Sebelum keluar dari dalam kelasnya,
Agni sempat mengintip keadaan luar kelas terlebih dahulu, ia ingin memeriksa
apakah disana ada Cakka atau tidak. Agni mengedarkan pandangannya kesegala arah
dengan pandangan menyipit, setelah yakin bahwa kondisi aman terkendali tanpa
Cakka, Agni mulai melangkahkan salah
satu kakinya. Agni berjalan dengan waspada, takut-takut kalau Cakka akan melihatnya.
Tapi tiba-tiba saja Agni merasakan
sebuah tangan terlingkar dipundaknya, Agni menghentikan langkahnya. Tamat sudah
riwayatnya.
“hay Mantan! Mau kemana? Kok
jalannya mengendap-endap gitu?? Lagi main detektif-detektif-an ya? Wah seru
dong! Ikut ya??” cerocos Cakka panjang lebar yang sukses membuat Agni merasa
malu karena telah ketahuan, dan kesal karena cerocosan Cakka yang tidak jelas
itu.
Cakka tersenyum lebar pada Agni
seraya menaik turunkan kedua alisnya. Agni menghela nafas panjang. Oke, jadi
rencananya untuk melarikan diri hari ini gagal total. Mungkin ini hukuman untuk
Agni karena telah berusaha untuk tidak sportif dengan taruhannya kemarin.
Agni berdecak kecil lalu menurunkan
tangan Cakka dari pundaknya. Ketika Agni hendak melangkah pergi, Cakka
lagi-lagi menahannya dengan mencekal pergelangan tangannya,
“jangan coba-coba kabur dari gue ya?
Karena percuma. Ngerti?” kata Cakka dengan nada yang mendadak serius. Wajahnya
juga terlihat serius, dan tidak seperti biasanya. Agni hanya bisa diam, jika
sudah seperti ini ia paling takut melawan kehendak Cakka. Cakka bisa melakukan
hal tidak terduga apapun jika keinginannya tidak terpenuhi, dan Agni tidak
ingin itu terjadi. Setahun menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dengan
Cakka, sudah cukup membuat Agni mengenal betul bagaimana sikap Cakka.
Cakka lalu menggenggam tangan Agni
erat-erat dan membawanya pergi dari tempat itu. Sementara Agni, ia hanya bisa
pasrah berjalan disamping Cakka tanpa berusaha melakukan penolakan lagi.
^_^
Alvin menepati janjinya tadi. Ia
datang ke UKS untuk menjemput Via dan pulang bersama Via. Tapi menyebalkannya
bagi Via adalah, Alvin berjalan terlalu cepat tanpa mengiraukan keadaan Via
yang berjalan dengan susah-payah dan dalam keadaan pincang. Dari belakang, Via
hanya bisa merutuki Alvin. Kenapa sih harus ada cowok semenyebalkan Alvin yang
hidup didunia ini?
Merasa Via terlalu jauh darinya,
Alvin menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang. Ternyata benar saja,
jaraknya dengan jarak Via sekarang terlalu jauh. Alvin berdecak kesal, ia
menampakkan raut tak suka lantas berkata dengan nada setengah membentak,
“heh Siput! Lelet banget sih??”
“namanya juga Siput. Mana ada Siput
yang nggak lelet?” jawab Via kesal. Ia merasa kali ini Alvin sudah sangat
keterlaluan. Padahal kan yang membuat Via sampai harus seperti ini itu Alvin.
Katanya dia bertanggung jawab, tapi apa begini cara bertanggung jawab versi
cowok angkuh macam Alvin? Cuih… omong kosong! Apa mentang-mentang tadi dia
sudah memberikan cokelat untuk Via lalu ia merasa semuanya impas? Hebat sekali.
“ya udah kalo gitu, jalannya bisa
cepetan dikit kan?” kali ini Alvin berusaha untuk sabar.
“lo kenapa sih kalo ngomong nggak
pernah difikir dulu? Makanya kalo ngomong itu, diproses dulu di otak, jangan
langsung lo keluarin dari mulut lo yang tajem plus super pedes itu. Lo nggak
liat kaki gue apa? Dan apa lo lupa? Kaki gue jadi ancur lebur kayak gini juga
gara-gara ulah lo, kan? Jadi ya udah terima aja”
“lo kok jadi marah-marah sih?”
“menurut lo gue harus gimana?” Via
balik bertanya dengan raut wajah yang seolah-olah ingin menelan Alvin hidup-hidup.
