Kira-kira selama dua ribu tahun, para
filosof membangun fondasi falsafahnya sehingga mengguncang filsafat dunia
barat. Para filosof klasik muncul untuk membangkitkan kembali kepercayaan
masayarakat terhadap ilmu pengetahuan yang waktu itu mengalami pendakalan dan
melemahnya tanggung jawab manusia karena pengaruh negative dari para filosof
aliran sofisme. Kehadiran filosof Yunani klasik sama dengan kehadiran raksasa
yang mengguncang bumi. Berbagai pandangan para filosof Yunani merupakan
motivasi kuat untuk bangkit kembali ilmu pengetahuan yang telah semakin lemah
dan dangkal oleh pengaruh filsafat kaum sofis yang merelativitaskan segala
sesuatu.
Socrates, Plato dan Aristoteles
adalah para filosof yang bangkit pada masa Yunani klasik. Zaman klasik berawal
dari Socrates, tetap Socrates belum sampai pada suatu system filosofi, yang
merupakan nama klasik kepada filosofi itu. Ia baru membuka jalan, ia baru
mencari kebenaran; ia belum sampai menegakkan suatu system pandangan. Tujuannya
terbatas hingga mencari dasar yang baru dan kuat bagi kebenaran dan moral.
System ajaran fisafat klasik baru
dibangun oleh Plato dan Aristoteles. Berdasarkan ajaran Socrates tentang
pengetahuan dan etik berserta filosofi alam yang berkembang sebelum Socrates.
Socrates lahir di Athena pada tahun
470 SM dan meninggal pada tahun 399 SM. Bapaknya adalah tukang pembuat patung,
sedangkan Ibu nya seorang Bidan. Pada permulaannya, Socrates mau menuruti jejak
Bapaknya, menjadi tukang pembuat patung pula, tetapi ia berganti haluan. Dari
membentuk batu menjadi patung, ia membentuk watas manusia.
Masa hidupnya hampir sejalan dengan
perkembangan sofisme di Athena. Pada hari tuanya, Socrates melihat kota tumpah
darahnya mulai mundur, setelah mencapai puncak kebesaran yang gilang-gemilang.
Socrates terkenal sebagai orang yang
berbudi baik, jujur dan adil. Cara penyampaian pemikirannya kepada para pemuda
menggunakan metode Tanya jawab. Oleh sebab itu, ia memperoleh banyak simpati
dari pada pemuda di negerinya. Namun, ia juga kurang disenangi oleh orang
banyak dengan menuduhkannya sebagai orang yang merusak moral para pemuda
negerinya. Selain itu, ia juga dituduh menolak dewa-dewa atau Tuhan-Tuhan yang
telaj diakui Negara.
Sebagai kelanjutan atas tuduhan
terhadap dirinya, ia diadili oleh pengadilan Athena. Dalam proses pengadilan,
ia mengatakan pembelaannya yang kemudian ditulis oleh Plato dalam naskahnya
yang berjudul Apologi. Plato mengisahkan adanya tuduhan
itu. Socrates dituduh tidak hanya menentang Agama yang diakui oleh Negara, juga
mengajarkan Agama baru buatannya sendiri. Salah seorang yang mendakwanya, yaitu
Melethus, mengatakan bahwa Socrates adalah seorang yang tak bertuhan, dan
menambahkan bahwa Socrates berkata bahwa matahari adalah abut dan bulan adalah
tanah. Socrates menangkal tuduhan itu, dan menanyakan kepadanya, siapakah orang
yang memperbaiki pemuda? Melethus menjawab mula-mula para hakim, lalu semua
orang, kecuali Socrates. Kemudian, Socrates mengucapkan selamat bahwa Athena
memiliki nasib baik untuk memiliki begitu banyak orang yang berusaha
memperbaiki pemuda, dan orang-orang baik tentu lebih pantas untuk digauli
daripada orang jelek. Oleh karena itu, tidak akan menjadi begitu bodoh untuk
merusak mereka dengan sengaja, Melethus seharusnya mengajar dia dan tidak
menyeretnyak ke pengadilan. (Ahmad Syadali dan Mudzakir, 2004 : 66-67)
Lebih lanjut, Plato mengisahkan
pembelaan Socrates yang mempunyai nada Agama. Ia pernah menjadi Tentara, dan
tetap pada pos ini selama ia diperintahkankan untuk tak meninggalkannya. Kini,
