Saturday, December 14, 2013

0

Lebih Dari Indah [Chapter 7: Alvin VS Via]







                Sebelum keluar dari dalam kelasnya, Agni sempat mengintip keadaan luar kelas terlebih dahulu, ia ingin memeriksa apakah disana ada Cakka atau tidak. Agni mengedarkan pandangannya kesegala arah dengan pandangan menyipit, setelah yakin bahwa kondisi aman terkendali tanpa Cakka, Agni mulai  melangkahkan salah satu kakinya. Agni berjalan dengan waspada, takut-takut kalau Cakka akan melihatnya.
            Tapi tiba-tiba saja Agni merasakan sebuah tangan terlingkar dipundaknya, Agni menghentikan langkahnya. Tamat sudah riwayatnya.
            “hay Mantan! Mau kemana? Kok jalannya mengendap-endap gitu?? Lagi main detektif-detektif-an ya? Wah seru dong! Ikut ya??” cerocos Cakka panjang lebar yang sukses membuat Agni merasa malu karena telah ketahuan, dan kesal karena cerocosan Cakka yang tidak jelas itu.
            Cakka tersenyum lebar pada Agni seraya menaik turunkan kedua alisnya. Agni menghela nafas panjang. Oke, jadi rencananya untuk melarikan diri hari ini gagal total. Mungkin ini hukuman untuk Agni karena telah berusaha untuk tidak sportif dengan taruhannya kemarin.
            Agni berdecak kecil lalu menurunkan tangan Cakka dari pundaknya. Ketika Agni hendak melangkah pergi, Cakka lagi-lagi menahannya dengan mencekal pergelangan tangannya,
            “jangan coba-coba kabur dari gue ya? Karena percuma. Ngerti?” kata Cakka dengan nada yang mendadak serius. Wajahnya juga terlihat serius, dan tidak seperti biasanya. Agni hanya bisa diam, jika sudah seperti ini ia paling takut melawan kehendak Cakka. Cakka bisa melakukan hal tidak terduga apapun jika keinginannya tidak terpenuhi, dan Agni tidak ingin itu terjadi. Setahun menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dengan Cakka, sudah cukup membuat Agni mengenal betul bagaimana sikap Cakka.
            Cakka lalu menggenggam tangan Agni erat-erat dan membawanya pergi dari tempat itu. Sementara Agni, ia hanya bisa pasrah berjalan disamping Cakka tanpa berusaha melakukan penolakan lagi.

^_^

            Alvin menepati janjinya tadi. Ia datang ke UKS untuk menjemput Via dan pulang bersama Via. Tapi menyebalkannya bagi Via adalah, Alvin berjalan terlalu cepat tanpa mengiraukan keadaan Via yang berjalan dengan susah-payah dan dalam keadaan pincang. Dari belakang, Via hanya bisa merutuki Alvin. Kenapa sih harus ada cowok semenyebalkan Alvin yang hidup didunia ini?
            Merasa Via terlalu jauh darinya, Alvin menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang. Ternyata benar saja, jaraknya dengan jarak Via sekarang terlalu jauh. Alvin berdecak kesal, ia menampakkan raut tak suka lantas berkata dengan nada setengah membentak,
            “heh Siput! Lelet banget sih??”
            “namanya juga Siput. Mana ada Siput yang nggak lelet?” jawab Via kesal. Ia merasa kali ini Alvin sudah sangat keterlaluan. Padahal kan yang membuat Via sampai harus seperti ini itu Alvin. Katanya dia bertanggung jawab, tapi apa begini cara bertanggung jawab versi cowok angkuh macam Alvin? Cuih… omong kosong! Apa mentang-mentang tadi dia sudah memberikan cokelat untuk Via lalu ia merasa semuanya impas? Hebat sekali.
            “ya udah kalo gitu, jalannya bisa cepetan dikit kan?” kali ini Alvin berusaha untuk sabar.
            “lo kenapa sih kalo ngomong nggak pernah difikir dulu? Makanya kalo ngomong itu, diproses dulu di otak, jangan langsung lo keluarin dari mulut lo yang tajem plus super pedes itu. Lo nggak liat kaki gue apa? Dan apa lo lupa? Kaki gue jadi ancur lebur kayak gini juga gara-gara ulah lo, kan? Jadi ya udah terima aja”
            “lo kok jadi marah-marah sih?”
            “menurut lo gue harus gimana?” Via balik bertanya dengan raut wajah yang seolah-olah ingin menelan Alvin hidup-hidup.
            Alvin tidak lagi terdengar menimpali ucapan Via. Ia  hanya menatap Via tajam tanpa sepatah katapun. Via melipat kedua tangannya didepan dada lalu membuang wajahnya kearah lain, ia malas jika harus melihat wajah memuakkan Pria angkuh itu.
            “lo sebenarnya niat tanggung jawab nggak sih? Kalo nggak niat juga nggak apa-apa, gue masih bisa urus diri gue sendiri” kata Via tanpa melihat wajah Alvin.
            Hening. Tidak lama kemudian, Alvin berjalan cepat menghampiri Via. Tanpa permisi Alvin mengambil tas milik Via. Kali ini Via menoleh kearah Alvin, mau apa lagi dia? Fikir Via.
            Alvin lalu meraih salah satu tangan Via lantas melingkarkannya pada pundaknya,
            “eh eh eh…. Apa-apaan nih??”
            Alvin tidak menjawab. Ia langsung melangkahkan kaki perlahan, berusaha memapah tubuh Via agar langkah mereka sejajar.