Alvin tidak lagi terdengar menimpali
ucapan Via. Ia hanya menatap Via tajam
tanpa sepatah katapun. Via melipat kedua tangannya didepan dada lalu membuang
wajahnya kearah lain, ia malas jika harus melihat wajah memuakkan Pria angkuh
itu.
“lo sebenarnya niat tanggung jawab
nggak sih? Kalo nggak niat juga nggak apa-apa, gue masih bisa urus diri gue
sendiri” kata Via tanpa melihat wajah Alvin.
Hening. Tidak lama kemudian, Alvin
berjalan cepat menghampiri Via. Tanpa permisi Alvin mengambil tas milik Via.
Kali ini Via menoleh kearah Alvin, mau apa lagi dia? Fikir Via.
Alvin lalu meraih salah satu tangan
Via lantas melingkarkannya pada pundaknya,
“eh eh eh…. Apa-apaan nih??”
Alvin tidak menjawab. Ia langsung
melangkahkan kaki perlahan, berusaha memapah tubuh Via agar langkah mereka
sejajar.
^_^
Ify cemas, sejak kemarin, atau
tepatnya sejak ia memutuskan hubungannya dengan Rio secara sepihak, Rio tidak
pernah menampakkan wajahnya disekolah. Bahkan Rio tidak pernah menghubungi Ify
sekalipun. Selepas bel tanda pulang berbunyi dengan nyaringnya, Ify berusaha
untuk menelpon Rio, namun sayang nomer handphone Rio sedang dalam keadaan tidak
aktif. Ify tahu, disaat-saat seperti ini Rio memang butuh waktu untuk
menyendiri, tapi entah kenapa Ify sama sekali tidak bisa berhenti
mencemaskannya.
Setelah cukup lama, Ify akhirnya
membuat sebuah keputusan. Ia akan menemui Rio apapun resikonya, dan ia tahu
dimana harus menemui Rio, tentunya selain dirumahnya.
Ify meraih tasnya lalu bangkit dari
bangkunya dan hendak meninggalkan kelas yang sudah sepi sejak 10 menit yang
lalu. Ify melangkah keluar kelas, tapi mendadak ia menghentikan langkahnya
ketika ia melihat seseorang yang sangat ia kenal tengah berbicara dengan
seseorang melalui handphone didepan kelas.
Merasa penasaran dengan gelagat
mencurigakan itu, Ify kembali mundur beberapa langkah memasuki kelas, ia
bersembunyi dibalik tembok kelas, berusaha mendengarkan baik-baik dengan siapa
sebenarnya seseorang itu berbicara.
Sebelumnya Ify tidak pernah melihat
dia sebahagia itu. Entah dengan siapa dia berbicara hingga bisa membuatnya
terlihat berbunga-bunga seperti itu. Ify semakin memasang pendengarannya sebaik
mungkin. Dan ia kaget sekaget-kagetnya ketika dia yang ternyata adalah Shilla
menyebutkan sebuah nama yang begitu ia kenal, bahkan sangat ia kenal.
“GABRIEL”
^_^
Mata Rio membelalak lebar ketika ia
melihat 2 orang perampok yang tengah berusaha kabur dari kejaran korbannya.
Salah satu dari perampok itu membawa sebuah tas laptop, mungkin itu adalah
hasil rampokannya. Sementara Si Korban yang merupakan seorang Pria itu terus
berlari mengejar kedua perampok itu.
Rio yang sudah jelas-jelas melihat
kejadian itu langsung memiliki niat untuk menolong. Dengan sigap Rio
menjulurkan salah satu kakinya hingga membuat satu dari kedua Perampok itu
jatuh terjerembab bersama tas laptop hasil rampokannya.
“mau lari kemana kalian??” Tanya Rio
setenang mungkin. Ketika salah satu dari perampok itu hendak melayangkan
tinjunya pada Rio, Rio reflex menahan tangannya. Rio tersenyum meremehkan, ia
mencengkram tangan perampok itu sekuat mungkin dan seolah ingin mematahkannya.
“lo mau main-main sama gue hah??”
bentak Rio.
“jangan ikut campur! Ini bukan
urusan lo” kata Si Perampok seraya berusaha melepaskan tangannya dari
cengkraman Rio, namun sayang tidak berhasil.