Tuhan menyuruh saya untuk menaikan tugas amanat filosof untuk mengenal diri
saya dan orang lain, dan tentu sangat memalukan jika kau meninggalkan pos ini
sekarang seperti halnya pula pada waktu peperangan dan pertempuran. Lebih baik
mati daripada takut mati yang akhirnya mati juga. Kalau dia diminta untuk
berhenti merenung dan mengadakan penyelidikan agar dia selama dari maut, ia
tentu menjawab, “Wahai warga Athena, aku menghormati dan mencintai kamu, tetapi
aku akan lebih tunduk kepada Tuhan daripada kamu, dan selama hayat dikandung
badan dan aku memiliki kekuatan aku tak akan berhenti mengajarkan dan
mengajarkan filsafat, menganjurkan setiap orang yang kutemui…. Karena
ketahuilah bahwa ini adalah perintah Tuhan; dan aku percaya bahwa tak ada
kebaikan lebih besar bagi Negara daripada pengabdianku kepada Tuhan.” (Ahmad
Syadali dan Mudzakir, 2004 : 66-67)
Dalam proses pengadilan diputuskan
bahwa Socrates dinyatakan bersalah dengan suara 200 melawan 220. Ia dituntut
hukuman mati.
Adapun Falsafah pemikiran Socrates,
diantaranya adalah pernyataan adanya kebenaran objektif, yaitu yang tidak
bergantung kepada aku dan kita. Dalam membenarkan kebenaran yang objektif, ia
menggunakan metode tertentu yang dikenal dengan metode dialektika. Dialektika
berasal dari kata Yunani yang berarti bercakap-cakap atau berdialog.
Menurut Socrates, ada kebenaran
objektif, yang tidak bergantung kepada aku atau kita. Untuk membuktikan adanya
kebenaran objektif, Socrates menggunakan metode tertentu. Metode ini bersifat
praktis dan dijalankan melalui percakapan-percakapab. Ia menganalisis
pendapat-pendapat. Setiap orang mempunyai pendapat mengenai salah dan benar. Ia
bertanya kepada negarawan, hakim, tukang, pedagangan dan sebagainya. Menurut
Xenophon, ia bertanya tentang benar-salah, adul-zalim, berani-pengecut, dan
lain-lain kepada siapapun yang menurutnya patut ditanya. Socrates selalu
menganggap jawaban pertama sebagai hipotesis, dan dengan jawaban yang lebih
lanjut, ia menarik konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban tersebut. Jika
ternyata hipotesis pertama tidak dapat dipertahankan, karena menghasilkan
konsekuensi yang mustahil, hipotesis itu diganti dengan hipotesis lain, dan
begitu seterusnya. Sering terjadi, percakapan itu berakhir dengan apoira
(kebingungan). Akan tetapi, tidak jarang, dialog itu menghasilkan suatu
definisi yang dianggap berguna. (Ahmad Syadali dan Mudzakir, 2004 : 66-67)
Dari metode dialektikanya, ia
menemukan dua penemuan metode yang lain, yakni induksi dan definisi. Ia menggunakan istilah induksi manakala pemikiran bertolak belakang
dari pengetahuan yang khusus, lalu menyimpulkannya dengan pengertian yang umum.
Pengertian umum diperoleh dari mengambil sifat-sifat yang sama (umum) dari
masing-masing kasus khusus dan cirri-ciri khusus yang tidak disetujui bersama
disisihkan. Cirri umum tersebut dinamakan cirri esensi dan semua cirri khusus
itu dinamakan cirri eksistensi. Suatu definisi dibuat dengan menyebutkan semua
cirri esensi suatu objek dengan menyisihkan cirri eksistensinya. Demikianlah
jalan untuk memperoleh definisi tentang suatu persoalan. (Ahmad Syadali dan
Mudzakir, 2004 : 66-67)
Sebagaimana disebutkan bahwa
filsafat klasik ini merupakan reaksi dari melemahnya pandangan manusia terhadap
ilmu pengetahuan, sains, dan agama karena pengaruh filsafat aliran Sofisme yang
didominasi paham relativisme. Dengan mengajukan penemuan baru ini, Socrates
dapat menangkalnya sehingga mampu membangkitkan dan mengajak orang-orang Athena
kembali memegang kaidah-kaidah ilmu pengetahuan, sains, dan agama.