^_^

            Ify cemas, sejak kemarin, atau tepatnya sejak ia memutuskan hubungannya dengan Rio secara sepihak, Rio tidak pernah menampakkan wajahnya disekolah. Bahkan Rio tidak pernah menghubungi Ify sekalipun. Selepas bel tanda pulang berbunyi dengan nyaringnya, Ify berusaha untuk menelpon Rio, namun sayang nomer handphone Rio sedang dalam keadaan tidak aktif. Ify tahu, disaat-saat seperti ini Rio memang butuh waktu untuk menyendiri, tapi entah kenapa Ify sama sekali tidak bisa berhenti mencemaskannya.
            Setelah cukup lama, Ify akhirnya membuat sebuah keputusan. Ia akan menemui Rio apapun resikonya, dan ia tahu dimana harus menemui Rio, tentunya selain dirumahnya.
            Ify meraih tasnya lalu bangkit dari bangkunya dan hendak meninggalkan kelas yang sudah sepi sejak 10 menit yang lalu. Ify melangkah keluar kelas, tapi mendadak ia menghentikan langkahnya ketika ia melihat seseorang yang sangat ia kenal tengah berbicara dengan seseorang melalui handphone didepan kelas.
            Merasa penasaran dengan gelagat mencurigakan itu, Ify kembali mundur beberapa langkah memasuki kelas, ia bersembunyi dibalik tembok kelas, berusaha mendengarkan baik-baik dengan siapa sebenarnya seseorang itu berbicara.
            Sebelumnya Ify tidak pernah melihat dia sebahagia itu. Entah dengan siapa dia berbicara hingga bisa membuatnya terlihat berbunga-bunga seperti itu. Ify semakin memasang pendengarannya sebaik mungkin. Dan ia kaget sekaget-kagetnya ketika dia yang ternyata adalah Shilla menyebutkan sebuah nama yang begitu ia kenal, bahkan sangat ia kenal.


            “GABRIEL”


^_^


            Mata Rio membelalak lebar ketika ia melihat 2 orang perampok yang tengah berusaha kabur dari kejaran korbannya. Salah satu dari perampok itu membawa sebuah tas laptop, mungkin itu adalah hasil rampokannya. Sementara Si Korban yang merupakan seorang Pria itu terus berlari mengejar kedua perampok itu.
            Rio yang sudah jelas-jelas melihat kejadian itu langsung memiliki niat untuk menolong. Dengan sigap Rio menjulurkan salah satu kakinya hingga membuat satu dari kedua Perampok itu jatuh terjerembab bersama tas laptop hasil rampokannya.
            “mau lari kemana kalian??” Tanya Rio setenang mungkin. Ketika salah satu dari perampok itu hendak melayangkan tinjunya pada Rio, Rio reflex menahan tangannya. Rio tersenyum meremehkan, ia mencengkram tangan perampok itu sekuat mungkin dan seolah ingin mematahkannya.
            “lo mau main-main sama gue hah??” bentak Rio.
            “jangan ikut campur! Ini bukan urusan lo” kata Si Perampok seraya berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Rio, namun sayang tidak berhasil.
            Tanpa Rio sadari, salah satu dari perampok yang tadi berhasil ia jatuhkan tiba-tiba saja bangkit, ia mengeluarkan pisau lipatnya dan hendak menusuk Rio dari belakang, tapi sebelum pisau itu menghunus tubuh Rio, seseorang tiba-tiba saja datang lalu menendang tangan perampok itu hingga pisau yang tadi ingin ia tusukan ditubuh Rio terpental entah kemana. Rio langsung menoleh kebelakang detik itu juga,
            “udah ngerampok gue, pengecut, jelek, dekil, sekarang mau nusuk orang dari belakang lagi, dasar pecundang!!” cerca seorang Pria berwajah imut yang ternyata adalah korban dari perampokan itu.
            Pria itu tersenyum pada Rio lalu melambaikan tangannya “Hay Bro!” , sapanya sok akrab, Rio hanya mengangguk dengan wajah yang benar-benar heran.
            “udah, mending kita sikat aja!!” kata Pria itu memberi komando pada Rio. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Pria itu langsung menghajar si Perampok tanpa ampun, begitu juga dengan Rio.

