Saturday, January 24, 2015

1

S K Y L O V A (Chapter 2A)

CHAPTER 2A



“All I knew this morning when I woke,
Is I know something now
I didn’t before…” 
(Taylor Swift, Everything Has Changed)

           
Ify bersama adiknya Deva sedang asyik bermain PS saat tiba-tiba Mama mereka turun dari lantai 2 dan berdiri tepat dibelakang mereka.
            “Ify! Deva! Salah satu dari kalian cepat bangun dan anterin Mama kerumah Tante Desy”
            Ify dan Deva saling melirik untuk beberapa saat dengan pandangan datar. Tidak lama, Deva tersenyum licik saat sebuah ide jahil menghampiri kepalanya. Ia melepaskan stick-nya dilantai begitu saja lalu berdiri menghadap sang Mama,
            “Maaf, Ma… Deva gak bisa, Deva harus latihan futsal. Sekarang!”
            Deva buru-buru berlari kedalam kamarnya dan membuat Ify menjerit histeris.
            “DEVAAAAAAAA!!!”
            Ify lalu menatap pasrah kearah Mamanya yang sedang menatapnya seraya melipat kedua tangannya diperut. Ify menggaruk tengkuknya dan dengan terpaksa bangkit dari duduknya.
            Ify sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Saat ini ia bersama Mamanya sudah berada dalam taksi. Bagi Ify, ini kali pertamanya ia mengantar Mamanya pergi arisan. Selama ini Ify selalu berusaha menghindar. Alhasil, Devalah yang selalu mendapat jatah mengantarkan Mama nya pergi. Tapi kali ini, bukan jatah Ify untuk menghindar apalagi kabur. Tanpa Ify ketahui, Deva telah terlebih dahulu menyusun strategi menghindar dari rutinitas wajibnya setiap bulan: mengantar sang Mama pergi arisan.
            Taksi yang ditumpangi oleh Ify dan Mamanya berhenti didepan sebuah rumah yang terbilang mewah. Halaman rumah itu luas dan ada sebuah kolam air mancur yang menghiasinya. Didepan rumah itu sendiri, sudah berjejer beberapa mobil mewah yang Ify yakini merupakan mobil milik teman-teman Mamanya. Ify mendesah pelan lalu mengikuti Mamanya dengan pasrah dibelakang.
            Acara arisan kali ini dilakukan dihalaman belakang sang tuan rumah. Tapi Ify lebih memilih untuk menunggu Mamanya dihalaman depan. Ify sangat yakin, bahwa hari ini akan menjadi hari yang sangat membosankan baginya.
            “Ma, ini arisannya berapa lama?” Tanya Ify ogah-ogahan.
            “gak lama kok sayang” jawab Fitry sambil tersenyum dan mengusap lembut kepala puteri sulungnya itu.
            “iya, seberapa lama?” Ify mulai tak sabar,
            “gak nyampe 2 tahun kok….”
            “MAMA!!”
            Fitry terkekeh pelan lalu menepuk pundak Ify pelan.
            “kamu tunggu aja, ya? Nanti kalo bosen, susul Mama kedalem. Oke?”
            Fitry berlalu begitu saja dari hadapan Ify dan menyisakan Ify hanya seorang diri dihalaman yang luas itu. Ify memasang wajah masam.
            Ia lalu duduk pada sebuah bangku besi bercat putih yang sudah disediakan dihalaman itu. Ify merogoh tasnya dan mengambil sebuah earphone. Untuk membunuh jenuh, Ify lalu mendengarkan beberapa lagu favoritnya melalu I-Phone kesayangannya.
            Ify bersenandung pelan, menikmati lagunya. Kepalanya bergerak kekiri dan kekanan mengikuti irama lagu yang mengalun melalui earphone-nya.
            Ify sedikit kaget saat sisi kosong disebelahnya tiba-tiba saja diisi oleh seseorang sambil berdehem pelan.