Tanpa Rio sadari, salah satu dari
perampok yang tadi berhasil ia jatuhkan tiba-tiba saja bangkit, ia mengeluarkan
pisau lipatnya dan hendak menusuk Rio dari belakang, tapi sebelum pisau itu
menghunus tubuh Rio, seseorang tiba-tiba saja datang lalu menendang tangan
perampok itu hingga pisau yang tadi ingin ia tusukan ditubuh Rio terpental
entah kemana. Rio langsung menoleh kebelakang detik itu juga,
“udah ngerampok gue, pengecut,
jelek, dekil, sekarang mau nusuk orang dari belakang lagi, dasar pecundang!!”
cerca seorang Pria berwajah imut yang ternyata adalah korban dari perampokan
itu.
Pria itu tersenyum pada Rio lalu
melambaikan tangannya “Hay Bro!” , sapanya sok akrab, Rio hanya mengangguk
dengan wajah yang benar-benar heran.
“udah, mending kita sikat aja!!”
kata Pria itu memberi komando pada Rio. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Pria
itu langsung menghajar si Perampok tanpa ampun, begitu juga dengan Rio.
5
menit kemudian….
Rio dengan Pria yang tidak dikenal
itu berhasil menumbangkan kedua Perampok itu. Jika saja mereka tidak meminta
ampun, mungkin sudah sejak tadi Rio dan Pria itu menghabisi kedua perampok ini.
Rio dan Pria itu saling menatap sejenak seraya saling melempar senyuman satu
sama lain.
“thanks ya Bro” kata Pria itu sambil
menjulurkan tangannya dihadapan Rio. Rio
tersenyum kecil lalu menerima uluran tangan itu.
“kalo kalian masih sayang sama nyawa
kalian, sekarang mending kalian pergi dari sini” ancam Rio serius. Kedua
perampok tadi langsung bangkit dan berlari terbirit-birit meninggalkan tempat
itu. Rio dan Pria itu tertawa puas seraya saling merangkul satu sama lain.
“oya, kenalin gue Ray, Dimas Rayhan
Hanggono, elo?”
“gue Rio, Rio Aditya Revano” Rio
menjabat tangan Ray dengan senang hati.
“makasih ya tadi lo udah nolongin
gue dari kedua perampok jelek itu?”
“sama-sama Ray, udah sewajarnya kita
saling tolong menolong”
Ray melirik jam tangannya, tidak
lama kemudian ia langsung menepuk keningnnya sendiri,
“mampus gue!”
“kenapa Ray?”
“gue pamit ya, Yo? Gue harus
cepet-cepet pergi ke kantor Bokap buat nganter laptop ini. Sekali lagi makasih
ya? Tanpa lo mungkin laptop ini nggak akan selamet, disini banyak data-data
penting perusahaan Bokap gue, kalo ini hilang, bisa hilang semuanya, haha…”
kata Ray sedikit bergurau. Rio hanya tersenyum menanggapinya.
“ya udah, laptopnya dijaga baik-baik
ya? Jangan sampe kejadian tadi terulang lagi”
“oke Bro! sekali lagi makasih yaa?
Dan… see you next time”
Ray berbalik lalu cepat-cepat pergi
hendak kekantor Ayahnya untuk mengantarkan laptop itu. Setelah Ray menghilang
dari pandangannya, Rio pun berbalik. Tangannya terulur hendak membuka pintu
mobil, dan tepat ketika Rio akan memasuki mobilnya, tiba-tiba saja ia mendengar
sebuah suara memanggil namanya,
“RIO!!”
Rio menoleh kebelakang dan mendapati
sosok Ify yang tengah berjalan dengan langkah terburu. Rio tersenyum miris.
Kenapa Ify harus datang menemuinya lagi setelah sebelumnya ia mengakhiri
semuanya secara sepihak? Apa Ify sedang berusaha memberikan Rio sebuah harapan
palsu? Hhh… Rio menghela nafas beratnya.
^_^
Alvin memapah tubuh Via dengan
sehati-hati mungkin ketika memasuki rumah. Tepat ketika mereka berdua baru saja
melangkahkan kaki didalam rumah, Silvy turun dari lantai atas rumahnya, dan ia
sangat terkejut ketika melihat kondisi Via saat ini.
“Via, kamu kenapa sayang? Kok bisa
begini?” Tanya Silvy panic seraya berjalan cepat menghampiri Via dan Alvin. Via
langsung melepaskan tangannya dari pundak Alvin lalu beralih merangkul
Bundanya. Via masih bingung bagaimana harus menjelaskan semuanya pada Bunda.
Via lalu melirik kea rah Alvin yang saat itu justru terlihat tenang-tenang
saja.