5 menit kemudian….

            Rio dengan Pria yang tidak dikenal itu berhasil menumbangkan kedua Perampok itu. Jika saja mereka tidak meminta ampun, mungkin sudah sejak tadi Rio dan Pria itu menghabisi kedua perampok ini. Rio dan Pria itu saling menatap sejenak seraya saling melempar senyuman satu sama lain.
            “thanks ya Bro” kata Pria itu sambil menjulurkan tangannya dihadapan Rio.  Rio tersenyum kecil lalu menerima uluran tangan itu.
            “kalo kalian masih sayang sama nyawa kalian, sekarang mending kalian pergi dari sini” ancam Rio serius. Kedua perampok tadi langsung bangkit dan berlari terbirit-birit meninggalkan tempat itu. Rio dan Pria itu tertawa puas seraya saling merangkul satu sama lain.
            “oya, kenalin gue Ray, Dimas Rayhan Hanggono, elo?”
            “gue Rio, Rio Aditya Revano” Rio menjabat tangan Ray dengan senang hati.
            “makasih ya tadi lo udah nolongin gue dari kedua perampok jelek itu?”
            “sama-sama Ray, udah sewajarnya kita saling tolong menolong”
            Ray melirik jam tangannya, tidak lama kemudian ia langsung menepuk keningnnya sendiri,
            “mampus gue!”
            “kenapa Ray?”
            “gue pamit ya, Yo? Gue harus cepet-cepet pergi ke kantor Bokap buat nganter laptop ini. Sekali lagi makasih ya? Tanpa lo mungkin laptop ini nggak akan selamet, disini banyak data-data penting perusahaan Bokap gue, kalo ini hilang, bisa hilang semuanya, haha…” kata Ray sedikit bergurau. Rio hanya tersenyum menanggapinya.
            “ya udah, laptopnya dijaga baik-baik ya? Jangan sampe kejadian tadi terulang lagi”
            “oke Bro! sekali lagi makasih yaa? Dan… see you next time”
            Ray berbalik lalu cepat-cepat pergi hendak kekantor Ayahnya untuk mengantarkan laptop itu. Setelah Ray menghilang dari pandangannya, Rio pun berbalik. Tangannya terulur hendak membuka pintu mobil, dan tepat ketika Rio akan memasuki mobilnya, tiba-tiba saja ia mendengar sebuah suara memanggil namanya,
            “RIO!!”
            Rio menoleh kebelakang dan mendapati sosok Ify yang tengah berjalan dengan langkah terburu. Rio tersenyum miris. Kenapa Ify harus datang menemuinya lagi setelah sebelumnya ia mengakhiri semuanya secara sepihak? Apa Ify sedang berusaha memberikan Rio sebuah harapan palsu? Hhh… Rio menghela nafas beratnya.