            “ehem… pemandangan disini keren kan? tapi gak lebih keren dong dari gue?”
            Ify buru-buru membuka earphone-nya dan melempar tatapannya kesebelah. Ternyata disana, seseorang yang begitu familiar dipengelihatannya sudah bertengger dengan manis tepat disampingnya sambil melaimbaikan salah tangannya dan memamerkan senyumnya yang tidak kalah manis dengan posisinya sekarang.
            “ELO?!” pekik Ify nyaris tak percaya.
            “Hallo Ify…”
            “kenapa lo ada disini?” Tanya Ify judes. Namun bukannya kaget mendengar nada judes yang dilemparkan Ify, Rio justru terkikik geli dan membuat Ify jadi keki sendiri.
            “kenapa lo ketawa? Ada yang lucu?” Ify kelamaan merasa jengah juga melihat tingkah Rio yang benar-benar ganjil.
            “jelaslah gue disini. Ini kan rumah gue”
            “WHAT?!” Ify kaget bukan main.
            Kali ini ia sudah kepalang basah. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan rasa kaget sekaligus malunya dihadapan cowok yang tidak pernah sekalipun ia lirik itu. Rio boleh menjadi idola hampir semua cewek disekolahnya, tapi sayang, hal itu tidak berlaku bagi Ify. Saat semua orang menatap Rio dengan pandangan kagum, Ify justru merasa biasa saja dan merasa bahwa tidak ada sedikitpun yang special dari seorang Arion Aristo. Jika saat ini Shilla yang berada dalam posisi Ify, mungkin Shilla sudah pingsan ditempat gara-gara kehabisan oksigen. Oke ini, lebay. Tapi memang begitu cara cewek-cewek psikopat itu menatap Rio.
            Ify yang sudah terlanjur malu tapi merasa gengsi untuk menampakannya akhirnya memutuskan untuk bersikap wajar. Ia pun mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan menampakan wajah angkuh yang justru terlihat sangat lucu dimata Rio. Rio berusaha mati-matian menahan tawanya agar tidak meledak.
            “lo pergi gih! Gue paling gak suka kalo ada yang nemenin”
            Rio mengangkat salah satu alisnya. Heran tapi juga merasa geli.
            “lo yakin ngusir gue? Ini rumah gue lho” Rio berusaha mengingatkan.
            Ify  makin tidak tahu harus berbuat apa. Kali ini rasa malunya sudah bertumpuk-tumpuk kali lipat. Rasanya, Ify ingin segera menghilang dari hadapan Rio detik ini juga.
            “ehem… ehem…” Ify berdehem beberapa kali lantas bangkit dari sisi Rio. “Oke, gue yang pergi” lanjutnya dengan nada suara yang dibuat-buat. Ify melangkahkan kakinya, tapi ia sama sekali tidak memperhatikan jalannya. Ify tidak menyadari bahwa ada beberapa undakan yang harus ia turuni. Ify berjalan begitu saja dan ia nyaris saja terjatuh jika Rio tidak buru-buru menarik lengannya dan menahannya.
            “heh! Awas!”
            Ify merasakan jantungnya seolah mau copot. Ya Tuhaan… kenapa Ify mendadak seceroboh ini sih? Apa barusan ia telah kehilangan konsentrasinya gara-gara Rio?
            “lo gak apa-apa?” Tanya Rio cemas sambil menatap dalam pada kedua bola mata Ify. Tatapan Rio sangat tajam, tapi juga lembut. Tatapan itu seolah-olah menyiratkan rasa cemasnya pada gadis yang sudah diam-diam ia taksir sejak lama itu.