Karena Via hanya diam dan tidak mau
menjawab, Silvy akhirnya melemparkan pertanyaan itu pada Alvin,
“Nak Alvin, memangnya apa yang
terjadi sama Via? Kok bisa jadi kayak gini?”
Tepat ketika Alvin akan membuka
mulut untuk menjawab, Via langsung mendahuluinya,
“tadi Via jatuh ditengah lapangan
pas pelajaran olahraga” Via menunduk, ia takut jika menatap mata Bunda, Bunda
akan tahu kalau dia sedang berbohong. Kedua mata Alvin melotot lebar, ia tidak
menyangka sebelumnya bahwa Via akan menyembunyikan kesalahannya dari Silvy.
“jatuh dilapangan? Kok bisa separah
ini sih?”
“namanya juga kecelakaan, Bund… ya
udah Via masuk kamar dulu ya?”
Via melepaskan rangkulannya dari
Silvy, ia berbalik lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Tapi
sebelum berbalik, Via sempat menatap Alvin sejenak yang saat itu ternyata juga
sedang menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
Melihat Via yang berjalan dengan
susah payah apalagi harus menaiki anak tangga yang jumlahnya tidak sedikit itu,
Alvin langsung mengambil inisiatif untuk membantunya. Alvin berjalan cepat
menghampiri Via, lalu tanpa mengucapkan sepatah kalimatpun, Alvin mengangkat
tubuh Via dalam gendongannya.
“gue bisa sendiri” bisik Via
setengah kesal, takut-takut kalau Bunda mendengarnya.
“seenggaknya biarin gue buat
nuntasin tanggung jawab gue” balas Alvin juga dalam sebuah bisikan.
Alvin lalu menaiki anak tangga secara
perlahan. Sementara Silvy, ia hanya bisa tersenyum sendiri melihat kedua orang
itu. Silvy menggeleng pelan lalu memanggil nama Alvin,
“Alvin”
Alvin menghentikan langkahnya
ditengah-tengah lantas menoleh,
“iya Tante?”
“makasih ya udah nolongin Via?”
Alvin terdiam sejenak. Sementara
Via, ia langsung memutar kedua bola matanya lalu bergumam pelan ‘yang bikin Via
kayak gini juga Alvin, Bund…’
Alvin tersenyum kecil lalu
mengangguk dengan ragu-ragu. Ia pun melanjutkan langkahnya hendak membawa Via
kekamarnya.
^_^
“muka kamu kenapa, Yo? Kok babak
belur begini?” Tanya Ify sembari memalingkan wajah Rio dengan tangannya.
Tindakan yang Ify lakukan itu justru membuat Rio merasa sedikit kesakitan. Dan
sejak tadi, Rio sama sekali tidak merasakan luka memar yang sedikit membiru
menghiasi wajah manisnya, jika saja Ify tidak memberitahukannya, mungkin
seterusnya Rio tidak akan pernah menyadarinya. Rio lalu memegang wajahnya
sendiri, tepatnya pada luka memar itu,
“oh ini? Tadi gue abis nolongin
orang yang lagi dirampok”
“orang yang lagi dirampok? Jadi kamu
berantem sama perampok? Kamu nggak apa-apa kan, Yo? Ada lagi luka selain ini?
Apanya yang sakit?” Tanya Ify bertubi-tubi, ia sama sekali tidak bisa
menyembunyikan rasa cemasnya kali ini.
Rio tersenyum jengah, ia menatap Ify
sejenak lalu membuang tatapannya kearah lain,
“kamu masih peduli sama aku?”
“Yo—“
“aku fikir kamu udah nggak mau
peduli lagi setelah kemarin kamu mutusin hubungan kita, hahaha…” Rio tertawa
hambar. Rasa perih itu kian gencar menyiksa batinnya.
Ify menatap Rio dengan pandangan
nanar, ada jutaan luka yang tersirat dalam tatapan itu, tapi Rio sama sekali
tidak menyadarinya. Rasa kecewa sudah terlanjur membungkus hati kecilnya.
“kamu ada apa nyari aku sampe
kesini?” Rio akhirnya mengalihkan pembicaraan. Betapapun besar rasa kecewanya
pada Ify saat ini, tapi sungguh Rio tidak ingin memojokannya. Rio tahu, dan dia
tidak ingin menutup mata dan hati atas posisi sulit yang sedang dihadapi oleh
Ify saat ini. Rio bisa merasakan semuanya, ketidakberdayaan Ify,
keterdesakannya, rasa tidak sanggupnya, Rio bisa merasakan semua itu.