Socrates dikenal sebagai orang yang
berbudi luhur, arif dan bijaksana. Namun ia tak pernah mengaku mempunyai
kearifan dan kebijaksanaan. Ia hanya mengaku sebagai penggemar kearifan atau
amateur kebijaksanaan, bukan professional dan mengambil untuk kebendaan dari
apa yang ia gemari seperti kaum sofis pada zamannya.
Konon Dewa yang berada di tempat
peribadatan bagi orang Yunani di Delphi menyatakan dengan cara luar biasa bahwa
ia adalah orang yang paling arif di negeri Yunani. Ia menafsirkan bisikan dewa
itu sebagai persetujuan atas cara agnosticism yang menjati titik-tolak dari
filsafatnya: “One
thing only I know, and that is I know nothing”. Memang, filsafat bermula jika
seseorang belajar bagaimana meninjau kembali kepercayaan yang telah sejak kecil
dianut, meninjau kembali keyakinan dan meragukan aksioma pengetahuan.
Bagaimana kepercayaan-kepercayaan
menjadi keyakinan, apa tidak ada tujuan tertentu dan maksud rahasia dibelakang
yang menyebabkan kelahirannya, dan menaruhnya dalam baju yang merahasiakan
hakikat sebenarnya? Tida ada filsafat yang sebenarnya sebelum pikiran menengok
dan menyelidiki lebih mendalam. Berfilsafaf yang terbaik adalah melakukan
kajian filosofis atas filsafat itu sendiri.
Paham etika Socrates merupakan
kelanjutan dari metode yang ia temukan (Induksi dan Definisi). Sayangnya, Socrates tidak pernah
menulis pemikiran falsafahnya sendiri. Untuk mengetahuinya, kita dapat
memperolehnya dari tulisan murid-muridnya. (Ahmad Syadali dan Mudzakir, 2004 :
66-67)
Socrates bergaul dengan semua orang,
tua dan muda, kaya dan miskin. Ia seorang filosof dengan corak sendiri. Ajaran
filosofinya tak pernah dituliskannya, melainkan dilakukannya dengan perbuatan,
dengan cara hidup. Sahabat-sahabatnya mengatakan bahwa Socrates adalah orang
yang sangat adil, ia tak pernah berlaku zalim. Ia pandai menguasai dirinya,
sehingga ia tak pernah memuaskan hawa nafsu dengan merugikan kepentingan umum.
Socrates seorang yang cerdas dan bermoral. Ia senantiasa memikirkan perbedaan
baik dan buruk, sehingga kehidupan manusia lebih terjamin dan ketentraman dan
kedamaian.
Tabiat Socrates tercermin dalam
pernyataannya sebagai berikut, “padang rumput dan pohon kayu tak member
pelajara apa pun kepadaku, manusia ada”. Ia memerhatikan yang baik dan buruk,
yang terpuji dan tercela. Suatu saat didapati ditanah lapang dimana banyak
orang berkumpul, tidak lama ia berada dipasar. Ia berbicara dengan semua orang,
menanyakan apa yang dibuatnya. Ia ingin mengetahui sesuatu dari orang yang
mengajarkan sesuatu. Ia selalu bertanya, sungguh-sungguh bertanya, karena ia
ingin tahu. Ia bercakap dengan seorang tukang, bertanya tentang pertukangannya.
Ia bertanya pada pelukis tentang apa yang dikatakannya indah. Kepada prajurit
atau ahli perang, ia tanyakan, apa yang dikatakan berani. Kepada ahli politik,
ditanyakannya berbagai hal yang biasa dipersoalkan mereka. Dengan jalan
bertanya itu, ia memaksa orang yang ia tanyakan supaya memerhatikan apa yang ia
thu hingga disisi mana tahunya. Pertanyaan itu mulanya mudah dan sederhana. Setiap
jawaban disusul dengan pertanyaan baru yang lebih mendalam. Dari pertanyaan
biasa, ia lalu membawanya kepada pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut. Akhirnya,
orang menganggap tahu tadi dihadapkannya pada tanggung jawab tentang
pengetahuannya, mengaku dia tidak tahu lagi. Lalu, Socrates, yang mengaku tak
tahu, merasa bahwa ia lebih banyak tahu dari mereka yang menganggap dirinya
mengetahui.