            Ify mendadak merasakan jantungnya berdegub dengan sangat cepat. Dan sejak kapan Ify merasa gugup begini dihadapan cowok yang suka tebar pesona ini? Salah. Ini benar-benar salah. Ify lantas membuyarkan keterpanaannya lalu mendorong pelan dada Rio hingga tercipta jarak diantara mereka.
            Kali ini Ify salah tingkah. Benar-benar salah tingkah.
            “sorry…” ujar Rio pelan.
            “ya udah, gue mau nyusul Nyokap kedalem dulu”
            Fitry dan Desy tiba-tiba muncul saat Ify akan kembali melanjutkan langkahnya. Mereka menghalangi Ify dan seolah tidak memberikan jalan untuk Ify.
            “mau kemana, Fy?” Tanya Fitry. Ify masih merasa gugup, tapi sebisa mungkin ia berusaha untuk tetap terlihat santai.
            “mau nyusul Mama kedalem” jawab Ify apa adanya.
            Fitry dan Desy saling menatap satu sama lain seraya tersenyum penuh arti. Jauh didalam dadanya Ify sudah mewanti-wanti akan satu hal.
            “kamu udah kenal Rio, Fy? Kalian kan satu sekolah” kali ini giliran Desy –Mama Rio- yang bertanya.
            Ify menoleh kearah Rio yang saat ini sudah berdiri disampingnya. Mereka saling menatap beberapa detik sebelum akhirnya Ify kembali mengalihkan tatapannya pada Desy.
            “kami emang satu sekolah, Tan. Tapi aku gak kenal Rio. Aku Cuma tau nama sama mukanya aja” Ify berusaha menjawab dengan apa adanya. Namun Ify dapat menangkap ada sesuatu yang ganjil dari air muka Desy. Air mukanya mendadak berubah begitu Ify menyampaikan bahwa ia hanya sekedar tahu nama dan muka Rio saja, tidak lebih. Mimic wajah Desy seakan mengisyaratkan bahwa jawaban yang Ify lontarkan itu sama sekali jauh dari ekspektasinya.
            Desy lalu melempar tatapannya kearah Rio yang justru dibalas oleh Rio dengan mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi.
            “Fy, Rio ini murid kesayangan Papa di Skyhigh Music” terang Fitry yang berusaha mencairkan suasana. Ify sedikit kaget.
            “hah? Rio kursus di Skyhigh? D… dia murid kesayangannya Papa? Kok bisa?” Ify nyaris saja tidak percaya. Fitry dan Desy mengangguk sebagai jawaban iya.
            Fitry pun buru-buru merangkul lengan Ify. Sambil menatap Rio, Fitry berkata,
            “Tanya aja langsung sama orangnya, Fy. Dan supaya kamu bisa nanya-nanya, kenapa kamu gak keluar sama Rio? Daripada kamu bosen sendirian disini? Kayaknya acara arisan ini bakalan berlangsung sampai sore deh. Rio mau kan nemenin Ify jalan-jalan?”
            “idih… Si Mama apa-apaan sih?” Ify buru-buru menepis. Apa yang barusan diucapkan oleh Mamanya kontan saja menimbulkan semburat warna merah pada kedua pipi tirusnya.
            Rio mengangguk dengan senyuman puas yang terlukis diwajah manisnya.
            “dengan senang hati, Tante” jawabnya.
            “tapi aku gak mau, Ma…” tolak Ify mentah-mentah.
            “Ify gak boleh gitu. Rio nya udah mau lho…”
            Ify menatap Rio yang sedang menatapnya dengan pandangan yang benar-benar memohon. Dan jika Ify tidak keliru, ia melihat sebentuk harapan yang terpeta dengan begitu jelas pada kedua mata jernih milik Rio. Dan Ify, bukan tipe cewek yang tega mengecewakan seseorang, entah siapapun itu.
            Ify akhirnya mengangguk sebagai tanda setuju. Ia pun telah kalah.