“kamu hari ini nggak masuk sekolah,
aku cemas”
“buat apa??” Tanya Rio dengan nada
meninggi, kali ini ia menatap Ify dengan tatapan tajamnya.
“emang salah kalo aku cemas sama
kamu, Yo?”
“salah” tandas Rio cepat, Ify
langsung bungkam seketika. “kamu tau kenapa aku bilang salah??” Ify hanya
terdiam seraya menunduk dalam. Air matanya nyaris merembes keluar, tapi ia
berusaha menahan, ia harus kuat.
“karna rasa cemas kamu itu Cuma akan
numbuhin kembali harapan-harapan semu di hati aku, Fy, dan aku nggak mau itu
terjadi”
“Rio, tapi apa kita tidak bisa
memulai semuanya dari nol dengan hubungan yang baru? Nggak mesti kita harus
jadi sepasang kekasih kan, Yo? Kita masih bisa sahabatan kan? Atau paling nggak
kita masih bisa jadi temen baik” kata Ify dengan nada bergetar. Sebulir air
matanya akhirnya lolos begitu saja dari pertahannya. Sekali lagi Rio tertawa
hambar.
“hahaha… sahabat? Teman? Hahahaha….
Nggak bisa!”
Ify menghela nafas beratnya, ia
bangkit dari sisi Rio lantas berdiri tegak dihadapan Pria itu,
“oke, kalo emang itu yang kamu mau.
Mulai sekarang aku nggak akan cemasin kamu lagi, dan mulai hari ini semuanya
sudah benar-benar berakhir, anggap saja kita nggak pernah saling kenal”
“memang seharusnya seperti itu kan?”
sahut Rio cepat tanpa menatap mata Ify. Ify menyeka air matanya, ia berbalik,
lalu dengan langkah pelan ia berjalan pergi meninggalkan Rio tanpa suara. Ya….
Semuanya sudah benar-benar berakhir.
^_^
Saat sedang makan siang bersama
Cakka disebuah café yang biasa mereka kunjungi saat masih berpacaran dulu, Agni
tiba-tiba merasakan ponselnya bergetar. Ia melepas sumpitnya lalu buru-buru
membuka ponselnya untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan. Beberapa saat
kemudian, Agni tersenyum lebar. Dia yang Agni tunggu-tunggu sejak pagi tadi
akhirnya membalas pesannya, Jantungnya berdetak cepat, kata-kata manis dalam
sepenggal pesan singkat itu benar-benar membuat hatinya berbunga.
Cakka yang bisa dengan jelas
menangkap gelagat aneh Agni, hanya bisa menatap Agni dengan salah satu alis
terangkat. Dalam hati Cakka sudah menyimpan curiga, tidak biasanya Agni
terlihat sebahagia ini jika sedang menerima pesan.
“ehem… dari siapa?” Tanya Cakka
penasaran, meskipun sebenarnya ia sudah bisa menebak jawaban apa yang akan Agni
lemparkan padanya.
“kepo banget sih? Bukan urusan lo
ya?” jawab Agni sedikit sinis.
“lo lupa kalo seharian ini lo adalah
milik gue?”
“seharian ini gue emang jadi milik
lo, tapi bukan berarti lo boleh tau semua urusan gue, ngerti lo? Lo bikin
selera makan gue jadi ilang deh” Agni membuang wajahnya kearah jendela, ia
enggan menatap Cakka. Cakka lalu menunduk dalam menatap hampa kearah piring
makanannya, samar-samar Cakka berucap,
“gue Cuma nggak suka ada yang bikin
lo senyum-senyum kayak gitu selain gue”
Dengan cepat Agni mengalihkan pandangannya
kea rah Cakka, Agni menatap Cakka dengan pandangan tidak percaya. Ia sama
sekali tidak habis fikir kenapa Cakka harus berkata seperti itu. Agni menghela
nafas beratnya lalu menghembuskannya dengan tidak sabar,
“childish!” kata Agni sedikit kesal
lantas bangkit dari kursinya dan berlalu begitu saja dari hadapan Cakka. Cakka
memukulkan tangannya diatas meja dengan sedikit keras hingga menimbulkan suara
yang menjadi pusat perhatian. Tapi Cakka tidak peduli. Masa bodoh, ia sedang
sakit hati.
