Di
Yunani, anak-anak pada jaman dahulu menganggap sekolah sebagai suatu kegiatan
yang mengasyikkan dan menyenangkan karena mereka dapat mempelajari berbagai hal
yang ingin mereka ketahui. Kenyataan yang ada sekarang ini sangat bertolak
belakang dengan hal di atas. Kebanyakan anak maupun remaja sekarang justru
menganggap sekolah sebagai beban. Mengapa hal ini terjadi?
Kurikulum merupakan salah satu jawaban dari permasalahan
yang terjadi. Institusi pendidikan seperti sekolah tidak mengajarkan hal-hal
yang dianggap menarik oleh kebanyakan pelajar, melainkan mengajarkan segala pelajaran
yang ditentukan oleh Kurikulum. yang berlaku. Seakan-akan seluruh ajaran yang
diajarkan disekolah terkurung oleh system kurikulum yang ada yang saat ini.
Hal ini tentu saja membawa berbagai efek buruk. Anak-anak
yang ingin mengejar prestasi harus berusaha keras menguasai beban kurikulum
yang didapat, bahkan sampai harus mengikuti berbagai les tambahan. Kurikulum
yang sangat tidak efektif, dan sangat banyak membuang waktu dan pikiran
mengakibatkan Indonesia kekurangan sumber daya manusia yang handal.
Guru-guru di sekolah dalam mengajar anak didik tidak lagi
mengaplikasi pendekatan kreativitas dan kasih sayang akan tetapi lebih
cenderung pada bagaimana dapat mengejar target kurikulum. Bagaimana seluruh
bahan ajar dapat disampaikan kepada siswa agar supaya tidak ada keluhan di
UASnya mengakibatkan sang guru terkesan terburu-buru dalam mengajar tanpa
mempedulikan kemampuan siswa yang berbeda antara satu dengan lainnya. Apabila
ada sebagian siswa yang tertinggal dalam mengikuti pelajaran tertentu itu
menjadi persoalan yang kesekian setelah persoalan pencapaian target kurikulum
itu terselesaikan. Akibatnya banyak, atau bahkan kebanyakan, siswa kita menjadi
tertinggal pada akhirnya.
Desentralisasi
pendidikan bertujuan untuk meningkatkan mutu layanan dan kinerja pendidikan,
baik pemerataan, kualitas, relevansi, dan efisiensi pendidikan. Selain itu
desentralisai juga dimaksudkan untuk mengurangi beban pemerintah pusat yang
berlebihan, mengurangi kemacetan-kemacetan jalur-jalur komunikasi, meningkatkan
(kemandirian, demokrasi, daya tanggap, akuntabilitas, kreativitas, inovasi,
prakarsa), dan meningkatkan pemberdayaan dalam pengelolaan dan kepemimpinan
pendidikan. Salah satu komponen yang didesentralisasi melalui penerapan School
Based Management adalah pengelolaan kurikulum. Kurikulum yang dibuat oleh
pemerintah pusat adalah kurikulum standar yang berlaku secara nasional. Padahal
kondisi sekolah pada umumnya sangat beragaman. Oleh karena itu, dalam
implementasinya, sekolah dapat mengembangkan (memperdalam, memperkaya,
memodifikasi), namun tidak boleh mengurangi isi kurikulum yang berlaku secara
nasional. Selain itu, sekolah diberi kebebasan untuk mengembangkan muatan
kurikulum lokal.
Dan
Kurikulum 2013 yang berlaku saat ini nyatanya banyak menuai persoalan-persoalan
pada pelaksanaannya, utamanya didaerah-daerah. Meski tujuan kurikulum baru itu
baik. Namun pelaksanaan dilapangan harus mendapat banyak perbaikan. Adapun persoalan-soalan
yang muncul diantaranya:
1.
Guru
sebagai manajer di kelas belum memahami benar implementasi kurikulum 2013 yang
seharusnya. Meskipun sudah dilakukan pelatihan-pelatihan terhadap guru, tetapi
belum semua guru memahaminya secara baik. Pun guru yang mengikuti pelatihan
belum semua informasi terkait dengan implementasi kurikulum terserap dengan
baik.
2.
Kurangnya
buku panduan pelajaran dari Pemerintah Pusat. Bahkan di beberapa sekolah SMP
yang menjadi pilot project
penerapan Kurikulum 2013 di Kabupaten Tegal (dan mungkin di kabupaten lainnya
di Indonesia), hanya terdapat dua buku panduan. Untuk mengatasi itu, pihaknya
mengunduh buku panduan dari internet dan memperbanyaknya.
3.
Buku
siswa yang idealnya juga dimiliki siswa dengan komposisi satu buku satu siswa
masih belum dapat disediakan dengan cukup. Kondisi tersebut memaksa sekolah
untuk melakukan pengadaan buku tersebut dengan penggandaan yang tentunya
membutuhkan biaya tambahan.
4.
Sistem
rapor. Masalah mungkin muncul pada pertengahan Oktober depan, berkaitan dengan
sistem rapor kepada orang tua siswa. Hingga sekarang belum ada petunjuk teknis
bagaimana rapor itu nanti dibuat, yang mengacu kepada sistem penilaian di
perguruan tinggi dengan nilai A, B, C, dan seterusnya.
5.
Lainnya
adalah keberatan para orang tua siswa berkaitan dengan adanya kata-kata kasar
dalam buku panduan Kurikulum 2013.
6.
Terdapat
beberapa daerah yang memaksakan diri dalam pelaksanaan kurikulum 2013. Sebagai
contoh Kota Tegal, pada tahun pelajaran 2013/2014 secara serentak mewajibkan
seluruh sekolah untuk menerapkan kurikulum 2013. Hal ini jelas menimbulkan
permasalahan, misalnya mahalnya biaya pengadaan buku. Masalah ini menjadi lebih
parah manakala siswa diwajibkan untuk membeli buku sendiri. (sekolah menjadi
terkesan sangat mahal)
Disamping
kelebihan-kelebihan yang dimiliki kurikulum 2013, ada beberapa point yang
merupakan kelemahan dari Kurikulum yang diberlakukan saat ini (Kurikulum 2013)
diantaranya:
A.
Banyak guru yang beranggapan bahwa dengan kurikulum
terbaru ini guru tidak perlu menjelaskan materinya. Padahal kita tahu bahwa
belajar matematika, fisika,dll tidak cukup hanya membaca saja. Peran guru
sebagai fasilitator tetap dibutuhkan, terlebih dalam hal memotivasi siswa untuk
aktif belajar.
B.
Sebagian besar guru belum siap. Jangankan membuat
kreatif siswa, terkadang gurunya pun kurang kreatif. Untuk itu diperlukan
pelatihan-pelatihan dan pendidikan agar merubah paradigma guru sebagai pemberi
materi menjadi guru yang dapat memotivasi siswa agar kreatif. Selain itu guru
harus dipacu kemampuannya untuk meningkatkan kecakapan profesionalisme secara terus
menerus. Sebagai contoh di Singapura, dalam setahun guru berhak mendapatkan
pelatihan selama 100 jam.
C.
Konsep pendekatan scientific masih belum dipahami,
apalagi tentang metoda pembelajaran yang kurang aplikatif disampaikan.
D.
Ketrampilan merancang RPP dan penilaian autentik belum
sepenuhnya dikuasai oleh guru.
E.
Tugas menganilisis SKL, KI, KD, Buku Siswa dan Buku
guru belum sepenuhnya dikerjakan oleh guru, masih banyak yang copy paste dan
kurangnya waktu untuk membaca dokumen secara mendalam.
F.
Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam proses
pengembangan kurikulum 2013. Pemerintah melihat seolah-olah guru dan siswa
mempunyai kapasitas yang sama.
G.
Tidak ada keseimbangan antara orientasi proses
pembelajaran dan hasil dalam kurikulum 2013. Keseimbangan sulit dicapai karena
kebijakan ujian nasional (UN) masih diberlakukan. UN hanya mendorong orientasi
pendidikan pada hasil dan sama sekali tidak memperhatikan proses pembelajaran.
Hal ini berdampak pada dikesampingkannya mata pelajaran yang tidak diujikan
dalam UN. Padahal, mata pelajaran non-UN juga memberikan kontribusi besar untuk
mewujudkan tujuan pendidikan.
H.
Kurikulum 2013 ditetapkan tanpa ada evaluasi dari
pelaksanaan kurikulum sebelumnya yaitu KTSP.
I.
Pengintegrasian mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia
untuk jenjang pendidikan dasar tidak tepat karena rumpun ilmu mata
pelajaran-mata pelajaran itu berbeda.
J.
Dalam mata pelajaran matematika SMA kelas X terdapat
matematika wajib, matematika peminatan yang harus diikuti siswa peminatan IPA.
Matematika wajib dan peminatan memiliki silabus yang berbeda. Terutama dalam
matematika peminatan diperlukan beberapa materi prasyarat yang belum dibahas di
kelas sebelumnya. Contoh : Dalam materi persamaan eksponen diperlukan beberapa
rumus turunan dari persamaan kuadrat yang belum dibahas di kelas sebelumnya.
K.
Penyusunan materi ajar belum runtut sesuai tahap
berpikir siswa, guru harus memilah dan menentukan materi esensial mengingat
materi yang harus dikuasai siswa cukup banyak.
L.
Pada buku paket matematika terdapat berbagai soal
tingkat tinggi seperti soal olimpiade. Mengingat banyaknya materi yang harus
dikuasai siswa maka tidak semua soal dapat diselesaikan. Soal-soal tersebut
lebih cocok diberikan pada siswa yang berminat mengikuti pendalaman matematika.
M.
Seperti kurikulum sebelumnya, belum ada sinkronisasi
antara matematika sebagai alat bantu untuk menunjang pelajaran lainnya.
Misalnya sinkronisasi antara matematika dengan fisika, ada banyak materi fisika
yang memerlukan hitungan matematika seperti vektor, diferensial, integral dan
trigonometri tetapi belum dibahas dalam matematika.
N.
Konten kurikulum masih terlalu padat yang ditunjukkan
dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan
kesukarannya melampaui tingkat kemampuan siswa
O.
Standar proses pembelajaran menggambarkan urutan
pembelajaran yang kurang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang
beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru.
P.
Materi terlalu luas, kurang mendalam.
Q.
Beban belajar terlalu berat, sehingga waktu belajar di
sekolah terlalu lama.



0 comments:
Post a Comment