♫♫♫

Manhattan, New York…

            Langit senja di Manhattan perlahan mulai menggelap, Alvin terlihat duduk santai disalah satu meja di Plaza Times Square sambil menikmati secangkir cappuccino kesukaannya. Alvin selalu menyukai langit senja, baginya suasana senja selalu membuat perasaannya terasa jauh lebih baik. Di Plaza yang merupakan area terbuka di tengah jalan Broadway yang juga merupakan zona bebas kendaraan itu tampak orang-orang berlalu-lalang dengan kesibukan mereka. Beberapa dari mereka juga -termasuk Alvin- ada yang memilih untuk duduk saja dimeja yang sudah disediakan di Plaza itu.
            Alvin duduk merenung sambil sesekali menyeruput capuccionya. 2 hari lagi, Alvin akan meninggalkan New York dan kembali ke tanah air. Dibalik perasaan semarak yang ia rasakan karna sebentar lagi ia akan pulang, ada sedikit perasaan tidak rela yang juga melingkupi dirinya.
            Tiga bulan menjalankan program student exchanges di kota yang dijuluki sebagai Ibu Kota dunia ini membuat Alvin betah berlama-lama di New York. Selama tiga bulan ini, kota New York sudah memberikan kesan yang cukup berarti bagi seorang Calvin Nicholas.
            Diantara banyaknya alasan yang membuat Alvin agak tidak rela meninggalkan kota ini, ada satu alasan lagi yang membuatnya ingin tinggal dan menetap dikota ini lebih lama lagi. Salah satu alasan itu kini tengah berjalan dihadapannya dengan begitu anggun sambil memamerkan senyumnya yang selalu tampak menarik.
            Dia adalah Prissy Alexandra. Seorang gadis cantik blasteran Italy-Indonesia yang Alvin kenal sejak 3 bulan yang lalu disekolahnya. Sejak pertama kali bertemu, Alvin sudah jatuh hati pada kecerdasan gadis itu. Tidak butuh waktu yang lama, Alvin dan Prissy akhirnya mulai dekat dan semakin dekat. Bahkan teman-teman disekolahnya menganggap bahwa Alvin dan Prissy telah berkencan. Kabar bahwa mereka telah berkencan tidak hanya sekedar gossip tapi fakta.
            Prissy duduk dihadapan Alvin. Aroma orange yang begitu khas dari parfum yang ia kenakan menguar dan menimbulkan rasa segar dibenak Alvin.
            “sudah lama, Calvin?”
            “emmm… lumayan” jawab Alvin tanpa bisa menahan senyumnya, “by the way… ada apa kamu tiba-tiba ngajak aku ketemuan disini?”
            Entah kenapa, Prissy terlihat gusar saat mendengarkan pertanyaan yang Alvin lemparkan. Senyuman cantik itu tidak lagi menghiasi wajahnya.
            “Priss… kenapa diem? Tell me why” Alvin mau tidak mau juga jadi ikut gusar. Salah satu tangannya menyentuh dagu Prissy dan mengangkatnya hingga wajah mereka saling berhadapan satu sama lain.
            “Calvin…” Prissy menurunkan tangan Alvin yang menyentuh dagunya lalu mengenggenggamnya erat seakan tidak ingin melepaskan. “I love you, you know that. But I think –“ Prissy menggantungkan kalimatnya dan semakin terlihat gusar. Sementara Alvin, ia mulai merasakan sebuah firasat buruk. “You think?” Tanya Alvin takut-takut.
            “I’m sorry, I think I want to stop here…
            Merasa bahwa Prissy hanya sedang bergurau saja, Alvinpun tertawa. Rasa bersalah itu semakin memeluk eratnya. Andai ada yang bisa Prissy lakukan untuk mempertahankan hubungan mereka.
            “what do you mean? Apa baru saja kamu mau bilang kalo kita putus? Hahaha are you kidding?”
            “Calvin aku gak becanda, please dengerin aku dulu”
            “kamu barusan bilang kalo kamu sayang sama aku, hanya selang beberapa detik kamu terus bilang kalo kamu ingin berhenti sampai disini? Kamu pikir hubungan kita sebercanda itu? Hm?”
            “Calvin, please. Listen to me, aku –“
            “dan sekarang apa kamu juga mau bilang kalo selama 2 bulan ini kamu Cuma pengen main-main aja sama aku, iya?” Alvin kembali menyela dengan tidak sabarnya. Prissy semakin frustasi.
            “kamu jahat tau gak? Kamu tuh –“
            “demi Tuhan, kamu sebentar lagi bakalan pulang ke Indonesia. Aku gak mau jauh dari kamu, aku gak bisa. Tapi satu-satunya cara yang bisa aku lakuin adalah ngelepasin kamu, Calvin. I don’t want to lose you, tapi ini adalah jalan terbaik satu-satunya yang bisa aku lakuin untuk nyelametin hati kita…”
            “nyelametin hati kita?”
            “kita gak bisa ngejalanin LDR” Jawab Prissy dengan mantap.
            “tapi aku bisa!”
            “tapi aku yang gak bisa”
            “yang itu berarti kamu gak bisa ngasih kepercayaan kamu buat aku?”
            Kali ini Prissy tidak menjawab. Ia hanya tertunduk seraya berusaha keras menahan air matanya. Ia tidak ingin menangis. Ia ingin kuat. Dan kediaman Prissy itu membuat Alvin bisa menarik satu kesimpulan. Prissy memang benar-benar ingin menuntaskan hubungan mereka.
            Alvin menghela napas panjang. Ia berusaha mengontrol emosinya sebisa mungkin, dan sebisa mungkin juga Alvin tidak ingin lepas control.
            Setelah merasa cukup tenang, Alvin memasang jaketnya lalu menyelempangkan tasnya. Ia sudah bersiap-siap untuk pergi.
            “baik kalo itu mau kamu. Aku juga gak bisa maksa-maksain kamu seenaknya. Oke kalo kamu mau putus…” Alvin menghela napas panjang dan menahan sesak didadanya sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya, “aku ikutin mau kamu. Mulai sekarang… kita selesai”
            Prissy memejamkan kedua matanya lalu membiarkan sebulir air matanya lolos begitu saja.
            Bagi Alvin, semua apa yang telah ia lewati bersama Prissy selama 2 bulan terakhir mendadak menjelma menjadi sebuah mimpi indah yang kemudian lenyap saat ia terjaga. Dan saat ini, Alvin telah terjaga dalam keadaan remuk redam.