^_^
Setelah membantu Via duduk dipinggir
ranjangnya, Alvin pun berbalik dan memutuskan untuk keluar dari kamar Via, tapi
bertepatan saat Alvin baru saja akan mengayunkan langkahnya, sebuah suara sinis
mendadak menahannya,
“foto cewek di kamera itu mantan lo
ya?” sedetik Alvin membeku. Berani sekali Gadis ini membahas tentang foto-foto
itu? Fikirnya.
“bukan urusan lo!” jawab Alvin
singkat lalu berjalan kearah pintu, tapi Via enggan menyerah,
“kenapa? Dia ninggalin lo?” Alvin
kembali menghentikan langkahnya. Via tersenyum meremehkan. Dari belakang, ia
menatap Alvin lekat-lekat dari ujung rambut hingga kaki, tidak lama Via
mengangguk paham, ia seperti sudah mendapatkan sebuah pencerahan.
“pantes sih dia ninggalin lo” Via
akhirnya menarik kesimpulan sendiri. Kali ini Alvin membalik tubuhnya lalu
menatap Via dengan tatapan tertajam yang pernah ia miliki. Gadis ini telah
benar-benar menyulut emosinya, dan Alvin merasa sudah tidak tahan lagi.
“lagian, mana ada sih cewek yang
tahan sama cowok angkuh, keras, emosian, dan kaku kayak lo, ya terang aja dia
ninggalin lo”
“elo—“ ucap Alvin tertahan. Jika
tidak ingat bahwa makhluk yang ada dihadapannya saat ini adalah seorang Gadis,
mungkin sudah sejak tadi Alvin menghadiahkan tinjunya, tapi Alvin masih
berusaha menahan diri untuk hal yang satu itu.
“kenapa? Lo tersinggung sama omongan
gue? Kalo terseinggung berarti lo ngerasa dong” ucap Via sesantai mungkin, ia
seakan tidak bisa membaca situasi yang sedang terjadi saat ini. Bahkan tatapan
mata Alvin yang begitu tajam penuh amarah sama sekali tidak membuatnya peka.
“elo kalo nggak tau apa-apa mending
nggak usah ngomong. Dan elo nggak perlu susah-susah ngurus hidup gue kalo hidup
lo sendiri aja nggak keurus. Daripada lo susah-susah ngurus hidup gue, mending
lo pikirin aja gimana caranya supaya lo bisa cepet move on dari mantan lo itu,
mantan yang udah ninggalin lo pergi dan yang udah campakkin lo kayak SAMPAH!”
ucap Alvin penuh emosi. Kedua mata Via terbuka maksimal, tidak menyangka Alvin
akan menjawabnya seperti itu.
Merasa tidak ingin membuang-buang
waktu lagi bersama gadis yang menurutnya sangat tidak penting ini, Alvin
akhirnya memilih hengkang untuk menyudahi pertengkarannya dengan Via. Tapi jauh
didalam sana, ia merasakan pedih yang sebenar-benarnya pedih, entah kenapa
ucapan Via tadi benar-benar menusuk jantungnya. Dan kedua tatapan itu
benar-benar melempar Alvin ke masa lalu, ia merasa pernah melihat tatapan yang
sama seperti yang ia lihat hari ini. Tatapan itu sama persis dengan tatapan
mata milik…. Febby.
“elo kalo nggak tau
apa-apa mending nggak usah ngomong. Dan elo nggak perlu susah-susah ngurus
hidup gue kalo hidup lo sendiri aja nggak keurus. Daripada lo susah-susah
ngurus hidup gue, mending lo pikirin aja gimana caranya supaya lo bisa cepet
move on dari mantan lo itu, mantan yang udah ninggalin lo pergi dan yang udah
campakkin lo kayak SAMPAH! SAMPAH! SAMPAH! SAMPAH!” Ucapan Alvin itu kembali berputar
diotak Via. Dan kata ‘SAMPAH’ yang merupakan kata terakhir yang Alvin ucapkan
padanya terus terulang berkali-kali dalam ingatannya.
Via menggenggam erat jemari
tangannya. Alvin sudah benar-benar menyakiti perasaannya. Tapi mungkin
perkataan Alvin yang super tajam itu ada benarnya juga. Mungkin memang benar
Gabriel hanya menganggapnya sebagai sampah yang tidak berguna. Ya… buktinya
sampai sekarang Gabriel belum memberikannya kabar apapun. Jika Via memang
benar-benar berarti dalam hidupnya, Gabriel pasti akan memberikannya kabar,
tapi ini??
“gue emang sampah!” gumam Via pelan.
Sebutir air matanya terjatuh membasahi pipi mulusnya.
BERSAMBUNG….



0 comments:
Post a Comment