^_^

            Alvin memapah tubuh Via dengan sehati-hati mungkin ketika memasuki rumah. Tepat ketika mereka berdua baru saja melangkahkan kaki didalam rumah, Silvy turun dari lantai atas rumahnya, dan ia sangat terkejut ketika melihat kondisi Via saat ini.
            “Via, kamu kenapa sayang? Kok bisa begini?” Tanya Silvy panic seraya berjalan cepat menghampiri Via dan Alvin. Via langsung melepaskan tangannya dari pundak Alvin lalu beralih merangkul Bundanya. Via masih bingung bagaimana harus menjelaskan semuanya pada Bunda. Via lalu melirik kea rah Alvin yang saat itu justru terlihat tenang-tenang saja.
            Karena Via hanya diam dan tidak mau menjawab, Silvy akhirnya melemparkan pertanyaan itu pada Alvin,
            “Nak Alvin, memangnya apa yang terjadi sama Via? Kok bisa jadi kayak gini?”
            Tepat ketika Alvin akan membuka mulut untuk menjawab, Via langsung mendahuluinya,
            “tadi Via jatuh ditengah lapangan pas pelajaran olahraga” Via menunduk, ia takut jika menatap mata Bunda, Bunda akan tahu kalau dia sedang berbohong. Kedua mata Alvin melotot lebar, ia tidak menyangka sebelumnya bahwa Via akan menyembunyikan kesalahannya dari Silvy.
            “jatuh dilapangan? Kok bisa separah ini sih?”
            “namanya juga kecelakaan, Bund… ya udah Via masuk kamar dulu ya?”
            Via melepaskan rangkulannya dari Silvy, ia berbalik lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Tapi sebelum berbalik, Via sempat menatap Alvin sejenak yang saat itu ternyata juga sedang menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
            Melihat Via yang berjalan dengan susah payah apalagi harus menaiki anak tangga yang jumlahnya tidak sedikit itu, Alvin langsung mengambil inisiatif untuk membantunya. Alvin berjalan cepat menghampiri Via, lalu tanpa mengucapkan sepatah kalimatpun, Alvin mengangkat tubuh Via dalam gendongannya.
            “gue bisa sendiri” bisik Via setengah kesal, takut-takut kalau Bunda mendengarnya.
            “seenggaknya biarin gue buat nuntasin tanggung jawab gue” balas Alvin juga dalam sebuah bisikan.
            Alvin lalu menaiki anak tangga secara perlahan. Sementara Silvy, ia hanya bisa tersenyum sendiri melihat kedua orang itu. Silvy menggeleng pelan lalu memanggil nama Alvin,
            “Alvin”
            Alvin menghentikan langkahnya ditengah-tengah lantas menoleh,
            “iya Tante?”
            “makasih ya udah nolongin Via?”
            Alvin terdiam sejenak. Sementara Via, ia langsung memutar kedua bola matanya lalu bergumam pelan ‘yang bikin Via kayak gini juga Alvin, Bund…’
            Alvin tersenyum kecil lalu mengangguk dengan ragu-ragu. Ia pun melanjutkan langkahnya hendak membawa Via kekamarnya.



^_^

            “muka kamu kenapa, Yo? Kok babak belur begini?” Tanya Ify sembari memalingkan wajah Rio dengan tangannya. Tindakan yang Ify lakukan itu justru membuat Rio merasa sedikit kesakitan. Dan sejak tadi, Rio sama sekali tidak merasakan luka memar yang sedikit membiru menghiasi wajah manisnya, jika saja Ify tidak memberitahukannya, mungkin seterusnya Rio tidak akan pernah menyadarinya. Rio lalu memegang wajahnya sendiri, tepatnya pada luka memar itu,
            “oh ini? Tadi gue abis nolongin orang yang lagi dirampok”
            “orang yang lagi dirampok? Jadi kamu berantem sama perampok? Kamu nggak apa-apa kan, Yo? Ada lagi luka selain ini? Apanya yang sakit?” Tanya Ify bertubi-tubi, ia sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya kali ini.
            Rio tersenyum jengah, ia menatap Ify sejenak lalu membuang tatapannya kearah lain,
            “kamu masih peduli sama aku?”
            “Yo—“
            “aku fikir kamu udah nggak mau peduli lagi setelah kemarin kamu mutusin hubungan kita, hahaha…” Rio tertawa hambar. Rasa perih itu kian gencar menyiksa batinnya.
            Ify menatap Rio dengan pandangan nanar, ada jutaan luka yang tersirat dalam tatapan itu, tapi Rio sama sekali tidak menyadarinya. Rasa kecewa sudah terlanjur membungkus hati kecilnya.
            “kamu ada apa nyari aku sampe kesini?” Rio akhirnya mengalihkan pembicaraan. Betapapun besar rasa kecewanya pada Ify saat ini, tapi sungguh Rio tidak ingin memojokannya. Rio tahu, dan dia tidak ingin menutup mata dan hati atas posisi sulit yang sedang dihadapi oleh Ify saat ini. Rio bisa merasakan semuanya, ketidakberdayaan Ify, keterdesakannya, rasa tidak sanggupnya, Rio bisa merasakan semua itu.
            “kamu hari ini nggak masuk sekolah, aku cemas”
            “buat apa??” Tanya Rio dengan nada meninggi, kali ini ia menatap Ify dengan tatapan tajamnya.
            “emang salah kalo aku cemas sama kamu, Yo?”
            “salah” tandas Rio cepat, Ify langsung bungkam seketika. “kamu tau kenapa aku bilang salah??” Ify hanya terdiam seraya menunduk dalam. Air matanya nyaris merembes keluar, tapi ia berusaha menahan, ia harus kuat.
            “karna rasa cemas kamu itu Cuma akan numbuhin kembali harapan-harapan semu di hati aku, Fy, dan aku nggak mau itu terjadi”
            “Rio, tapi apa kita tidak bisa memulai semuanya dari nol dengan hubungan yang baru? Nggak mesti kita harus jadi sepasang kekasih kan, Yo? Kita masih bisa sahabatan kan? Atau paling nggak kita masih bisa jadi temen baik” kata Ify dengan nada bergetar. Sebulir air matanya akhirnya lolos begitu saja dari pertahannya. Sekali lagi Rio tertawa hambar.
            “hahaha… sahabat? Teman? Hahahaha…. Nggak bisa!”
            Ify menghela nafas beratnya, ia bangkit dari sisi Rio lantas berdiri tegak dihadapan Pria itu,
            “oke, kalo emang itu yang kamu mau. Mulai sekarang aku nggak akan cemasin kamu lagi, dan mulai hari ini semuanya sudah benar-benar berakhir, anggap saja kita nggak pernah saling kenal”
            “memang seharusnya seperti itu kan?” sahut Rio cepat tanpa menatap mata Ify. Ify menyeka air matanya, ia berbalik, lalu dengan langkah pelan ia berjalan pergi meninggalkan Rio tanpa suara. Ya…. Semuanya sudah benar-benar berakhir.