            ‘kamu langit, dan aku hanya setitik awan yang berusaha menggapaimu. Sejak awal aku tahu tak akan berhasil, tapi aku terus mencoba. Sekarang, tanpa pernah aku duga… akulah yang terluka. Seindah apapun langit, langit tetaplah langit. Kita hanya bisa memandang birunya dari kejauhan tanpa pernah bisa menggapainya… selamat tinggal Prissy… selamat tinggal New York…’


♫♫♫

                     
The Arion’s Café…


            “Papa lo kan punya sekolah music, kenapa gak masuk di SkyHigh?”
            Tanya Rio yang sejak tadi benar-benar merasa penasaran kenapa Ify tidak tergabung disekolah music yang dibangun oleh orangtuanya sendiri. 30 menit sudah mereka duduk dicafe milik keluarga Rio ini, dan selama 30 menit ini juga Ify tahu-tahu sudah merasa begitu nyaman dengan Rio. Meski enggan mengakuinya, ternyata Rio tidak semenyebalkan seperti apa yang ia pikirkan selama ini.
            Ify baru tahu, bahwa Rio adalah sosok cowok yang friendly dan cukup asyik untuk dijadikan teman ngobrol. Dan sejak tadi pula, tanpa Ify sadari, ia telah hanyut dalam tawa dan canda yang Rio tawarkan.
            “Papa ngelatih gue dirumah. Semua alat music, mulai dari gitar, piano, biola bahkan drum diajarin. Tapi  gue lebih konsen ke piano sama nyanyi…”
            “Oya?  Keren!” puji Rio. Salah satu alis Ify terangkat, “siapa yang keren?” tanyanya kemudian. Rio terdiam sejenak untuk berpikir sebelum akhirnya menjawab,
            “Bokap lo lah… haha… siapa sih di Indonesia ini yang gak mengakui kekerenan seorang musisi besar seperti Anton Bramantya?”
            “lo beneran ngefans sama Papa?” Tanya Ify untuk meyakinkan dirinya.
            “BANGET! Makanya gue sampe masuk ke SkyHigh Cuma untuk supaya bisa dilatih sama Om Anton langsung”
            Ify hanya mengangguk. Setelah itu, tidak terjadi obrolan apa-apa lagi diantara mereka. Ify dan Rio kembali menyaksikan penampilan Dea diatas panggung yang sedang membawakan lagu ‘CINTA’ miliknya Melly Goeslow. Dea sendiri adalah sepupu Rio yang juga menjadi penyanyi di café milik keluarga Rio.
            Beberapa kali, tanpa Ify sadari, Rio diam-diam mencuri pandang kearah Ify yang tampak begitu kagum dengan suara merdu Dea. Dari samping, Rio bisa melihat dengan jelas wajah cantik Ify. Ternyata jika dilihat dari jarak yang sangat dekat, Ify bahkan lebih cantik dari apa yang terlihat selama ini. Dan seumur hidupnya, Rio akan selalu mengingat moment ini. Moment dimana untuk yang pertama kalinya ia bisa jalan, mengobrol, dan sangat dekat dengan Ify. Rio tidak akan pernah melupakan hari ini.
            Ify akhirnya sadar bahwa ada sepasang mata yang sedang menatapnya dalam diam. Ify lalu menoleh kearah Rio. Tapi sebelum Ify sempat melihatnya, Rio buru-buru membuang wajahnya dan memberikan tepuk tangan serta teriakan yang heboh saat Dea menyelesaikan lagunya diatas panggung.
            Saat Dea turun dari panggung, Rio tiba-tiba bangkit dari bangkunya,
            “Fy, gue kesana bentar ya? Lo tunggu disini!” Ify hanya mengangguk sebagai tanda setuju.
            Rio tersenyum lalu menaiki panggung dan membuat perhatian seisi café tersedot kearahnya. Rio berdiri didepan microphone dan mulai membuka pembicaraan.
            “oke, untuk semua pengunjung The Arion’s Café, sore ini gue dan teman gue akan berduet dan menyuguhkan sebuah penampilan yang sangat istimewa untuk kalian semua. Harapan gue, semoga kalian semua terhibur”
            Perasaan Ify mulai tidak enak. Jangan-jangan teman duet yang dimaksudkan oleh Rio adalah Ify sendiri? Dan benar saja, belum tuntas rasa heran Ify, Rio langsung memanggil namanya dan ‘memaksa’nya untuk segera naik keatas panggung.
            “buat temen saya, Melodify Clara, silahkan naik keatas panggung” ujar Rio sambil menunjuk kearah Ify. Ify yang kaget kontan saja menunjuk dirinya sendiri seraya berkata, “GUE?!”
            Ify baru saja ingin menolak. Tapi saat semua pengunjung café meneriakan namanya sambil bertepuk tangan, Ify malah bingung harus berbuat apa.
            “ato… apa perlu lo gue jemput kesana?” Tanya Rio yang sengaja ingin meng-ultimatum Ify. Ify yang tidak  bisa berbuat apa-apa lagi akhirnya melangkah ragu keatas panggung.
            Segera setelah Ify berdiri diatas panggung, Rio pindah posisi. Ia duduk dihadapan sebuah grand piano hitam.
            “elo yang nyanyi, gue yang ngiringin” Rio memberikan aba-aba.
            “lagu apa? Gue belom siep” ujar Ify setengah berbisik.
            “lagu favorit lo…”
            “apa?”
            Tanpa menjawab pertanyaan Ify, Rio langsung saja memainkan tuts-tuts itu dengan jari jemari terampil miliknya. Dan saat sebuah nada yang begitu Ify kenal berdenting pelan, Ify semakin heran. Lagu itu benar-benar lagu favoritnya. Tapi pertanyaannya adalah: darimana Rio tahu kalau lagu itu adalah lagu favorit Ify?
            Saat intro lagunya telah selesai, Ify langsung bernyanyi. Menyanyikan salah satu lagu yang paling ia favoritkan:

All I knew this morning when I woke,
Is I know something now
I didn’t before
And all I’ve seen,
Since 18 horus ago
Is green eyes and freckles and your smile
In the back of my mind making me feel like
I just want to know you better
Know you better, know you better now
I just want to know you better,
Know you better, know you better now
I just want to know you, know you, know you
Cause all I know is we said hello
And your eyes look like coming home
All I know is a simple name
Everything has changed
All I know is you held the door
You’ll be mine and I’ll be yours
All I know since yesterday
Is everything has changed…”

            Ify menyanyikan lagu itu sambil sesekali melirik diam-diam kearah Rio yang tengah focus memainkan grand piano yang ada didepannya. Dan untuk pertama kalinya, Ify merasa sangat penasaran dengan Rio. Darimana Rio tahu kalau lagu yang sedang ia bawakan sekarang ini adalah lagu favoritnya?

“And all my walls,
Stood tall painted blue
And I’ll take’em down, take ‘em down
And open up the door for you
And I feel in my stomach is butterflies,
The beautiful kind
Making up for lost time
Taking flight making me feel like…
I just want to know you better,
Know you better, know you better now
I just want to know you, know you, know you
Come back and tell me why
I’m feeling like I’ve missed you all this time
And meet me there tonight
And let me know that it’s not all in my mind
I just want to know you better,
Know you better, know you better now
I just want to know you, know you, know you
All I know is we said hello
So dust off your highest hopes
All I know is pouring rain
And everything has changed
All I know is a new found grace
All my days I’ll know your face
All I know since yesterday is
Everything has changed…” 

(Taylor Swift ~ Everything Has Changed)