Tujuan Socrates ialah mengajar orang
mencari kebenaran. Sikap itu merupakan suatu reaksi terhadap ajaran sofisme
yang merajalela pada waktu itu. Karena guru-guru sofis mengajarkan bahwa
kebenaran yang sebenar-benarnya tidak tercapai. Oleh sebab itu, tiap-tiap
pendirian dapat “dibenarkan” dengan jalan retorika. Dengan daya kata dicoba
memperoleh persetujuan orang banyak. Apabila orang banyak sudah setuju, itu
dianggap sudah benar. Dengan cara begitu, pengetahuan menjadi dangkal.
Terhadap aliran yang mendangkalkan
pengetahuan dan melemahkan rasa tanggung jawab itu, semangat Socrates
memberontak. Dengan filosofi yang diamalkannya dan dengan cara hidupnya, ia
mencoba memperbaiki masyarakat yang rusak. Orang diajak memperhitungkan
tanggung jawabnya. Ia selalu berkata, “Yang ia ketahui Cuma satu, yaitu bahwa
ia tak tahu, sebab itu ia bertanya. Tanya jawab adalah jalan baginya untuk
memperoleh pengetahuan“. Itulah permulaan dialektika. Dialektika asal katanya “dialog”,
artinya bersoal jawab antara dua orang.
Guru-guru sofis yang mengobralkan “ilmu”
ditengah-tengah pasar ditantangnya dengan cara berguru. Ia yang tidak
mengetahui itu ingin tahu dan bertanya. Tiap jawaban atas pertanyaannya disusul
dengan pertanyaan baru. Demikianlah seterusnya. Pertanyaannya itu beruntun
sehingga kaum sofis terdesak dan menyerah. Akhirnya guru sofia tak sanggup lagi
menjawab dan mengakui kekalahan perdebatannya dengan Socrates, atau mereka
mengakui ketidaktahuannya. Lalu Socrates mengunci Tanya-jawab tersebut dengan
berkata, “Demikianlah adanya, kita sama-sama tidak tahu.”
Permulaan perdebatan ditonton oleh
banyak orang. Para penonton mulanya berpihak kepada kamu sofis. Ketika perdebatan
semakin memanas, dan kaum sofis mulai kewalahan menjawab pertanyaan Socrates
yang beruntun, hingga akhirnya kaum sofis tidak berkutik, para pendengar pun
berteriak menertawakan kaum sofis dan Socrates semakin dielu-elukan. Akan tetapi,
lagi-lagi Socrates berkata bahwa pada dasarnya kita tidak tahu, maka perlu
bertanya, dan kembali tidak tahu, lalu bertanya lagi, sehingga jawaban-jawaban
pertanyaan merupakan ilmu pengetahuan yang mendalam, yang semakin mendekatkan
diri pada hakikat yang sebenar-benarnya.
Dengan cara yang berani dan jujur
itu, Socrates banyak memperoleh kawan. Para pemuda Athena sangat menyuakinya. Akan
tetapi sebaliknya musuhnya juga banyak, terutama dari pihak guru sofis serta
pengikutnya yang berpolitik, yang memperoleh kemenangan dengan jalan retorika. Akhirnya,
Socrates diajukan ke muka pengadilan rakyat dengan dua tuduhan. Tuduhan pertama
bahwa meniadakan dewa-dewa yang diakui oleh Negara, dan mengemukakan dewa-dewa
baru. Tuduhan kedua bahwa ia menyesatkan dan merusak kreativitas kaum muda.
Dalam pembelaannya, Socrates tegas
dengan sikapnya. Dengan memerhatikan susunan mahkamah rakyat itu, sudah tentu
ia akan disalahkan dan dihukum. Namun, pantang baginya menjilat, beriba-iba
mengambil hati para hakim supaya hukumannya diringankan. Dengan cerdas ia
mengatakan bahwa ia tidak bersalah, melainkan berjasa pada pemuda dan
masyarakat Athena. Bukan hukuman, melainkan upah yang harus diterimanya. Socrates
berkata, seharusnya Negara Prytaneion, yaitu balai kota pada masa itu, yang member
makanan seumur hidupnya, karena dia telah membangkitkan para pemuda untuk
mempertanyakan segala sesuatu, karena pada hakikatnya semua kita tidak tahu.