^_^

            Saat sedang makan siang bersama Cakka disebuah café yang biasa mereka kunjungi saat masih berpacaran dulu, Agni tiba-tiba merasakan ponselnya bergetar. Ia melepas sumpitnya lalu buru-buru membuka ponselnya untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan. Beberapa saat kemudian, Agni tersenyum lebar. Dia yang Agni tunggu-tunggu sejak pagi tadi akhirnya membalas pesannya, Jantungnya berdetak cepat, kata-kata manis dalam sepenggal pesan singkat itu benar-benar membuat hatinya berbunga.
            Cakka yang bisa dengan jelas menangkap gelagat aneh Agni, hanya bisa menatap Agni dengan salah satu alis terangkat. Dalam hati Cakka sudah menyimpan curiga, tidak biasanya Agni terlihat sebahagia ini jika sedang menerima pesan.
            “ehem… dari siapa?” Tanya Cakka penasaran, meskipun sebenarnya ia sudah bisa menebak jawaban apa yang akan Agni lemparkan padanya.
            “kepo banget sih? Bukan urusan lo ya?” jawab Agni sedikit sinis.
            “lo lupa kalo seharian ini lo adalah milik gue?”
            “seharian ini gue emang jadi milik lo, tapi bukan berarti lo boleh tau semua urusan gue, ngerti lo? Lo bikin selera makan gue jadi ilang deh” Agni membuang wajahnya kearah jendela, ia enggan menatap Cakka. Cakka lalu menunduk dalam menatap hampa kearah piring makanannya, samar-samar Cakka berucap,
            “gue Cuma nggak suka ada yang bikin lo senyum-senyum kayak gitu selain gue”
            Dengan cepat Agni mengalihkan pandangannya kea rah Cakka, Agni menatap Cakka dengan pandangan tidak percaya. Ia sama sekali tidak habis fikir kenapa Cakka harus berkata seperti itu. Agni menghela nafas beratnya lalu menghembuskannya dengan tidak sabar,
            “childish!” kata Agni sedikit kesal lantas bangkit dari kursinya dan berlalu begitu saja dari hadapan Cakka. Cakka memukulkan tangannya diatas meja dengan sedikit keras hingga menimbulkan suara yang menjadi pusat perhatian. Tapi Cakka tidak peduli. Masa bodoh, ia sedang sakit hati.