            “Darimana lo tahu kalo gue suka lagu Everything Has Changes?” Tanya Ify yang merasa benar-benar sudah tidak dapat lagi menahan rasa penasarannya. Saat itu, Ify dan Rio sudah berada diparkiran, mereka telah bersiap-siap untuk pulang. Rio bahkan sudah menaiki Ninja putihnya.
            Rio mengurungkan niatnya untuk memasang helm nya. Ia tersenyum sejenak, saat tangan kananya nyaris mendarat dipuncak kepala Ify, Ify langsung menepisnya. Sial! Apa sekarang kedua pipinya yang tidak bisa diajak bekerja sama ini memerah lagi? Ify harap tidak.
            “lo bener-bener pengen tahu?”
            Ify hanya mengangguk sebagai jawaban iya. Rio tersenyum mencibir yang akibatnya membuat Ify kesal setengah mati. “lo stalker, ya?” Tanya Ify tanpa mau berpikir panjang. Namun bukannya menjawab, Rio malah tertawa geli.
            “iiii pinter…” kata Rio seraya bertepuk tangan. Ify kembali menampakan wajah judesnya.
            “RIO! GUE SERIUS” Ify mulai tak tahan.
            “oke, kayaknya lo bener-bener pengen tahu…”
            Ify melipat kedua tangannya didepan dada sambil membuang wajahnya kearah lain. Rio terlalu banyak basa-basi, dan ini mulai memuakkan.

            “gue akan ngasih tahu, kalo malem minggu nanti lo mau jalan sama gue”

            “APAA?!”


♫♫♫


SMA Patuh Karya…

            Via keluar dari ruang TU setelah mengurus surat-surat kepindahannya dan segala keperluan yang ia butuhkan. Setelah menempuh proses yang lumayan menyita waktu, akhirnya hari senin nanti, disemester baru, Via akan resmi tercatat sebagai salah satu siswi di SMA Patuh Karya ini. Via tersenyum lega. Besok ia hanya tinggal mengambil seragamnya dan semuanya akan beres.
            Via baru ingat sesuatu. Tadi Metta menyuruhnya pergi ke Airport untuk menjemput anak sulungnya yang hari ini baru kembali dari New York. Via menepuk keningnya sendiri. Ia nyaris saja telat.
            “aaaa…. Apa dia udah nyampe? Aku hampir telat” Via memasukan map nya kedalam tas lalu segera berlari ke parkiran.
            Cakka yang saat itu sedang berlatih basket bersama beberapa kawannya dilapangan sekolah tanpa sengaja melihat Via yang tengah berlari-larian dari ruang TU. Cakka terdiam sejenak untuk berpikir. Setelah yakin bahwa gadis itu adalah gadis angkuh yang ia temui beberapa hari yang lalu dilapangan komplek, sebuah ide yang menurutnya sangat brilian tiba-tiba terbersit dikepalanya. Cakka tersenyum licik.

            “dia pasti murid baru disini. TU, gue harus segera ke TU…”