Majelis hakim sangat tersinggung
dengan perkataan Socrates, hingga diputuskan untuk menghukum mati dengan cara
meminum racun. Socrates tidak bergeming dengan sanksi hokum tersebut, dan ia
mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat tragis, yaitu meminum racun. Mulutnya
masih mengeluarkan filsafat tentang keberakhiran ajal, tubuhnya mengejang
sambil mengingat sisa utang kepada temannya, matanya menatap keindahan
kebenaran, dan falsafah hidupnya tetap “Tidak Tahu”, maka bertanyalah.
Dengan hati yang tegar, ia menolak
segala bujukan kawan-kawannya untuk lari dari penjara dan menyingkir ke kota
lain, ke Megara. Socrates, yang selalu patuh pada undang-undang, tidak mau
durhaka pada saat ia akan meninggal. Cara matinya juga memberikan contoh,
betapa seorang filosof setia kepada ajarannya. Socrates pulang kea lam baka,
tetapi namanya hidup untul selamanya. (Mohammd Hatta, 1986 : 73-76)
Plato dalam Phaidon menggambarkan
saat-saat Socrates meninggal dunia.
“Engkau semuanya hendaklah sabar dan
ingatlah bahwa hanya badanku yang akan kau tanam. Setelah mengucapkan kata ini,
berdirilah ia dan pergi ke kamar mandi dengan Crito, yang meminta kami
menunggu. Kami pun menunggu sambil bercakap-cakap dan memikirkan kesedihan
besar yang menimpa hati kami. Kami seolah-olah kehilangan bapak dan seumur
hidup kami akan hidup sebagai anak piatu. Pada saat itu, matahari hampir
tenggelam, karena Socrates lama sekali perginya. Setelah ia kembali duduklah ia
bersama-sama dengan kami, tetapi percakapan tak banyak. Tidak lama sesudah itu,
datanglah sipir sambil berkata, “Aduhai Socrates, aku tahu engkaulah yang
termulia dan yang terbaik hatinya dari semua yang pernah datang kemari; aku tak
mau menuduh engkau mempunyai perasaan benci kepadaku seperti orang-orang yang
lain itu, yang berteriak-teriak dan menyumpahi aku, apabila aku, dalam
menjalankan perintah atasan, meminta mereka meminum racun. Sesungguhnya aku
percaya engkau tak marah padaku, sebab seperti kau tahu orang lain, bukan aku
yang bersalah. Selamat jalan, hadapilah yang tak dapat dielakkan ini dengan
hati yang tenang. Inilah pesanku.” Sesudah itu, sambil menangis tersedu-sedu ia
berbalik dan pergi.
Socrates melihat kepadanya dan
berkata, “Engkau juga, selamat tinggal. Akan ku kerjakan apa yang kau minta,”
Alangkah baiknya orang itu. Selama aku dalam penjara, selalu ia datang kepadaku
dan lihatlah betapa ia menangisi aku. Akan tetapi, kita sekarang harus berbuat
seperti apa yang dikatakannya, Crito, bawalah kemari gelas yang berisi racun
kalau sudah dibuat. Jika belum, suruhlah pelayanmu membuatmu.” Socratesm kata
Crito –matahari masih diatas puncak bukit, banyaklah sudah orang yang meminum
isi gelas racun sampai habis. Sesudah pemberitahuan itu, ia masih makan dan
minum dan memuaskan segala hawa nafsunya. Engkau tak perlu buru-buru, masih ada
waktu.”
Socrates mejawab, “Ya, Crito
orang-orang yang kau sebut itu benar kalau mereka berbuat begitu, sebab mereka
mengira bahwa mereka beruntung dengan menangguhkan. Akan tetapi, benar juga
kalau aku tidak berbuat begitu, sebab sepanjang fikiranku, aku tidak beruntung
sedikitpun apabila aku tangguhkan meminum racun itu. Aku hanya akan menyimpan
dan menahan hidup yang sudah hilang. Dengan itu, aku hanya akan mencemoohkan
diriku sendiri. Buatlah seperti kukatakan dan jangan menampik.”
Mendengar itu, Crito memberikan
isyarat kepada pelayan penjara itu. Dia pergi beberapa waktu lamanya dan
kembali lagi bersama-sama dengan seorang lagi yang membawa sebuah gelas minuman
berisi racun. Socrates berkata, “Hai sahabatku, engkaulah yang mengerti tentang
ini, katakanlah apa yang harus aku kerjakan.” Orang itu menjawab, “Engkau harus
berjalan bolak-balik sampai kedua kaki mu merasa lelah; lalu berbaringlah dan
racun itu akan menamatkan kerjanya.” Seketika itu diberikannya gelas itu kepada
Socrates, yang menerimanya dengan tenang dan air muka yang jernih. Sedikitpun ia
tidak gemetar, wajahnya tidak berubah. Sambil memandang orang itu ia berkata, “Apa
pendapatmu, dapatkah isi gelas ini ditumpahkan sedikit sebagai pujaan kepada
seorang dewa? Bolehkah atau tidak?” orang itu menjawab, “kami hanya membuat
sekedar cukup cukup saja, ya, Socrates,” “Baiklah –kata Socrates- tetapi aku
boleh dan harus meminta pada dewa-dewa supaya perjalananku ke dunia yang lain
selamat saja hendaknya. Semoga doaku ini dikabulkan.” Sudah itu, sambil
mengangkat gelas itu ke bibirnya, diminumnya isinya dengan gembira sampai
habis.
Sampai sebegitu jauh, kebanyakan
dari kami masih dapat menahan hati yang sedih. Tatkala kami melihat ia minum
sampai gelas itu kosong, kami tak dapat lagi menguasai diri kami. Air mataku
jatuh bercucuran, sehingga ku tutup mukaku dan menangis tersedu-sedu; karena
bukan dia yang ku tangisi, melainkan aku memikirkan nasibku yang malang, yang
kehilangan sahabat seperti dia. Aku bukanlah yang pertama menangis, karena
Crito tak sanggup lagi menahan air matanya yang bercucuran, sudah berdiri dan
pergi terlebih dahulu, dan aku mengikutinya dibelakang. Ketika itu Apollodorus,
yang selama itu menangis saja, mulai menjerit-jerit dan menjadikan kami
semuanya sebagai orang pengecut. Hanya Socrates yang tetap tenang. “apakah itu
semuanya?” katanya. “aku sengaja menyuruh kamu wanita pergi dari sini supaya
mereka janga menyusahkan aku, sebab menurut cerita yang aku dengar, seorang
harus meninggal dengan tenang. Oleh sebab itu, diamlah dan sabarlah.”
Saat mendengar itu, kami merasa malu
dan menahan air mata kami, ia berjalan mondar-mandir sampai, seperti katanya,
kakinyu sudah tidak berdaya lagi. Lalu ia tidur menelentang seperti yang
ditunjukan kepadanya. Orang yang memberikan gelas berisi racun itu bertanya
kepadanya sambil memegang kaki Socrates sebentar-sebentar; sesudah beberapa
waktu, dicubitnya kaki Socrates keras-keras sambil menanyakan apakah terasa
olehnya. Socrates menjawab “tidak”. Sesudah itu ia merasakan seluruh kakinya,
berangsur-angsur dari bawah keatas dengan menunjukan kepada kami bahwa kaki itu
mulai dingin dan tegang. Kemudian Socrates sendiri merasakan kedua kakinya dan
berkata, “apabila racun itu sudah sampai ke jantung, sampailah ajalku.”
Tatkala bagian tubuhnya sudah
dingin, diangkatnya sebentar kain yang menutupi mukanya dan berkata –inilah katanya
yang penghabisan “Crito, aku berutang seekor ayam kepada Aesculaap, jangan lupa
membayarnya kembali.” “utang itu akan dibayar”, kata Crito. “adakah pesan yang
lain?” Tidak ada jawabnya. Tidak lam sesudah itu, kami dengar orang datang dan
pelayan penjara mengangkatkan kain yang menutupi muka Socrates. Matanya terbuka
dengan tiada bercahaya lagi dan Crito menutupkan mulut dan matanya. (Mohmmad
Hatta, 1986 : 78-79)
Berkaitan dengan metode berpikir
Socrates, Mohammad Hatta (1986: 80-82) mengmukakan secara panjang lebar bahwa
Socrates tidak pernah menuliskan filosofinya. Jika ditilik benar-benar, ia
bahkan tidak mengajarkan filosofi, melainkan hidup berfilosofi. Bagi dia
filosofi bukan isi, bukan hasil bukan ajaran yang berdasarkan dogma, melainkan
fungsi yang hidup. Filosofinya mencari kebenaran, karena ia mencari kebenaran,
ia tidak mengajarkan. Ia bukan ahli pengetahuan, melainkan pemikir.
Karena Socrates tidak menuliskan
filosofinya, sulit sekali mengetahui dengan sahih semua ajarannya. Ajarannya itu
hanya dikenal dari catatan-catatan murid-muridnya, terutama Xenephon dan Plato.
Catatan Xenephon kurang kebenarannya, karena ia sendiri bukan seorang filosof. Untuk
mengetahui ajaran Socrates, orang banyak bersandar kepada Plato. Akan tetapi
kesukarannya ialah bahwa Plato dalam tulisannya banyak menuangkan pendapatnya
sendiri kedalam mulut Socrates. Dalam uraian-uraiannya, yang kebanyakan
berbentuk dialog, hampir selalu Socrates yang dikemukakannya. Ia berpikir, tapi
keluar seolah-olah Socrates yang berkata. Sungguhpun murid-muridnya, member isi
sendiri-sendiri kepada ajaran gurunya, dalam satu hal pendapat mereka sama,
yaitu tentang metode Socrates. Tujuan filosofi Socrates ialah mencari kebenaran
yang berlaku untuk selama-lamanya. Disini, berlainan pendapatnya dengan
guru-guru sofis, yang mengajarkan bahwa semuanya relative dan subjektif dan
harus dihadapi dengan pendirian yang skeptic. Socrates berpendapat bahwa
kebenaran itu tetap dan harus dicari.
Dalam mencari kebenaran itu, ia
tidak berfikir sendiri, melainkan berdua dengan orang lain, dengan jalan Tanya jawab.
Orang yang kedua itu tidak dipandangnya sebagai lawan, melainkan sebagai kawan
yang diajak bersama-sama mencari kebenaran. Kebenaran harus lahir dari jiwa
kawan yang bercakap itu sendiri. Ia tidak mengajarkan, melainkan menolong
mengeluarkan apa yang tersimpan didalam jiwa orang. Oleh sebab itu, metodenya disebut
maieutik, meguraikan, seolah-olah menyerupai pekerjaan Ibu nya yang sebagai
Bidan.
Socrates mencari pengertian, yaitu
bentuk yang tetap dari segala sesuatu. Oleh sebab itu, ia selalu bertanya, “apa
itu? Apa yang dikatakan berani, apa yang disebut indah, dan apa yang bernama
adil?” pertanyaan tentang “apa itu” harus lebih dahulu daripada “apa sebab”. Ini
biasa bagi manusia dalam hidup sehari-hari. Anak kecil pun mulai bertanya
dengan “apa itu”. Jawaban tentang “apa itu” harus dicari dengan Tanya jawab
yang semakin meningkat dan mendalam. Maka Socrates di akui pula –sejak keterangan
Aristoteles- sebagai pembangun dialektik pengetahuan. Tanya yang dilakukan
secara meningkat dan mendalam, melahirkan pikiran yang kritis. Mencari kebenaran
yang hakiki, yaitu mencari pengetahuan yang sebenar-benarnya, terletak pada
seluruh filosofinya.
Karena Socrates mencari kebenaran
yang tetap dengan Tanya jawab sana dan sini, yang kemudian dibulatkan dengan
pengertian, jalan yang ditempuhkanya ialah metode induksi dan definisi. Keduanya
bersangkut-paut. Induksi menjadi dasar definisi.
Induksi yang dimaksud berlainan
artinya dengan induksi sekarang. Menurut Induksi, paham sekarang penyelidikan dimulai
dengan memerhatikan yang satu-satunya dan dari situ –dengan mengumpulkan-
dibentuk pengertian yang berlaku umum. Induksi yang menjadi metode Socrates
ialah membandingkan secara kritis. Bukan kebenaran umum yang dicarinya,
melainkan mencoba mencapai kebenaran dengan contoh dan persamaan, dan
mengujinya pula dengan saksi dan lawan saksi. Seperti disebut diatas, dari
lawannya dalam dialog, yang masing-masing terkenal sebagai pakar dibidangnya,
ketika berdialog tentang definisi “berani” “indah” dan sebagainya. Pengertian yang
diperoleh itu diujikan kepada beberapa keadaan atau kejadian yang nyata. Apabila
dalam pasangan itu, pengertian dimaksud tidak mencukupi, dari ujian itu dicari
perbaikan definisi. Definisi yang tercapai dengan cara dengan cara begitu diuji
pula sekali lagi untuk mencapai perbaikan yang lebih sempurna. Demikian seterusnya
Plato, muridnya melanjutkan metode Socrates, mencari pengetahuan yang
sebenar-benarnya dengan mendialogkannya bersama lawan diskusinya. (Mohammad
Hatta, 1986 : 78-79)
Begitulah cara Socrates mencapai
pengertian. Melalui induksi sampai dengan definisi. Definisi, yaitu pembentukan pengertian yang
berlaku universal. Pengertian menurut paham Socrates sama dengan apa yang
disebut Kant: Prinsip regulative dan dasar menyusun. Dengan jalan begitu, hasil
yang dicapai tidak lagi takluk kepada paham subjektif, seperti yang diajarkan
oleh kaum sofis, melainkan umum sifatnya, berlaku untuk selama-lamanya. Induksi
dan definisi menuju pengetahuan yang berdasarkan pengertian.
Dengan cara itu, Socrates membangun
jiwa lawannya berdialog tentang keyakinan bahwa kebenaran tidak diperoleh
begitu saja sebagai ayam panggang terlompat dalam mulut yang ternganga,
melainkan dicari dengan perjuangan seperti memperoleh segala barang yang
tertinggi nilainya. Dengan cara mencari kebenaran seperti itu, terlaksana pula
tujuan yang lain, yaitu membentuk karakter. Oleh sebab itu, tepat sekali
Socrates mengatakan bahwa budi ialah tahu. Maksudnya budi baik timbul dengan
pengetahuan. Manusia yang dirusak oleh ajaran Sofisme hendak dibentuknya
kembali.
Selain metodenya yang dipandang
dapat menumbangkan filsafatnya kaum sofis, Socrates pun memiliki falsafah
tentang etika. Mohammad Hatta (1986: 83-84) menjelaskan bahwa pandangan
Socrates tentang etika bermula dari definisinya tentan budi. Menurut Socrates,
budi ialah tahu. Inilah inti dari etikanya. Orang yang berpengatahuan dengan
sendirinya akan berbudi baik. Paham etikanya merupakan kelanjutan dari
metodenya. Induksi dan definisi menuju pada pengetahuan yang berdasarkan
pengertian. Dari mengetahui berserta keinsafan moriil, tidak boleh tidak, mesti
timbul budi.
Menurut Socrates, manusia itu pada
dasarnya baik. Seperti halnya segala barang yang ada itu memiliki tujuannya,
begitu juga hidup manusia. Keadaan dan tujuan manusia ialah kebaikan sifat dan
kebaikan budinya.
Dari pandangan etik yang rasional
itu, Socrates sampai pada sikap hidup yang penuh dengan rasa keagamaan. Menurut
keyakinannya, menderita kezaliman lebih baik baik daripada berbuat zalim. Sikap
itu perlihatkannya, dengan kata dan perbuatan, dalam pembelaannya dimuka bumi.
Socrates adalah orang yang percaya pada Tuhan. Alam ini teratur susunanya
menurut wujud yang tertentu. Itu, katanya adalah tanda perbuatan Tuhan. Kepada Tuhan,
dipercayakan segala-galanya yang tak dapat diduga oleh otak manusia. Jiwa manusia
itu dipandangnya bagian dari Tuhan yang menyusun alam. Sering pula
dikemukakannya, bahwa Tuhan itu dirasai sebagai suara dari alam, yang menjadi
bimbingan baginya dalam segala perbuatannya. Itulah yang disebutnya daimonion. Bukan dia saja yang begitu,
katanya, semua orang dapat mendengarkan suara daimonion itu dari dalam jiwanya, apabila ia
mau.


0 comments:
Post a Comment