^_^

            Setelah membantu Via duduk dipinggir ranjangnya, Alvin pun berbalik dan memutuskan untuk keluar dari kamar Via, tapi bertepatan saat Alvin baru saja akan mengayunkan langkahnya, sebuah suara sinis mendadak menahannya,
            “foto cewek di kamera itu mantan lo ya?” sedetik Alvin membeku. Berani sekali Gadis ini membahas tentang foto-foto itu? Fikirnya.
            “bukan urusan lo!” jawab Alvin singkat lalu berjalan kearah pintu, tapi Via enggan menyerah,
            “kenapa? Dia ninggalin lo?” Alvin kembali menghentikan langkahnya. Via tersenyum meremehkan. Dari belakang, ia menatap Alvin lekat-lekat dari ujung rambut hingga kaki, tidak lama Via mengangguk paham, ia seperti sudah mendapatkan sebuah pencerahan.
            “pantes sih dia ninggalin lo” Via akhirnya menarik kesimpulan sendiri. Kali ini Alvin membalik tubuhnya lalu menatap Via dengan tatapan tertajam yang pernah ia miliki. Gadis ini telah benar-benar menyulut emosinya, dan Alvin merasa sudah tidak tahan lagi.
            “lagian, mana ada sih cewek yang tahan sama cowok angkuh, keras, emosian, dan kaku kayak lo, ya terang aja dia ninggalin lo”
            “elo—“ ucap Alvin tertahan. Jika tidak ingat bahwa makhluk yang ada dihadapannya saat ini adalah seorang Gadis, mungkin sudah sejak tadi Alvin menghadiahkan tinjunya, tapi Alvin masih berusaha menahan diri untuk hal yang satu itu.
            “kenapa? Lo tersinggung sama omongan gue? Kalo terseinggung berarti lo ngerasa dong” ucap Via sesantai mungkin, ia seakan tidak bisa membaca situasi yang sedang terjadi saat ini. Bahkan tatapan mata Alvin yang begitu tajam penuh amarah sama sekali tidak membuatnya peka.
            “elo kalo nggak tau apa-apa mending nggak usah ngomong. Dan elo nggak perlu susah-susah ngurus hidup gue kalo hidup lo sendiri aja nggak keurus. Daripada lo susah-susah ngurus hidup gue, mending lo pikirin aja gimana caranya supaya lo bisa cepet move on dari mantan lo itu, mantan yang udah ninggalin lo pergi dan yang udah campakkin lo kayak SAMPAH!” ucap Alvin penuh emosi. Kedua mata Via terbuka maksimal, tidak menyangka Alvin akan menjawabnya seperti itu.
            Merasa tidak ingin membuang-buang waktu lagi bersama gadis yang menurutnya sangat tidak penting ini, Alvin akhirnya memilih hengkang untuk menyudahi pertengkarannya dengan Via. Tapi jauh didalam sana, ia merasakan pedih yang sebenar-benarnya pedih, entah kenapa ucapan Via tadi benar-benar menusuk jantungnya. Dan kedua tatapan itu benar-benar melempar Alvin ke masa lalu, ia merasa pernah melihat tatapan yang sama seperti yang ia lihat hari ini. Tatapan itu sama persis dengan tatapan mata milik…. Febby.
            “elo kalo nggak tau apa-apa mending nggak usah ngomong. Dan elo nggak perlu susah-susah ngurus hidup gue kalo hidup lo sendiri aja nggak keurus. Daripada lo susah-susah ngurus hidup gue, mending lo pikirin aja gimana caranya supaya lo bisa cepet move on dari mantan lo itu, mantan yang udah ninggalin lo pergi dan yang udah campakkin lo kayak SAMPAH! SAMPAH! SAMPAH! SAMPAH!” Ucapan Alvin itu kembali berputar diotak Via. Dan kata ‘SAMPAH’ yang merupakan kata terakhir yang Alvin ucapkan padanya terus terulang berkali-kali dalam ingatannya.
            Via menggenggam erat jemari tangannya. Alvin sudah benar-benar menyakiti perasaannya. Tapi mungkin perkataan Alvin yang super tajam itu ada benarnya juga. Mungkin memang benar Gabriel hanya menganggapnya sebagai sampah yang tidak berguna. Ya… buktinya sampai sekarang Gabriel belum memberikannya kabar apapun. Jika Via memang benar-benar berarti dalam hidupnya, Gabriel pasti akan memberikannya kabar, tapi ini??

            “gue emang sampah!” gumam Via pelan. Sebutir air matanya terjatuh membasahi pipi mulusnya.



                                    BERSAMBUNG….









0 comments:

Post a Comment