♫♫♫

            Sial! Via terjebak macet, sementara jarum jam dipergelangan tangannya sudah menunjukan pukul sepuluh lewat. Via pasti telat, dan anak sulung Metta pasti sudah menunggu lama.
            “Pak Yusuf, ini bener-bener gak ada jalan ya?” Tanya Via pada sang supir.
            “iya Non, ini bener-bener macet total. Kayaknya ada kecelakaan didepan”
            “ya udah Pak, aku turun disini aja. Lagian bandaranya juga udah deket. Nanti Pak Yusuf aja yang jemput kami di bandara”
            “tapi Non, apa gak apa-apa?”
            “gak apa-apa, Pak. Lagian, kasian Calvin kalo harus nunggu lama…”
            “ya sudah, Non. Hati-hati ya?”
            “Iya, Pak…”
            Via pun turun dari sedan hitam yang sejak tadi membawanya. Tidak ingin lebih telat lagi dari ini, Via memutuskan untuk berlari.
            Pukul sepuluh lewat lima belas, Via tiba di bandara dengan desauan napas yang tidak teratur. Dari dalam tasnya, Via mengambil sebuah kertas HVS dan spidol. Diatas kertas itu, Via menulis sebuah nama: “CALVIN NICHOLAS”
            Via menyelip diantara kerumunan orang-orang yang juga sedang menjemput rekannya. Via mengangkat papan nama yang barusan ia tulis tinggi-tinggi. Tapi hingga 10 menit berlalu, Calvin yang ia tunggu-tunggu tidak juga muncul. Pada menit ke-20, Via akhirnya menyerah. Sepertinya Calvin sudah pulang terlebih dahulu karna terlalu lama menunggu.
            Via berjalan lesu keluar dari airport. Ia kecewa pada dirinya sendiri karna tidak  mampu memegang kepercayaan yang Metta berikan. Lalu apa yang harus ia katakan pada Metta dan Adryan jika ia pulang nanti dan ternyata Calvin sudah ada dirumah. Via pasti akan sangat malu pada kedua orangtua angkatnya itu.
            Merasa benar-benar kesal pada dirinya sendiri, Via menendang kaleng bekas yang tergeletak malang dipinggir jalan. Akibat tendangannya yang cukup keras, kaleng itu mendarat dengan sempurna dikepala seorang preman berkepala pelontos. Preman itu tengah berjalan bersama 2 rekannya yang lain.
            “ups…” Via membekap mulutnya dengan kedua tangannya saat menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Ketiga preman itu menoleh kebelakang dan menatap Via dengan tatapan yang benar-benar ingin memakan Via hidup-hidup.
            “maaf, Om… aku gak sengaja” tutur Via penuh penyesalan bercampur rasa takut. Kedua matanya sudah celinguk kesana kemari mencari penampakan Pak Yusuf.
            “bocah kurang ajar! Lo mau nyari mati? Hah?”
            “gak Om… aku masih mau hidup! Aku juga belom nikah Oooomm….” Ucap Via memelas sambil mengatupkan kedua tangannya didepan dada.
            “sikat aja sikaaaat!!” timpal salah satu dari ketiga preman itu.
            “AMPUN OM, AMPUUUUUUNNNN!!!”
            Ketiga preman itu mulai mendekati Via. Via sudah ingin kabur, tapi entah kenapa mendadak kedua kakinya terasa kaku dan sulit untuk digerakan. Via pun memilih pasrah dan memejamkan kedua matanya kuat-kuat.
            Tepat saat preman itu akan tiba dihadapannya, seseorang yang tak dikenal tiba-tiba saja berdiri tepat didepan Via dan menutupi tubuhnya, atau lebih tepatnya melindungi Via.
            “kalian preman jelek! Cemen! Beraninya Cuma sama cewek, udah gitu main keroyok lagi. Malu sama title preman kalian…”
            Via langusung membuka kedua matanya saat mendengar satu suara yang cukup asing dipendengarannya. Via lalu menatap cowok itu dengan seksama, tidak lama Via akhirnya tahu kalo cowok yang saat ini sedang melindunginya adalah Calvin. Anak sulung dari Metta dan Adryan.
            “hadepin gue kalo berani!” ucap Alvin dengan menantang.
            “cissshhh… anak ingusan mau coba-coba ngelawan gue? Siepin liang lahat mu setelah ini, Nak!”
            Baru saja Alvin akan memulai aksinya untuk menghajar ketiga preman itu, Via malah menarik pergelangannya dan membawa Alvin kabur dari tempat itu.
            “kita sebaiknya pergi dari sini! Gue belom sempet nyiepin liang lahat gue”
            “heh! Lo apa-apaan sih?”
            Alvin dan Sivia mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk berlari sekuat-kuatnya. Sementara ketiga preman tadi terus mengejarnya.
            “berhenti sekarang! Gue masih sanggup ngadepin ketiga preman jelek itu” Alvin bersikeras ingin berhenti. Tapi Via tidak sedikitpun mengijinkannya.
            “sehebat apapun lo, kalo Cuma sendiri ngadepin mereka, bisa abis lo!”
            “HEH!”
            Saat preman itu semakin mendekat, Alvin dan Viapun semakin mempercepat lari mereka. Kali ini Alvin sudah tidak banyak bicara lagi. Sepertinya gadis cemen ini benar.
            “maaf gue telat ngejemput lo di Bandara” ujar Via menyampaikan permintaan maafnya dengan desauan napas yang tidak teratir.
            “maksud lo?” Tanya Alvin tidak paham. Alvin memang belum mengetahui apapun tentang Via.
            “lo Calvin Nicholas kan?”
            “iya, kok lo bisa tau?” Alvin semakin heran.
            “Gue Via. Anak angkat Mama Metta dan Papa Adryan…”

            Bruk! Via tiba-tiba saja terjatuh sesaat setelah ia menyelesaikan perkataannya. Via meringis kesakitan. Lulutnya terluka dan mengeluarkan darah. Melihat preman itu yang semakin dekat, Alvin malah panic. Ia pun buru-buru menarik tangan Via dan kembali membawanya berlari.



To Be Continued….


1 comment: