan saksi dan lawan saksi. Seperti disebut diatas, dari lawannya dalam dialog, yang masing-masing terkenal sebagai pakar dibidangnya, ketika berdialog tentang definisi “berani” “indah” dan sebagainya. Pengertian yang diperoleh itu diujikan kepada beberapa keadaan atau kejadian yang nyata. Apabila dalam pasangan itu, pengertian dimaksud tidak mencukupi, dari ujian itu dicari perbaikan definisi. Definisi yang tercapai dengan cara dengan cara begitu diuji pula sekali lagi untuk mencapai perbaikan yang lebih sempurna. Demikian seterusnya Plato, muridnya melanjutkan metode Socrates, mencari pengetahuan yang sebenar-benarnya dengan mendialogkannya bersama lawan diskusinya. (Mohammad Hatta, 1986 : 78-79)
            Begitulah cara Socrates mencapai pengertian. Melalui induksi sampai dengan definisi. Definisi, yaitu pembentukan pengertian yang berlaku universal. Pengertian menurut paham Socrates sama dengan apa yang disebut Kant: Prinsip regulative dan dasar menyusun. Dengan jalan begitu, hasil yang dicapai tidak lagi takluk kepada paham subjektif, seperti yang diajarkan oleh kaum sofis, melainkan umum sifatnya, berlaku untuk selama-lamanya. Induksi dan definisi menuju pengetahuan yang berdasarkan pengertian.
            Dengan cara itu, Socrates membangun jiwa lawannya berdialog tentang keyakinan bahwa kebenaran tidak diperoleh begitu saja sebagai ayam panggang terlompat dalam mulut yang ternganga, melainkan dicari dengan perjuangan seperti memperoleh segala barang yang tertinggi nilainya. Dengan cara mencari kebenaran seperti itu, terlaksana pula tujuan yang lain, yaitu membentuk karakter. Oleh sebab itu, tepat sekali Socrates mengatakan bahwa budi ialah tahu. Maksudnya budi baik timbul dengan pengetahuan. Manusia yang dirusak oleh ajaran Sofisme hendak dibentuknya kembali.
            Selain metodenya yang dipandang dapat menumbangkan filsafatnya kaum sofis, Socrates pun memiliki falsafah tentang etika. Mohammad Hatta (1986: 83-84) menjelaskan bahwa pandangan Socrates tentang etika bermula dari definisinya tentan budi. Menurut Socrates, budi ialah tahu. Inilah inti dari etikanya. Orang yang berpengatahuan dengan sendirinya akan berbudi baik. Paham etikanya merupakan kelanjutan dari metodenya. Induksi dan definisi menuju pada pengetahuan yang berdasarkan pengertian. Dari mengetahui berserta keinsafan moriil, tidak boleh tidak, mesti timbul budi.
            Menurut Socrates, manusia itu pada dasarnya baik. Seperti halnya segala barang yang ada itu memiliki tujuannya, begitu juga hidup manusia. Keadaan dan tujuan manusia ialah kebaikan sifat dan kebaikan budinya.
            Dari pandangan etik yang rasional itu, Socrates sampai pada sikap hidup yang penuh dengan rasa keagamaan. Menurut keyakinannya, menderita kezaliman lebih baik baik daripada berbuat zalim. Sikap itu perlihatkannya, dengan kata dan perbuatan, dalam pembelaannya dimuka bumi. Socrates adalah orang yang percaya pada Tuhan. Alam ini teratur susunanya menurut wujud yang tertentu. Itu, katanya adalah tanda perbuatan Tuhan. Kepada Tuhan, dipercayakan segala-galanya yang tak dapat diduga oleh otak manusia. Jiwa manusia itu dipandangnya bagian dari Tuhan yang menyusun alam. Sering pula dikemukakannya, bahwa Tuhan itu dirasai sebagai suara dari alam, yang menjadi bimbingan baginya dalam segala perbuatannya. Itulah yang disebutnya daimonion. Bukan dia saja yang begitu, katanya, semua orang dapat mendengarkan suara daimonion itu dari dalam jiwanya, apabila ia mau.

0 comments:

Post a Comment